Sunday, 24 July 2016

Pantaimu Berbicara (Kumpulan Puisi Indah)*

Pantai pulau-pulaumu terus mengundang
kedatanganmu
hamparan laut biru rahmat samawi
kau ingin ketenangan dan damai.

Kau membawa rahmat
matahari khatulistiwa hadiah samawi
cintamu berenang-renang ke tepian
di pulau-pulau kasihmu bertebaran
air mata yang menitis
mimpi-mimpi kembara
gelombang lautan tak akan menukar
arah tujumu.

Malam-malam sarat kau telah
menyempurnakan impianmu
lalu kau mulai kembara
kembali ke dalam laut
merelakan pada alam bertahta
langit memberi harapan.

Pantaimu berbicara
biarkan kedamaian dan keselamatan
bukan satu malam dan
lepas dari tangan-tangan gelojoh
yang tak pedulikan murka dan laknat.

Kepulauanmu
warisan yang terlindung.




Bintang-Bintang Berkumpul Dan Bersembunyi (Kumpulan Puisi Indah)*

Padamu aku ingatkan
pengertian seperti bunga-bunga di taman yang lalu
musim berunding telah berlalu matahari merangkak
dan bayang-bayang memanjang
malam mulai turun di pulaumu.

Matahari menyisih dari langit impian
gelombang bergerak dan menghempas
pantai, burung-burung telah pulang
pertukaran musim tercium di udara
bumimu siap menerima korban.

Aku tak ingin melihat letusan komet
yang tak sampai
jawabanmu seperti hutan yang terbakar
gema suara yang terperangkap
jembatan roboh bukan masanya
air telah berhenti mengalir dari puncak
menunggu datangnya hujan.

Kata-kata seperti kehilangan pengaruh
satu-satu huruf berjatuhan di depan mata
persimpangan jalan telah kau tinggalkan
kasih bumi telah bertukar warna
akhirnya kau hanya seorang perindu di jalan pulang.

Kau telah menolak pintu dan
kini tertutup dan kau melihat dan tanpa berkata-kata
kalau inilah isyarat
kita berjalan berasingan dan tak menoleh
malam itu bintang-bintang berkumpul dan 
bersembunyi.




Wednesday, 20 July 2016

Tak Ada Titik (Kumpulan Puisi Indah)*

Apa yang ingin kukatakan lagi
kau ingin meregut kedamaian dan
menukarnya ketakutan dan malam gelap
di sini, tanah leluhur dan warna langitnya
senantiasa menawan kalbu dan pesisir
pantai menggoda tiap pengunjung.

Kau mencipta gelora dan gelombang
pada pemukim-pemukim pantai dan
kapal-kapal yang berlayar di laut
apa sebenar yang terkandung dalam
lamunanmu
dan bermimpi pekan-pekan dan laut
adalah wilayah koboi dan tebusan.

Kalau itu mimpi kelabumu
mata angin dan gelombang akan
bertukar hala dan alam menghukummu
matari akan menyayat kulit dan
penyesalanmu tak akan ada berbelas
kasihan dan melihatmu musnah
dan kehilangan arah dan tujuan.

Damailah laut dan purnama
kembali menjadi mahkota malam
dan kemenangan ini adalah perjuangan
tak ada titik dan menyerah.

*Dikirimkan ke UB 20 Julai 2016

Monday, 18 July 2016

Nafas Lautan (Kumpulan Puisi Indah)*

Dalam diam aku merenungmu
dada lautan yang menyimpan rahsia
seperti langit malam bercerita sendiri
hamparan luas berdenyut dalam tenang.

Kuseru namamu kalau kau masih mendengar
mimpi malam itu telah sempurna
ada kedamaian yang dirampas
mendorongnya menyeberangi sempadan.

Kata-kata ini bagai soldadu-soldadu
yang siap menawan dari sebuah perintah
kini aku mengirimkanmu di daerah-daerah
rawan dan tak bersahabat.

Bertiuplah bawalah angin ishla yang
mendinginkan tanah daratan dan menenteramkan
pemukim-pemukim yang resah dan gelisah
pabila tubuh berjatuhan di depan mata
tapi kau tak dapat berbuat apa-apa.

Nilai
Januari 2015

*Dikirimkan ke UB 20 Julai 2016

Pulau Impian (Kumpulan Puisi Indah)*

Menunggu mata angin atau berhanyut di tengah lautan
langit malam penuh cerita tak akan pernah selesai
kau memimpikan pulau impian, seperti penyu lautan
setelah mengembara jauh ke pelosok rantau akhirnya
kembali ke pantai putih negeri Khatulisitiwa.

Aku telah melihat purnama di langitmu tapi
jendelamu masih tertutup rapat membiarkan
malam berlalu dan gema suara ini hilang dalam
gelombang dan gemuruh badai.

Bintang-bintang berkelipan indah dan terasa jauh
perlahan beredar ketika gerbang malam mulai tertutup
esuk datang dalam diam menghalau kegelapan
di sudut kalbumu tanpa perlawanan lalu menawan
dan mengisthiyarkan kemenangan suatu perjuangan.

Di Pulau Impian ini kau tak mengharapkan kerinduan
masa silam kerana tiap kilasan cahaya itu adalah
titik-titik putih sedikit demi sedikit berkumpul
menjadi cahaya purnama yang tak akan padam
dalam kalbumu.

Nilai
March 2014

Dikirimkan ke UB 20 Julai 2016





Sunday, 17 July 2016

Selepas Fajar (Kumpulan Puisi Indah)*

Selepas fajar langitmu beredar
dari ketenangan malam
aku pernah melafazkan kata-kata
seperti udara berlinggar dan terbawa
jauh di langit terbuka.

Bila kurenungkan kembali
penyesalan itu telah melengkapi
sebuah harapan yang hanyut
mencari pantai pasir putih
pada pulau lautan teduh.

Tiap yang silam menjadi
halaman sejarah penuh rahsia dan misteri
tapi pada langit dan bumi ini
segalanya membawa tafsiran
pada sebuah kebenaran nyata.

Pintu kedamaian ini telah
terbuka luas dan memanggilmu
dan kau tak perlu berdua hati
kerana di sini tak ada algojo
dan pendera yang menantimu
yang ada wajah-wajah manis
dan memperlakukanmu sopan
dan tiap keputusan dan tindakan
adalah kesabaran dan doa.

Kalau aku mengulang salam
dan melafazkan ucap yang pernah
kau dengar dan
melihat siang penuh gemilang
sejak itu kau tak akan menyesal
dan bimbang pada pengucapan
langkahmu pasti menuju
pelabuhan damai.

Nilai
April 2015

*Dikirimkan ke UB 20 Julai 2016

Saturday, 16 July 2016

Taman Samawi (Kumpulan Puisi Indah)*

Dalam doa aku melepaskanmu pergi
aku telah mendakapmu sepanjang bulan
engkau datang dan pergi seperti harum bunga
di taman samawi dalam musim bunga.


Sunday, 10 July 2016

Damai Nusantara* (ISIS)

Pada langit tak ada ruang kau bersembunyi
ke mana pun laut tak akan membiarkan diri
membawa atau melambaimu datang
angin pun tak rela jadi perantaraanmu.

Musim hujan Khatulistiwa di Nusantara
keindahan dan keramahan alam dan
langit kedamaian rahmat sepanjang abad
ke mana saja berpaling salam sejahtera.

Suara semangat hidup dan kasih
tak akan pernah disakiti dan melukai
kerana kebenaran langit dan bumi
tak mungkin dapat kau hitamkan.

Ke mana saja memandang taman
bunga yang lembut pada mata dan hati
lebah yang berkeliaran di siang hari
pulang seribu harapan dan manisan hidup.

Tak Perlu Diam* (ISIS)

Kau tak perlu berdiam diri
membiarkan langit terconteng
dan bumimu hangus oleh agen
kegelapan yang bergerak tanpa
peduli dan sempadan.

Ayuh, atas kesedaran dan solidaritas
segala kekerasan yang mengundang
reaksi dan menguji kesabaran
samasekali tak ada tolak ansur
pada akal jahil dan kezaliman
kerana kedamaian dan kasih sayang
adalah perjuangan yang mengalahkan
kebiadapan dan keangkuhan.

Nusantara tetap wilayah damai
kesejahteraanmu purnama penuh
pintu ini tak akan menjadi laluan
pada kegilaan dan siasat kekerasan
mendung di langit cepat beralih
suara-suara itu gema tak sedikipun
mendiamkan kebenaran bangsa merdeka.

Selamanya keyakinanmu tak akan
gusar dan menyerah pada kegelapan
doa-doa dan tindakanmu akan menjadi
tembok dan kekuatan yang tak dapat
dipatahkan dan diserapi oleh kebohongan
senjatamu masih tetap ampuh
tanpa kekerasan dan kezaliman
di sepanjang zaman hingga kiamat.
Tak perlu diam ketika kau ditakuti
dan kau tau di tanah leluhurmu
lapangan permainan kejahatan.






Sunday, 3 July 2016

Kegilaan (ISIS)*

Suaramu jangan senyap, berdiri dan protes
ia tak sekuat yang kau fikirkan
apapun yang ia katakan itu
semuanya kebohongan dan tak berlandasan.

Sering wajahnya bertukar tapi
jelas tak ada kemanisan dalam dirinya
tak ada jaminan, langkahnya longlai
benihnya tak berakar tunjang.

Kau tak perlu takut dan gusar
dan jangan sekali membuka pintu
termakan kata-kata sembilu
diucapkan dengan manis gula.

Sungguh, ia tak berjaya dan berhasil
kerana ia tak akan dapat simpatis
dan huluran tangan dari tanah leluhur
kegilaan ini hanya membawa maut.

Datangmu Bersama Berita Samawi (Kumpulan Puisi Indah)*

Aku mengingat-Mu dalam diam
langit dan bumi kanvas yang terbuka
angin telah mendorongmu jauh ke dalam siang
suara dari gurun dan gelombang yang mengulung.

Kau berlari ingin melangkahi sempadan
melawan angin yang bertiup kencang
tapi kau masih tak peduli seribu kencana
sekalipun kedua kakimu terikat.

Kau melihat bulan pada langit malam
dan mengharapkan siang ada matahari
di laut gelombang meredah
hujan telah berhenti, pulaumu mendekat.

Kedatanganmu membawa berita samawi
tiap persinggahan menawan kalbu yang sepi
tapi kau tak akan menamatkan perjalanan ini
sekalipun akan mengambil waktu yang panjang.

Nilai
2015

Pembuat Api (Kumpulan Puisi Indah)*

Ketika kau masih kecil bisa kutiup dan padam
tapi pembuat api dalam diam membuat api
di halaman rumah atau di mana ada saja
kerana dalam dirinya api menyala.

Pembuat Api bekerja dalam sembunyi dan rahsia
ingin melihat api membakar dan langit jerebu
tak peduli sekalipun telah diperingatkan
kemusnahan itu tujuan dan maksud.

Sekarang seperti tak ada dapat membantah
ia bertindak dengan maksud menzalimi
tindakan dan perbuatan yang merugikan
kebencian makin bertambah dan terbuka.

Tak ada ruang untuk Pembuat Api di sini
tiada simpati dan telinga ingin mendengar
dan bersetuju alasan-alasan dari benih kegelapan
ini bukan satu perjuangan tiada yang mimpi.

Nilai
2014


Ranjau (Kumpulan Puisi Indah)*

Aku melihatmu di depan jalan yang berliku
ribuan ranjau yang tajam muncul di permukaan
yang lain seperti biasa pada langit dan hutan
tetap indah dan penuh rahsia belum tersingkap.

Menerpa tanpa bimbang akibat suatu tindakan
demi kebenaran langit kau tak akan menunggu
siksaan dari pendusta dan agen kegelapan
kerana tiada berhak menghukum dan menderamu.

Ranjau-ranjau di sepanjangan jalan itu sebenarnya
hanya dalam mimpimu tanpa landasan berpijak
gema suara pendusta segaja mengelirukanmu
dan mendesakmu supaya menukar hala haluan.

Meskipun tiap kali kau melangkah ke depan
ada saja cuba menghalang dan menolakkanmu
mencipta cerita dongeng dan kebohongan merugi
tapi, kau tak berganjak dari jalan lurus dan benar.

Nilai
Januari 2016
*Dikirim ke Daily Express, 12 July 2016