Monday, 28 March 2011

Koleksi Fikir Sepintas (Malaysia)

Aku punya nombor menunggu 3027
sekarang boleh memilih, ikut bangsa bapa atau ibu...
membuat keputusan dalam waktu tertekan
suatu penderaan, apa lagi jawaban.

Duduk menunggu, "kalau tak punya kampung
katakan orang kl atau orang kk
kalau tak punya loghat
bisa mencuri pelat bicara teman di universiti
kalau tak punya alamat
payah ketika mengisi borang
kalau tak punya saudara
sekarang pun orang tak ingin bersaudara
kalau tak punya i/c
mana boleh mendaftar undi
kalau tak ada
masih bisa ke hospital, perikemanusiaan namanya
tak boleh hanya fotostat, mesti ada original
kalau tak ada kawan
lawan jadikan kawan
kalau tak ada duit
diam. usah cakap pasal kahwin
..masa solat sekarang
tak perlu jamak."

"ya, cucuku ditangkap kata perampuan tua,
setengah bongkok, jalannya seperti awan bergerak."

"lain kali tak usah bawa anak, datang dengan suami,
ibu muda mengendong anak, mengumpul surat-surat, berlalu"

"orang fikir tanda kelahiran itu hanya pada luar
 dalam pun ada, tuan ada di buah pinggang. iya.."

"tuan, mana boleh begitu, tunggu sampai dikerasi
dan didera baru didengar kes, human Right."

"ia memang abang yang baik,
sayang pada orang tua, sekarang dia meninggal."

"pertukaran nilai mata wang AUD $1.03 banding USD $1.00,
wang kita berapa pula...?"

Hanya ada suara dari tv
kekadang suara pegawai memberi perintah!
aku kera yang dibajukan dan disuruh menari..

Nombor 3207, nombor 3207
kaunter 12
"Ibu, puan. Kedayan"

Kota Kinabalu
29 March 2010
*ITBM

Satu, Dua, Tiga, Jalan (OZ)

Satu, dua, tiga, jalan
segala kita perkirakan indahnya langkah suatu penantian
dalam kiraan jari waktu itu mendekat cahaya harapan
kita pun berdoa, sepi kembang malam mewangi
dalam impianmu, kau cari satu nama dalam ratusan
katamu biarkan mengungkap makna dan masa depan
lembut di bibir, mekar langit biru dalam dirinya
kelahiran anak, terkabulnya doa siang penggenapan
janji sebuah cinta menuntut hari-hari depan.
Satu, dua, tiga, jalan
perlahan-lahan waktu terangkat ke langit
di serata bumi, kau mencipta titik-titik sejarah pencapaian
kalau tidak rebah bangun, perjalanan simpang-siur, berhenti
seketika di bawah pohon rendang, mengemaskan dirinya
kekadang kau tiba, sebelum angin mengusir dedaunan kering
musim gugur di jejalanan sepi, matahari berat dan langit kabus perak
dalam pertumbuhan siang, kita pemburu yang menaruh harapan
di hujung senja, mengira-ngira buruan atau menjanjikan datangnya nasib.
Satu, dua, tiga, jalan
kerinduan mencuka menguji juragan di jalan pulang
hujan semusim menghilangkan bau bumi seketika
mengapa bosan mendengar nasihat yang datang silih berganti
mereka semua menabur resepi bagaimana kita bisa berjaya
dalam perjuangan sendiri, di desa, kota dan serata biru langit dan bumi
ahli nujum dan pandit menyingkap rahsianya bagaimana berjayanya hidup
panglima perang, laksamana armada dan para diktaktor juga memberikan resepinya
seekor lebah menari di depan pintu sarangnya pun mengkhabarkan rahsia itu.
Satu, dua, tiga jalan
berundur dan mara sekali ke kubu terakhir itu pada senja tergantung
amaran itu telah datang berulang, kita masih menyodok kepala ke dalam selimut
bencana siang baru tergesa-gesa mencari tempat berteduh
merendahkan diri dan membiarkan telinga mendengar
menyingkap mata hati penyaksi terjabarnya kebenaran
mengapa berhenti, di sini dilarang berpatah balik.

Canberra
28 March 2011

Asal Kejadian (Ketuhanan)

Tak akan kata-kata
tersembunyi dari
jajahan makna.
Rampaian fikir
sumbernya
alam semesta.

Keberhasilan
meraih tak berhenti.
Tanah liat ini
dari asal kejadian,
talian berdoa
langit samawi.
Selalu diingatkan
tentang khabar suka.

Canberra
28 March 2011

*Antologi RM & SS

Gempa Maut*antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Mereka tak peduli
langit kehilangan rembulan
gunung hancur menjadi
pasir di pinggir mata.
Dermaga pecah
kota kasih tenggelam.
Malam istighafar
dari nafas terjerat.
Bau air terbendung
kegelisahan dan maut
dicuba meraih ketenangan
menemukan diri kembali
cinta tulusmu menerjang
dosa di malam durjana.
Cahaya langit turun
memanggilmu berulangkali
tapi, gempa maut itu
bergerak di siang kelabu.

Honiara
26 March 2011

**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Bicara (Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)

Kami duduk
bersebelahan, bertiga
ia tak berhenti bertanya
bagai anak kecil.

”Ia cedera otak,
sejak kelahiran.”

Ibu tua menjelaskan,
tentang anak
setengah abad usia.

Setiap halaman
majalah dan foto
ditanya terus
tanpa berhenti
dijawab ibu sabar.

Pertama kali anak dan ibu
turis di bumi Asia.
mencicip rasa mencium bau
merenung warna mendengar
bual bahasa asing.

 “Apa ini?” tanya anak.
“Nasi lemak.” Jawabku cepat.

“Yak.” Sambil membalik
ke halaman lain.

Lalu benang cerita putus.

Brisbane/Kuala Lumpur
23 March 2011

*telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Tuesday, 15 March 2011

Masjid (Memori Maulana Attaur Razzaq)*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)





Gempa malam menyisip dalam tidur maut
Kini debu belerang menuba kota dan desa
Lembah hijau Rabaul dataran kain kafan
Tiada tahu bila datang malam bencana.

Ibu tua menjajah pinang dan rokok
Taro, Yam, Kaukau, pisang, kelapa
Hari ditunggu itu lalu dibuat Mutu
Tanda syukur Illahi Rabul Alamen.

Mereka datang menyeberangi laut
Dari Wabek dan Hagen yang dingin
Datang bersilatulrahim, zikir dan doa
La ilaha ilallah Muhammad Rasulullah.

Di serambi masjid hadir seorang rascal
"Yu stap gud.” Memberi segelas air sejuk
Dari raut wajah dan mata yang sadis
telah disampaikan berita gembira itu.

Masjid Baitul Karim rahmat berkurun
Hujan tropika pada siang gemilang itu
Gelak Pikinini menghimpun harapan
Salam itu telah disambut dan terucap.

Kembi
20 April 2010

**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Kata*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)

Malam itu kata-kata bagai bintang-bintang berkelip
melayang-layang dalam kamar menjelang Isyak
sesekali bersentuhan huruf menjadi kata dan ayat
berkumpul, bercerai seperti pemain rugby mengejar bola.
Anehnya, mereka hidup segar meloncat di sana sini
aku seperti komandan menghukum anak-anak nakal
tapi, suara itu melampias, melambung dan melenting
hinggap di hidung, bibir, pipi, kening dan kepala.
Bila terasa terlalu mencerobohi ketenteraman ini
naluri amarah meluap membidik huruf longlai
mereka terbang berkepak, bercantum menjadi kata
"Subhan Allahi Wa Bihamdihi - Subhan Allahil Azim."
Aku tenang dan meluruskan kaki di pembaringan.

Canberra
17 April 2010

**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Sendiri di Kamar*(ITBM)

Sendiri di kamar tunggu
kuseret waktu menjadi batu.

Dingin musim gugur melusur
Dalam rongga nafas menipis

Jam dinding mati berdetik
Doa mengalir murni dan tulus.

Setiap pintu masuk terbuka
Tanpa bujukan aku rela dan siap.

Private Hospital Canberra
15 April 2010

*ITBM Jun 2015
*Antologi RM & SS


Salam*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)



Laut dan pulaumu memikat ekspedisi
Perang suku dan sengketa tanpa ampun
Karnival dan kisah lara di desa rawan.
Bila bongkar rimba jatimu terbongkar
Terusik tulang-belulang dan tenggorak.
Bintang Southern Cross saksi lukamu
Ekspedisi dan armada mendatangimu.
Di hari pertama mendarat kau dinamakan
Bagai anak baru lahir, rahmat Raja dan Ratu.
Masih meraung kisah perpisahan terpaksa
Burung-burung hitam Malaita diceplok,
Dari perkebunan tebu ke gunung salji.
Aku datang, bukan menebang hutan
Mendarat di pantaimu, sempadan dilangkahi
Bukan sebagai musuh-musuh durjana
Tapi, sedia terpanggil sebagai kawan.

Honiara
19 April 2010

*telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Malam Musafir*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)





Malam musafir memerah mimpi
Noumea sekilas selepas gerimis
kaligrafi pada hati yang terusik.
Di sini aku menemukan calar
calar siangmu, siksa yang ranap
memeluk mimpi tanah lelohor
menjadi buruh paksa di lahan baru.
Di kedai ia bercanda. “Bonjour.”
Salam dari wanita Kanak, gelak
dalam bual mencari pengertian.
Bus tiba di perhentian terakhir
Hienghene, malam salak anjing
denyut nafas debur ombak laut.
Di sini kami mengenangkanmu
Hienghene Massacre, tattoo hitam
berdarah pada Kanak. Di dinding
hati ada grafiti peringatan kejam
Gerhana berkopak gelisah resah.
Mimpi dan impian kemerdekaan.

Noumea
20 April 2010

**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.


Mimpi*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)



Dalam mimpi wajahmu beburung balam
hinggap pada dahan pepohonan di jalan sehala
foto lama menyelak ingatan sebuah perjalanan
di desa telah muncul purnama di malam kelam.

Kuseru namamu di lembah tanah Tanna
bagai ais kenangan itu lepas dari genggaman

Port Vila pernah diminum air perigimu
ketika gerimis aku memasuki pintumu

Kau, kutinggalkan di simpang
malam itu, matamu ada doa tulus
sebuah penantian yang panjang
pelepasan dari malam gerhana.

Port Vila
Vanuatu

20 April 2010

**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Tasmania*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)








Musim panas merompak gelak-ketawa keluarga
rumah warisan sekurun adalah puntung-puntung arang
foto album nenek tua kini debu kenangan
rimbunan hijau hangus mengusir penghuninya.

Aku terpegun melepaskan nafas tersendat
lautmu, Tasmania, rebutan impian
kapal-kapal Inggeris, Belanda, Perancis, Sepanyol, Portugis
perlumbaan rembulan memiliki pintu ke Pasifik.

Getar serak suaramu
lekat pepohonan, gunung, lembah, dataran, laut, hutanmu
pendera, banduan, wanita, soldadu ada rahsianya sendiri
kisah-kisah luka dalam selimut sejarah hitam.

Dulu Tasmanian Tiger meramaikan hutan
penyesalan datang dalam tidur gundah
sekarang namamu saja dikenang
di muzium dan papan iklan.

Kuusap salji gunung Wellington
udara dingin bibir merekah
pepohonan di lereng gunung dan laut perak
Hobart semankin kecil menyerodok jauh ke bawah.

Aku bertamu, menjabat tangan dan senyum
ada keramaian di tanah lapangan hijau, nyanyi lagu dan BBQ
di sini, Abrogine Tasmania didera dan dibunuh
hari ini tiada musuh, memburu dan yang diburu.

'Red Cross, Blood Donation',
aku mendatangimu,
manis darahku mengalir di urat nadimu
sekarang kita bersaudara....

Hobart
21 April 2010

***telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Kata Tjuta (Gunung Olga) (OZ)





Aku pun menyerah diri di bawah bumbung angkasa raya
Kuputar pita rakaman pada yang kulihat, sentuh dan rasa
Berbaur dalam sel-sel darah mengalir bebas dalam jantungku
Keindahanmu membuat aku titik dalam samudera luas
Merelakan diri ini tak tertaut hanyut dalam nikmat memuncak
Kata-kata tak terluah hanya anggukan pasrah merangkul
Setiap inderaku memberkas monumen ingatan manis.

Kudaki Kata Tjuta desir angin melintas
beburung terbang melayang mengikut pusaran angin
berdiri dari dua belahan bukit kuhirup nafas masa silam
pasir tanah merah dari Pitjantjatjara Dreamtime
anak kecil menunggu kasih ibu
memilih kata untuk ayat pertama sebuah cerita
siang di Kata Tjuta, pesona arca hidup.

Kata Tjuta, kurangkulmu, tak ingin kulepaskan
aku majnun, engkau tak perlu resah gelisah
kupahat kasih padamu di jantung Kata Tjuta
legenda-legendamu tentang Raja Wanambi Ular perkasa
hidup di puncak Gunung Olga
turun ke dataran ketika musim kering.
Masha Allah.

Yalara
Northern Territory Australia.
1988


Maori*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)






Di sini ia meremas tanah segenggam
memperingati Perjanjian Watangi
Matanya sabar sebagai saksi bukan pula
mencari lawan. Suaranya bagai guntur,
menghentak kaki, tari tangan Ka Mate Haka.
Dirasakan tebuk tatoo, darah melacit pada wajah
kulit wira.Mata melotot, lidah terjulur, siap
bagai mematah ranting hati musuh-musuh
durjana. Bagai kolam mendidih, bau asap
belerangmu mengungkit kejahatan silam.
Wabak maut menular di pedalaman, kosong.
perang Musket awan curiga. Penghulu akur,
mata berkilat, berunding. Janji pendatang.
Lembah lembab menjadi perladangan hijau
gelora dagang kapal-kapal Pakeha
berlabuh, bedilnya siap-siap mengempur
mimpi-mimpi tangata whenua. Terciptalah
bebayang gerun, terseret, luka-luka pedih.
Kini layar hidup dicabar, semangat jati
diuji lagi, hanyut pada gejolak kota raya
Budaya tradisi terhempas, meniti titian
arus zaman, tangata whenua resah gelisah.
Malam pahit getir, kebimbangan pada esok,
suram kotamu, tersingkir ke dalam guamu.
Dari sarang Tamariki, Mengingati lagu
waiata, haka, airmu manis, sumur panas
embuk tanahmu, bahasamu indah, puitis
dapat mencipta halilintar membelah langit.
Pada malam pesta kembang bunga api
Pakeha Moari nekad sejarah silam itu,
peringatan seram usah datang kembali.



Auckland
22 April 2010



*telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Taj Mahal*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)

Aku hanyut dibawa arus di Delhi Lama
seperti mencari hujung benang kusut
samudera jual beli di  Benteng Merah
wajah-wajah lesu, debu di lorong-lorong purba
akhirnya aku berhenti di Masjid Jama.

Musim dingin kabus kelabu
terasa dada tersekat,
tak akan kutinggalkan tanah Hindustan
Tanpa Taj Mahal,
mengenang Mumtaz.

Kudekati Agra
sedu-sedan Shah Jahan terhukum
Taj Mahal menggenapkan rindu ini
taufan cinta yang agung
pengorbanan diri.

Agra
23 April 2010

**telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Harapan (Boat People)



Kegelapan pun mengembangkan kepak di malam gerhana
Kapal penuh sarat bergerak perlahan mengadu nasibnya
Tenggelam-timbul dalam samudera laut yang tak bersahabat
Lenggang-lenggok tari gelombang menghempas pulas dinding harapan.

Perang masih berulit merompak ketenteraman desa
Penembak hendap masih bersembunyi di rumah-rumah kosong
Anjing-anjing jalanan melolong sahut-menyahut jalan ke bukit
Bekas-bekas darah menghitam kering di depan pintu masuk.

Pada pulau ke sasar menjauh
Pada taufan yang membunuh harapan
Pada siang yang gundah
Pada laut yang menyimpan rahasia.

Kami berdatangan bunga rampai di laut pasang
Kami berhanyutan seperti kelapa yang akan tumbuh di pulau-pulau
Kami sekawan dolphin yang kesurutan di pantai pasir putih
Kami batu-batu karang yang terpisah dari induknya.

Kaubawa album dan sekeping hati pada malam terakhir
Ini perjalanan sehala yang tak akan kembali
Tanpa pasport, tanpa visa, tanpa rupa, kau hanya sebuah angka
Demi benua, langit baru yang membuka pintunya ramah.

Canberra,
ACT
23 April 2010

Rumah Tua Mesapol (Mama)


Pohon cempedak di atas bukit
telah tumbang disambar petir
rebah menjadi batang mati.

Jalan-jalan pepohonan getah tua
yang lama tak dikunjungi penoreh
menjadi semak-belukar yang sepi.

Dulu duduk-duduk di serambi
melihat sekumpulan monyet
bergayutan dari pohon ke pohon.

Burung merak terbang menjauh
dari penggetah burung
yang masih berpendam.

Kekadang banjir besar
memukul tebing runtuh
sampai ke pohon bambangan.

Jambatan bambu hanyut
tenggelam sampai ke lutut
biawak teman di jelapang.

Tanah sebidang itu ranjang tidur
yang memanggilmu sekalipun
beberapa musim telah kautinggalkan.

Rumah tua di pinggir paya
pohon bambu yang merimbun
masih menunggumu datang.

Kampung lama,
Pekan Mesapol,
Sipitang
25 April 2010

Novelis Tua (Dedikasi Kepada Aki )*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)

Serangkai hening memudar seperti
jendela dibuka pada pagi menutup
ketika senja. Pada kerusi ini bagai aku
melempar bola waktu tergenggam lepas.
Malam di ruang tamu, duduk, lamunan
pun menjauh. Terasa di stesen keretapi
meluncur, dan berhenti. Penumpang aku,
melambai diri sendiri di stesen terakhir.
Lukisan potret diri telah mengumpul debu
lama tak terusik. Tiap tamu, matanya hinggap
pada potret. Aku, noktah semakin kecil,
meminggir lalu memberi jalan. Ada catatan
terakhir pada kertas putih di atas meja.
Sarapan pagi telah dicicip, katil tidur telah
dikemas. Tas berangkat telah siap, di beranda,
kembang lilly telah disiram, si belang telah
diberi makan. Datanglah Kekasihku, sedetik
terlalu lama. Marilah, aku jabat tanganmu
dan berlalu pergi.

Canberra
26 April 2010

*Novelis Achdiat K Mihardja meninggal 99 tahun
**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Perjalanan Musim Panas*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)




Musim panas
kuhirup cai kental buah pala
keretapi senja menyodok
ke dalam resah malam
berhenti-
di perhentian yang legap.

Multan hangus dalam
serpihan mimpi tersentak
bahang Lahore,
peluh yang merimas.

Merelakan mata mencedok
dataran hijau-
lereng-lereng bukit kelabu
sungai Chenab yang asin.

Di langkar khana.
malam itu,
mengunyah capati,
gulai kambing dan lassi.

Suara nazam di malam tafakur.
Kudakapmu
manis-manis doa
pertama dan akhir
esoknya-
sahabat ini pun berpulang.

Lahore
1986

*telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Main (Suasana)

Kap kap udang
udang tangkap lepas
dengar bunyi orang
lari cepat-cepat.

kaudatangi pohon
pohon berkata kaudatangi bunga
bunga pun berkata kau datangi gunung.

Kup kup angkup
sedangkan diri ini
tak dapat kukandung
bagaimana mengandung kau pula.

Par par pisang
pisangku belum masak
masak sebiji di atas para-para
cuk belicuk patahkan kayu bengkok.

Kata biar tulus
Hati biar lurus.

Sandakan
28 April 2010


Serigala*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)




Tiada ingin bertanya tentang
cerita pokok kayu tua ditembang di pinggir jalan.
Tiada ingin bertanya tentang
ikan badukang dan ikan manyung di pasar ikan.
Tiada ingin bertanya
lemak daging di daun simpul
Tiada ingin bertanya
tentang orang kecil kerana terlalu biasa.

Ia pun tak bertanya
kalau kau tak mengucapkan salam.
Ia pun tak berkecil hati
kalau kau terlupa bertamu.
Ia pun diam
kalau kau berkata kasar dan terpegun di jalan
Ia pun tak membalas
ketika kau menamparnya tanpa usul periksa.

Ia kambing di lereng bukit,
kau serigala
dalam waktu begini,
Ia rela dikorbankan
masihkah kau berdendam 
kerana berlainan fikir dan harapan.

Canberra
28 April 2010

*telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih, diselegarakan oleh Kahtirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Burung*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)




Semalam ia masih
melayang tinggi
ke tujuh petala langit
bermain di pusaran angin
pulang menjelang senja.

Kini ia terbaring
di bawah pohon Oak
di Jalan Collett
mengadah ke langit senja
kepaknya kejal
nafasnya mengendur.

Langit bagai lukisan cat air
biru gelap kemerahan-merahan
seekor burung kaku di atas jalan
tadi masih bernafas
kini barang buangan.

Canberra
29 April 2012

*telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Cari*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)



Ketika aku menjauhimu di
gunung salji dan di gurun
lembah terasing, pada pulau
atau atol sepi dan perbatasan
jauh di pedalaman, aku masih
bau aromamu. Kerinduan yang
menghempas. Kupanggil namamu
dalam mimpi. Kesederhanaanmu
dalam kehangatan, sebuah harapan
pada sepasang mata menunggu.
Telah dijelajahi pepenjuru langit
dan bumi yang hilang di zaman
gerhana. Pital benang kusut pada
rahsia sebuah malam, hiruk-pikuk
sebuah siang, jawaban sebuah teka-teki
gempa di tanah tinggi yang meregut
bergegas pulang kunci itu telah ia temui.
Di jalan pulang dipercepatkan langkah
sedepa, sehasta, terangkat ke udara dan
melayang berkepak, dipahat pada langit,
dibisikkan pada bumi, “aku pulang.” Di
anjung selera, di sebuah kota di tanah air.
Mengapa mencari jauh di hujung dunia
ada di pinggir mata, dekat di sukmamu.

Canberra
29 April 2010

*telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Menara (OZ)



Aku bukan seorang pemimpi merimbun khayalan, menabur deru angin
tidak juga memeras perasaan pada tiap kata menjadi ombak sedan
atau menggores gurindam malammu dengan panah halilintar berapi
paling tidak sesekali mengasah mata pisau lalu memotong lagi.

Manisku, malam gerhana sarat itu telah pun berlalu
kau diperingatkan samasekali jangan melepaskan tali itu
langit di ufuk barat burung merpati terbang berkawan
cahaya dari menara putih menuruni lembah gersang.

Kau makin genjar dan lantang mengembur kata kesat memusuhi
kabus disepanjang jalan itu tanda datangnya siang yang mekar
Menyetop menara tak akan aku berpaling dari Rabbul-Alamen
Kerana tiap hati ada menara, di situ tak akan dapat kaurobohkan!

Canberra

1 Mei 2009

*Puisi ini ditulis setelah pelarangan membina Menara Masjid di Switzerland, 2009.

Masapol (Mama)


Mesapol, sekali menyebutmu manis madu di hujung lidah
Memetik lambiding, pakis membawa takiding di hutan harimau berjuntai
Kampung lama padi huma selamanya tamu dalam kenangan
Pepohonan getah Batu Belah Batu Bertangkup
Halaman pelanduk kini kosong menyepi.

Mesapol, sekali menyebutmu kukenangkan cerita si Keruhai
Tak usah dahimu berkerut kau sememangnya telah melupakan
Kasihnya lebih dari Kinabalu yang utuh
Pengorbanan meremaskan dedaunan kasih merimbun
Sekali mama memberi isyarat tiada dua kali kata berulang
Keruhai berlari sepintas waktu.

Mesapol, di situ kau dilahirkan meskipun kampung lama tinggal nama
Musim buah huyung-hayang meniti jambatan sambil mata mencari nenek
Yang seronok makan goreng tepung cempedak dan durian
Sayang kebun durian di tebing sungai telah mati
Sungai Mesapol kusimpul arusmu mengalir lesu.

Mengapa mengatap rumah mama segunung daun?
Kata mama sambil mata meredup,'Keruhai mati tertimbus.'

Kampung lama
Mesapol
Sabah

Laut*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)


Di jambatan seorang anak memandang kosong laut pasang
ombak kecil berhanyut  pada arus ke Pulau Berhala
ia pejamkan mata, mengela nafas, kebosanan mencengkam
laut berkilat. Anak ikan, buah bakau, dan rampaian laut
mengusik, berbisik, suara-suara berpadu memikat
keresahan mencair pada matahari pagi.

Debur pada tiang jambatan memancing lamunan
laut berkaca. Matanya pada laut lalu merenung
anak ikan berteduh, antara sesungut ampai-ampai
pagi terusik dan penghuni laut menambat
ia melihat laut rasa bosan terlucut lepas
pada laut menghibur dan air pasang ramah.

Hatinya terangkat, pada laut mengaut harapan
rasa berhanyut pada arus, menyelam ke dasar
ia terjun menukik ke dalam laut, sesaat hening
terlentang mengadah. Pundi nafasnya mengempis,
menolak perlahan ke permukaan.Ia mengangkat
kepala mendongak ke langit lantas tersenyum puas.

Sandakan
2 Mei 2010

* telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati Metro Media Publications & Services

Honiara (Pasifik)


Masihku ingat dalam kelunakan malam yang berendam
dekur yang mengepul-ngepul dan menghilang ke bumbung
musim hujan yang melonjak menghanyutkan teratak meregut mangsa
mencekik kebun ubi di pinggir sungai berubah jelapang air
lumpur dari hutan pembalakan menuruni lurah bukit
merembes masuk ke desa-desa kelabu jauh ke dalam
cerita pun melucut dari mulut ke mulut
di jalan-jalan, gerai kopi, perhentian bus, pasar ikan,
sambil mengopak kulit pinang dan menyuntik kapor ke dalam mulut
mengunyah, bercerita dan meludah merah pinang
merah-merah pada air yang bergenang atau pada tembok dinding
'Kesian, satu keluarga mati dibawa arus tidur di gobok kebun sayur.'

Masihku ingat sorak-sorak penonton di padang bola
Matahari memberat di atas kepala pertandingan masih bergelut hebat
Guadalcanal melawan Malaita, gol pertama, wisel ditiup
dari kanan-kiri padang, penonton gelisah dan meletup
penyokong Malaita berdemo, perlawanan pun sorai
nafas menggeletak penyokong Gualy pun balas menyembur
bersikeras, berpekik dari sudut ke sudut, mengamuk, memaki
kala senja bergumpal api menyala dari gedung pejabat Fifa
polis segenggam meminggir dari arakan demo
bebayang gempar kini raksasa buas di Chinese Town
berubah menjadi keramaian mengeruyuki kedai-kedai sederet.

Masihku ingat pagi yang kelam kucium bau tanahmu pertama kali
bunyi tembakan di lorong-lorong gelap merentap sepi
sekumpulan pemabuk yang bercanda mentertawakan cerita lucunya sendiri
Masihku ingat Perang Ethnik itu merampas cintamu Malaita dan Guadalcanal
pelabuhan yang kosong dan jeritan-jeritan luka
tersayat di hujung desa dan cemasnya Honiara di malam panjang.

Setiap kota ada ceritanya sendiri, setiap selokan menyerahkan ceritanya
kalau aku pun bercerita, adakah kau akan merasa terluka!

Honiara
Solomon Islands
*Ethnic Tension' di Solomon Islands. 1999‐2001, Guadalcanal dan Malaita.

Belacan* (OZ)



Malam di Burton Hall. leggang. musim dingin.
aku akan makan berselera, banquet seorang raja
kalau tidak di kamar mesti di dewan makan
closed the door, masuk ke dalam berhenti sejenak
memandang tersenyum. mahasiswa di hujung dunia pun ada
kuning, merah, putih, hitam, sawo matang,
rambut keriting, ikal mayang, pirang, hitam lurus dan botak
muslim, kristian, buddhis, pagan, atheis dan agnostik
inilah pbb, toleransi dan saling-menghormati.

kuselak menu malam ini, kari ayam, ikan bilis pedas,
kangkong tumis belacan dan nasi, ah kerinduan makanan sendiri
seribu resepi berlingkar di dalam kepala, bigung
kalau ada cocktail party pbb, di sini dewan makan ini
berkumpul para chief berbakat dari utara selatan
aku berjalan masuk. bangga. senyum, greeting every one
bau tumis, bawang, daging, ayam, ikan, spagetti
voila, rempah dan aromi mengelus ke dalam hidung
Bon appetit, silakan makan, inilah malam berselera.

Sudah kutanak nasi dan menggoreng ikan. air liur menitis
kupanaskan kuali, masuk bawang, sepotong belacan
makan kampung bisik hati, sederhana, boleh tambah
ah, sambil melirik mata seperti membuat pengumunan
akan kuundang semuanya biar mereka tau resepi ini
kucium bau belacan digoreng, kupejam mata
membongkar selera anak perantau
kangkong sudah kubasuh siap untuk ditumis
tonight is the night, mr nobody.

'what awful bloody smell is that.'

esoknya, surat edaran pada mahasiswa
dilarang pakai belacan di dewan makan.

ANU,
Canberra
1983

*Terasi dalam Bahasa Indonesia

Tamu Mesapol (Mama)


Kedai lama dua sederet
pasar tamu selera sekampung
buah salak kesukaan mama
kelupis mengubit rindu.

Tiap tamu ia pasti turun
bergonceng basikal
minum kopi seusai berbual
ke kedai hujung bertanya surat.

Pada tamu yang datang
penumpang yang turun
atau orang jauh singgah
ia masih terus berharap.

Mata tuanya rimbunan hijau
senyum bersongkok hitam
foto kelabu melekat pada album
sudah kulihat belum ketemu.

Senja yang merangkak
malam yang sarat
ia masih terus menunggu
kata-katanya menjadi genap.

dulu ia seorang ayah kepada
anak seorang perampuan
di malam gundah itu
selamat tinggal Mesapol.

kini puluhan musim buah berlalu
ia pun tak menunggu atau bertanya
jambatan gantung sungai mesapol
mengalir tenang ke laut lepas.

Pekan Mesapol,
Sipitang
3 Mei 2010

Sungai Mesapol (Mama)


sungai mesapol,
liku-likumu kain selendang sutera mengelus
arusmu ketenangan Kinabalu selepas subuh

sungai mesapol,
kupanggil namamu pada rembulan
kuusap dadamu kerana aku terlalu rindu

sungai mesapol,
kudengar patah ranting tebing yang runtuh
langsir malam yang mengusik

sungai mesapol,
kuanyam duka laraku pada riak-riakmu
telah kulepaskan mimpi terhiris pada langit biru

sungai mesapol,
kekasih yang bersimpuh
matahari yang tersirah

Pekan Mesapol,
Sipitang
3 Mei 2010

Malam*(ITBM)



Lama tak mendengar
nyanyikan senandung
malam biar gundahku
terlerai walaupun dalam
mimpi. Ketika sepi
melantun pada jalan
sepi musim gugur
menggoda resah dan
kenangan. Buku-buku
berserakan di lantai tak
tersentuh. Waktu yang
menitis. Malam terkupas,
lelap yang dipaksakan.
Gempa ini, tanah kasih
merebahkan diri
di riba Kekasih. Malam 
bulan kelabu. Pada-Mu,
kebenaran yang merekah.

Canberra
4 Mei 2010

*ITBM Jun 2015
*AP Haji Domeng, Hj Bung Johari dan SS

Catatan (Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)

Cahaya pagi menembusi jendela kaca
aku menghirup secawan kopi seperti
menghirup dunia. Assalamualaikum,
pada seisi angkasa raya. Aku bingkas
dari selimut musim gugur menyapa
pada matahari. Kau masih bernafas
memital harapan. Langit petang kabut
cemas sendiri sahabat menjadi musuh.
Malam petualang bulan padam. Aku
samasekali tak peduli, melempar aku
ke dalam api, api pun mendingin.
Memang kau firaun, ingin memotong
kaki, tangan, dan lidah, aku tak akan
berganjak, bumi ini benteng dan terakhir.

Canberra
4 Mei 2010

**telah terbit Antologi puisi Kuntum Kasih, diselenggara oleh Kathirina SusannaTati, Metro Media Publications & Services, 2013.

Lebah*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)


Manisku,
dari pepohonan tinggi
menjulang ke langit
dedaunannya lebar.

Ke ladang hijau
lereng bukit dan lembah
kau berdatangan.

Sekarang musim bunga
indah, melihatmu pulang
menari, berputar-putar
di depan pintu.

Mengapa
membakar pohon
meracun ladang
dan merosak hutan.

Bertanamlah bunga
di lereng-lereng hatimu
nanti lebahku
datang mengutip madu.

Canberra
5 Mei 2010

*telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Lagu Mesapol (Kepada Orang Kampung) (Mama)



apa ada pada sebuah harapan
salam yang terhimpun
makbul doa musafir
merah tanah tergenggam.

apa ada pada sebuah fikiran
kalau setiap orang diam
setiap kata menjadi getaran
pada cuping telinga anak.

apa ada pada sebuah tanah
kalau nanti terhakis ke laut
tapaknya yang tergenang air
rimbanya sunyi tak bercerita.

apa ada pada sebuah ingatan
tradisi segumpal terus tertimbus
kau pun cepat menjadi pelupa
mereka pula tak ingin bertanya.

apa ada pada sebuah wajah
kerat-kerat pada pohon getah
lereng bukit yang dirintis
mimpi kesiangan yang terputus.

apa ada pada sebuah kata
penghibur sebuah duka
menjadi baris-baris puisi
membuat kau gundah.

apa ada pada sebuah doa
kalau tak dinafaskan
dalam salat tahajjud
pada malam tasyakur.

Suara Hati*(ITBM)


Di jalan pulang
kau terpaut pada
lambatnya waktu menipis
memandang jauh
ke dalam malam gerhana
celapak-celepong
menyeret langkah
tersayat mata meredup.

Musim berganti
memasuki jalan terakhir
dari daerah rawan,
senja yang hamis.

Dari lembah terasing
masih didengar
semangat juang mengagih maut
dan kekerasan melangkahi
sempadan
menjauh dari kasih terlucut
kerana dendam gunung berapi.

Ada yang menyuka hidup
dan memaksakan mimpi.
Kemiskinan membuas
dan melaham di malam gerhana.

Kelaparan ini telah
memenjarakan harapan
tak kesampaian
jiwamu meskipun
tersendat-sendat
menghirup nafas
bila tindakan tak
terkumpul menjadi
kekuatan dan curiga.


Perang meletus
maka ada terdera
dan diperkosa hak asasi
ada mengambil untung
kejatuhan sebuah bangsa
hancurnya sebuah negara.

Masihkah kau ingat tasamuh
sepohon kayu, sebuah tanah
kunci pada sebuah rumah
nyanyi ma menidurkan anak
dan impian yang terkandas
terkubur di depan mata
tanpa dapat berbuat.

Selamat tinggal kota kontang
kini aku
datang mendekati-Mu
kota gemilang!

Canberra
10 Mei 2010

*ITBM Jun 2015
*AP Volume 1, 2013

Dodoi Mesapol (Mama)


nyanyi mama mendodoi mesapol
tidurlah sayang dalam koyotan
hentikan tangismu janganlah bersedih
mama nyanyikan lagu untukmu.

angin menderu pohon jatuh menimpah batu
hatiku bimbang orang jauh lagi dikenang.

entah sudah berapa kali kudengar
nyanyi mama mendayu dalam mimpi
mendodoiku seperti hujan petang
menidurku sampai jauh malam.

kuingat cerita-cerita mama
sambil duduk mengurut kaki
tak kujemu cerita batu belah bertangkup
si keruhai* anak sayangkan ibu.

dalam kamar di malam berkeringat
kami duduk berdua musim panas
kali ini aku pula yang bercerita
kutatap seperti mama menatapku.

angin menderu dahan jatuh menimpa batu
hatiku bimbang orang jauh lagi dikenang.

kuceritakan kepadamu, wahai sayang
rambut nenek yang hitam berkilat
matanya menyimpul kasih selautan
senyumnya merangkum benua.

kini sayat usia mencuri jauh ke dinihari
langkahnya melemah menitih jembatan
kabus berendam di pinggir mata
hatinya masih seperti umbut kelapa.

angin menderu dahan jatuh menimpa batu
hatiku bimbang orang jauh lagi dikenang.

sekalipun mesapol sudah berubah
tapi matahari masih ramah
kau tetap tak berubah masih
mama yang suka mengucup dahiku.

Pekan Mesapol,
Sipitang
10 May 2010

*si keruhai, cerita tentang anak yang gagah perkasa sangat sayang pada ibunya. Suatu hari ibunya menyuruh si keruhai mengatap rumah. Dia pulang dengan membawa gumpalan daunan terlalu banyak. Ketika ia membuka akar ikatan tertimbus si keruhai, menemui ajalnya.

Harry, Seekor Unta (OZ)

Di pelabuhan senja mencair
kutinggalkan tanah leluhur
tiada ucapan selamat tinggal
tiada pula keramaian malam.

Bayangan malam memanjang
aku pun tak bertanya ke mana
sebagai anak baru merangkak
menjadi perantau yang tercabar.

Tak kupeduli pada regut maut
hati mudaku sumpah jaminan
sekalipun Everest akan kudaki
apa lagi pada laut mengila.

Kalau langit tofan mengamuk
rasa kegilaanku mencuat
tiada yang sehebat aku
pada seluruh alam sejagat.

Memang aku degil yang lincah
sesekali aku melepas geram
kalau memang kelemahan diri
itu sudah menjadi fitratku.

Ketika mereka mendatangi pasar
aku pun sudah berfirasat
samasekali tak akan bertanya
pilihan telah jatuh di atas pundak.

Bilang saja mau ke mana, tuan
ke hujung dunia pun aku mau
merangkum malam dan siang
pada bumi yang entah di mana.

dari pelabuhan ke gelombang laut
dari lautan bergelora ke lautan teduh
dari pulau sepi ke hujung benua
maaf, aku pun tak mengira.

Lenggang kapal SS Appoline
meninggalkan Pulau-pulau Canari
membelah laut bersama hati
belayar pasti sarat muatan.

Matahari langit menggelap
bau kapal yang hapak dan mual
bukan main kepalaku pusing
mencengkam dada sepanjang jalan.

Langit siang dan matahari berdandan
aku bilang setelah malam memanjang
pasti ada siang yang membawa kembang
salam benua, kudatangimu bersama doa.

Bila aku tercubit rindu menggerang
tentang malam semalam menggelepar
kulaham dalam impian muda
pada sebuah benua baru.

Mereka pun tak pernah bercerita
akupun tak pernah bertanya
kan lebih baik begitu dari tahu
membawa bebayang curiga.

Kucium udara benua baru
kutantang langit matahari biru
kuminum air manis dari periginya
kurintis pada hutan dan gurunmu.

Pada hari aku bertuan John Horrocks
seakan seluruh langit memberikan isyarat
di sinilah sekarang tanah leluhurmu
di sinilah cinta dan ajalmu, oh kekasihku.

Siang yang memerah keringat
ekspedisi yang mencabar seorang jantan
menguji kekebalan pada gurun pasir
pada tasik garam, pada sungai banjir.

John pun menjadi biasa dan sayang
mula memanggilku Harry*
dan aku pun tak pernah protes
sejak itu nama ini menjadi milikku.

Aku samasekali tak merasa kesal
kerana aku seekor unta di benua baru
apa lagi rendah diri dipanggil begitu
bukankah ini penghormatan terbaik?

Semalam aku bermimpi Imam Moscat
mengirim salam dan kulihat SS Malta
di pelabuhan Sydney menggonceng turun
unta-unta, puteri manis.

Kurintis jalanmu berkali sudah
derap kakiku menghentap gurunmu
bila kesunyian datang bertamu
pada bintang langitmu kulepaskan rindu.

Anak-anak abrogine datang bermain
ini bukan kuda, kata mereka berolok
tapi lebih perkasa dari seekor kuda
sambil membosong dada berlari-lari kecil.

Matahari dipundakku
cintaku berlabuh di sini
kenakalanku kekadang
meremas John yang ramah.

Suatu pagi yang beriya
kulihat kambing jantan dekat khemah
kumarahi dan memberi amaran
tapi ia seperti mengacu satu perlawanan.

Sekali tercabar aku setangkas kilat
menyerbu mangsa sekali terkam
ia menjerit langit tersentak
lalu kulepaskan tengkuknya.

Kenakalan datang dalam fikiran
seperti anak tak mengerti
ketika mereka pergi merayau
kurobek guni tepung bekalan kami.

Kulirik mata John tanpa curiga
kau memang seorang teman yang dekat
ketika kami lanjutkan perjalanan
jalur-jalur tepung jatuh di atas jalanan.

Senja berlabuh pada gurun merah
malam memulas mencincang mimpi
John kulihat dirinya menjadi puntung api
kemudian menggelap dalam malam kelam.

Kalau kau melemparkanku ke langit
aku menjadi bintang-bintang
kalau kau melemparkanku ke lautan
aku menjadi pulau-pulau.

Kalau kau melemparkanku pada malam
aku larut dalam dreamtime
kalau kau melemparkanku pada gurun
aku menjadi uluru.

Tasik Torren yang mendidih
matahari yang mencengkam
bibit api yang meletus
hutan menjadi neraka celaka.

Malang yang mencuri ketenangan
bila punggungku menghendik John
ketika senapangnya meletus
dua jejari putus dan giginya patah-patah.

Malam mulas duka mencengkam
kulontarkan pada malam menyerigai
kumeraung merobek-robek sedu-sedan
lalu berkata, John maafkan, ini kemalangan celaka.

Siang itu seperti kiamat berdentum
bagai tulang punggung yang patah
aku seakan terbanting di penjuru
John meninggal, kerana gangrene.

Aku memandang langit, oh, benua baru
kuhirup udara pagimu sepuas-puasnya
Harry tenanglah, jelas bukan segumpal dendam
bukankah pesan John kepada orang, hanya satu bidik!

Canberra
11 May 2010

*Harry, adalah unta pertama merintis jalan dalam sejarah Australia pada pertengahan abad 19.

Demi (Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)

Hujan gerimis di pematang padi
topeng-topeng menjelma hidup
di pentas pendita merenjis air suci
musuh kecundang dikalahkan.
Rentak tari dari perlahan cepat,
makna terkumpul dari gerak-gerik
mata, sekali menerkam, menunduk
dan berlalu. Hujan gerimis turun di
permatang padi. Aku mencicip kopi
membaca buku di pelantaran. Kata
mencari dahan berpaut. Berbaring
memejamkan mata atau menonton
tari Legong dalam irama korus Kecak.
Kata bersayap dalam pusar angin.
Pertembungan Rangda dan Barong
ada kenangan masih berpacu, dari
perbualan menjadi nasihat. Kata,
Keramaian hutan menjelang senja.
Ada puisi dalam tiap cerita. Hujan 
semi merenjis musim semi. Kau 
lukis malam dan rembulan. Kata,
sahabat penglipur lara. setiap separuh
 bulan penuh ia datang dengan keledai,
membacakan buku dan membawamu
terbang membelah anngkasa, melayari
samudera lautan dan berburu di hutan 
belantara. Mata menurut dan melayang.
Di tanah dewata ini, ketuk gamelan dan
korus. Syair Ramayana atau mahabhrata.
Aku tenang dan mengunyah bualmu.

Ubud
Bali
14 May 2010

*telah terbit dalam Antologi Puisi, Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013
*ITBM

Lagu Gajah (OZ)


Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
rimbamu rimbaku juga. Oh alangkah hebat menciptamu
indahnya kekuatan beradu pada kejadian malam dan siang.

Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
tak akan tangan mulus bertukar menjadi algojo tanpa hati
menconteng wajah menjadi pemburu perkasa yang dzalim.

Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
saling membutuhkan seperti air menghidupkan tanaman
hadiah dari tangan melindung  tangan Maha Terpuji.

Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
apalah ertinya bila terputus tali kecintaan itu
membiarkan kau cintai hangus dan pupus.

Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
ini bukan takdir, kaulah yang pemusnah
kesalahan bertindih tertuding diri sendiri.

Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
air mengalir rahmat beruntun di lapangan terbuka
rumpai tumbuh meminta tangan ini mencabutnya.

Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah bersembunyi kau
rimbamu rimbaku juga, sudah kunyalakan unggun api
main kecapi, tanpamu aku perindu mencabik dada.

Suatu siang ada seorang gadis kecil berlari
setiap dua langkah berjengkik berhenti melihat sesuatu
melangkah lagi, satu, dua menyanyi di jalan pulang.

'Gajah-gajah di mana kau, gajah-gajah sembunyi kau.'

Canberra
14 May 2012

Muezza (OZ)


Bakar setanggi hamparkan bunga melor, sebakkan kuntum-kuntum malam
mewangi, biarkan malam kembang semangkuk ini menjadi baris-baris sajak yang indah.
Kupanggil namamu kerana ia terlalu indah pada telinga yang mengerti
kekadang dalam rindu yang tergetar kusebut namamu dalam lagu
kau terlalu manis, sayang, untuk satu kata yang dapat menyampaikan yang terpendam.
Muezza, kau bintang kejora lekat pada setiap bibir yang mengenal sebuah kasih
kaulah telaga, langit, bintang, bulan, matahari, laut, rimba, bunga dan melodi
hanya melihatmu saja berbaring tenang di taman bunga telah mengusik naluri penyair
rerumput yang kauinjak itu terasa seperti sapuan seni khat pada mata hati.

Muezza, kaulah jenismu merangsang kisah silam menghantar diri kepada kekasih
walaupun sekali hanya dalam mimpi akan terubat seperti seribu tahun lamanya
biar hanya menyentuhmu aku pun terasa puas, seperti minum air dingin tabaruk yang mengalir
di musim kemarau. Bagaimana dapat kulupakan, aku kagum, Muezza, satu dari jutaan bintang,
ketika kau tidur, azan berkumandang kekasih pun tak mengganggumu. Kau, zamrud, pilihan.
ketika kekasih pulang kau tiga kali dielus-elus manja dari tangan suci
ketika kekasih mulakat dengan para sahabat kau baring di atas ribanya
ketika bekas air yang kau minum kekasih tak merasa bimbang memakai airmu berwudhu
Oh Muezza, begitu kisahmu menambat air mata berkurun bila mengenangkan kekasih.

Sore tadi ketika aku membawa muezzaku ini ke hutan kecil, dekat sungai
seorang wanita berhenti dan bertanya, 'apa yang kamu nak buat dengan kucing ini,
kamu jangan menyiksa dia, aku sudah melihatmu.' Kemudian berlalu pergi.

Ya Allah, Rabul Alamen, bagaimana aku bisa
berlaku kasar pada muezzaku,
kalau saja dia tau kisah-kisah itu!'

Canberra.


Singa Kabul*(Antologi Kuntum Kasih diselenggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013)


Dulu di zoo ini tinggal seekor Singa Kabul
pernah menjadi lambang satu bangsa
yang datang berkunjung
pasti ke zoo berpagar besi
memang ia Raja dari segala raja.

Dari tukang besi buruk
di perkampungan setinggan
sampai ke istana President
menyimpan foto Singa Kabul.

Dulu di zoo ini tinggal seekor Singa Kabul
telah berapa merah langit silih berganti
telah berapa musim wabak maut menular
Singa Kabul masih di sini.

Dulu di zoo ini tinggal seekor Singa Kabul
di suatu pagi ia meraih nyaman pagi
datanglah penceroboh bertindak algojoh
melempar grenade dan kabur pergi
tapi, Singa Kabul lepas dari bencana
matanya buta dan giginya ngompong.

Dulu di zoo ini tinggal seekor Singa Kabul
malam celaka itu tergantung di gerbang berdebu
kota tua rentah bagai menjilat luka-lukanya
sejak itu gemerlapan bintangnya pudar
maut bertakta di langit dan buminya.

Pernah di zoo ini tinggal seekor Singa Kabul
kini ia telah tiada, ceritanya dilupakan
lalu kota ini tak pernah senyum tidurnya ngundah!

16 May 2010

*telah diterbitkan dalam antologi Kuntum Kasih diseleggarakan oleh Kathirina Susanna Tati, Metro Media Publications & Services, 2013

Bual Mesapol (Mama)


Berkumpul warga ikan di kampung lama
ketika pohon tarap berbuah lebat.
sejak Putian dan Bantang hanyut dibawa banjir
sunyi yang memulas dan sejak itu mereka pun diam.

Pohon bambangan memang ada di situ
ketika orang kampong masih berpadi huma.
Sesekali air berkocak, Kulian, Toan dan Tanai
berkirim salam, tapi suara itu semankin menjauh.

Orang pun berumah di pinggir paya
ketika ada jalan baru ke kebun getah.
Di situ masih ada Sapat, Haruan, Karut, Balut dan Kali
Oh Kali Sungku, Lami, kami mengenangmu.

Siapa peduli kalau Putian
dan Bantang telah tiada
kemudian Kulian, Toan dan Tanai
lalu airmu mengering.

Kalau ini membuat kau resah
kami puas!

17 Mei 2010

Gelut (OZ)

Kurenung kedua telapak tangan
yang ada kerat-kerat garis dari kelahiran
dan kutantang mata harimau Blake.

Kurindu pada gazelemu Ibn Tufailaku membaca raut wajah Cain
menyembur cemburumu
dan bibit maut mengamit syahid pertama.

Pembunuhan itu
bagai mendarahi langit alam sejagat
dan ribuan kurun bagaikan terhempas.

Darah terus berkocak dan mengalir
ke samudera laut
Atlantis dan Pasifik
pun tak dapat membendung
terkumpul pada malam durjana Macbeth.
Bagaimana aku dapat membuka luas pintu ini
kerana di matamu kulihat masih menyala
dan tersisip Cain dan Abu Lahab.

'To be or not to be' kata Shakespeare,
dan 'Das du bist,' jawab Goethe.

Aku dan kau masih bergelut
walaupun Dia masih terus mengirim musim semi!

Canberra
18 Mei 2010


Jandamarra (OZ)


I

Pemberontakan menjadi sirkah di langit Bunuba
Richardson teman Jandabarra tewas di Lillimilura
Aku, Jandamarra, kaum Bunuba,
panggillah aku merpati, tangkas dan pantas
di tanah leluhur ini,
kami berburu mencercah ke nadi matahari
kami pagari Kimberley dengan bintang-bintang malam.

Oh, wanita Bunuba,
pada dadamu hutan-hutan tumbuh
pada sungai-sungai yang
mengalir adalah nafasmu
langitmu itu bumbung cerita ribuan tahun
pada dinding gua bekas jejari leluhur menampal
Bunuba bukan kaum yang biadap atau ganas.

Malam itu tidur Banuba terganggu
kau datang merebut impian itu
sejak itu malam merudung
maut mencengkek anak-anak Banuba
rantai besi yang melilit pada leher
menyeretnya pada perjalanan panjang
berdebu ke penjara sampai jauh di pulau sepi.

Bunuba meratap dan bergelut dengan maut
perpisahan yang pahit luka sekurun
ibu-ibu dan gadis Bunuba,
kau menjadi hakisan tanah runtuh
sedang kami terpulas
dalam kamar penjara tanpa jendela.

Kau datang bukan bertamu
tapi membuat penempatan di langit bumi Bunuba
kau datang bukan bertamu
tapi dengan kambing dan undang-undangmu
oh Bunuba, oh Bunuba
di tanah Bunuba kau mulai membuat pagar.

II

Aku, Richardson, Polis Penguasa
penegak hukum dan menurut perintah
kautanya aku dalam bahasa rasmi
aku tak punya pendapat
tapi aku punya rasa dan harapan.

Udara tipis malam yang tersendat
mereka bilang bangsa ini biadap
kotor dan telanjang
mereka anjing berkeliaran
gagak yang merepek
hanya ada satu
dari tanah gurun yang tak berharga
dari kulit arang yang dihinggap debu
menjadi pasir putih laut biru.

Anak-anak aborigen bersenandung
ibu-ibu menghimpun lara di gurun tanah merah
di gereja, paderi dan biarawati sibuk
mengajar mereka mencium salib
dan berdoa pada Kristus.
kini anak-anak aborigen
ketika makan pakai garpu dan sudu
bergaun panjang dan bertopi lebar.

Di bawah langit yang akur
buatlah barisan dan pakai seragam
sejak itu anak-anak aborigen ini menjadi
jenerasi yang tertimbus.

Ketika kukenal Jandabarra
dia cepat menjadi teman
tiada curiga atau prasangka
sekalipun dia berkulit hitam berkilat
sekalipun dia bekas banduan.

Jandabarra pemburu upahan terbaik
Jandabarra bisa mengikut jejak
pencuri kambing atau penjahat
ketika merugikan penempatan
akan ditangkap dan lehernya dibelenggu.

Di hutan Napier Kimberley barat,
hari itu Bunuba resah dan
melihat anak-anak Bunuba ditangkap,
Jandabarra gelisah
malam itu Jandabarra memilih
nekad itaat pada Bunuba.

Di Lillimulura, penempatan Polis
kulihat Jandabarra datang
tapi datangnya bukan seperti malam yang lain
aku berkata, 'Jandabarra, temanku, ada apa?'

dorrrrrr....

III

Aku, Micki, bukan dari kaum Bunuba,
aku tak gentar dan tak kucut pada Jandabarra
aku perkasa dan sihirku akan memulas lehernya
aku bisa menitih batu-batu tajam berlari sepantas kilat
aku bisa menyelusur hutan, sungai dan danau sepintas
seperti ular di telapak tanah, seperti buaya di pusar air
seperti burung siap menerkam bumi
berikan aku kepercayaan, Jandabarra tanah liat yang lecak
berikan aku kepercayaan, Jandabarra daun kering yang terbakar hangus.

malam itu aku menjadi batu, pohon, air, langit,
kutempel mataku pada gua, pada tanah, sungai dan udara
kupasang telingaku seperti burung hantu, mataku seperti helang
kutunggu Jandamarra.

Malam ini tiada dendam padamu Bunuba
pada Kimberley dan Tunnel Creek menjadi saksi
saat itu semankin dekat
akulah Micki, sihirku merantai leher dan jantungmu,
maut melayang-layang menunggu Jandabarra
sesosok bayang-bayang mendekat antara pepohonan
akupun siap...

dorrrrr....

Canberra
19 Mei 2010

*Pemberontakan yang pertama oleh pribumi Aborigine, Jandabarrra untuk kaumnya Bunuba
ditumpaskan setelah tiga tahun. Dia ditembak mati oleh Micki di Tunnel Creek pada tahun 1897. Kepala Jandabarra dikiirmkan ke England sebagai Piala. Kaum Bunuba tinggal di selatan Kimberley, kawasan utara, Australia Barat.

*Teripang (Sea-Slug) (OZ)



teripang, teripang, kekasihku, sekarang aku datang
teripang, teripang, lautmu aku dakap dan tak ingin lepaskan.

Perahu melucur ke dalam samudera
laut tenang berkilat matahari laut Capricon
pada langit seperti seledang sutera biru
pelaut Makassar berlenggang angin berlusur
pada belahan pecahan ombak.

Lambaian Pulau Maginti, Masaloka dan Kadatua
menjauh samar dan tenggelam ke dalam laut
angin seperti berlari dan bersembunyi
kekadang datang mengejut dan mengembus
Pulau Rote sehabis melambai menutup pintu.

Melihat mata juragan yang berkocak
dari raut wajahnya adalah lautan tenang
di situ kesabaran menjadi pulau kebal
ketika tofan dan badai menghempas pulas
doa juragan melucut berbisik pada langit.

Ketika langit bersahabat laut pun damai
'Nurrudin,' panggil Juragan
perahu bergerak santai dalam patah-patah angin
juragan bercerita,
'laut di sini, halaman bermain dan sebelum ini.
ratusan tahun mereka sudah di sini.'

Senja berendam
Pulau-pulau itu adalah puncak-puncak gunung
dari jauh terasa memanggil untuk mengapainya
mereka menyulapi malam yang terapong.

Siang yang murni
melihat ke dalam laut
teripang, batu karang, anak-anak ikan
dunia di dalam dunia laut
'Siap, Din,' kata Juragan.
lalu ia terjun, kepul-kepul udara melurut ke atas.

Seketika Din memandang matahari dari dalam laut berkaca
terasa damai, ringan dan kakinya menyentuh dasar
satu dua tiga empat lima, enam, tujuh teripang
terasa genggaman nafasnya mengendur
lalu perlahan-lahan ia mengapong ke atas
melihat wajah juragan senyum berkocak.


II

teripang, teripang aku mempertaruhkan harapan padamu
teripang, teripang aku bertarung dengan maut keranamu.

'Din kita telah jauh tersasar ke dalam,
pantai memanjang sampai ke ufuk itu
pepohonan dan gurun tanah memerah itu
ada pribumi sudah di sini sejak laut ketumbuhan pulau.'

Di pulau Cartier, batu karang Hibernia
atau ke pulau Ashmore
teripang menanti penyelam muna atau papeta.

Din terjun sekilas melihat batu karang
tapi matanya tertumpu pada teripang
Din tak sendiri, ada peronda, seekor jerung
berlingkar di atas, Din gundah
jauh sedikit ke sebelah kanan mengabur
ada ikan Barracuda.

Ke batu karang Din berselindung
sekilas ia berdoa maut pada mata Barracuda
maut pada jerung, raja laut yang perkasa
nafasnya mulai mengempis dan melemah
ketika itu langit menghulurkan tangannya
Juragan menarik Din ke atas
mereka tak berkata apa pun
membiarkan laut membisu.

Malam itu pusar air berkocak,
seperti langit mengirim isyarat
seperti hewan yang tercium maut,
Juragan bertafakur, layar perahu kembang berhentap
selayang langit bergumpal seakan runtuh terhempas
hujan angin merontah seperti raksasa tanpa ampun
pulau mundur dan bersembunyi dalam kabut gelap
Juragan dan Nurrudin menyusur laut
mereka terbanting di pantai pasir putih.

III

teripang, teripang jangan amarahmu membakar perahu
teripang, teripang, aku hanya pelaut datang sekilas.

Di Laut ini kami sudah di sini
sejak Matthew Flinder mundar-mandir
di pantai pasir putihmu
kami berteduh dan bertamu
di lautmu cinta kami bersemi
di situ kami terbaring dan tenggelam sirna.

Pada gua-guamu ada cerita kami
pada pantai pasir putihmu ada bekas jejak kami
pada tanah liat merah berang itu ada kubur kami.
dalam darahmu ada segumpal kami
lalu kami satukan laut dan segenggam tanah
pada sebuah harapan.

Malam itu Juragan dan Din menghitung teripang
bebayang masa silam mengetuk degup jantung.

teripang, teripang, ada kasihku masih tinggal di situ
teripang, teripang, ada esuk kupasti datang lagi bertamu.

Canberra

*Seawal abad ke 16 Pelaut Muslim asal Makassar menyelam teripang (Sea-Slugs) di laut yang sekarang menjadi laut Australia. Terdapat banyak 'artifacts' pelaut ini di gua-gua Aborigin dan juga kubur-kubur mereka. Dalam tahun 1867, Governor-General Belanda mencatat ada 17 orang Aborigine di Makassar yang ikut pulang dengan Pelaut Muslim asal Makassar.