Thursday, 31 January 2013

Kejora, Anak Gajah Pigmi Sabah (Cemar)



Aku dilahirkan setahun lalu, 2012.
di bumi yang kucintai. Aku dipanggil Kejora.
nama yang indah, menyentuh tiap sukma
penyair.

Sejak hari pertama ketika kubuka kelopak mata
dan menghirup udara Rimba Jati, minum dari
air sungaimu, jernih dan manis. Buah rimbamu
lebat. Di sini, kedamaian hidup. Syurga di bumi
peribumi.

Aku, Kejora, dipanggil Gajah Pigmi Sabah
Mak dan Aba, selalu mengingatkan Rimba Jati
ini perlu dipelihara dan dilindungi. Pembawaan
kami lembut. Kami menyayangi bangsa manusia,
Kekadang kami di pinggir jalan melihat land cruiser
berhenti dan mengambil gambar.

Aku, selalu memainkan belaian, supaya orang-orang
melihat aku, anak Gajah Pigmi Sabah yang comel.
Kami menghormati warga manusia, peribumi atau
turis. Ibu selalu bilang, "Hutan tinggal sedikit, dan racun
makin banyak dipakai orang." Hati-hati ketika minum air
dan jangan makan terus menelan.

Satu hari musibah itu datang. Aku, Kejora bingung dan
tak mengerti apa terjadi. Aku melihat Pakcik dan Makcik
rebah dan terbaring di pinggir jalan berlumpur. Aku tak
mengerti. Yang terakhir Mak pun rebah, mak seakan ingin
meninggalkan pesan tapi aku tak sempat mendengarkannya.
Kucuba membangunkan mak. Mula, ada juga gerak-gerak
dari belaiannya tapi kemudian berhenti. Kucuba sepanjang
hari, tapi tak ada balasan dari Mak. Demikian pula kepada
keluargaku yang lain.

Ketika kulihat manusia datang dengan deretan kereta panjang. 

Aku bukan kepalang gembira dan bersyukur.
Wahai manusia, kau memang patut diberi penghormatan.
Mereka telah datang di saat yang dibutuhkan. Sekalipun aku
mulai merasa lemah. Terima kasih warga manusia. Aku di-
berikan susu.

Kota Kinabalu
1 Februari 2013

*Antologi Puisi Kembara GAPENA terbuka 2013
*Antologi ITBM, 2013 (Bahagian II)




Segerombolan Pemburu (Mesapol) (Mama)

Malam itu telah bersatu hati semua akan pergi berburu
hutan belukar di belakang desa di kaki bukit memanjang
jadi banjaran gunung dan puncaknya menyentuh awan.

Segerombolan pemburu mempertaruh nasib dengan
senapang angin berangkat selepas senja mengepong
hutan belukar, mencium angin dan mempelajari
gerak-gerak mangsanya di sepanjang malam.

Soalnya hutan belukar ini telah selalu diburu
bukan sekali malah puluhan dan ratusan kali
hutan pribumi ini seperti terdera, akhirnya
senyap dan sepi, dan burung-burung tak pernah
singgah, apa lagi hewan. Seakan hewan ini
berkata satu sama lain, 'Kami telah jerah,
di hutan ini, kami diracun, dijerat dan ditembak.'
Mereka tak menyukai kami, apa lagi menyayangi.

Dari desa ke dalam hutan gerombolan pemburu
mendengar hanya degup jantungnya tetapi tak
mendengar apa-apa, hutan sunyi. Para pemburu
merasa tersiksa, tak ada satu yang boleh ditembak.
Kemarahan para pemburu memuncak, mereka jadi
hilang akal, menembak apa saja ke mana-mana.
Ke pohon mangga, durian dan cempedak, tarap
dan nangka. Mereka menggeliat kehausan untuk
melihat darah dari mangsanya.Tapi malam ini
pelanduk dan rusa pun tak muncul di hutan belukar.

Akhirnya di atas bukit semua pemburu berkumpul
tak ada hewan yang jadi mangsa malam ini.
Mereka mengeluh. Mengapa pulang kosong?
Tak seekor kera, apalagi biawak yang boleh
didagangkan. Mereka kesal. Seorang dari mereka
bilang, 'sial.'

Malam itu segerombolan pemburu pulang tanpa
banyak bercerita. Tak ada kelakar di sepanjang jalan.
Diam. Hanya sekali-sekali terdengar kata-kata
kesat dan menyumpah hutan belukar di belakang desa.

Kota Kinabalu
31 Januari 2013
*ITBM (Bahagian II)




Wednesday, 30 January 2013

Satu Amanat Kepadamu (Kemerdekaan)

Bangun, bangun bangsa yang beradab
tidakkah kau dengar dan lihat ada berita trajedi
menimpa di hutan Rimba Jati. Mengapa kau
masih berdondang sayang, hidup dalam mimpi
kasmara. Ayuh! keluar dari kamarmu, rembulan
telah beredar, malammu telah memanjang
sedang kau masih menangisi masa silammu.

Kau, anak segala bangsa, asal-muasalmu
di bumi ini, tidak tergerak sedikit dalam sukmamu,
sekurangnya angkat protes menentang kebiadapan
dan kejahatan yang terkutuk. Bumi ini peninggalan
buatmu, kau harus siap melindungi peninggalan
yang masih sedikit ini. Ayuh! kumpulkan suaramu
jadi satu. Semaikan benih kasih-sayang pada anak
segala bangsa.

Bukankah kau dikenal berbudi pekerti tinggi, bahasamu
bermartabat dan lemah-lembut pembawaanmu. Tapi
ketika terjolok dan tercabar hak dan kepunyaanmu,
kau tak akan membiarkan kejahatan menguasai
sukmamu. Di sini kepahlawananmu teruji, keadilan
dan hak. Bila Rimba jati ditebang dan dibakar hangus,
hewan diracun dan aniya, flora fauna dibongkar, lautmu
dicemar dan alammu jadi jerebu, kau tak bisa diam
dan tak berkata-kata. Membiarkan kejahatan meluas.

Hari ini berita kematian 10 gajah pigmi diracun
lalu esok apa pula helah pembunuhan badak Sabah,
orang utan, Kera hidung merah. Kau harus kembali
dari dunia angan-anganmu, melihat realiti di depan
matamu. Ayuh! khabarkan kepada anak bangsa
supaya jangan terlambat. Tak ada ampun dan
keringanan peraturan dan undang-undang kepada
penjahat dan pengkhianat bangsa.

Ini adalah peringatan pada jenerasi penerus
sayangkan Rimba jati dan kasih pada bumimu
supaya kau tak dipersalahkan di masa akan datang.
Kalau Rimba Jati, hewan dan kesuburan bumimu
untuk kesekian jutaan tahun maka kemanusiaan
pun bertahan dalam jutaan tahun. Sekiranya
kau kalah melindungi semua ini, kau menyesal
selama hidup dan jutaan tahun mendatang.
Ayuh, bangun bangsa yang beradab!

Kota Kinabalu
30 Januari 2013
*ITBM (Bahagian II)





Tuesday, 29 January 2013

Pemergian Gajah Pigmi Sabah, kami berkabung (Cemar)


Ini adalah Rimba Jatimu, di sini kau dilahirkan
dan halamanmu di Gunung Rara, memanjang ke
Luasong Telupid, menyebutmu, kau adalah
sebahagian aku dan bumi di sini. Kehilanganmu
itu, sukmaku terperas. Sunyi di Rimba Jati,
angin samudera mengirimkan salam takziah,
air mata menitis dari langitmu, sungai dan
gunungmu sebak sejak berita itu diterima.
Kau adalah keluarga kami. Kalau kau sakit
mengapa kau tak memberitahu kami. Kalau
hutanmu dicerobohi kenapa tak kirimkan kawat.
Kalau ada yang menganiayamu, kami akan
membalas dan menghukumnya dengan setimpal.
Setiap anak kau lahirkan di bumi ini, anugerah
dan hadiah pada anak-anak kami, generasi
akan datang. Kami tak akan tenang, dalam
pembangunan pesat, kau lapar, dihalau
dari hutanmu. Sedang kau adalah pribumi.
Di Rimba Jati, tiada yang akan menderamu.
Cukup. Kami tak akan membiarkan sampai
pohon yang terakhir baru kami bangkit. Aku
akan membaitkan puisi-puisi dan kata-kata
adalah perisai dan tembok melindungi hak-
hakmu. Hari ini kita semua berkabung,
pemergianmu, telah terpahat di dalam sukma,
peringatan pada anak segala bangsa dan impian
kemerdekaan. Gajahmu, penghuni Rimba Jati
dan keindahan alammu, ke laut kepulauanmu
tak akan kami membiarkan tangan-tangan kasar
dan jahat akan menderamu, biadap. Mulai hari ini
dan esok, dari banjaran ke gunungmu, dari laut
dan pulau-pulaumu, dari sungai ke air terjun,
dari Danum, Maliau Basin, Taban, Madai dan
Long Pa Sia, dari tunjang ke tunjang, dari pohon
ke pohon, dari bumi ke langit, bulan, dan mentari,
dari bintang ke bintang, sampai ke galaksi dan
orbit baru, kami anggap kepada mereka bermimpi


jahat, meregut dan memusnahkan kecintaan dan
keindahan bumi dan langit kami, mereka itulah
adalah musuh dan pengkhianat segala anak
bangsa merdeka, wajar dihukum!

Kota Kinabalu
30 Januari 2013

*Antologi ITBM, 2013(Bahagian II)

Monday, 28 January 2013

Dunia adalah bayang-bayang (Ketuhanan)

Jika kau kepunyaan Tuhan, Dunia ini punyamu.
Aku mencari diriku di dalam kalimat itu.
kubawa ke mana-mana kalimat itu sekalipun
ke dalam mimpi. Aku tak berhenti mencari
maknamu dalam firasat dan menggali isinya.

Dalam janin, suara itu telah memperingatkan
kau dari ummat yang sempurna. Kau bisikan
ke dalam telingaku dan Kau mensucikan noda-
noda hitam di dalam sukma. Aku tumbuh membesar
dalam kandungan-Mu seperti seorang ibu menjagai
diri dari cedera atau disakiti.

Di situ, ada pintu kebaikan. Masuk ke pintu
kebaikan, di situ ada keselamatan. Jalan
ke pintu samawi. Aku menemukan diriku,
dalam kalimat-kalimat-Mu yang indah.

Tidaklah aku menjadi kepunyaan-Mu,
sekiranya diri ini masih mencintai dunia
Tidaklah aku ummatmu yang sempurna
jika aku menutup sendiri pintu pengorbanan.
Sekiranya kau ada walau sedikitpun dunia
dalam sukmamu. Setiap kali melangkah,
kedua kakimu mengheretmu jauh ke belakang.

Puncak keimanan itu adalah pengorbanan
suatu yang kita cintakan. Lalu dunia ini adalah
bayang-bayang mengikut ke mana saja kau pergi.

Kota Kinabalu
29 Januari 2013
*AP BBSS





Anjing (Hewan)



Ketika anjing menyalak, lemparkan seketul tulang
lemparkan seketul tulang ke arahnya. Gonggong dan

salak anjing itu dan tengah malam adalah kerajaan

anjing di hujung desa dan kotaraya. Ketika tuannya

menggembara ke serata dunia ia menunggu sabar

kepulangan tuannya.


Pernahkah kau mendengar dari mitos sebuah kota

anak bangsa manusia dibesarkan oleh anjing serigala.

Ada sebuah kisah Yudhisthira dan anjing ini tiba di

puncak Himalaya setelah susah payah mendaki. Tapi

Indra berkata, syurga hanya kepadamu, Yudhisthira.

tapi Yudhisthira, kau harus meninggalkan anjing ini.



Kalau begitu lebih baik aku tak masuk ke dalam

syurga kerana anjing ini telah ikut sejak perjalanan ini

dari kaki gunung sampai ke puncak ini.



Di padang pasir, panas dan kering tersebutlah kisah

seorang wanita malang yang turun ke perigi,

mencedok air dan naik ke atas. Ketika wanita 

malang itu tiba di atas didapatinya ada seekor

anjing sangat haus dengan lidahnya terjulur.

Wanita malang itu pun turun kembali ke dalam

perigi dan mencedok air dengan kasutnya, naik

ke atas, Lalu meminumkan anjing itu dari kasutnya.

Pintu langit dibukakan kepada wanita itu.



Kota Kinabalu

29 Januari 2013

 *ITBM (Bahagian II)

Sape* (Puisi)(Metamorposis)

Aku baitkan puisi ini
kerana kau merasa
kau terlalu lantang
dan keras. Sedangkan
aku ingin kau memetik
sape dan merasakan.

Aku hanya dapat
memandangmu,
senja tetap turun
dan menghilang.






Sunday, 27 January 2013

Makhluk Asing* (Puisi)(Metamorposis)

Khabarnya makhluk asing akan turun dari angkasaraya
mereka boleh saja datang dalam satu masa dan tak ditentukan
pula jam berapa, hari apa? Yang pasti, kita harus bersiap-sedia
makhluk ini tak berwajah, suka bercakap dan pandai pula
dengan bahasa gerak.

Makhluk asing ini suka main sembunyi-sembunyi. Kau tak
seram atau takut, kerana ia seperti badut dan pandai berbual
dan menyanyi. Ia mau kau pun boleh menyanyi dan jadi korus.
Lagi bertepik lagi bagus dan indah menurutnya.

Sepanjang jalan orang telah mulai memasang bambu dan
mengibar kain. Ada yang berkata di sini adalah sempadan
selamat buat makhluk asing turun. Tiap-tiap malam mereka
mulai menunggu. Telinga mereka jadi  teliti membedakan
jatuh bergolek seperti durian dan mendaratnya makhluk asing.

Tidak semua percaya pada kedatangan makhluk asing.
Jadi, mereka tak menunggu. Yang lain menyibuk ke sana
ke mari kerana mereka ada empat kepala, di depan dan di
belakang. di kaki kiri dan kaki kanan. Mereka mencium
tanah seperti anjing tapi mereka bukan anjing. Untung,
mereka belum terjumpa tulung rusuk atau tulang ayam.

Sekarang orang menunggu dan setiap dahan jatuh atau
air berkocak di laut, jantung mereka berdebar. Angin membawa
khabar ke mana-mana. Gemuruh di langit. Belum ada tanda-tanda
makhluk asing akan datang. Tapi setiap malam tiba, sebelum
melelapkan mata, telinga mereka masih menunggu kalau ada
bunyi yang luar biasa di depan pintu. Jadi, selalunya mereka
tak lena tidur kerana menunggu pintu mereka diketuk.

Kota Kinabalu
28 Januari 2013

Saturday, 26 January 2013

Kameleon (Hewan)

Mereka turun dari beberapa penjuru
menerkam dunia dengan lahab, sekaligus
merobek-robeknya. Tapi belum puas, terus
memburu.

Apalah diperebutkan dan pengiktirafan
kuasa untuk memiliki. Rupanya dalam
diri ada kecintaannya ingin jadi perkasa.
Sekarang ia mau dipanggil pemburu walau
sesaat. Ia telah menyembur air kencing,
ke sekujur badannya dan suaranya pun
cuba menyerupai hewan yang diburu.
Keasyikan itu hanya ia yang merasakan.

Sebenarnya ia sama saja seperti mereka
Sekalipun ia telah bertukar kulit tapi ia
masih seekor binatang yang berbisa.
Ketika ia berkhutba suaranya memang
sama dengan pendita naik mimbar. Lemah
lembut dan memikat tetapi ia sebenarnya
syaitan yang pandai merayu dan mengertak.

Cuma satu cara melepaskan diri, melindungimu
dari tipu muslihat pemburu perkasa, kau harus
jadi Kameleon. Menukar warna bukan
kebohongan tetapi menyelamatkan dirimu
dari maut, sebutir peluru dari senapangnya.

Aku telah selangkah ke depan
melihat permainan dan kelincahanmu
menerjang kaki depan dan belakang.
Sedangkan kedua kuku dan rahang gigi
siap untuk menerkam tengkuk mangsamu.

Usah merasa gentar dan berprasangka
kerana langitku biru terang dan jelas.
Aku tak menyimpan apa-apa rahsia
apa lagi khianat atau berdendam.

Kota Kinabalu
27 Januari 2013
*AP Volume 1, 2013








Mencarimu* (Puisi)(Metamorposis)

Mentari masih sejengkal, aku bekejar seperti burung
melaju ke desamu di kaki bukit, kau telah menunggu.
Aku lihat ada cahaya tersembunyi pada bola matamu
ke dalam sukmamu, masih mencari sisa-sisa bara api
lalu mengipas tenang, dan akhirnya api menyala.

Kita bersalaman meskipun saling belum kenal. Aku
melangkahi sempadan lalu kita dapat berbual santai.
Aku tak menderamu dengan rimbunan pertanyaan
bila kau ditanya, kau menolak dari ke kiri ke kanan
Akhirnya kau terpaksa bercerita dari sisa ingatanmu.

Siapakah ingin mencederakan burung dara ini?
Duniamu adalah pari-pari, tinggal di pohon-pohon
ketika malam, berkelip dan bersayap terbang ke
bintang dan rembulan. Lagumu desir angin malam
yang tak menyakitkan telinga yang mendengar.

Ketika kutinggalkanmu, terlihat pada wajah ini,
ingin jadi burung helang menguasai langitnya.
Kalau memang itu impianmu, singkap pintu
sukmamu melihat biru langit. Halaukan
kegelapan memenjarakanmu sepanjang musim.

Kota Kinabalu
26 Januari 2013









Thursday, 24 January 2013

Burung Kondor Menunggu Bangkai (Burung)

Aku tak bertanya lagi
musim ditunggu menjelang tiba
tanda-tanda pada langit dan getaran
pada gerak bumi telah terasa.

Burung-burung Kondor duduk di atas tembok
menunggu pembawa bangkai kereta kuda tiba 
Ketika terbang langit jadi
hitam penuh dengan burung kondor.

Pemandangan pagi di lapangan bertembok
hanya burung-burung Kondor lapar
mengeroyoki bangkai sampai ke tulang.

Wabak telah menyerang haiwan peliharaan
orang-orang kebingungan, tak tau berbuat apa
tapi keuntungan bagi burung-burung Kondor
tiap hari memakan bangkai. Bulu kepaknya
makin lebat dan lebar. Ketika burung Kondor
melayari langit, terasa ia raja langit perkasa.

Di lembah pedalaman, wabak hitam itu telah
berkembang masuk ke dalam gobok-gobok
orang kecil dan miskin. Hewan bergelimpangan
disambar maut.

Pesta wabak hitam burung-burung Kondor ini
tak selalu musimnya. Orang kecil memang tau
tipu-helah burung-burung Kondor yang pandai
main silap mata dan berpura-pura. Ketika
semua hewan jadi bangkai, giliran siapa nanti?
Mereka duduk dengan kaki terkangkang
berpandangan.

Kota Kinabalu
25 Januari 2013
*AP Volume 1, 2013








Selawat dan salam ke atas Muhammad, Rasulullah SAW. (Ketuhanan)

Ketika aku bangun dan melepaskan mimpi
pulang ke pati malam, aku siap melangkah
ke depan. Di pinggir ranjang aku duduk
membaca al Fatiha dan selawat dan salam
ke atas junjungan kita Rasulullah.

Aku mengenangmu Kekasih Allah, bukan sekali
tapi segenap waktu mengalir, namamu
dan kau wujud suci dan sempurna. Bagaimana
aku melupakanmu. Dalam diam aku
membaca selawat, tiada ruang dalam diri
aku tidak menyebut namamu. Aku ingatmu
dalam sukma. Inilah kecintaan tumbuh
dalam ruas dada. Ketika namamu, Muhammad,
Rasulullah,disebut, Yang Terpuji, air mata itu
bergenang di tebing bagai air ingin mengalir.

Jiwaku merontah dan tertekan seakan ingin pecah.
Kami tak sanggup mendengar apa lagi ketika
namamu, Muhammad, Rasulullah, Kekasih Allah,
diconteng dan dikeji. Kami sanggup diri ini
dicincang. Kami sanggup melihat anak kesayangan
kami disakiti tetapi kami tak sanggup nama wujud
suci ini dihina.

Hari ini aku mengingatimu dan duduk tenang
mencernakan sirat-un-Nabi. Kau adalah cahaya
yang memancar dari Cahaya-Mu. Tiap liku-liku
hidup itu adalah rahmat. Kau adalah wujud yang
sempurna. Cahaya dalam cahaya. Cahayamu
bersemi di dalam sukma, tiap seorang Muslim
akan mengingati dan merindukanmu. Ya Rabbi,
bagaimana aku tak bersyukur kepada-Mu, tanpa
Muhammad, Rasulullah, Kekasih Allah, kami
dalam gelap pekat dan dalam kesesatan.

Ya Rabbi, kerinduan ini tak terubat, cintaku
telah mencapai batas akan tumpah, aku adalah
debu jutaan batu dari tumit Kekasih-Mu.
Dan sekilas melihatmu dalam mimpi atau
dalam kasyaf akan menjawab kerinduan ini.

Kota Kinabalu
25 Januari 2013




Sepotong Syurga (Ketuhanan)

Lihat pada siang diserap ke dalam senja
Kau seperti lagun sendirian di samudera lautan.

Suatu hari kau bertanya setelah bangun 
"Di sini telah lama tak mencium syurga. Orang pun
tak bimbang. Kerana sedang menikmati dunia."

Ketika orang membolak-balik daun tangannya
Ini sepotong syurga. Ambillah. Jangan mengigau
Berkilat kristal di anak matanya, perantau pulang.

Syurga itu tekad, pengorbanan dan displin mendaki
kemanisan madu telah mengalir ke dalam sukmamu

Kota Kinabalu
24 Januari 2013
*AP Volume I, 2013











Wednesday, 23 January 2013

Kekasih-Mu, Muhammad, Rasulullah. (Ketuhanan)

Engkau adalah mentari rohani menghalau kegelapan
Hadirmu mengakhirkan kemarau panjang dan melahirkan
Jutaan bintang-bintang gemerlapan di langit-Mu.

Tiada syafaat selain engkau, jalan ke langit samawi
Engkau, kekasih-Mu, yang sempurna dan tanpa aib
Tiap sukma minum dari air pialamu tak akan puas.

Kau tanam kalimat tauhid  di bumi dan langit
Allah yang satu, tiada Tuhan melain Allah dan
Muhammad itu Rasulullah, dan menjadikan aku, Muslim

Tanpamu, kekasih Allah, aku komet yang hanggus
debu jalanan terbawa angin ke sana ke mari tanpa
tunjangan dan terpenjara dalam nafsi-amarah sampai kiamat.

Ya Rabbi, bagaimana aku merindukan wujud yang sempurna
Rasulullah mengajarkan dunia, Islam, ugama yang hidup
kerana Allah berkata-kata semalam dan hari ini.

Kau yang mengajarkan kecintaan dan kasih-sayang
pesan kedamaian, menjauhkan yang mungkar, dan kebencian
Musuh-musuhmu, pun memuji wujud suci Rasulullah.

Muhammad, kekasih Allah, mengangkat martabat kaum hawa,
ke puncak mahligai langit tertinggi, melindungi anak yatim piatu,
golongan miskin dan  memelihara  hubungan jiran tetangga.

Kalau kau benar cintakan Allah dan Rasulullah
bermula dari sukmamu, mengucap salam, bermuka manis
menjauhi kebohongan, menjaga amanat dan menekan kekerasan.

Ya, Rabbi, berikan aku kekuatan biarkan sedikit bagai
sentuhan gerimis ke dalam sukmaku, supaya aku dapat berkorban
membawa suara-Mu ke belantara dan sempadan tak tersentuh cahaya.

Kalau cintaku pada Kekasih-Mu ini, sampai dipanggil kegilaan
aku tak akan peduli kerana di sini aku menemukan kedamaian.
Kedamaian di riba Kekasih-Mu, dan melihat-Mu langit kristal.

Kota Kinabalu
24 Januari 2013










Tuesday, 22 January 2013

Seorang Ibu Seorang Nahkoda(Mama)

Ada seorang ibu hidup sendiri di kotaraya
ia adalah perabut dari pilihannya sendiri
melihat wajahnya pasti kau melihat wajah
sebuah kota. Alis matanya, gincu bibirnya
dan bedak dan minyak wangi yang disembur
tiap pagi sebelum turun menaiki trem terus
ke ibu kota.

Seorang ibu seorang pekerja di kotaraya
ia jauh dari desa impiannya, jauh dari
sanak-saudara. Semua itu tak mengapa.
Kerana ini adalah pilihannya, pilihan
yang terbaik. Menyeberangi lautan
dan mencuba nasib di buminya sendiri
sekalipun terpisah dari gunung, udara
di lembah dan berunsai dan kulintangan.

Beberapa kali sukmanya bagaikan terpukul
ingin pulang. Keghairahan kota sudah luntur
dalam hidupnya. Kini ia keseorangan,
nahkoda yang melayari bahtera mereka
telah berpulang. Tinggallah ibu muda ini
bergempur dengan angin dan gelora
samudera hidup.

Bukan ia tak mencuba mencari nahkoda,
satu, dua, tapi selalu tak kesampaian ke
pelabuhan. Ketika kematian mata angin
atau ketika lautan bergelora, dirinya sendiri
nahkoda. Adakalah ia berhanyut-hanyut,
melihat kejuitaan alam raya di waktu malam.
Ingin ia merangkul keindahan itu dalam
sukmanya. Tapi ia tak sendiri.

Di kotaraya ini ia adalah seorang ibu,
seorang pekerja dan seorang nahkoda.
Ia tak akan dikalahkan, sekalipun kabus
jerebu ia tetap memandang ke depan
mengawasi gerak langkahnya sekali
pun jerebu menusuk-nusuk pada
mata dan mencekik rongga dadanya
ia tetap seorang wanita, seorang ibu
sambil berkata,"Sayang, ma akan membawamu
terbang sekalipun sampai ke bintang suriya."
Memandang kasih kepada anaknya
yang tersenyum duduk di atas kereta roda.

Kota Kinabalu
23 Januari 2013
*AP Volume, 2013

Hujan Masih Turun. (Suasana)*(ITBM)

Aku memikirkanmu dalam bahasa yang paling mudah
penderitaanmu  belum berakhir sekalipun hujan telah
lama berhenti. Kau, masih sebuah kota metropolitan.
Air melimpah masuk ke dalam kota, dari kota ke
lorong sempit dan dari antara dua lorong ada penghuni
yang datang dan pergi. Arus air mulai perlahan berupa
jadi air lumpur yang memekat.
 
Ada orang tua, ada ibu dan anak-anakmencari suaka
di negeri sendiri. Mereka adalah orang kecil yang tak
berdaftar. Kelaparan mereka sudah tiga kali lipat.
Mau ke mana mereka mengongsi? Tanah-tanah masih
lembab. Antara tubuh dan tanah hanya ada kertas kotak
atau surat khabar. Mereka masih seperti menunggu,
tapi siapa yang datang? Tak ada yang menghulur
tangan sedang yang lain sibuk. Pertolongan hanya
pada mereka yagn punya nama dan alamat. Sekalipun
kamu mau menempel sebagai 'orang.'

Yang kau lihat adalah penderitaan orang kecil. Kotamu
masih berdenyut.  Desa-desamu masih sepi digenangi
air. Berita tentangmu, bual ocehan, biasa-biasa, belum
dapat menggerak nadi dan sukma yang menonton. Tapi
aku masih mengenangkanmu, sekalipun hanya dalam
sebuah puisi.

Kota Kinabalu
23 Januari 2013
*ITBM





Mimpi Dan Impian Anak Bangsa Merdeka (Kemerdekaan)

Ada saja pembuat api tak kira dalam keluarga
atau dalam sebuah negara. Barangkali dalam
keluarga tuan mengesan siapa biang keladinya.
Tetapi tuan dalam sebuah negara merdeka
Tuan tak tau bagaimana pengkhianat bangsa
bekerja. Kekadang menyusup sebagai kawan
dan jadi musuh dalam selimut.

Soalnya, Tuan, menentang musuh yang nyata
kita dapat mengarahkan satu pasukan untuk
menghapus pengkhianat bangsa yang jadi
pemberontak. Tuan menyintai negara ini, bukan?
dan sanggup turun dan berkorban diri
melawan panah-panah durjana atau komet-
komet yang diarah ke angkasa negaramu.

Aduhai, anak segala bangsa di negara merdeka.
ketika mereka berkumpul dan berucap dengan
retorik, sebenarnya mereka telah menyusun
perpecahan dan pemberontak atas nama
keadilan dan atas nama demokrasi. Dalam
diam bertahun-tahun mereka mencipta api
hingga api tak dapat dipadamkan. Lalu
negara yang kita cintai dalam porak-poranda.

Tuan, sebenarnya mereka ingin mencipta
kekacauan dan perpecahan bangsa lalu
mengaut untung dan membawa lari
kekayaan negara. Ketika perang telah meletus
mereka yang pertama lari dan berlagak
sebagai patriok dan pencinta bangsa.

Kalau ada yang datang kepadamu Tuan
bercerita yang muluk-muluk kemudian
menyuntikmu dengan cerita-cerita tipu-
muslihat dan kebohongan yang dianyam
dengan halus dan tak terasa. Berhati-hati,
kerana mereka ingin melihat negara ini
tumpang dan hancur. Apapun usah biarkan
negara berdaulat ini jatuh ke dalam kanca
peperangan. Kerana peperangan itu hanya
membawa bencana.

Ingatlah negaramu merdeka di meja
perundingan. Berkat hikmah pemimpin
dan doa-doa perjuang yang memberikan
jiwa raga demi kemederkaan anak bangsa.
Menjelang 50 tahun merdeka, kita merayakan
negara berdaulat ini dengan impian sejuta
tahun mendatang. Ini adalah anugerah
Allah ke atas bangsamu. Tuan, keindahan
bahasamu yang bermartabat jadikan bangsa
ini hidup, progresif dan dinamis. Kami mengharapkan
yang terbaik baik bangsa dan negara.

Kota Kinabalu
22 Januari 2013
*ITBM
*Antologi Kemerdekaan

Monday, 21 January 2013

Cinta, Harum Kenanga* (Cinta)

Di dalam kamar ini adalah istana kami
di situ kami beradu dan di situ berkasih
cinta kami hidup terlalu lama seperti
pokok gaharu di halaman. Malam kenanga,
rembulan penuh, kejora dalam impian.

Malam itu, suaminya duduk di belakang
menyisir sisa-sisa rambutnya yang putih.
Isterinya duduk tenang, tangan kanannya
memegang cermin melihat wajahnya.

Aku melihat dan jadi saksi keindahan
sebuah taman yang dipupuk dengan
kasih-sayang. Aku mengurut-urut
tangan sambil memandang Kinabaluku
dan Pulau Mantanani.

Kota Kinabalu
21 Januari 2013



Pulang Karuhai Ke Pangkuanmu (Mama)

Mari aku mulai supaya kau tau yang tersirat
aku tak ingin kau gegabah menangkap firasat
meskipun kakiku  di lautan atau berpijak di
pulau tapi sukmaku masih membumi di sini.
Kau tak melihat sekalipun aku dekat padamu.

Oh kepulauan yang berhampuran di lautan
aku pernah menitiskan air mata tiap satu
kalau tidak keseluruhannya. Dan kasihku
bersayap melewati sempadan jiwamu. Aku
tak pernah menuntut kepada yang bukan
hak.

Di benuamu, dari masa silam kedamaian
pantaimu memang pernah didatangi dalam
malam kencana dan pertarungan. Di tanah
merah dan pasir putih pernah pelautmu
kelelahan dan berteduh. Dan pelautmu
pernah menambatkan kasih dan rindumu
Sekalipun dirimu telah jadi debu kau
tak pernah dilupakan kerana di tanah
Aborigine ini debu-debu masa silam
kini telah tumbuh jadi pohon Eucalyptus
ribuan tahun.

Di tanah kelahiran aku pulang dengan
bau benua dan bau lautan. Aku pulang
bukan pulang si Tanggang. Tapi pulang
Karuhai ke pangkuanmu. Yang ada
di sukma ini hanya kasih dan cinta anak musafir.

Kota Kinabalu
21 Januari 2013
*AP BBSS

*Antologi Kemerdekaan




Sunday, 20 January 2013

Kesederhanaan Itu Indah* (Indah)


Tak usah kau gelisah aku akan membawamu bersama
menembusi lapisan bumi, dari ufuk ke khutub,
hingga ke galaksi. Aku tak akan meninggalkanmu.
Mari kita terus ke lembah jaya ke hutan rimba,
ke belantara kota raya, terus ke perdu langit.

Ketika aku tiba di pemukiman orang lapar dan miskin
sebuah syair tak akan dapat membuatmu kenyang
dan tak mungkin aku melepaskan penderitaanmu
seperti menonton berita ketika aku duduk
makan yang enak-enak melihat kesengsaraanmu.

Aduhai, biar syair-syair yang terucap itu
datangnya dari sukma bukan gumpalan kata-kata
pada kulit. Ketika aku menulis tentang kemiskinan
atau ketuhanan sedang aku sendiri tak melakukan
maka semua itu hanya kepura-puraan, dan permainan kata.

Tiap syair-syair itu dari benih yang halus, tulus dan
gerak kasih yang sedar. memakai kata-kata asing,
menyebut sifat-sifat Ilahi, sebenarnya-
pengertiannya tak berakar. Jadilah ia hanya luaran,
tanpa isi tanpa keindahan. Lalu syair-syairnya kering
dan tak memikat. Bukan datangnya dari sukma.
Bukan dari jiwa yang inginkan kebenaran itu.

Aku akan selalu sederhana. Membaca alammu sederhana.
Kerana kesederhanaan itu ada keindahan dan kebenaran.

Kota Kinabalu

21 Januari 2013


Suara Penyair* (Indah)


Aku mendengar suara hujan turun ke lembah
lalu aku menitipkan suaraku ke sana.

Ketika deru angin dan gelombang samudera bergolak
aku pun membawa pesan kedamaian bersamanya.

Tadi aku melihat sekawan burung terbang lalu hinggap di dahan
dalam nyanyian sekawan burung, aku turut mereka menyanyi.

Dari gunung ke Danun, Melinau, Long Pa Sia dan Tanah Malaysia
suara ini melekat pada tiap daun hijau di rimba jati dan sukma air.

Kepulauan yang bertaburan di dada lautan dan Simpang Mengayau
suara-suara ini jelas tak akan tertekan tapi ia akan terus bersuara.

Semakin ditekan ia jadi suara air yang turun dari pergunungan
jadi air terjun yang dingin, jadi, mata air yang tak pernah kering.

Mengapa kau tak melihat kami? Berpaling dan menjauh
Kami adalah suara-suara akar tunjang di tanah pribumi.

Suara kami bukan suara tukang ampuh atau tukang sulap
suara-suara itu adalah suara-suara terkumpul dari rimbunan hijau.

Ini suara-suara asal laut samudera, asal sungai yang mengalir,
hening air perigi dan desir angin pagi yang membuka langit siang

Suara-suara penyair, adalah suara-suara tercetus dan lahir dari sukma.
Dan suara-suara ini juga yang akan memberi peringatan dan amanat.

Suara-suara ini adalah suara malaikat yang datang ke dalam mimpimu
suara-suara yang membawamu ke impian langit dan bumi baru.

Kau tak akan dapat memenjarakan atau memadamkan suara-suara ini.
Sekalipun kau cuba menghapusnya, kau akan gagal baru mau melangkah.

Suara-suara ini adalah yang tak akan dikalahkan.
Dan suara-suara ini, suara yang dapat dimengerti.

Kota Kinabalu
21 Januari, 2013
*ITBM

Saturday, 19 January 2013

Didgeridoo (OZ)

Sebenarnya aku masih ingat Uluru dan tanah kemerahan
langit senja dan rembulan penuh seperti bola terampung
sekalipun aku tak melihatmu, kau datang ke dalam mimpi
kau memanggilku, suaramu jelas, lalu kau jadi burung walet
menyongsong angin dengan kepakmu antara dua bukit.
Siapakah yang meniup didgeridoo di malam musim panas?
Hening bunyi itu sampai ke telinga, aku bagaikan melayang
ke dalam dream time. Kita berpaut lalu hidup dalam mimpi-
mimpi. Kedatanganmu dan menginjak kaki  di benua ini
adalah hari-hari muram dan menukar sejarah Aborigine.
Malam-malam suram ini terus menghantui bangsa ini.
Kau telah berkata ke langit lazuardi, dan alam sejagat
kau tak akan merayakan 26 Januari itu, Hari Australia.
Aku telah menjabat tanganmu, dan mencium pipi dan
dahimu, berdua. Langit turun sebagai saksi, kalian telah
kembali. Suaramu telah melintas langit. Laut dan bumi
berpadu, mentari, bulan dan bintang-bintang, orbit-orbit
dan cakerawala telah pun mendengarmu terang dan jelas.
Sekarang musim berburu, musim bunga makin dekat.

Kota Kinabalu
20 Januari 2013

English translation:

The Didgeridoo

Indeed I still remember Uluru and your red soil
the twilight sky and full moon like a floating ball
though I cannot see you, you came into my dream
you called me, your voice so clear, then you became a single walet bird
beating the wind with your wings between two hills.
Who is it that blows the didgeridoo in the summer nights?
Calmly the sound of it creeps into my ears, as if I am drifting
into the dreamtime. We coalesce to live in dreams.
You arrived and the and step of your foot in this continent
began the days of gloomy and shifting Aboriginal history.
This gloomy night still haunts the nation.
You told the lazuli sky and the cosmos
You would not celebrate January 26, Australia Day.
I have shaken your hand, kissed both your cheeks and your brow.
The sky has fallen as a witness, you have come
back. Your voice has been crossing the sky. Ocean and Earth
combined, the Sun, the Moon and the stars, the orbiting firmament
all hear you loud and clear.
Now, the hunting season, the spring, is near.

(Translate by H M Musa)



Berita (Malaysia)

Seorang lelaki tua tiap hari ia akan duduk
di depan tv menunggu siaran berita. Ia nampak
tenang sekalipun dalam jiwanya ada gelombang
tak terlalu besar, tapi cukup membuatkan perahunya
berlenggang ke kiri dan ke kanan.

Ia mendengar berita tekun, kalau ada bunyi
yang mengganggu biar sedikit, ada perubahan
pada wajahnya. Dan ia cuba memberi peringatan
supaya orang lain duduk diam atau mau berbuat
bising pergi jauh.

Setiap tajuk berita didengarnya tertib. Berita pagi,
berita tengahari dan berita malam ditunggu. Sebelum
berita ia selalu mengumumkan kepada isterinya
Tolong senyap. Isterinya mengerti dan membiarkan
ia sendiri.

Tak lama lagi tapi sekarang belum ia mengingatkan
ia bercakap sendiri. Kekadang suaranya besar.
Dekat sudah. Habis tahun, sekarang bulan satu.

Beberapa hari ini tajuk-tajuk berita tentang banjir.
Ada rasa kasihan dalam sukmanya. Melihat air
warna teh susu terus naik dan kumpulan orang tua,
ibu dan anak kecil mengongsi dan mencari
dataran tinggi.

Ia masih bersyukur melihat pada langit
ada hujan di sini tapi tidak seperti yang di
lihatnya di tv. Tapi fikirannya masih tertumpu
pada satu tajuk berita masih belum keluar.
Ia meregut sendiri.

Suatu siang matanya berkilat. Warta berita
sedang dibacakan. Lalu tajuk berita yang ditunggu
pun keluar. Bukan main sukmanya bagai
mencercah langit paling tinggi. Didekatkan telinganya
ke tv, mendengar hati-hati.

Lima Ratus ringgit. Mulutnya seperti terbuka.
Akan dibayar. Matanya mulai berair gembira.
Bulan depan. Ia bergerak  dari duduk dan berdiri.
mulutnya mengira-ngira hari. Mengulang dan
mengulang.

Kota Kinabalu
20 Januari 2013
*AP Volume I, 2013


Kalau Bukan Sekarang, Esok (Ketuhanan)

Di bawah sebatang pohon mereka duduk
melihat hujan turun, mereka pun tak mengira
telah berapa lama tapi mentari telah mulai
condong ke barat. Air  terus naik.

Di lautan sampah pun air mulai melimpah
desa di hujung kota metropolitan bagai
perahu hampir separuh tenggelam.

Mereka tak pula menangis dan tak pula
mendengar kutuk dan sumpah sarana.
Mereka menerima sesekali mendongak
ke langit seakan bertanya bila hujan akan
berhenti.

Tiap hari mereka berjuang, di bawah terik
mentari, mereka tak pernah menyerah kalah.
Tiap masalah ada jalan keluarnya
Tiap penderitaan ada masanya akan berakhir
kalau bukan sekarang esok atau lusa.

Persoalan sekarang harus diselesaikan sekarang
yang esok tunggu esok baru difikirkan.

Dalam terkepung itu kita teruji lagi dalam
penderitaan dan kepayahan.

Di musim banjir, kelaparan orang kecil
terbawa ke dalam tidur. Harapan, seperti terbawa
arus jauh dari gapaian tangan.

Mereka mula bertanya bila mentari
mengirimkan cahaya ke daerah-daerah rawan
kotaraya metropolitan terendam dalam air
mereka di lautan sampah pun masih menunggu
hujan berhenti.

Kota Kinabalu
20 Januari 2013
*Volume II













Friday, 18 January 2013

Orang Kecil, Jangan Mati Kedua Kali (Kemerdekaan)

Kita telah biasa mendengar berita yang baik
seperti suatu masa dulu ketika menerima telegram
selalu mengharapkan yang terbaik
atau berita-berita celaka dalam kalimat padat.
sekarang aku tak melihatmu
tapi kau masih mengharapkan yang terbaik.
ketika aku meulis syair-syair tentang kepincangan
tentang kerakusan kau pun membuang muka
kalian hanya sibuk melayani sukmamu
yang kehausan cinta dan mengejar fatamorgana
membisik kata-kata  plastik lalu dikaburkan
jadi patah-patah kata yang ditolak-tolak,
suara-suara yang terpaksa dan syair-syair
yang meluluh dengan kata-kata yang kosong
dan keliru.

Aku datang kepadamu bukan sebagai penonton
aku di dalam kehidupan itu sendiri. Kesakitanmu
adalah kesakitan kami semua. Kemiskinan dan
kelaparanmu bukan perkara yang boleh ditolak-ansur.
Kepada mereka yang bersibuk-sibuk dan bermega-mega
berlagak sebagai jurucakap dan wakil. Hentikan
lagakmu dan jangan berpura-pura, kami membacamu
setiap langkah dan gerakmu. Ayuh, jangan mati
dua kali di dalam hidup ini. ambil hakmu,
bicara lantang. ketidak-adilan dan korupsi akal dan
budaya hidup harus dihentikan.

Pedih mataku melihatmu, anak-anak pribumi
memugut dan mengali sampah untuk kelangsungan hidup.
Di mana salahnya, melihatmu  jadi setinggan di bumimu
sendiri. Kemajuan bukan untuk golongan yang diseleksi
bukan mereka yang pandai memakai topeng.Kemajuan
untuk semua. Kemajuan anak bangsa.

Ayuh, kita basmikan kemiskinan, sudah kita miskin
harta  lalu kita miskin berfikir. Anak bangsa, tidak akan
kemiskinan dipaksakan kepadamu. Kalau seorang tak bisa
melayahkan kemiskinan ke mentari biarkan kita bergerak
satu semboyan. Jangan sampai kemiskinan berakar
dalam diri bangsa ini. Dan akhirnya  kita sekali lagi
kalah dalam hidup. Wahai saudaraku, orang kecil suaranya
banyak, biarkan suaramu bagaikan halilintar tapi tak
mencederakan oarng lain. Bangkit, secara aman. Jangan
kau sentuh yang bukan milikmu. Kita bergerak di jalan
yang lurus dan sederhana. Kemiskinan tak bisa terjawab
dengan kekerasan. Kemiskinan harus ditantang dengan
perjuangan terus menerus. Kemiskinan adalah penyakit.
Mari, kita cabut sampai ke akar tunjang penyakitmu.
Hidup orang kecil, jangan mati untuk kedua kali.

Kota Kinabalu
19 Januari 2013







Thursday, 17 January 2013

Kisah Sekilas* (Cinta)

Katamu, mari, kita bersaudara dan sebangsa
ketika aku jauh kau memanggil-manggil
dengan kalimat-kalimat rindu dan kasih sayang.
Tapi bila kita berdekatan, mulalah kau berkata
kasar, tanpa sebab.

Bagaimana kita bersaudara sebangsa
ketika aku bertanam buah dan sayur
kau datang dalam diam menyebur
pokok buahan dan tanaman sayur
dengan racun rumput.

Kau tak dapat menghalau dan menukar milik
kerana aku seorang pribumi dan
kau adalah jiran.

Aku bukan orang asing
seperti dirimu, aku berjuang
membina hidup,  membina masa depan.

Ketika aku berbual padamu
suatu hari di halaman rumah
Tampaknya kita satu rasa dan impian.

Dari dulu sampai sekarang
kamu menaruh prasangka
cemburu melihat mentari
bercelak-celak di permukaan air.

Saudara bangsaku
kalau kau ingin makan buah
makanlah sepuas-puasnya
jangan inginkan buah menebang pokoknya.

Kalau aku tak pulang
bukan aku melupakan rumah kayu
di pinggir bukit, dan rumpun bambu
di halaman. Tapi aku hanya menghindar
pembuat api dan pengerat kulit kayu
lalu berpura-pura jalan besiul.

Kota Kinabalu
18 Januari 2013

Bersuara Orang Kecil, Bangsa Merdeka

Aku tak menjanjikan dunia bergolek datang
tapi aku akan membawamu keluar dari kemiskinan
membeban dan menghisap sisa-sisa tenagamu
dan meninggalkanmu tulang belulang dan penyakitan.

Suaramu dan suaraku berganding meskipun tak
semerdu sampai ke telinga mereka. Sekurangnya
membuat mereka gelisah  dalam tidur musim panas.
Mereka tak bisa mengelak-elak, mau menoleh ke mana?
rembulan penuh dan keindahan alam itu kepunyaan
bersama. Tidak ada yang kekal jadi milikmu selama.

Kami, bukan orang terpinggir, bukan bangsa yang kalah
kau menuduh kami bodoh dan tak ada daya saing
tak bisa diatur, selalu malas dan buta huruf
tak ada pendirian, senang dibeli dan ditolak-tolak
ke sana ke mari. Tak punya mimpi dan tak punya
impian. Kamu buih di permukaan. Kamu adalah
barang buang dalam era pembangunan. Kalau
keuntungan ada pada kamu,  kerana kamu punya
keluarga ramai kerana ketika musim mengait
jembulmu bisa dipakai.

Mengapa kau memandang rendah pada kami
sekalipun kami tak tau berurusan tapi kami
bukan pembohong. Sekalipun kami tak bisa
berjumpa wakil rakyat tapi kami bukan penjilat.
Kami adalah pribumi, anak bangsa  di tanah
merdeka. Sekarang kau tak bisa meminggirkan
kami.

Sekarang kami pandai meminta hak kami.
Kami bukan orang yang ditendang ke sana
kemari dan mata kami dibutakan, telinga
kami ditulikan dan mulut kami didiamkan.
Kami berdiri di lapangan bersama kalian
ingin merubah hidup yang dibebankan ke
atas kami.

Dulu, kami kuli-kuli di bengkel, pelayan hotel,
pelacur di lorong gelap, pemugut sampah,
jaga kilang, pekerja kilang, tukang urut,
jual ubat di kaki lima, drebar. Sekarang kami
punya impian seperti kau juga yang punya
impian dan hidup baru.

Kami, anak pribumi, pewaris tanah merdeka,
warga jati, anak watan. Kalau kau tanyakan
apa impian kami di bumi merdeka. Anak-
anak kami ingin kami persekolahkan sampai
ke langit mana pun, dan bumi mana pun.
Kalau mereka mau menguasai langitnya,
biar ia sendiri persiapkan kepak, kalau ia
ingin menguasai lautan, ia harus belajar
membaca mata angin dan kau tawan
samudera dan jelajahi khutub ke khutub.
Kalau itu kau telah kuasai, genggam bumimu
jangan kau lepaskan, yang kau ada jangan
terlucut dari tanganmu, jangan menerpa dan
menyerbu suatu yang bukan hakmu.
Ayuh, pacu kudamu, kembangkan kepakmu
kalau di sini sudah terlalu tak mencabar
terbang ke angkasa raya sekalipun kau
terlupa pulang dan menemukan orbit baru.

Di bumi merdeka ini, setengah abad kami
berjuang mengangkat martabat bangsa. Kami
berjuang dari bumi terbelakang jadi negara
membangun.Jangan sekali-sekali kau melemparkan
kemiskinan dan menyoroknya ke lembah-lembah
gunung, di hutan-hutan pedalaman, di pesisir pantai
dan kepulauan jauh. Kemiskinan dan kebodohan
bukan waris pusaka keturunan bangsa.

Hari ini kami bersuara seperti kau bersuara
kami berdiri sama tinggi seperti kau dan impian
kami seperti impianmu. Ingat, tanpa kami
kau tak akan berada di sana. Kekayaanmu
itu kami punya hak. Bukan merampas darimu,
tapi sebahagian itu adalah hak kami.

Kota Kinabalu
18 Januari 2013
*ITBM
*Antologi Kemerdekaan





Mimpi, Firasat Dan Kasyaf (Ketuhanan)

Malam itu adalah suatu anugerah dan rahmat
ketika kau dihinggap mimpi-mimpi atau bayangan
esok, kau melihat lapisan-lapisan atau keratan-
keratan rohani disingkapkan. Satu kerinduan pada
mereka yang tak bermimpi atau ia tak pernah
bermimpi. Mimpi  lesap dan hilang selamanya.
Lalu ia tak bermimpi. Sejak kau tak dijamah
mimpi, kelunakan tidurmu tak pernah menyentuhmu.

Ketika siang turun dalam rangkaian firasat di-
sukmamu. Firasat turun dari langit sebagai
hujan musim semi. Lalu tiap gerak dan sentuhanmu
itu adalah firasat. Kau melihat dengan mata rohani,
nikmat meresap dalam tiap doa lalu sukmamu
terus mendapat sentuhan kasyaf.

Hadirlah kau dalam siang  dan dalam malam
ketika kau ditolong oleh kekuatan menolong
tak ada satu kekuasaan akan dapat mematahkan
tulang belakangmu. Mimpimu jadi impian.
lidahmu menuturkan firasat, matamu saksi,
kasyaf, mengalir seperti air pancuran dingin
dan melegakan dahaga musim kering.

Kota Kinabalu
17 Januari 2013
*AP BBSS



Wednesday, 16 January 2013

Perempuan Sakit (Perempuan)

Di dalam kamar perempuan itu duduk
memerhatikan foto dinding tanpa berfikir
ia cuba mengingat apa saja yang telah
dilakukan sejak tahun lalu. Ia berdiri
lalu duduk di depan cermin melihat
mata dan wajahnya. Ia senyum sendiri.
Ia menghitung-hitung Majlis Perkahwinan
sanak-saudara dan anak-anaknya
yang pernah ia turut hadir.

"Aku masih di sini. Doaku bersambut.
Sedang tahun lalu, aku terpuruk dalam
kamar, gelap. Segala-galanya gelap.
Tak ada pintu keluar. Kalau ada jalan
keluar, jalan berpulang dan tak akan
kembali. Terasa nafasku sesak dan
tertekan. Kesakitan ini telah mendera
diri ini. Aku tak ingin tersiksa. Hanya
air mata membebaskan diri ini."

"Berkali-kali aku berkata, mungkin
aku tak akan sampai pada penghujung
jalan. Aku makin tak larat dan aku
seakan berkata, sudah sampai di sini saja.
Aku tak akan melangkah walau seinci.
Ingin aku mengucapkan selamat tinggal,
kepada alam raya, bintang-bintang di cakerawala,
dan bumi di bawah telapak kaki ini. Kalau
ini ujian, biar aku berhenti di sini. Kau
mau katakan apa saja. Sakitnya tak tertahan."

"Sekarang, aku telah meninggalkan
segalanya ke belakang. Nadiku masih
berdenyut. Aku masih menghirup
udara pagi. Sudah hampir setahun aku
bertarung antara hidup dan mati.
Puisi-puisimu jadi penglipur lara.
Semangat hidupku tumbuh. Aku
akan memacu kudaku, membebaskan
sukmaku dari penjara yang ingin
membunuh diriku dan mengaku kalah.

Perempuan itu tak lagi mengeluh
ia tau ketika maut datang berkunjung
ia tak akan berpaling tapi menyerah
dengan senyum. Kini tiap hari ia telah
siap. Tiap hari ia berkemas, siap untuk
berangkat.

Kota Kinabalu
17 Januari 2013
*AP Volume 1, 2013




Pintu* (Indah)

Aku bukan tak ingin membalas tanyamu
dalam perbualan ada sopan santunnya
ada perkara boleh kita kongsi bersama
seperti berkongsi alam raya.
Kau melihat, merasakan dan meluahkan.

Mengapa masih kau terus mendesak?
padamu, segalanya terbuka, tak ada
rahsia. Sekalipun kau mendesak, aku
tak akan menyingkap atau membuka
pintu. Pintu yang baik akan terbuka
pada tiap orang boleh masuk kalau
memang ia membawa kebaikan.

Sekalipun kau telah menutup pintu
ketika pintu itu diketuk, aku pasti
kau membukanya. Apakah kau datang
sebagai musafir atau tamu di malam
melarat. Kalau pintu itu tertutup
di siang hari, tentu tak berkunci
tapi aku berada di dalam. Berilah
salam, aku akan menyambutmu
di depan pintu.

Ramai yang masuk melalui pintu
ini. Datang dan pergi, memberi
salam atau bergegas keluar seperti
kelewatan. Pintu yang sederhana
akan membawamu ke ruang yang
sederhana. Bicara yang sederhana.
Selepas fajar, ada orang memberi
salam. Kusambut salam itu .
Kota Kinabalu

17 Januari 2013




Erti kemenangan itu sudah tak ada (Malaysia)

Mengapa diadu-domba kalau kamu telah tau
siapa yang akan menjadi pemenang. Tak perlu
pemilihan kalau alam sejagat akan jadi saksi.
Rahsia bukan rahsia lagi kalau semua orang
telah tau apa yang akan terjadi. Berpura-pura
kalah dan berpura-pura menang adalah tipu-
helah. Dari matamu aku menyaksikan tak ada
lagi yang mengejutkan.

Katamu, ini bukan perkara main-main.
Ini soal hidup dan mati. Kalau kita tak
turun ke padang, orang lain akan menuntut
dan kamu akan ketinggalan buat selamanya.
Ketika orang terlalu yakin tak akan ada
hujah-hujah yang dapat mendiamkannya.
Kebenaran itu hanya dipihaknya. Sekalipun
sebenarnya itu adalah suatu kebohongan.

Aku orang kecil, ada suara tapi tersekat-
sekat. Apalah ertinya kemenangan kalau semua
itu hanya  kebohongan, mengabui mata melihat.
Bagaimana menyalahkan orang kecil kerana
mereka suka pada keramaian dan kemenangan.
Sekalipun semua itu telah dibuat dan dirancang.
Lalu sesama mereka berkata, "Aduh selama ini
kami orang yang kalah tapi sekarang, kami
menang sama seperti menang loteri. Bukankah
semua orang mau kemenangan untuk dikhabarkan
pulang ke rumah. Sekalipun makna kemenangan itu
sudah tak ada, sorak-sorak itu hanya pelepas rasa
seketika seperti hadir sebagai penonton bola di stadium.

 Kota Kinabalu
16 Januari 2013
*AP BBSS

Hanya Itulah Yang Tinggal, Semangat (Ketuhanan)

Aku makin lelah berterus terang
barangkali baik diam, senyap dan menyepi
siapa yang ambil peduli
kalau bukan diri sendiri.

Aku tak menyalahkanmu
maju terus kalian di bumi merdeka
kalau aku ketinggalan bukan kerana
aku tak ingin bersaing.
Ayuh, maju terus saudaraku,
minumlah sepuasnya
tidak ada sesiapa yang akan
menegurmu.

Jangan kau minta lagi
yang ada padaku
hanya tanah kecil dan kosong
tapi kalau kau mau saudaraku,
aku tak dapat melarangmu
asal jangan kau pula menyetop
aku dari berfikir dan menulis.

Selagi aku dapat befikir
aku akan menulis. Paling tidak
kau membacanya percuma tiap
hari.
Kau tidak dipaksakan, aku
meredahkan. Kerana yang aku
tulis supaya dibaca.

Kalau tidak ada peninggalan
padamu, aduhai Gazel,  maafkan aku
kerana aku tak ingin dunia di pundakku.
Yang ada, pada peninggalan itu
khazanah yang pada setengah orang
tak berharga.

Aku terluka ya, Tuhan
tapi aku tak melihat darah mengalir
yang menitis adalah huruf-huruf
dan kata-kata meluncur dari
sukma.

Sampai bila pun aku tak akan terkalahkan
kerana itulah semangat hidup yang tinggal
dan yang ini akan tetap bersama
dan tersimpan dalam sukma.

Kota Kinabalu
16 Januari 2013
*ITBM
*Antologi Kemerdekaan







Tuesday, 15 January 2013

Bual-bual Ma Dan Aku (Mama)

Ma, sudah kupanggil berkali-kali
ternyata ia tak membalas panggilan
telah kuletakkan suara di peti suara
tapi masih ia tak membalas. Aku masih
asing di telinganya.

Ma, kau bilang aku punya banyak saudara
"Kau bukan sendiri." Mereka orang besar
dan dihormati. Perkenalkan dirimu,
kau adalah anak ma, pertalian darah.
"Ma, Kakak mereka yang paling tua."

Sudah ku bilang ma, tapi ia masih
belum terbuka sukmanya untuk menerima.
Ia orang penting. Orang berpengaruh
dan orang-orang suka membuntutnya.
Ia orang yang paling sibuk di muka
bumi ini. Kalau bisa diminta tambah
waktu dari 24 jam jadi 30 jam, pasti
ia orang pertama memohon supaya
ditukar satu hari ada 40 jam.

Ma, sekarang aku selalu di tanah kita.
Pohon bambu, cempedak dan Bambangan
terlalu rindu pada Ma, dan aku.
Ketika mereka tau aku lalu di situ
hutan belukar di tanah Ma riuh rendah
kegembiraan  kerana mendapat khabar
aku berada tak jauh dari tanah kita.

Ma, lebih baik lupakan saja, kita telah
puas mengenangkannya dalam impian
tetapi dalam kenyataan ia telah menolak
Ma dan aku. Persaudaraan darah seperti
tak ada ertinya, hanya kalau saja kau
seorang berada dan kedudukan.

Ma, kita tak mengharap atau tumpang
meraih kejayaannya. Biarkan mereka
memanggilnya orang berbangsa tapi
sebenarnya ia orang yang tak berbudaya
tohor dalam budi pekerti.

Ma, kalau  Karuhai masih hidup
apakah ia sayang pada saudaranya.
Ma, membalas, "Ya." sambil senyum.

Kota Kinabaliu
16 Januari 2013
*AP BBSS

Di Anak Tangga Kita Bertemu (Malaysia)

Kali terakhir kita bertemu di anak tangga
tanpa acara resmi apa lagi makan malam
di restaurant terbaik di kotaraya.

Pertemuan dan perpisahan memang
wujud dalam kandungan waktu.
Kau dan aku datang dari sumber
yang sama. Bedanya ketika memutuskan
perkara. Aku ke kanan dan kau ke kiri.
Rumusannya satu, dan berwarna.

Hak dan martabat kepunyaan semua
pasaknya tegak di dataran merdeka dan keadilan.
Tapi tiap orang penafsir yang bebas.

Kemiskinan bukan waris yang turun
dari nenek moyang.
Mereka bilang negaramu membangun
tiap anak wajib sekolah dan meraih kejayaan
kedudukan terhormat dan bergaji besar.

Sekarang, bagaimana kamu yang
tersorok di pedalaman, tak ada surat beranak
dan tak sekolah, tapi memang kau pribumi
sepuluh jenerasi. Kemiskinan di tanah perkasa ini
bukan mimpi apalagi impian.

Bagaimana kau bisa jadi anak bangsa yang kalah
dalam perlumbaan hidup di tanah sendiri?
Terasing dan perlahan-lahan hilang di bumimu sendiri.
Lalu mereka sinis ketika melihatmu
di kotaraya. Kerana sebut katamu pun berbeda
membuat mereka ketawa terbahak-bahak
sampai terkencing.

Ayuh, kumpulkan suaramu, kalau kau
bisa lincah di hutan jati ketika memburu
di sini pun kau tetap lincah.
Mari kupegang tanganmu, biar kita membuang
malu ke tempatnya, ke dalam najis.

Kau adalah anak bangsa yang tidak akan
dikalahkan lagi. Suaramu adalah suara dari
rimba jati. Aku tak ingin kehilanganmu.

Kota Kinabalu
16 Januari 2013








Suatu Siang Kau Terbangun (Malaysia)

Pernahkah kau bermimpi
entah semalam, kelmarin, tahun semalam
ketika kau terbangun
bukan di langit samawi
atau menemukan emas di halaman rumah.

Pernahkah kau terbangun suatu petang
kau merasakan  telah berada pada esok
sedang kau masih di ranjang hari yang sama.

Tapi yang ini benar,
mereka bisa saja datang satu malam
menyerkapmu ke dalam guni
atau menggurungmu di dalam dek
tanpa melihat siang dan malam.

Kau adalah pribumi yang dirampas
impianmu
didera di perladangan tebu, pemunggut Guano
perlombongan dan penyelam mutiara di samudera.

Lautan Pasifik, lautan teduh,
di dadamu ada sejarah hitam yang tumpah
ada suara-suara lemah memanggil-manggil
sampai hari ini.

Ketika kau sedar, kau telah jauh
dan tak mungkin akan kembali
seperti kau berjalan kaki ke depan
tanpa merasa sebenarnya kau berjalan
berputar-putar dan di situ-situ.

Upahmu tak pernah diperhitungkan
sebenarnya kau seorang abdi.
Kerakusan dan ketamakan itu bukan
di pelantaran bumi dan gurunmu saja
tapi sampai ke lautan teduh, kau
diburu dan diculik di siang hari di desamu,
lalu kau terlontar di ladang tebu
dan pergunungan sajli Australia.
Yang lain
didagangkan seperti abdi. Ada.
Ketika
terbangun rupanya di tanah asing, Peru.

Suatu siang kau terbangun
wajahmu luka-luka, kering
dan derita dan penyakit mencengkam
ke urat-urat darahmu, akhirnya
mengoyak-goyak sukmamu.

Sekarang pun mereka masih
mengacu pistol dan merampokmu
pergi ke lombong-lombong beracun
kau, buruh murahan, sebenarnya kau
seorang abdi, didatangkan dari dunia ketiga.

Jangan lagi terbuka kemiskinan dari
pintu ini. Angkat suaramu dari timbunan
ruh-ruh nenek moyangmu.

Apalah erti kemajuan dan pembangunan
kalau dibangun dari penzaliman dan penindasan
orang kecil dan merobek-robek impian mereka.
Hentikan kejahatan ini, kembalikan martabat diri
satu bangsa yang diambil cara paksa dan tipu helah.

Bila suaramu terkumpul dengan suaraku dan
bumi pun ikut prihatin, kesombongan mereka
tak akan sampai ke mana,
tersekat di dada dan batang leher.

Kota Kinabalu
16 Januari 2013









Gagak dan Banggau (Burung)

Hari ini aku turun ke kota
kerana hari yang ditunggu itu makin dekat
aku tak termasuk orang yang penting
bagai semut hitam aku meneruskan
pekerjaan tanpa memperdulikan apa
yang berlaku di lapangan. Anihnya,
dari mana burung-burung gagak ini.
mereka mulai berdatangan. Di mana
mata memadang sampai ke hulu sungai
dan desa pedalaman dekat sempadan,
kau melihat gagak di langit, gagak ada
di mana-mana.

Lalu di pinggiran  bakau, sawah padi,
di tepi laut, burung banggau terbang
berkawan. Ini satu fenomena, jarang-
jarang berlaku. Tak lama lagi di lembah
gunung, kepulauan jauh, kotaraya akan
berkumpul. Mereka akan hinggap dan
bersarang di atas bangunan, rumah
teres dan pekan hujung minggu. Tak ada
yang boleh menahan. Ini tak pernah
terjadi. Kita hanya mengharapkan
yang terbaik.

Makin dekat hari yang ditunggu,
makin yang kau lihat hanya burung
gagak dan burung banggau. Mereka
memenuhi langit biru. Kau hanya
melihat hitam dan putih. Warna lain
tenggelam atau hilang. Akhirnya
seluruh alam raya jadi hitam dan
putih, seperti melihat foto lama,
hitam putih. Dewan Bandar Raya
tak dapat berbuat apa-apa, tahi
burung gagak dan tahi burung
banggau, sudah lebih batas. Terlalu
banyak. Mereka pun tak ambil
peduli, bagi mereka ini bukan
isu penting. Burung-burung banggau,
dengan kaki panjangnya mulai
menari dalam perarakan, menunjukkan
kebolehan dan bakat mereka.
Lalu burung-burung gagak tak
ingin martabat diri mereka di
jatuhkan mulai menyatu korus
menyanyi, gak, gak ,gak. Suara
gagak memenuhi angkasaraya.

Dalam pertembungan burung
gagak dan burung banggau, aku
hanya penonton orang biasa. Melihat
permainan kedua burung ini, musim
menjaring gol telah mulai. Aku seperti
kalian hanya mengharap yang terbaik.
Asal burung gagak dan burung banggau
tak menggotorkan langit dengan najis-
najis dari puluh-puluhan ke ratus-ratusan
ribu burung gagak dan burung banggau
di kotaraya ini.

Kota Kinabalu
15 Januari, 2013
*ITBM (Bahagian II)

Kopucino (Malaysia)

Minum kopucino di Casa Luna
waktu bagaikan terhenti
Aku pun tak bertanya.siapa yang masuk ke dalam.

Apakah  ia seorang kekasih 
atau seorang musuh. Aku
tak mengkehendaki drama
trajis di depan mata.

Cukup sudah rembulan
yang kauciptakan di malam silam
kini telah merendah dan
tenggelam ke dalam ufuk.

Minum sendiri, meneguk
sisa-sisa kopi. Dan memancing
memori yang terperogok dalam
kanca waktu.

Dalam diam-diam kau
mencuat di pemukaan air
sekalipun tanpa dipanggil.

Mengapa kau ingin menggali
terlalu dalam dan waktunya
telah terlalu lama. Kalau ia
buah telah lama jadi kayu
atau barangkali reput 

Memang kita tertakluk
dalam waktu. Meskipun
kau tak ingin.

Kota Kinabalu
15 Januari 2013

*AP BBSS

Sunday, 13 January 2013

Manuskrip Bangsamu*(LBDSM)

Lidah dan ekor gelombang melambung kapal sarat muatan
Selat Melaka bergelora, malam ini, tak akan ada dibiarkan
lalu sekalipun burung laut. Seperti alam sejagat telah
sepakat. Nahkoda tercabar, tofan angin masih mengganas
Tak ada belas kesian, tanah tebing sirna dan tak terjangkau
kegelapan seperti membutakan dan kelihatanya tak ada
jalan pulang ke pelabuhan. Masa silam adalah satu pelajaran
dan ingatan. Ada tangisan panjang mengingatkan khazanah
bangsa. Ingin diraih sekalipun dalam impian, ia datang dalam
mimpi-mimpi tersekat-sekat, tidur yang tak nyenyak. Di
selat ini pernah datang pergi penjajah bangsa. Ibn Batuta
pernah berlabuh di tebing sejarahmu.

Manuskrip bangsamu, tenggelam ke dasar laut. Kapal
Inggeris hajat tak sampai, selat Melaka telah menelan
muatan dan jadi penyesalan abadi. Armada Belanda
yang belayar ke tanah jajahannya pulang ke tanah
lelohor dengan manuskrip bangsamu. Dapatkah
aku merindukanmu, kerana kau telah terlepas dan
beralih tangan. Aku tau bagaimana kau tersiksa, tersorok
di tanah asing. Sedang kekasihmu jauh. Tenang, tenang,
kekasih, sampai hari ini dan yang akan datang, aku tak akan
melupakanmu. Bangsamu telah merdeka, aku akan
mencarimu, sekalipun jauh di cakerawala. Kembara
sukma ini tak akan berhenti mencarimu dan aku berjanji
membawamu pulang ke tanah merdeka, ke tanah bangsamu.
Kalau aku memikirkanmu, akan kubawamu ke mana saja,
sekalipun dalam kenangan, kau akan kukenang selamanya
kau tak hilang dalam arus sejarah bangsa.

Kota Kinabalu
14 Januari 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*ITBM


Orang Tua, Pasangan Berjual Nasi Lemak*(LBDSM)



Dalam remang-remang malam
perempuan tua dan suaminya
telah lama bangun. Sepi,
langit penuh gemerlapan bintang pagi.
Begitu tekun mereka berdua
menanak nasi lemak dan nasi kuning.
Lambai langit seakan memberi salam.
di dalam sukma, mereka tau
kepulangan malam ke halaman siang
mereka tak pernah dan tak akan
meminta yang berlebihan.

Adalah mereka pasangan
yang tak pernah mengalah
dan berhenti dan bersandar
pada rembulan dan mengangkat
mereka ke langit malam. Dari dulu
mereka, nahkoda bertarung dengan
lenggang samudera dan tari angin.
Mereka tau tentang nyanyi langit
dan panggilan pulau jauh.

Mereka itu
pada mata dan sukmanya
ada kasih sayang yang mengalir
pintunya selalu terbuka kepada
semua. Musafir, pulang lewat senja
dan pendatang malam di jalan pulang.

Pasangan orang tua ini,
dari tangan mereka, nasi dan lauk
ditanak dan goreng dengan kasih.
Suaminya melipat bungkusan kertas,
isterinya masukkan lauk dan sambal.
Hujan turun sejak tengah malam.
lampu letrik padam.
Tapi kedua pasangan ini,
tekun sekalipun dalam gelap.

Kedua orang tua ini,
ke mana pun mereka pergi
bayang-bayang itu ikut bersama
tapi mereka tak pernah mendahulukan dunia.
Ketika mentari siang
mencair kabus di lembah,
suaminya telah siap
membawa 26 bungkus nasi lemak
nasi kuning untuk dijual.

Kota Kinabalu
14 Januari, 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013






Bulan Telah Tinggi*(ITBM)

Bulan telah tinggi di langit malam
bintang awal telah beredar
jauh ke dalam lubuk impian.

Masa silam telah
berendam lama dalam sumur
dan kau telah melupakan.

Perbualan kita adalah
dua dunia lain
yang tak akan bertemu.

Mengapa kau ingin
masuk gelanggang. Tiap
halaman ada sempadannya.

Ada yang tersirat
kau memandang hanya
pada luaran sedang melupakan
akar dan tunjangnya.

Tinggalkan pulau sepi
di samudera lautan
memang di situ tempatnya.

Kau tak akan dapat
mengheretnya ke tengah
gurun pasir atau tasik garam.

Kota Kinbalu
13 Januari 2013

*ITBM Jun 2015
*Dikirim ke BH Sastera, Berita Harian, 15 Januari, 2013.

Rahsia Renung*(LBDSM)



Aku mendengar
ranting patah dan jatuh,
bunyinya sederhana.

Tapi ketika aku
mendengar dahan patah
atau pokok tumbang
ke bumi bunyinya kuat.

Air menitik
jatuh dari hujung daun
hanya membuat riak
kecil pada sebuah kolam.

Pada komet hanggus
langit beriak sebentar lalu
lesap di kaki langit.

Aku baca
gerak-gerak laut
dan sayap gelombang
mata angin dan
rembulan penuh.

Kota Kinabalu
13 Januari, 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013



Thursday, 10 January 2013

Ketika Dalam Kegelapan (Ketuhanan)


Seorang anak gadis bermain dengan kawan-kawan
sehelai sapu tangan  menutup matanya, seorang anak lain
memeggang bahunya dan memutarnya perlahan-lahan
yang lain duduk agak jauh bertepuk tangan dan menyanyi.
Anak gadis yang matanya tertutup terhuyung-hayang
sedikit. Kedua tangannya meraba-raba ke depan dan cuba
menangkap anak yang lain, mereka bersorak dan ketawa
cuba menggelirukan anak gadis.

Aku melihat diri dalam kegelapan pekat tanpa melihat
apa-apa di sekeliling. Aku tidak melihat tubuh, apa lagi
tangan. Aku merasa seperti kehilangan akal. Kehilangan
langit dan alam sejagat. Aku panik. Aku kehilangan
warna. Kehilangan cahaya. Aku kehilangan arah.
Aku tak tau berapa jauh telah aku melangkah. Sebenarnya
aku tak melangkah jauh, masih di situ-situ. Aku
rindu melihat, melihat apa saja. Dunia jadi gelap-gulita.
Nafasku sendat. Aku tak mengenali apa-apa. Tersesat
dalam kegelapan. Aku ingin melaung dan berteriak.
Terasa tak bermaya dan lemah sampai ke sendi.
Otot-otot kehilangan tenaga. Kuda semberaniku,
kendur. Aku dalam kerugian. Ketika aku mulai
jadi putus harapan, ada tangan lembut memeggang
tangan kanan. Mulainya aku ragu tapi terus melangkah
perlahan-lahan dan mengikut saja tanpa perbualan.
Aku yakin tangan yang memegang tangan ini akan
membawaku ke tempat yang selamat. Yang ada
langit dan mentari dan rembulan penuh. Ada rimba
jati, sungai, gunung, laut dan pulau. Setelah kami
berjalan jauh, kami tiba di lapangan rumput hijau.
Perlahan-lahan mataku menangkap cahaya menyelinap
ke dalam kanta retina. Aku mulai melihat alam. Tapi tak
melihat, siapa yang menuntun tangannya? Dalam
diam aku bersyukur masih di sini melihat langit.

Kota Kinabalu
11 Januari 2013
*AP BBSS





Hari Jumaat (Ketuhanan)

Aku menghirup nafas hari ini melangkah jumaat mubarak
waktu itu tetap akan terus bergerak, ia tak akan menunggu
aku ingin  bergerak dalam waktu, tidak ketinggalan, tidak
pula mendahulu atau jauh ketinggalan di belakang. Aku
mendaki, perlahan dan bertempo, terus, sesekali berhenti.
Menarik nafas dalam, melihat ke depan. Suara hati seakan
memberikan kekuatan. Perjalanan yang jauh terasa singkat.
Ketika kutinggalkan rumah dan halaman, ikut jalan kecil,
sampai ke jalan besar, turun bukit naik bukit, memasuki
dataran lembah dari rimbunan jati. Berpergian sendiri,
Bernyanyi. Sampai di dataran tinggi sedikit, aku dapat
melihat persekitaran, antara bayang-bayang dan keindahan
sebuah pemandangan. Yang kurasakan sama seperti orang
lain. Alam ini adalah saksi zaman dari masa silam.
Kita yang tertakluk dalam waktu kita sendiri. Yang lain
telah beredar. Ada yang tertimbus dengan peradabannya
jauh di dasar bumi. Kita telah berjuang dalam ribuan
tahun. Ada bangsa yang kalah dan ada yang pula merajai
lautan dan daratan ratusan tahun. Kini kembali ke paksinya.
Sekarang ada yang cuba-cuba melangkahi sempadan ke
langit cakeralawala. Aku hanya orang kecil cuba membaca
waktu. Tiap  kesempatan yang ada, itu membawa kita ke
akhir perlumbaan. Siang berganti malam, malam berganti
siang. Aku bergolek cuba melakukan yang termampu dan
terbaik. Tiap episod dalam kehidupan selalu ada akhirnya.
Membawanya ke episod yang lain bererti cuba melepaskan
diri dari bebanan masa lalu. Tiap pagi aku bangun dan
duduk di tepi ranjang. Berkata kepada diri sendiri, "Ya
aku masih di sini." Masih bernafas. Allah masih memberikan
aku waktu menyempurnakan pekerjaan yang belum selesai.
Atau membetulkan kekhilafan dan kekurangan masa lalu."
Aku selalu positif.  Dari jumaat ke jumaat, dari minggu
ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Hidup terikat
pada waktu. Waktu mengingatkan dan menyedarkan
di mana kita berada sekarang. Hari ini jumaat tiba, aku
tenang dan aku tak mengomel. Dulu aku befikir, menyepi
sendiri. Tak ingin mengganggu orang lain. Sekalipun terasa
berat tetap bertahan. Ternyata, kewujudan aku bukan
lari dari kehidupan itu sendiri. Aku harus bermasyarakat,
Harus berani. Jangan berhenti di tengah jalan. Memberi
makna pada kehidupan itu. Mewarnakan. Menghidupkan.
Jangan kalah, dan mengomel-ngomel. Aku harus ambil
faedahnya, dari kejadian siang dan malam. Aku tak boleh
duduk diam dan tak berbuat apa-apa. Jumaat ini, jumaat
kedua. Rahmat Allah kerana aku berada dalam jumaat
lalu dan jumaat hari ini tahun 2013. Aku masih di sini,
di bumi sendiri, di hutan tropika dan di hawa Khatulistiwa.
Tanah ini adalah tanah air. Jumaat di tanah air. Sekujur
tubuh, luaran ini testimoni adalah perjuangan jatuh
bangunnya diri ini. Seperti Jumaat lain aku melihat
ke dalam, akar dan tunjangnya. Aku selesa di situ. Jumaat
tiba, aku menunggumu. Di sini, ada mereka kubawa bersama.
Kami akan melangkah ke dalam jumaat dengan ma.
Jumaat mendatang, kami berpegang tangan mendaki sampai
ke puncak gunung, Setelah itu kami mulai melangkah
tangga langit pertama dan seterusnya. Biar perlahan
tapi pasti. Setangga jalan ke cakerawala dan langit samawi.

Kota Kinabalu
11 Januari 2011
*AP BBSS


Wednesday, 9 January 2013

Penyairmu Selalu Di Barisan Depan (UB)(Puisi)(Metamorposis) (ITBM)

Aku berdiri di atas bukit masih rimbunan hijau
memandang laut arah matahari tenggelam
banjaran dan lenggang sungai, hujan tropik,
jalan-jalan aspal dan tanah merah ke desa-
desa pedalaman. Aku boleh menelan udara
puas di bumi sendiri. Bau hawa khatuliswa,
keringatku mengalir sampai jauh ke pulau.
Memandang langit luas dan bumi di telapak
kakiku, ini adalah anugerah Tuhan. Sekali
kita musnah warisan ini selamanya akan
hilang, lesap dan jadi rapuh dalam memori
anak bangsamu. Aku akan mencatat dan
menulis tentangmu sampai akhir zaman.
Usah menunggu sampai tanah ini terkopak
jadi padang pasir, kering dan kontang.
Lalu kita bertanya ke mana perginya
rimbunan hijau, gunung dan lautmu
yang jernih. Sayang apa yang ada dalam
genggaman. Lindungi yang masih dapat
diperjuangkan. Tidak ada namanya terlambat,
kerana semua itu masih boleh dirunding.
Sekarang aku bicara padamu, manisku,
tidak kau sayang pada langit, bumi hijau,
laut dan kepulauanmu? Bagaimana sederhana,
aku dapat menerangkan kepadamu. Aku
ingin melihat semua ini dengan cinta abadi.
Kerana Tuhan mau kau berbuat begitu.
Suatu hari aku jadi moyangmu, dan ingatlah
kata-kata ini biar ia lebur dalam sukmamu,
hidup selama alam mesta. Samasekali
usah menyerah pada ketamakan dan
kepentingan sendiri. Aku namakan tanah
ini tanah lembah kata-kata dan tanah
impian penyair. Tiap rimba, hutan jati,
tanah sungai, laut dan kepulauan diberi
nama dari sukma penyair. Kau tidak akan
menukar nama-nama indah itu kepada
yang artifisial, kosong pada makna dan
asing dari bumimu. Biarkan tiap nama
diturunkan memanggil keredahan Tuhan,
kesyukuran, ingatan dan kedekatan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, Yang Empunya
hidup dan mati. Kau adalah pribumi
yang punya citarasa yang tinggi dan
kehalusan budi, bahasa yang bermartabat,
penuh dengan keindahan dan berjiwa.
Ketika kau membuka sebuah desa,
pekan, bandar dan kotaraya, taman-taman
perumahan, jalan-jalan baru, lorong-lorong
baru namakan dari budaya bangsa, tokoh-
tokoh sastera dan budayamu. Usah kau
mengenepikan penyair-penyairmu.
Dalam perjuangan mengekalkan keindahanmu
penyairmu selalu di barisan depan.
Selama aku bersamamu, kata-kata ini
akan jadi saksi sampai bila-bila,
kemenangan pribumi adalah kemenangan bangsa
yang merdeka. Kalau kami adalah terbaik
dalam waktunya maka kalian adalah penerus
dan terbaik dalam waktu kalian.

Kota Kinabalu
10 Januari 2013

*ITBM
*Tersiar Utusan Borneo pada 1 September 2013

Kota Kelahiran*(LBDSM)



Ketika aku tiba di kota kelahiran
aku cuba mencium bau tiap lorong dan jalan
dan merasakan hawa, keringat yang mengalir
semua itu menyemarak kenangan
pada wajah-wajah yang lalu kuperhatikan
mencari apakah peribadi yang berdiri
di kedai gunting, atau menunggu di stesyen bus
atau yang duduk minum kopi di kedai hujung
aku mencari suara-suara yang pernah
kukenali ketika bercanda, bergurau dan
bertikam lidah. Kota ini makin dewasa.
makin padat. Banyak tambahan, lorong-lorong
dan bangunan-bangun tinggi, plaza.
kedai India menjual rempah dan baju melayu,
kurung dan songkok. Tiap mata yang kupandang
cepat-cepat mengalihkan pandangan mereka
ke tempat lain. Dan dua stesyen minyak masih
tempat yang sama. Masjid lama di atas bukit masih di situ.
lautnya masih kelabu dan orang masih terus membuang sampah.
ke dalam laut. Gado-gado, nasi kuning dan pecal
masih dijual di pasar. Cuma sekarang panggung wayang
telah tak dipakai. Laut telah ditimbus. Bukit telah diratakan.
Kampung pendatang telah dirobohkan.
Hutan bakau berpindah. Datang ke kota kelahiran,
bukan seabagai tamu. Semua artefak kenangan
terkorek dan tercabut dari akarnya. Bangunan lama
dirobohkan yang tinggal foto kenangan. Ada wajah-wajah
lalu telah berpulang. Langit ikut bertukar wajah, kelabu.
Aku mulai terasa terasing. Walaupun aku masih
memanggilmu kota kelahiran. Mata ini mulai asing.
Sukma pun ikut malu menyapa. Mengapa aku
selalu menggali sedang di situ telah jadi tanah liat?
Di sini, aku bukan berada di Melbourne atau Auckland.
Yang jelas bukan Honiara atau negeri Pasifik.
Di tengah pasar hujung minggu aku terbawa arus manusia.
lanskap seperti kukenali tapi asing. Duduk sendiri,
minum kopi melihat kaki langit dan tanjung, kapal-kapal mudik.
duduk di luar kedai, perempuan tua menjual rokok dan gula-gula.
Rokok-rokok negara jiran. Ramai wajah-wajah baru dan
projek perumahan di tanah lahan. Di jalan pulang,
waktu mengalir deras. Rumah kayu atap rumbi jadi
rumah kayu dan berbumbung zink kini rumah bertingkat
dan teres. Kota kelahiran ini telah membangun
cuma aku tertinggal di belakang. Aku memanggilmu.
Tiap yang baru usah ketepikan yang lama. Kerana
yang lama itu adalah warisan dan sejarahmu. Aku tak akan
membiarkanmu dalam diam mengundur dan lenyap
satu persatu dalam memori. Aku memanggil namamu.
Tapi kau lebih jauh berjalan di depan dan tanpa menoleh.
Sekali-sekali kukunjungi kota kelahiran walaupun
di situ aku mulai asing dan terasing. Tapi kau masih
kota kelahiran dalam sukma ini.

Kota Kinabalu
10 Januari 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*ITBM




Tuesday, 8 January 2013

Aroma Kopi Arabika*(ACK)

Aku mencium aroma kopi Arabika dan meminum
sekarang tiap bibir pribumi boleh mengecapnya
kopi dari dunia baru idaman di zaman penjajah
pribumi terpulas di buminya sendiri jadi buruh
paksa. Kemiskinan seperti wabak menular di-
lembah-lembah terpuruk dan desa-desa sepi.
tiada hukum membela rakyat kecil, malam yang
gundah. Kelaparan menebok sampai ke sukma.
Penindasan di kebun kopi, entah sampai bila
akan berakhir. Kesabaran itu mulai menipis.
Rakyat kecil gelisah memandangmu, mereka
tersiksa dalam hidup. Mereka adalah tengkorak
dan berjalan terhuyung-hayang di buminya sendiri.
Belanda punya hajat dan impian yang lain,
bupati punya hajat dan impian yang lain
rakyat kecil seperti bangsa yang kalah, hanya
meminta keadilan. Saija dan Adinda, sepasang
kekasih yang punya impian. Tapi impiannya
terheret dalam lumpur. Saija, kau pemuda
pribumi, darahmu bergelodak. Keadilan sirna.
Kau terjerat dalam sistem yang menghukummu
dan memulaukan hakmu. Kau bersuara, tapi
suaramu kandas. Kau dibunuh dan Kubangmu,
kerbau, lambang kewiraanmu dirampas. Kubang,
kau temanku, Kubang tak pernah takut sekalipun
harimau dengan gigi dan cakarnya cuba mencerkam
Kubang, tak akan mudah mengalah. Tanduk Kubang
menikam perut harimau. Saija bangga. Saija dapat
mengatakan kepada penduduk desa kehebatan Kubang.
Tapi, kegembiraan Saija tak panjang. Turun malam
gelap. Kejahatan yang mengepung Saija. Mereka
merampok Kubang, kerbau kesayangan Saija untuk
pesta keramaian Bupati. Saija, pemuda pribumi
bangkit  merebut haknya yang dirampas di siang
hari. Saija melawan. Pertarungan tak akan kembali.
saija melawan satu, dua, tiga, empat dan kumpulan.
orang tamak. Tiap tikaman ditangkis. Tiap pukulan
dipatahkan. Sukma Saija bagai benteng yang pecah.
Saija melihat Kubang, kerbau kesayangnya diheret-
heret di depan matanya oleh perampok. Saija melawan
dengan segala kekuatan. Tapi mereka datang bagai
gunung berapi yang memuntahkan api belerang.
Saija mulai melemah. Kuda-kuda kaki Saija goyang.
Tapi Saija tetap berdiri tanpa menyerah. Saija
mendongak ke langit. Tikaman datang terus-
menerus. Saija menangkis. Kiri, kanan, belakang
dan depan. Saija  merasa tusukan logam menggena
perutnya. Saija berundur sedikit dan rebah.
Saija masih dapat melihat sekilas Kubang, kerbau
kesayangannya dibawa pergi. Di bumi sendiri,
darah Saija mengalir kering. Mata Saija masih
bercahaya sedikit, melihat Kubang, desa dan
langit lalu cahaya itu menghilang dan degup
jantung Saija mengendur senyap. Orang suruhan
Bupati telah pulang membawa Adinda. Sukma
Adinda jadi hitam. Saija adalah mentari gagah,
impian dan harapan. Meraih esok adalah
perjuangan yang harus mula. Harapan itu harus
diperjuangkan. Saija adalah pemuda pribumi,
kekasih Adinda tak akan menyerah sekalipun
mereka adalah rakyat kecil. Sekalipun rakyat
kecil, keadilan dan hak telah dirampas. Adinda
adalah kepunyaan  Saija. Adinda tak akan
membiarkan rembulan purnama dirampas oleh
pendera dan penjahat. Bupati mempersiapkan
malamnya, mengharumkan ranjang tidurnya.
Dari dulu kemahuan Bupati mesti dilunasi.
Tak akan boleh dibantah. Adinda sekarang
adalah sajian buat Bupati, perawan desa. Nafsu
Bupati seperti letusan lahar panas gunung
berapi yang siap. Esok, Kubang, kerbau itu
akan tumbang dan jadi sajian untuk pesta.
Hawa malam panas, Bupati menerkam
mangsanya tanpa ampun. Otot-otot Bupati
kejang. Malam ini, malam Bupati tapi
malam celaka buat Adinda. Adinda menyebut
Saija, laungannya meninggi. Memanggil
Saija, pembela, pelindung dan kekasihnya.
Malam raksasa ini tanpa ada belas ampun.
Adinda tegar hati. Tidak akan mengalah.
Ketawa Bupati makin hebat. Bupati merasa
alam ini di bawah kekuasaan Bupati. Tidak
ada yang dapat memberhentikan Bupati.
Genggaman Bupati bagai terkaman serigala
yang merobek-robek mangsanya dengan
giginya. Adinda berkeras. Tapi daya pertahanan
nya makin lemah. Bupati telah maju terus.
Maju ke garis larangan. Sekarang Bupati
tidak akan berhenti separuh jalan. Bupati
melompat masuk ke dalam garis larangan.
Lari jantung Bupati kencang. Sekarang
Bupati menakluki alam sejagat. Bupati
ketawa puas. Adinda bagai tubuh tak bernyawa.
Senyap. Bau kopi Arabika dan rasanya pahit,
aku ketagih. Tuan Multatuli, jiwamu pada orang
kecil, rakyat kecil. Kau, membuat undang-
undang supaya rakyat kecil boleh mengambil
haknya. Kau telah mencipta Saija dan Adinda.
Mereka adalah sepasang kekasih yang jadi
korban. Tuan Multatuli, inginkan keadilan
pada orang kecil, rakyat kecil harus dibela.
Saija dan Adinda, kau dalam sukma. Ketika aku
terkenang Saija dan Adinda, aku  pun
terkenangkanmu Tuan Multatuli. Max
Havelaar dan Bupati. Ya, bukan pegangan
yang terbaik, membalas kejahatan dengan
kejahatan atau membalas kekerasan dengan
kekerasan. Hidup Saija dan Adinda. Kamu
adalah orang kecil dan rakyat kecil  tak akan
bisa dilupakan. Aku meneguk sisa kopi,
menyapu kedua mata dan berlalu.

Kota Kinabalu
9 Januari, 2013
* antologi "Secangkir Kopi" 2013, penyenggelara Salman Yoga S.