Wednesday, 30 May 2012

Balada Anak Kecil Dan Kawan (Anak-anak)

Siang yang terpanah
mentari yang luluh
di tempurung kepala.
Ana, si anak kecil
duduk, bermain sendiri
berbual dan berjawab
sesekali tertawa dan berbisik.
Ada suara menudingnya
'Dengan siapa kau cakap tu Ana.'
Ia pandang ke beranda
tapi matanya kembali
kepada anak patungnya.
di kamar tidur
di halaman rumah
di pinggir laut
di bawah pohon kelapa
di atas tanah
ketika sendiri ia
didatangi kawan.

Lanskap malam tersingkap
manik-manik langit berkelip
ana masih menunggu
dari ranjang tidur
matanya ke arah jendela.
Ia bernyanyi kecil
ia mengomel sendiri, kesal
'Mengapa kau belum datang.'
Anjing malam merobek sepi
pemabuk mundar-mandir
menengking malam.
'Kau masih belum tiba.'
Aku tak mau makan..'

Ia, kawan Ana selalu datang
bermain dan rumah ini ia biasa
masuk keluar sesuka hati
berbual lama dan berlalu.
Ana bilang pada abah dan ma
usah selalu menengking
dan bicara keras-keras
sekalipun selalu diingatkan
tapi, mereka tetap begitu
"Mengapa abah dan mama
tak berbual seperti ana dan kawan
kami tak bergaduh."

Mata Ana lekat pada
sebutir bintang menyala
seperti obor di kejauhan malam.
Ana tersenyum
kawan telah sampai
ia bangkit dari ranjang
mereka berbual
tentang negeri yang jauh
bergayutan dari bintang
ke bintang.
"Mengapa kau merajuk,
aku demam kau tak datang."
Lama Ana dan kawan
berbual sampai jauh
ke dalam sumur malam.
Sejuta bintang  menemani
tidurnya,
satu demi satu masuk
ke dalam hatinya.
Ana senyum
berbisik pada kawannya.
"Kau janji tak akan pergi."

Suatu senja
yang terhiris dan tercuka
Ana dan kawan hilang
mereka memburu
sampai ke malam.
Di pinggir malam
Ana dan kawan
berbual di tepi laut
melihat kelopak bulan
berkembang seperti
kembang bunga lily.
Memegang tangan kawan
tanpa menoleh
mendaki kaki langit
ke bulan kembang bunga lily.

Canberra
3 Mei 2012































Tuesday, 29 May 2012

Kapal Terbang Kertas* (Anak-Anak)

Kuterbangkan
kapal terbang kertas
terbang bersama hati
ke langitmu.
Kulihat jalanmu
melebar mengerat bukit
masuk ke halaman kota
di tebing laut itu
ada desa hanggus
dalam satu malam
bagai foto silam
yang terbakar
mereka pun tak kembali.

Terbang, kapal terbang kertas
terbang, terbang bersama hati.
Kulihat hutan bermain
jadi taman perumahan
dibuatkan jalan-jalan
dan nama-nama baru.
Pohon rambutan dan
pohon mangga
dibawa pindah
ke tepi hutan
wajah-wajah berubah
begitu suaramu lepas.

Terbang kapal terbang kertas
terbang, terbang bersama hati
aku belum mau turun
tapi, kau merendah juga
terjunam ke dalam laut.

Canberra
30 Mei 2012

Nota: Puisi ini dalam proses penerbitan antologi puisi Kaltim-Sabah






Pelupaan* (Indah)(Suasana)

terlalu lembut 
dalam senyap
sebuah melodi yang terngiang
huruf-huruf indah tercipta.

Kudakapmu
sesaat bagai mimpi
sebuah puisi
dan mengelus dirimu
dan kucium
rembulan.

gazelku
terlalu indah
melihatmu
menerjang dan
menari
di lembah sepi
lalu jadi udara
terlepas di langit ingatan.

Canberra
 29 Mei 2012











Pulang ke Selatan (Mama)

Pulang ke selatan
jalan-jalannya telah tertimbus
menyatu menjadi hutan
di situ pernah ada sebuah rumah
dalam waktu bergeser
atapnya telah bocor
dindingnya dari masa silam
merindukan kekasih tak pulang.

Di situ ada rumpun bambu
selalu berseloka kini senyap
pepohonan tinggi
terpanah petir lama reput
jalan ke bukit sepi
gemerisik patah ranting
makin menjauh dan melodi
lagumu hilang.
Memandang ke selatan
terasa melangkah undur
menyemai benih tak tumbuh
mimpi jatuh sebelum ranum
cinta dan benci berbaur
bagai menyicip air buah limpahung.

Berdiri ke selatan
bagai kau tak melambai lagi
matamu tertutup kabut
sepotong bulan lebur
menjadi pasir
tapi, kau masih menyelak
ingatan, bau tanah
suara tilawat dan tafsir
selepas fajar.
Sebuah rumah di selatan
di situ, anai-anai
telah lama bersarang.

Canberra
29 Mei 2012
*ITBM (Bahagian II)














Sunday, 27 May 2012

Tanah Da'i 11 (OZ)

Suatu siang terasing ia bertenda
di lapangan terbuka di tanah kering
ada yang datang melihat dari jauh
mendekat dan bertanya dan berlalu
kerana baru melihat pendatang baru
ia pun tak ingin terbidik curiga
siang terapong tamu datang berlalu
di sini bual tak pernah sempurna
domba-domba menjauh di lereng bukit
ya, betul, dari langit selalu ada kejutan
ia berdoa pada pemilik kerajaan hati
nekad Musa tak luntur menghadap Fir'aun
kebenaran samawi terucap di lidahnya
kata-katanya tak terpendam dendam
yang ada air manis mengalir dari lembah
ia terasing di tanah yang asing
bila kau berkata kasar ia senyum
bila kau gelapkan kata ia tenang
bila kau memaki ia tak membalasnya
tuduhan orang bodoh tak beralas
ketololan itu adalah dari kejahilan
dan kejahilan itu dari hati yang gelap
Isa berkata, "Eli Eli lama sabachthani?"
kerana deritannya bagai sembilu tertancap
di bumi asing ini, jauh di rimba raya
di pulau-pulau sepi yang jauh
di tanah-tanah gersang dan pergunungan
kerana-Mu, ia datang bagai domba korban
dalam solat tahajjud ia menangis lalu berkata,
"Wahai, kekasih Allah, Muhammad, Rasulullah
aku rasakan derita laramu di Ta'if."

Canberra
28 Mei 2012










Qasidah Indah* (ITBM)

Kutulis puisi ini
di musim gugur selepas fajar
aku merasa tenteram
melihat malam digulung rapi
dan siang datang lembut dan tenang.

Dalam ketenangan terasa manis
pintu-Mu terbuka
ternyata Kau ada
salam dan doa bersambut.

Ketika bersama-Mu
aku tak pernah takut
dan merasa sepi
Engkaulah pendamping.

Kupanggil nama-Mu
tak terasa dunia 
Kau mendengar
menjawab dan menghibur.

Selama aku tak berhenti
dan melupakan-Mu dalam solat
Kau Pelindung, Maha Penyayang
yang memegang tanganku.

Tak akan Engkau kutinggalkan
kerana di situ ada keselamatan
dalam aku kepayahan
Kau ada, menghulur tangan-Mu.

Aku tak akan sendiri lagi
langit bercanda
qasidah indah terucap.

Canberra
28 Mei 2012

*ITBM Jun 2015
















 

Kekerasan (Perempuan)

Suara itu mau menjulang ke langit
tapi Timah tetap bersikeras mendakapnya
lalu ia sembunyikan dan menyorok-nyorok
di dalam rumah atau diari sendiri.

Rumah ini adalah saksi
Timah berhati arnab
ia memanggilmu abang dengan kasih.

Ketika kau menampar dan memukul
Timah mengaduh tapi masih tetap
memangilmu, abang sayang.

Timah dilahirkan lembut dan indah
ciptaan terbaik lebih harga dari sebiji nilam
kesakitan diajarkan biar tabah dan sabar
kaum yang lemah kata mereka
harus taat dan menyerah pada takdir.

Ketika dibentak-bentak dan dipukul
dituduh dengan kata-kata kasar
Timah menunduk saja memandang lantai
kerana ia tak diajarkan jadi derhaka.

"Kalau kau mau memukulku menampar
sesuka hatimu aku tak akan melawan."

"Masa ia mengamuk kau tahu tak, apa yang dirasa?
"Aku rasa bersalah, sedih,
"kerana aku, jadi semua perkara.
"Meja makan di rumah ia terbalikkan."

"Aku rasa tiba masanya dibawa
berbincang dan bertegas
rupa-rupanya jadi lain. Seharian aku menangis
sekarang mata aku bengkak."

"Dia tuduh perkara yang aku tak buat
dia terlalu cemburu, entahlah
sakit hati, aku takut hilang sabar
aku pantang, jika ada sesiapa
membuat tuduhan tak berasas pada aku."

Perubahan bermula dari kerajaan hati
"Aku zalim terhadap diri aku sendiri
Selama ini aku terlepas pandang semua tu.
aku ini manusia yang sangat
mudah terasa sangat sensitif."

"Aku tak suka sifat itu sebenarnya
tapi nak ubah makan masa lama
mungkin sifat itulah membuatkan aku begini.."

"Aku cuma kata..
aku perlu masa berfikir.
aku takut untuk berkata tidak."
Timah, mengapa tidak!

Canberra
27 Mei 2012

*Antologi RM & SS



Saturday, 26 May 2012

Tiba (OZ)

Suatu siang langit mendung, laut berombak
ia tinggalkan pelabuhan, hujan mulai turun
menyeberangi laut ke pulau jauh
setiap tendangan ombak, bot melaju
membawa cemas dan rasa tak sabar.

Pulau-pulau ia lewati terasa jauh
matanya memandang laut biru
semakin ia mendekati pantai itu
degupnya seperti tambur yang dipalu
makin kuat dan makin meninggi.

Mentari mulai rebah ke barat
matanya tak menoleh tetap ke depan
desa di hujung tanjung
mendengar bunyi ijin datang mendekat
ia melihat kaki seorang gadis berlari
menuruni separuh tangga
lalu naik ke atas semula.

Canberra
26 Mei 2012


Tanah Da'i 1 (OZ)

Aku tak mengenalmu apa lagi bau tanah dan keringat langitmu
kulangkahi di jalan-jalanmu, dan lembah terasing ini
ketika berpapasan aku senyum dan memberimu salam
kekadang kau menoleh dan pergi tanpa berkata sepatahpun.

Tiap hari aku berhenti dan menyapamu sekadar bertanya khabar
lalu aku pergi membiarkanmu mengilat duniamu di pinggir jalan
ketika di jalan pulang kutegur lagi kau, kali ini kita berbual sedikit
esok, aku lalu di jalan sama, sekarang kau pula menegurku dulu.

Kau mulai bertanya dan bersenda-gurau ketika berbual
aku merasa kita mulai saling mengenal, terbuka hati
antara kita mula timbang terima demi persaudaraan
tak menganggapku orang asing patut dicurigai, membawa perkara.

Suatu siang, aku tak melihatmu di jalan itu dan bertanya
sudah lama ia tak ke mari kalau ketemu nanti kami sampaikan
ketika ingatan hampir tenggelam ia datang sampai ke anak tangga
lalu ia kujemput masuk dan bertamu di dalam rumah.

Canberra
26 Mei 2012


Friday, 25 May 2012

Tanah Kasih (Ketuhanan)

Ya Rabbi, aku bukan kehilangan dalam bedul waktu yang bergetar
tidak juga aku berdalih mendahulukan kepentingan diri
dalam timbunan rasa dan fikir aku terasa gempa yang lunak
kejauhan itu adalah kerinduan terkocak dalam sabar menanti.

Ya Rabbi, tak pernah kutinggalkan menyebut-Mu
lembah gunung kulangkahi dan laut kuhadapi
kelajuan gelombang tertinggal kerana cinta terbang berpaut
seribu anak kata dan kalimat lebur hanya dalam satu pertemuan.

Ya Rabbi, tak akan kulanggar janji dan berpatah sayap
Kau rembulan ketika dua hati dalam harum malam kemuning
di langit siang kami berjuang memaknakan sebuah cinta
dan kami tak akan dikalahkan kerana hiruk pegap amarah.

Ya, Rabbi, tanpa-Mu, cinta ini bagai desir angin yang bingung
berputar-putar, terhoyang-hayang tanpa arah, kehabisan tenaga
hati kami telah baiat dan majnun datang kepada-Mu
lalu kasih langit dan cinta bumi bersentuhan, terasa damai!

Canberra
26 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013









Burung Hitam Kepulauan Pasifik (OZ)

Dalam diam kubawa kembali wajah-wajahmu
di langit cakrewala khanaza yang tersimpan
bagai pertama kali aku mengenalmu
jauh di tanah lelohor daerah yang dilupakan.

Kubawa langitmu ke dalam langit musim semi
bumimu kugembur jadi bumi kita bersama
kau adalah pasangan burung-burung hati
terbang mencari rahsia siang di benua.

Kau mencari jawaban ke dalam nuraini
sambil mendengar melihat ke dalam hati
cuma sapa rembulan dalam pekat malam
datang membawa khabar dan harapan.

Sekalipun dibuat tembok ke jalan masuk
mimipi-mimpi telah genap dan sempurna
kau tak peduli salak anjing-anjing bukit
atau rencana jahat yang terselindung.

Meskipun kau berdua telah berpulang
membuka pintumu adalah pengorbanan
di tanahmu si burung hitam berqasidah
dengarkan lagunya, lagu cinta dan kehidupan.

Canberra
26 Mei 2012

Banduan (OZ)

Tik, tik, tik aku masih menelan nafas
udara masih ramah
mimpiku pun selalu indah
kunantikan malam tiba
tiap pagi kamar ini sangat bersopan
sekarang aku tak melihat langit
Ya, ia tetap indah
sekalipun mendung dan hujan turun.
Sekarang aku tak bertanya jam berapa
apa lagi berangan-angan jauh
apa lagi menunggu siang
ia tetap datang sekalipun tak ditunggu
ia tetap datang dalam jaga
aku pun telah siap
aku puas, sepasang kemeja putih
dan seluar hitam dan kasut warna hitam
ah, datanglah, aku menunggu di sini
datanglah, aku telah siap.
Aduh, isteriku, nilam batu delima
tak disuruh datang, kau datang juga
dari awal, aku menikahmu
kau, isteri yang menurut
kubilang berkali-kali usah menunggu
sudah kulepaskan kau terbang
tapi kau masih pulang
matamu terhimpun dukalaramu
dan kau bisa tersenyum
aku dapat merasa degup nafasmu
mengapa kau semakin lembut dan sayang
mengapa kau terlalu tekun mendengarku
tak ada hikmahnya semua kosong dan tak bermakna.
Kukira hidup ini seperti bermain dadu
hanya sekali barangkali membawa tuah
hanya sekali, sekali
ternyata aku salah.
Kita berbual terpisah
tiap perbualan akan berakhir
dan telefon ini pun berwaktu.
Aku senyum dan tertawa
kau pun tahu memang wajahku manis
yang ini pun akan berakhir
bila saat itu datang
dunia yang kulihat
tenggelam perlahan-lahan
cahaya menjadi sebuah noktah
kemudian hilang semuanya gelap gulita
warna pun tenggelam
lalu suaraku sendiri tak terjangkau
bila saat itu datang
aku ingin melepasnya tanpa perlawanan
dan kau bebas
tanpa selamat tinggal
dan kau terlepas.

Canberra
25 Mei 2012




Wednesday, 23 May 2012

Janda 2012 (Perempuan)

Apa kau menungkan di dalam kamarmu
kamarmu adalah milikmu
tiada siapa yang dapat masuk
tanpa mengetuk pintu dan memberi salam.
Mengapa kau pusing dan terasa dikalahkan
kau diam tanpa membalas serangan
kau adalah dirimu, dirimu adalah hakmu
hakmu memilih hidup yang benar.
Biarkan bunyi bising dari cerutuh lidah yang kotor
kerana kau seorang janda.
Kau harus melangkah melihat  kanca siang
dengan tekad dan nekad.
Ini adalah tamanmu
adalah kijangmu yang lincah
kau adalah raja di dalam kerajaanmu
kau adalah jelmaan Cik Siti Wan Kembang.
Dari lima penjuru siang mereka memataimu
menghendap dan menghendikmu
dengan kata-kata bermata dua
mengapa kau harus mengalah
dan merasa kakimu dipatahkan
Aduh! lelaki apa ingin memperisterimu
menyerangmu lalu ia berseloka
kepada isterinya yang pertama.
"Aku kesiankan Amin," katamu
tapi anakmu tumbuh dalam peredaran waktu.
Puteri Gunung Ledang tidak begitu
ketika menghadapi Sultan Mahmud.
Di mana kau sembunyikan hati nurainimu
di bawah ranjang berdebu.
Kamu, Urduga,  perlihatkan bagaimana kau
melarikan kudamu dan kehebatanmu memanah.
Kau telah meraih kedudukan
tamat pengajian di universiti
tapi, kau takut kerana dirimu Janda.Ya, Rabbi...

Canberra
24 Mei 2012















Kanggaru (OZ)

Di bawah Gunung Anslie
jalan menyimpang ke kiri
ada sebuah padang rumput
yang selalu ramah.

Di langit cendawan tumbuh
mentari bagai
bergolek di atas rumput
wah! Kanggaru
tunduk memagut rumput
sekali berdiri memandang
dan melompat anak berpindah tempat.

Lihat!
dua Kanggaru bermain boxing
lucu! anak di poket perutnya
ia berlari dua kaki sepantas kuda.
Kubaca qasidah langit
langit hijau murni.

Pepohonan Eucalyptus seperti berbual sendiri
beberapa ekor kuda tenang memakan rumput.

Hari ini
tujuh keturunan Kanggaru
akan menjadi korban
masa depannya telah diputuskan.
Lalu siapa itu yang datang
dengan laras senapang!

Canberra
23 Mei 2012

Tuesday, 22 May 2012

Datang Berita (Ketuhanan)

Datang berita sebagai hukuman
langit gemetar, gemanya bagai tertanjap
pisau ke dada
tak berdarah
bagai siksa silam datang kembali
bukan dalam mimpi
datang di siang hari
terbunuh
dibunuh
dan membunuh.
Ketika membidik, "dorrr"
mata buas sebagai pemburu
alam bagai kaca terhempas
tapi siapa yang peduli.

Tiap tembakan mengena sasaran
sambil menarik nafas puas.
Ya Rabbi, lihatlah, semudah itu
meregut hidup dan membunuh!

Aku melihatmu di kanta sejarah
aku melihatmu di siang benderang
aku melihatmu di malam sembunyi
tanpa dapat berkata sepatah
tanpa dapat menutup mata
tanpa dapat berbuat.

Malam meletus
bagai gempa gunung berapi
Ya Rabbi, aku tersiksa
ketika roda maut datang
dari manusia kepada anak manusia
dari manusia kepada hewan
tanpa ampun
tanpa maaf
tanpa sidang
bagaimana kau menyatakan cinta
lalu melukai tubuh kemanusiaan
mengheret dan membakarnya
seperti anjing jalanan di lorong-lorong 
seperti anak bangsat hina terhukum.

Tujuh petala bumi bangkit
tujuh rimba bergerak
tujuh puting biliung menjadi satu
tujuh lautan terguncang
"Ya, tapi siapa peduli."

Masih tembakan di kota yang musnah
masih tembakan di gurun terpencil
masih tembakan di lembah perang
masih tembakan di lorong-lorong
masih tembakan di laut pelarian
masih tembakan di depan mata.

"Dorrr, dorrr, dorr."
Satu, dua, tiga, sembilan
tiga puluh tiga, seratus tiga puluh lima
tujuh ratus  satu, seribu empat puluh sembilan
dua ribu, sejuta.......
siang mentari warna kunyit
maut tercium dalam udara.

Tujuh langit bermandi darah
tujuh lautan berkata,'cukup'
aku peduli!

Canberra
23 Mei 2012











Puisi Buat Wanitaku (Perempuan)

Terasa seperti salji gugur
meresap ke dalam dada
lalu kutulis puisi ini buat wanitaku
kerana aku mencintaimu.

Wanitaku, kau adalah lambang kesuburan
adalah lambang penerus perabdaban
adalah keindahan dan sumur puisi
dan genta kehidupan.

Dari rahim seorang ibu melahirkan
anak manusia,  bagaikan kain putih tanpa dosa
kelahiran dari sebuah cinta yang tulus
kelahiran dari doa-doa purnama penuh.

Ketika terpisah dari tembuni
tali pusat dipotong
tangis pertama itu adalah
bagai janji langit telah tersambut
kelahiran seorang anak manusia.

Tangisanmu adalah
lambang kehidupan bermula
degup nafasmu adalah
degup nadi alam sejagat.

Dari mata bayimu tertutup indah
wajah yang belum mengenal dosa
lalu terbuka melihat dunia pertama kali
merangkak, berdiri jatuh, melangkah dan berlari.
Kau diasuh dengan seribu janji tentang esok
tidurmu dalam dakapan dan dodoi rembulan.

Seribu malaikat turun menjagaimu
seribu malaikat menjadi perisai
seribu malaikat berdoa
buat anak manusia ini.
Kau lahir dan membesar
dan berhati kijang yang girang
menari di lembah hijau.
Sentuhanmu cahaya yang menghidupkan
di taman peradaban
kau tak diajarkan meminta
dan sayap pengorbananmu
tanpa sempadan dan melintas ke jantung cakrewala.

Wanitaku, darimu  terpencar peradaban
kau adalah anugerah yang terindah.
Suaramu lembut ketika bersatu
menjadi korus yang indah menawan langit samawi
dari tangan dan benakmu lahir karya-karya agung
musikmu menawan  tapi bukan mendarahi
puisimu menggetarkan rasa kemanusiaan yang adil
kata-kata dan gerak tangan dan  lari tari kakimu
sapuan kanvas memberikan harapan pada besok.

Aku menanyakan kepadamu
pemegang tongkat kekuasaan.
Bagaimana anak manusia lahir
dari rahim seorang ibu bisa menjadi penzalim
dan pembunuh massa tanpa ampun
kemanusiaan terperangkap dalam sejarah silam.
Seribu satu jawaban kau dapat berikan
seribu satu alasan kau dapat kumpulkan.
Di sini perlu kembali menilai kemanusiaan yang tercopot
di sini perlu kembali  meletak hak di gunung perkasa.

Wanitaku,
kau bukan pewaris dosa masa silam
kesabaranmu merangkul bumi dan langit
dari rahimmu-
tak pernah dipohon melahirkan manusia korup
tak pernah dipohon melahirkan penjahat dan pembunuh
tak pernah dipohon melahirkan manusia berkekang nafsu
tak pernah dipohon melahirkan manusia bathil
tak pernah dipohon melahirkan manusia kasar tanpa adab
tak pernah dipohon melahirkan manusia penyiksa wanita.

Wanitaku, bertapa perih dan malu
biarkan disebak rongga dada ini
melihatmu-
masih menjadi umpan kanca nafsu serakah
masih menjadi debu yang ditendang-tendang
atas nama tradisi dan budaya biadap.
Memperkosamu adalah
pencerobohan hak hidup wanita
bagai menyerang peradaban itu
menghancurkan dan meratakan ke bumi.

Wanitaku, kau mesti kuat dan gagah menangani kejahatan
kau jangan pernah tunduk bila hakmu dibawahkan.
Hujan akan turun sekalipun dicuba membojok langit
debu-debu dan noda-noda hitam merangkumi
sepanjang perabadan akan terbawa hanyut
langit sendiri akan menurunkan tangannya
bumi pun telah lama merontah kesakitan
kerana perbuatan anak manusia.

Wanitaku, aku mencintaimu
menghidupkan lebih baik dari membunuh
tangan memberi lebih baik dari meminta
keadilan dan hakmu itu adalah
amanah yang dipegang.

Canberra
22 Mei 2012

*Antologi RM & SS















Monday, 21 May 2012

Rahsia Sebuah Hati* (Puisi)(Metamorposis)


 Aku mulai bicara sebuah hati
dalam kesederhanaan
dan berakhir dalam kesederhanaan.

Ada rahsia yang tersimpan
pada mata yang memandang pada alam
pada langit dan bumi aku selalu bercanda
menyingkap rahsia sebuah hari
pada gelora laut yang selalu
menyimpan rahsia ribuan kurun
pada pulau yang sepi 
terselip bebayang dalam pekat malam
pada gunung di waktu fajar merelakan diri
dalam dakapan mentari merekah
pada rembulan keagungan sang kekasih
melukiskan malam dengan tinta kalimat cinta
pada lembah salji kesabaran yang lunak
menunggu datangnya musim semi
pada sebuah kamar ada suara-suara
yang terkurung dalam perjalanan waktu.
pada sebuah kesedihan ada rahsia yang belum terucap
pada sebuah mimpi menunggu menjadi sempurna.

Mentari yang menyala
mengirimkan cahayanya
adalah kesabaran berkurun
alam itu-
adalah fikiran dan rasa dari warisan silam
anugerah dan inspirasi yang mengalir.

Di musim semi, di lahan baru dan tanah gembur
aku menyemai sebuah harapan, agar tumbuh dan berakar
aku berkata padamu, ketika kebenaran itu telah nyata
bukan rahsia tapi kenyataan lahir dari kandungan waktu
lebih dari seribu kurun bagai siang yang terang
mendatangi lembah-lembah yang terlindung dan jauh.

Mengapa hatimu tergetar, dan cemburu
melihat sukses kerana kemewahan dunia
kerana kau merasa tak punya
sedangkan kekayaan itu milik tak puas
terus mengoda sampai ke dalam tidur yang gundah.

Mengapa harus resah, mengapa berduka
kejahatan dunia itu-
kejahatan yang bersarang pada hati yang gelap
ia bernafas dan bergerak hidup
menguasai nadi dan urat-urat darahmu
akhirnya kau tak bermaya dan menurut
dan merasa manis dan akur.

Melepaskan semua itu bukan bererti
mengalah pada kehidupan
usia kita telah berangkat, matahari batu delima
kalau kehidupan itu adalah teka-teki
maka ia telah terjawab, kerudung itu telah tersingkap
kepuasan dunia tak pernah ada garis penamat
ia adalah bakteria yang akan menjadi penyakit
ia adalah kerakusan dan keangkuhan akhirnya.


Ketika kau telah redah dari gelisahmu
bagai malam telah berangkat datangnya siang
bagai hutan kembali riuh dan hidup
bagai gemerincing waktu yang beredar dan teruji
besar hatimu  meraih langit
besar pula tipu muslihat suara-suara gelap
di dalam rimba yang tercipta di dalam hati
serigala dan petualang malam adalah
pemburu perkasa terus mengejarmu sampai
ke pangkal malam.

Ketenangan ini adalah
air halia yang kuminum
madu yang kucicip di hujung lidah
dalam solat aku hamparkan selaksa dukalaraku
dalam doa aku mendakap-Mu
bagai kekasih yang haus dan rindu
kupanggil nama-Mu
kubisikan kata-kata terindah
dalam kalimat-kalimat sederhana 
kerana kesederhaan hidup ini
aku terpanggil memanggilmu
dalam sederhana kubaca gerak langit
dalam sederhana kubaca gerak bumi
dalam sederhana kubaca degup hati.

Kalau rahsia bukan rahsia lagi
kebenaran itu telah menjadi nyata
dan rahsia itu telah tersingkap.

Canberra
22 Mei 2012












Sedikit Nasihat Ma (Mama)

berkata biar indah
salam bermuka manis
doa dipanjangkan.

belajar biar rajin
membaca sampai tamat
kembara melangkau bumi.

sabar biar berlanjut
tangan memberi
hidup sederhana.

cinta biar sejagat
benci pada yang dosa
berdendam jangan sekali.

berjuang biar maju
berpura-pura pantang sekali
taat bertunjang langit.

menegur biar santun
makan bersopan
mata menunduk.

solat biarkan sempurna
tahajjud secara dawwam
pengorbanan amalan suci.

Canberra
21 Mei 2012





Sunday, 20 May 2012

Lenyap* (Puisi)(Metamorposis)

Pernahkah kau
sedang bermimpi
tanpa penghujung
sekalipun kau mencoba inginkan
mimpi pun berakhir.

Ketika duduk sendiri
turun kasyaf lalu
melesap hilang dalam udara.

Atau sedang menulis puisi
telefon berbunyi
menghapuskan
bait-bait sebelum.

Dalam perbualan
ingin berkata tapi
fikir pun terpaku
ia pun lepas dari genggaman.

Di ranjang
terlentang sendiri
aku mengingati-Mu
sekalipun diri
bagai tersuntik ubat bius.

Canberra
21 Mei 2012








Senyap buat Siti Rahmah Ibrahim (dedikasi)

Perlahankan suaramu
dengarkan, sepi dan senyap
ia mengesat mata
seperti habuk di pinggir mata.

Perlahankan suaramu
dengarkan, sepi dan senyap
dihirupnya udara langit
seperti ikan dipisahkan dari laut.

Perlahankan suaramu
dengarkan, sepi dan senyap
yang didengar hanya degup
seperti tiada jalan pulang.

Perlahankan suaramu
dengarkan, sepi dan senyap
di hutan kelapa sawit
seperti kekasih yang merajuk.

Canberra
20 Mei 2012

*Dikirimkan kepada Badan Bahasa Sabah Cawangan Sandakan untuk penerbitan antologi puisi pada
6 Jun 2013
*Didalam antologi puisi Volume 1, 2013

Saturday, 19 May 2012

1956 Perempuan Di Bawah Jembatan (Perempuan)

Hujan turun deras bagai pintu langit terbuka luas
di bawah jembatan ada gadis basah sekujur tubuh
air mengalir di sungai tolak-menolak tak menghiraukan
ia menyorok ke dalam gelap seperti tikus menjauhi cahaya
di situ, ia menyendiri, memohon kegelapan mendakapnya
langit hitam pekat, dalam kegelapan ada pemburu.
Ya Rabbi, aku hanyut dan terbawa ke dalam gelap.
Aba, kau menyuruhku terbang tanpa memberikanku kepak.
Air terus mencurah, dari atas jembatan mengalir ke bawah
perempuan ini duduk memeluk kedua kakinya
matanya memandang tajam goncangan deras air
menghentak tiang jembatan, tanpa ampun.
aku perempuan pribumi dipaksa meninggalkan desa.
Ya, Rabbi bukan mauku, aku tak terdaya melawan kejahatan
Aba, kau suruh aku pergi, untung sabut timbul.
Pohon rebah di atas jembatan, tanda ribut belum berhenti.
Aku jadi pembantu rumah seperti jambu muda di halaman
akulah gadis pribumi, ranum rembulan di langit mendung.
Ketika aku tak jaga, kau mencolek buah larangan
Aku tak berdaya. kau pakai tubuhku, kau menyatakan cinta
aku perempuan pribumi, jangan memanggilku nyai.
Ya Rabbi, Engkau Maha Adil dan Maha Mendengar
ampun Ya Rabbi, bagaimana aku meninggalkan-Mu.
Kera Si Hidung Merah menghisap nafasku.
Ya, Rabbi, Engkau Maha Pengampun, aku hamil
aku punya mata tak boleh melihat
aku punya telinga tak boleh mendengar.
Gelap, aku sendiri di sini, merintih nasib pada besok
ia mau tubuh ini dibawa pulang ke tanah leluhurnya
aku merontah, sabar cintanya luluh
di malam terasing ini ia datang dengan paksa
mencariku dalam hujan dan mengacu pistol!
Ya, Rabbi, dengar aku yang berdoa
kepada-Mu aku beriman
kepada-Mu kepercayaanku, mati hidupku di tangan-Mu
aku bersujud, tujuh pintu langit tersingkap, aku meraih-Mu.

Canberra
19 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013


Friday, 18 May 2012

Getaran* (Cinta)

Tiada kata dapat kuungkapkan
hanya getaran nafasku 
lahir dari genta sebuah rasa
dapatkah kau rasakan.

Dapatkah kau menidakkan
keindahan sebuah genta
sekalipun tak terhias
dengan kata-kata.

Pejamkan matamu
rasakan getaran itu
dengarkan ghazalmu
dua rasa menjadi satu
kerongsang hati.

Canberra
19 Mei 2012





Kerongsang Hati (Perempuan)

Aku tak bisa membawamu terbang
kakiku masih terlonjak di bumi
sekalipun aku sekuat rasa memanggilmu
terasa kau semakin menjauh.

Kubisik pada suara hati sampaikan
salamku walau hanya sekilas
bagai bayangan yang lalu di depan mata
datang dengan kelembutan menyapamu.

Kau mungkin tapi kau tak ingin
mendengar bisik suara hati
kerana itu kau pergi menjauh
meniadakan rembulan hadir dalam diri.

Esok suara hatimu datang memanggil
bagai bayang-bayang mengikutmu ke mana-mana
sepak terjang tak akan menghalau ia pergi
kerana ia bagai lebah menitis madu di hati.

Canberra
19 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013



Thursday, 17 May 2012

Dodoi Ma (Mama)

Cerita ini belum selesai, sayang.

Melihat foto ma
berbaju kebaya dengan kerongsang emas
berkain lepas. Subangnya indah,
berantai dan bergelang emas.

Suka ma makan ambuyat dan gulai hati ayam
bila ke pasar ia membeli tapai nasi dan tapai ubi
dibungkus daun pisang, buah kedundung,
mangga, timun dan kepayas muda
nanti dibuat jeruk.

Ma bilang,
"Nin, sekali-sekali langkuas, sekali makan puas."

Ada rahsia, mau kau dengar, sayang.
Aku punya surat beranak dari zaman kolonial
alas plastik dijahit empat penjuru
"Surat beranak penting, jangan hilang." tegas ma.
Tapi surat beranak itu hilang tahun semalam.

Di malam api lampu minyak gas
ia mendodoi anak, kalau tidak bercerita rakyat
ada yang lucu ketika ma mengingat dan
mengucap dari abjad A sampai Z.

Ya, dodoi ma masih kudengar
jelas dengan senikatanya
sesekali datang bertandang
dan aku menyanyikannya.

Canberra
18 Mei 2012







Gorilla dan Penjaga (Hewan)

Hujan gerimis, langit kelabu perak
 ia tiba didestinasi bersama penjaga
sejak Kobi masih bayi.
Semakin dekat, dadanya semakin sebak
Kau punya nama panggilan, Kobi
di malam gusar ia pendampingmu
di siang yang perih ia di situ menenangkanmu
Paris semakin menjauh ke dalam malam
Sydney bagai dua tapak tangan menyentuh pipi Kobi.

"Memang ini yang terbaik buat Kobi."
sambil ia memberi botol air kepadanya.
Afrika, mungkin sesekali datang dalam mimpi
di sini, di zoo ini, Kobi meraih mentari baru.

"Kobi, dari benih terpilih, tenang
tak lekas meradang." kata penjaga Kobi.
Seperti Mogli dalam Jungle Book
ia harus pergi meninggalkan Kobi
meskipun dalam situasi yang beda.

Canberra
18 Mei 2012

*IBTM (Bahagian II)

Resepi Dan Ma (Mama)

Biar kau mendengarkan, sayang.
Bagaimana ia mengulit tepung
tari jemarinya lincah menggiling
lalu memanas tompi di kuali
makan bergula.

Aku rindu resepimu, ma
bau kaki kerbau dibakar
di atas kompur minyak gas
lalu dikupas kulitnya
mengambil isi dan tulang
dibuat sup.

Aku, anak kecil ikut ke pasar
ia membeli lemak lembu
di atas daun simpul.

Kulihat ia melukis bunga
pada sarung bantal
pensilnya teliti di atas kain putih
merenda ke dalam malam.

Canberra
17 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013


Malam Dan Aku* (Cinta)(Suasana)


"Selamat tinggal." Suara itu menghilang di udara
aku membalas kalimat setangkas kilat
laut gundah, pulau mengendur jauh.

Antara dua bukit turun ke lembah
gemerincing angin menyentuh danau
kucari nafasmu pada genta malam
kudakap rembulan tak ingin kulepaskan.

Ya, Rabbi, Engkaulah kerongsang
cemburu langit dan nekad sang benua
antara gelora laut dan resah pulau.

Canberra
15 Mei 2012





Degung Lebah (Hewan)


Cahaya turun jauh ke lembah
"Biar kudakapmu."
"Silakan pintu itu terbuka."

Pantai berkata kepada penyu
"Apa kau tak rindu, pulanglah.
 "Di sini ada pantai putih.
Mengapa kau mesti merayau jauh."

Lebah berkata pada hujan
berhenti walau sebentar
bunga di taman telah
merunduk dibawa banjir
 "Kekadang kau harus berlaku kejam
kerana kasih." bisik hujan.

Canberra
17 Mei 2012
*ITBM (Bahagian II)





















1938, Rimba Raya Berseru (Anak-anak)

Anak-anak berlari ke tebing sungai
memakai cawat, bulu burung hiasan kepala
telingamu bersubang indah berperahu ke hilir
kedua tanganmu memegang dayung
kegirangan yang mengalir
oh, burung, si burung tukang
gadis sunti bersubang mendulang beras
petik sape dan tarimu
lambang rimba raya berseru.

Canberra
17 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013






Wednesday, 16 May 2012

Pembual Dan Kedai Kopi*(Antologi Penyair Lima Negara)

Udara gamat musim mengait hati
ia tuangkan sedikit kopi ke cuit
lalu menghirup perlahan
tanpa berkata sepatah pun.

Sehabis minum, ia berdiri
mencapai tongkatnya
membetulkan kopiah hitam
mengangkat tangan dan berlalu.

bagai desir angin datang dan pergi
ia pun tau ketiadaannya tak akan mengubah
atau menambah keseronokan orang-orang pembual
di kedai kopi.

Canberra
16hb Mei, 2012

Nota: Puisi ini telah diterbitkan dalam antologi puisi Penyair Lima Negara, 2012.










Penyu (Hewan)

Kapal melucur ke dalam siang merekah
penumpang angannya agar lekas mendekati pelabuhan
kulihat penyu dilayahkan di tepi kapal antara kargo
harapannya  mengapai pantai tak sampai
kusurut matanya, ia dilayahkan menadah langit
ia pasrah dalam situasi tak dapat berbuat
air yang menitis dari kulitnya bagai salam terakhir pada laut
secebis hidup terpenjara dalam waktu.

Kapal melucur ke dalam siang sirkah
langit bagaikan terhiris terasa aku yang
berbaring melayah menunggu saat itu
kudekati ia dan meletakkan tangan pada kulit dada
ia tak protes, matanya berkerdip sesekali
aku melepaskan hembusan nafasku
perlahan-lahan ke hidungnya
dan sesekali lagi ia mengerdip
perpisahan itu bersulam rasa
kapal mendekati pelabuhan.

Canberra
17 Mei 2012
*ITBM (Bahagian II)





Perbualan (OZ)

I
Bulan Salji.
Teks mesej dalam FB.

Escort girl:"Kubaca semua puisimu
dan melihat videomu di Youtube menyukai sekali."
(Pause) "Boleh menyemak puisiku."

Penyair:"Boleh, tapi mesti dibayar."
Escort girl:"Ok, apakah kau mau servis atau wang."
Penyair:"Maksudmu...Oh, wang saja."

II

Bulan Tulip Merah

Escort girl: "Aku akan berada di kotamu, Melbourne
Apa kita boleh ketemu?"

Penyair:"Ya, boleh."

III

Bulan Hanggus.
Di Restaurant.

Penyair:"Senang bertemu dengan kamu. Puisimu memang bagus.
Escort girl:"Terima kasih kerana menyemak puisi."

Escort girl:(pause) "Taukah kamu penyair berbakat."
Penyair:"Terima kasih."

Escort girl:"Tapi, kau juga boleh menjadi pelayan lelaki, kamu tampan."
Penyair:"Maaf?."

Escort girl:"Fikirkan dulu. Kalau kamu berubah fikiran,
ini nombor mob."

Penyair: (diam)

Escort girl: (Pause) "Kau mau ke motelku."
Penyair: "Maaf."

Canberra
16 Mei 2012










Tuesday, 15 May 2012

Jalan Memotong (OZ)

Suatu siang ia memandu cepat
jalan memotong ke tempat tujuan
setiap kali ia melaju
jalan pun panjang dan merbahaya.

Tiap kali matanya bagai terpanah
papan tanda: kurangkan had laju
di sini jalannya tanpa aspal
berhenti dan memandu perlahan
di depan ada lampu isyarat.

"Benar. Memang tak ada jalan
memotong ke syurga
tiap selekoh ada pesanan,"
bisiknya  sendiri.

Canberra
16 Mei 2012






Monday, 14 May 2012

Puisi Buatmu, Dentis (OZ)

Ketika sendirian aku mengenangmu
bagaimana aku melupakan aroma 
atau landskap dalam sebuah mosaik hari.

Bila kerinduan di pojokan
menjadi resah cahaya pelengkapnya.
Suatu siang di ruang tamu
kau menghidangkan meat ball badam berkuah pekat
Yogurt yang kental.
"Kusiapkan sendiri resepi home made,"
lidahku bagai tanah kering baru tersiram
mengunyah perlahan dan menelan.
"Sedap."
"Tambah lagi."
Ia senyum puas.

Seperti seorang ayah ia melayani
di perantauan selalu didambakan
ketenteraman
rasa gundah sendiri kekadang alam tak seindah.

Ulit jejarinya lembut dan hati-hati
mencipta dan merekabentuk
perhiasan loket, gelang, cincin, rantai, anting
tapi, ia seorang dentis yang ramah.

Tapi ada rahsia
seperti malam dan siang ada rahsia sendiri
masa mudanya ia seorang peninju
dan bodyguard di negeri asalnya.

Suatu siang ia berbengkel di belakang rumah
matanya tekun memotong kayu
mesin gergaji tajam bergerak cepat.
Telefon berbunyi. Isteri mengangkat
bunyi mesin berlingkar di udara
bagai memotong siang
menjadi  keping-keping papan.
Ada panggilan mendadak dari isterinya
bagai lontaran batu mengena kepala.

"Ada berita tak baik. Meninggal..."
"Siapa."

Pandangannya ke arah isterinya
tapi, tangannya masih bergerak ke arah mata gergaji
jari telunjuknya  ikut terpotong melentur ke tanah.

Siang bertukar menjadi siang yang sebak.

Canberra
15 Mei 2012
















Lagu Demo (OZ)

tiap pergolakan ada tertib dan adabnya
ketika  keadilan telah digelapkan
malam menelur gelisah
siang bagai tertendang sarang kerangga

suara yang resah
datang menjadi chorus
membawa lambang dan pesanan
bergerak dalam kumpulan.

tapi hari ini
demo guru, mahasiswa dan pencinta musik
mendahulukan choir Advance Australia Fair
suara-suaranya manis mencercah langit
siang yang murni mentari terpikat.

"aduh, choir dan classical musik
terlalu manis."

bisik-bisik di kalangan para demonstran
aha, inspirasi:

"Jazz, mainkan Jazz."
"Ya, ya, ya."

tiap pidato bagai langit berguntur di siang kelabu
magpie, wally tail di pohon Eukliptus bersahut-sahutan
desir angin terlalu sibuk sekejap di sini sekejap di sana.

Canberra
15 Mei 2012






Lagu Kathy Dan Aku (OZ)

Akhir musim dingin menjelang musim bunga
wajah Kathy bagai lebah yang tercium kembang bunga di taman
aku  mencium pipinya seperti mencium Latifah, kuda semberani
"Kamarmu telah siap. Berehatlah. Makan malam nanti dikejutkan."
Kumasuki kamar meletakkan tas pakaian di atas lantai
lalu baring di atas ranjang tidur sambil melihat rak-rak buku
mengepung dari empat penjuru sampai ke bumbung rumah.

Mentari hujung musim perlahan turun berendam
aku duduk tertib mendengar Kathy duduk di kerusi roda
"Silakan. Aku tau kau lapar singa menunggu mangsa."
aku mengunyah perlahan, melirik Kathy senyum.
sesekali menyedut udara dalam.

Kathy telah beredar, esok kembang harapan
Udara harum datang dari kamar Kathy seperti kembang bunga melati
pembantu sabar dan itaat selalu disamping Kathy
supaya tidurnya aman dan mimpinya tak terusik.
Hidup Kathy bagai Latifah, terjangannya kencang menerpa angin
Kathy telah berhenti makan dengan lidah dan menelan
Tapi, cinta Kathy terhadap hidup bagai derap kencang Latifah.

Esoknya, Kathy seperti mentari pagi segar siap-siaga
"Hari ini kita akan bertanam bunga." perintah Kathy
Aku menurut seperti Latifah, berjalan dari belakang.
Sekarang Kathy lebih ghairah pada hidup
lebih dari Koala yang bersandar antara dua dahan Eukliptus.

"Keluarkan dari pasu bunga Tulip, Daffodil, dan Iris
 "Ya, tanamkan di situ."

Latifah, kuda semberani merindukan Kathy
sekalipun kemalangan itu tak mengendurkan langkah kakinya
akhirnya siang itu datang juga
Kathy telah damai, sedamai bintang di tengah malam.

Canberra
12 Mei 2012






Lagu Pohon Kapok*(NST)(Terbit)

Sebatang pohon kapok
tinggi menjulang ke langit
di tepi jalan turun ke kota
lebar daunnya dan lebat buahnya.

Ia adalah pohon kapok
tumbuh sebelum merdeka
jalan-jalan baru telah dibuat
jalan melintas dan ekspress.

Ia sendiri tak pernah kesal
bual kota semakin ramai
tapi, burung-burung terbang menjauh
mencari daerah dan danau baru.

"Siapakah dalam diam datang
menyayat kulitku tanpa peduli
membuat lingkaran dengan mata pisau
memanjang dari hujung ke hujung."

Kini rantingnya kering
dan kehilangan daun
akarnya telah  rapuh
orang pun telah lupa
di situ pernah ada pohon kapok.

Canberra
12 Mei 2012

*published by New Sabah Times
3 June 2012

*ITBM (Bahagian II)







Sunday, 13 May 2012

Keinginan* (Indah)(Suasana)

Ketika musim gugur
bertaut pada musim dingin
pepohonan di jalan
bersekuat menggenggam
tak ingin ia lepaskan
dedaunan coklat
dan merah kekuningan
tapi keinginan alam lain pula.

Canberra
12 Mei 2012

Saturday, 12 May 2012

Lagu Vigil (OZ)

Ada sesuatu yang akan terjadi
awan berkumpul dan mengenepi ke hujung horizon
langit berubah wajah nafasnya berombak
di pergunungan salji beburung terbang
jauh ke lembah tanpa gemersik dan bual burung.

Ada sesuatu yang akan terjadi
dapatkah kau bayangkan
dalam keheningan ada pergelutan
kemahuan kami dan kemahuanmu
telah menyimpang kedua arah berlainan
siang bagaikan terkandas dalam permainanmu.

"Kami tak menyangka, satu keputusan
akan menentukan arah esok."

Ada sesuatu yang akan terjadi
mereka telah menyalakan lilin
bergerak dalam kumpulan
di malam vigil. 

Nafasmu melentur tanpa peduli
kata-kata lunak bertukar menjadi lambang
kerana yang ingin kau ambil itu
terlalu dekat di nadi perabadan.

Ada sesuatu yang akan terjadi
alam berhenti menyanyi
dan mendiam melodi  sebuah hari
bagai gerak nadi di kamar sakit
tak berdenyut, musik hati telah berhenti
kini mendatar lurus.
Lalu kata mereka,
"Benar. Ada sesuatu yang akan terjadi."

Canberra
12 Mei 2012

 





Lagu Pohon Eukliptus, Desir Angin Dan Beburung (OZ)

Di kampus, awan berat dan langit keruh
berangin dan menyucuk sampai ke pangkal hati
angin dari gunung hitam mendesir nyaring
menarikan pepohonan eukliptus yang enggan.
Tak jauh berkumpul kakaktua dan rosella
magpie dan will wagtail memang pembual
bangunan Naib Canselor melirik bermasam muka.
Mereka bernyanyi berbalas-balasan
seakan terkumpul sebuah orkestra
keramaian pagi itu bermula
angin terus mendesir
masuk ke celah-celah, degungnya
sampai ke pergunungan salji
melingkari langit benua menyeberangi
laut mendesing ke London
rosella mewarnakan suasana
keindahan sebuah foto
magpie dan willy wagtail suara mereka
tindih-menindih, sampai mata mereka melotot
antara satu tak ingin mengalah.
Kakaktua putih bergerak sedikit
mencelah.
"Kita tak boleh berdiam."
Naib Canselor berpura batuk melihat ke lain.
langit mendung sarat
tasik burley griffin terusik tidurnya
berdegur, gundah ke kanan.
"Ya." protes magpie terbang ke dahan lain.
Dingin.desir angin menjauh lalu
magpie memotong perbualan sambil melirik
ke bangunan Naib Canselor, mulai gelisah.
"Mereka mau lidah-lidah saudara ini dipotong supaya
tak bisa menyanyi. Jadi, di universiti ini disepikan."
"Wah" suara mereka menyatu. desir angin menggerutu.
"Ini kejam. tak berbudaya" celah magpie, mengipas-gipas sayapnya
desir angin bingkas melayang seakan ada berita mau disampaikan.
"Bukankah, suara-suara inilah yang menambat kampus dan mengindahkan pagi."
"Apa maksudmu." tanya kakaktua putih, matanya mencari desir angin.
"Musik. Ya, musik."
"Musik? mendiamkan Canberra, tanpa musik."
"Mendiamkan kampus tanpa kami."
"Derhaka, kemanusiaan dibunuh."
"Tak berbudaya."
Balingkarung datang tergesa-gesa tak mengindahkan
sidang yang sedang berjalan, gundahnya mencari sinar matahari.
Magpie dan willy wagtail terbang ke gunung hitam
kakaktua putih dan rosella mengejar deru angin
pohon eukliptus sendirian, sepi, kehilangan mereka.
Bangunan Naib Canselor legang dan kampus hening
langit semakin pudar, desir angin semakin kencang di pergunungan
seakan alam diam, Canberra bergolak dan berdehem.

Canberra
12 Mei 2012



 








Friday, 11 May 2012

Lagu Melangkah Ke Musim Dingin (OZ)

Sekawan burung kakatua putih
memagut bijian antara dedaunan kering
sesekali  terjaga mengawasi pelalu yang berang.
Sungai  mengembus wap nafasnya
mentari mengusik kota ini supaya bangkit
dikatakan udara bersih
buat orang penjalan kaki  yang rajin
kerana paru-parunya seluas langit.

"Indah, memang indah.
Lihatlah alam membuka pintunya
mempersilakan siapa saja
ke dalam dan meraihnya."

Di bawah jembatan tersorok
ke dalam belukar di tepi sungai
ada seorang lelaki berambut panjang
(entah berapa musim ia tidur di situ)
seperti orang lain yang berkejar
memburu hangat pagi
ia juga merebut cahaya mentari musim dingin
duduk di atas bangku pendek mata hampir terpejam.

Canberra
11 Mei 2012

Lagu Buat Kathy, Latifah Dan Aku (OZ)

"Mengingati orang yang telah lalu, datang mengetuk pintu
masuk sebagai teman lama tak berjumpa, ramah dan sopan
wajahmu jelas, bukan dalam mimpi, dalam jaga, mendengar bicaramu.
Dalam musim panas, aku bertamu, kau melayani, mesra selalu."

"Seumur hidup aku belum pernah menunggang kuda
aduh Kathy, bagaimana kalau jatuh gedebok patah tulang belakang.
aku mencari simpati, sambil menendang kecil tanah dari hujung kasut.
kepul-kepul debu naik ke atas, mentari pun masih bersahabat
embun pagi berang meninggalkan selimutnya dan berlalu."

"Ini Latifahmu. Kau pasti sayang pada Latifah, kuda berdarah Arab
Bukankah, kau yang memberi nama, indah dan senang diingat
Mari ke sini, tangan kananmu, usap lehernya, usah takut
Kudekati Latifah, dalam gegebah, tetapi hati-hati
tanganku menyentuh Latifah, membelai, mengurut-urut lehernya
terasa aku mulai tergoda. Kathy memandangku tanpa berkata."

"Latifah, berkulit cokelat berkilat, matanya ayu dan memikat
Kathy telah meletakkan pelana pada Latifah tanpa protes
pepohonan Eukliptus memerhatikan perlakuan kami dari jauh
sesekali Kathy mengusap leher Latifah ,"Good girl"."

"Naiklah, letakkan kaki kirimu di sini lalu naik ke atas.
Kathy mengarah, mesti dipatuhi dan aku menurut
lalu duduk di atas pelana, Kathy memegang tali, Latifah akur."

"Yang benar, duduk di atas kuda terasa aku sebagai maharaja
memasuki kota jajahan dan mengumumkan kemenangan
hukuman mati kepada tawanan durjana."

'Inilah lambang kekuasaan. Mara ke depan, perluaskan jajahan, lamunku."

"Dengar, kau mesti menendang kecil ke perut, itu isyarat pada Latifah."

"Tak tuk, tak tuk, Latifah bergerak perlahan, aku berasa

bandit Meksiko dengan topi lebar memasuki desa."

"Aku membongkok sedikit ke depan, menepuk-nepuk lehernya,
"Latifah." Kupanggil namanya berulang dalam wangi pagi."

"Sayangnya, tanah rata membidik rasa, berolah seperti penyerang
aku mulai mempercepatkan lari Latifah, belum puas, mau lebih kencang
biar lari Latifah  bersayap terbang ke langit.
Aku mulai ganas dan bengis seperti Hulagu

derap Latifah semakin laju, sepantas angin kering musim panas."

"Latifah, kuda semberani, muda dan tangkas
ketika lari Latifah kencang, aku mencium bala
mampus aku, Latifah berhenti, aduh, apa harus diperbuat
kupandang pada mentari siang, langit, pepohonan Eukliptus,
dataran rata, pagar kayu, balingkarung, ular, burung kakaktua,
kanggaru, landak. Mari jadi sekutu, tolonglah aku, rayu Latifah!"

"Latifah, kuda semberani sedar ini kekalahan yang bermartabat,
pacu lariannya menjadi kurang dan perlahan, kulihat Kathy datang berlari
lalu berkata,"apakah semuanya, ok." Aku mengangguk, turun dari pelana
tanpa kata aku mengelus leher Latifah.

 "Kathy senyum, mentari lega, dan alam raya pun bertepuk tangan
hanya aku menyembunyikan rasa."

Canberra
11 Mei 2012



Lagu Dari Mata Yang Melihat (OZ)


Di sini seperti mengilap masa silam
menyergap ketika sendiri
adakalahnya datang memberi salam
atau berlalu menghendik ingatan.

Kulihat Merrygoround masih di situ, berpusing sendiri
bagai seorang ibu sabar menunggu anak turun bermain.
Professor kukenal berjalan membongkok
bergegas masuk ke bank tanpa menyapa.
Di super market kawan lama
berkata,
"Maaf, aku tak ingat namamu."
"Aku  pelupa sekarang, Parkinsons."
Sejenak kota ini
menjadi slide foto di depan mata.

Lensa berkerdip
menangkap imej bergerak
sedang aku cuba
memaknakan situasi.

Canberra
11 Mei 2012

Lagu Anak dan Solat Jumaah (Anak)(Mama)

Jumaah tiba berseri
kami pun datang berseri wajah
kupakai songkok hitam
dan mengeryik mata
pada mentari musim gugur
ia membalas, "salam buatmu."
 Di luar bangunan, seorang ayah
memarahi anak-
kerana enggan masuk ke dalam
mulutnya bercerutu, masih belum berganjak
kemahuannya duduk sendiri.
Selepas wuduh,
aku dekati anak kecil 
matanya menatap mataku manja
"Mari sayang,  kita masuk ke dalam."
Terasa ia mau menyambut kedua tanganku
tapi mengundurkan niatnya.
Aku senyum, meninggalkannya tenang.
Anak matanya melihatku pergi
sambil kepalanya menunduk sedikit.

Kukerjakan sunnah dan kini
duduk mendengar khutba.
Mataku melirik ke pintu sebelah kiri
anak kecil itu telah berdiri di depan pintu
melangkah dan berhenti, lalu berjalan cepat-cepat
duduk di sebelah ayahnya.
Segaja aku tak melihatnya
memandang ke depan mengulum senyum.

Canberra
11 Mei 2012

Thursday, 10 May 2012

Lagu Suara Hati Buat Suhana Lina Sarkawi (Dedikasi)

Pernahkah kau merasa yang tersirat 
melintas pada pola fikirmu bagai air
mengalir lalu bertemu membuat aliran
lebih besar, lebih deras menurun ke lembah.

Benarkah suara hatimu tembus ke langit
ke bintang jauh dan kembali ke bumi
lalu melangkah ke dalam siang
sejak itu kau tak pernah menoleh
dan berundur ke masa lampau.

Mengapa membohongi suara hatimu
sedang gema langit telah akur
Ketika suara hatimu terkumpul
tenaga itu akan memecahkan tembok
lalu yang tersembunyi bukan rahsia.

Katamu, "Bahang mentari terasa dekat
dan aku mudah terbakar hangus."
 Lalu suara itu berbisik
"Mengapa takut pada suara hatimu!"

Canberra
11 Mei 2012


Lagu Firasat Sebuah Hati (Mama)

Masih kuingat pesan ma ketika kutinggalkan
mosaik hati di pintu masuk  ke bilik tunggu
ia berdiri dengan mata redup, bersandal getah
kain pelikat dan berbaju kurung agak besar sedikit.
Ia mendakapku, bagai mendakap rembulan
berjengkit sedikit mencari keningku
lalu menciumnya, ke dahi kepala dan kedua pipi.
Aku menatap matanya bagai mencari kekuatan
sambil memeggang tangan kanannya
"Mohon doa."
"Ya, ma selalu mendoakanmu."
Kami terdiam sebentar. Panggilan keberangkatan
terakhir. Lalu kupegang kedua bahunya
terasa ringan dan tanpa perlawanan.
Kudakap ma sekali lagi. Para penumpang
bergegas masuk. Ma meregutku,
aku membongkok dengan rela.
"Ada pesan ma yang terakhir buatmu."
Kudekatkan telinga cuba mendengar bisik ma.
"Ikut suara hatimu, ikut suara hatimu." ma mengulang.
"Firasat." tegas ma.
Lalu tangan kanannya menyentuh pipi kananku.
"Pergilah, usah menoleh."

Canberra
10 Mei 2012


Lagu Sebuah Rumah (OZ)

Dulu  di tanah itu  semak belukar
dan berbatu-batu, hanya dekat ke pantai.
Berjejer pepohonan kelapa. Angin laut dari
barat bertiup. Tak jauh ke dalam sebuah tasik
yang membawa ke sebuah tasik yang lain lagi.
"Ya, aku akan dirikan rumah di sini."
"Tidak besar, sederhana saja." suara hatinya berbisik.
Sejak itu, fikirannya seperti labah-labah membuat sarang
tiap kali ia melintas jalan itu matanya melirik sekilas.
"Mendirikan rumah mesti dirancang."
Jiran kebetulan teman telah lama berangan.
"Segala katamu, bohong belaka."
"Kau mau penghormatan sebagai suami, tapi melihat
penghormatanmu sudah terbang jauh ke bintang."
Tambah isterinya, memarahi suaminya.
Ia masih berangan, duduk di beranda depan
memandang ke hutan di lereng bukit
di seberang tasik. Di situ masih hutan jati,
di situ  ada pepohonan rumbia, kebiasan orang
di sini membuat atap.
"Rumah adalah sebuah kebahagian."
"lambang penghormatan,
 kewibawaan seorang suami." Tegas isteri jiran.
Ia merenung gerak labah-labah membuat bersarang
di penjuru rumah. Gemerisik anak tikus di celah
atap rumbia.

Canberra
10 Mei 2012












Cerita Kau Dan Aku* (Cinta)(Suasana)

Siang itu kami menuruni lurah
dan bukit menghadang ke laut.
kami melihat keindahan pulau
debur ombak seperti tak peduli
menghakis tebing yang bertahan.
Bunga karang mengeryik mata
laut biru pada mentari tampan.
Aku sedut udara lautmu sepuas
darah otot-ototku seperti kuda
menafsirkan tanah dan lautmu.
Kau toleh ke kanan, rambutmu
bagai terdampar di pulau kenanga
pandangnya gusar awan berinsut
ke barat seperti terapung di langit.
"Pulau ini hanya bertiang satu."
"Apa benar?"
Ombak seperti tak mengindahkan
perbualan suara dari tebing tinggi.
"Tapi mengapa masih dibenarkan
bermukim ke situ."
"Memang kehidupan itu asyik."
Mereka berpandangan dan
berpura-pura tak memahami.
Alam terus bergerak tanpa pamit
seakan berkemas-kemas pulang
Di sebuah curam tak terlalu besar
"Hanya sedikit, melompat, dik,
biar kupegang tanganmu." Kataku.
Ia berdiri, seperti kehilangan arah.
"Ayuh, hanya sedikit lagi,
kan kau sudah di pinggir."
Ia masih membisu tak bergerak.
Kulihat pepohonan hutan kelapa
senyum sinis dan tertawa kecil.
Kutatap matanya memberi kepastian
Ia menarik nafas, sekuat tenaga
lalu melompat ia tercuat ke udara
menerjang dengan kaki sekuatnya
"Alhamdulillah, lihat bertapa mudah.
mengambil keputusan dan bertindak."

Canberra
10 Mei 2012




Wednesday, 9 May 2012

Lagu sebuah kehidupan* (Cinta)(Suasana)

Adakah kau yang berjanji, kekasih
bulan menitis dalam sedu-sedan
kau  berdiri melihat puing-puing
taman yang hanggus di musim
kemarau. Debu bertebaran
angin menendang dan bergolek sendiri.

Adakah kau yang berjanji, kekasih
komet sirkah yang meletus
di saat kau tak terjaga.
Dalam tenang kerudung malam
telah kaulucutkan
kini kau menghimpun
mosaik terindah di dinding hatimu.

Adakah kau yang berjanji, kekasih
Sekali lagi datang musim bunga
ghairah langit, sekali lagi
kembali hidup. Dari menara tinggi
cahaya itu berkilauan
malaikat turun, menitip madu
pemukim lembah berkata, "labaik."

Canberra
10 Mei 2012






Lagu Sebuah Janji* (Cinta)(Suasana)

Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
namamu yang terpahat di pohon itu
telah lama tumbang
huruf-huruf dan lambang
yang kita lukis di atas batu
telah haus dimakan waktu.

Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
segala tangisanku tumpah di lantai langit
nafasku dalam genggaman-Mu.
Aku telah datang dalam kesederhanaan
luka-luka silam telah lama tertimbus.

Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
langit kembang melati putih
aku tangan yang menghulur.
Kasyaf turun bagai air
dari tanah basah di jendela mata
menjadi pancuran berair dingin.
Kedamaianku, adalah
kedamaian gunung selepas fajar.

Canberra
10 Mei 2012


Lagu Sebuah Doa (Ketuhanan)

Aku meraihmu dalam doa
kau hadir dalam patah-patah doa
ketika aku merasa rindu
aku datangimu, Ya, Rabbi.
Usah aku dikurangi
kerana aku mengingati
ia yang kukasih, dalam doa hening
yang lahir dari naluri halus
yang mengalir.

Kuingat namamu, kulihat wajahmu
suaramu dan getaran nafasmu.
Ampun Ya Rabbi, ampun.
Aku meniarap di lantai-Mu
aku menangis, memanggil-Mu
aku hangus melenting  dari
percikan api-Mu.

Aku bersujud
kepalaku di atas sejadah
mengetuk pintu-Mu.
Bagai anak kecil
aku meminta tak berhenti
aku merayu sampai nafasku tersekat
air mata turun bagai air mengalir
dari lembah gunung.

Ketika kusebut kau
kekasihku, kusebut dalam doa
rinduku terlerai.
Ya, Rabbi aku ingin kebaikan
kebaikan insani, aku ingin rahmat dan
perlindungan-Mu, tanpa-Mu, kami
rumpaian laut yang hanyut.

Demi kebalkan, terangkan hati kami,
jagailah kami dengan malaikat-Mu.
Hapuskan titik-titik dosa
di hati kami. Bila siang mendatang
biar kami  berkelana, takwa di dada
bila tabir malam turun kami
bersujud kepada-Mu.

Ya Rabbi, kupanggil nama-Mu
kupohon kurnia-Mu
di malam kemuning.

Ya Rabbi, kupegang tali-Mu
tak ingin kulepaskan sekalipun
bumi terbelah tujuh.

Ya, Rabbi, kerinduanku terisi
setiap resahku terjawab
setiap mohon Kau sempurnakan.

Canberra
9 Mei 2012










Lagu Angin Biar Sesaat* (Cinta)(Suasana)

Teruna:

Kekasih, kucari anak matamu
tapi kau berpaling.

Sekiranya kau berikan aku sesaat
aku dan kau duduk berbual seperti dulu
memegang  tanganmu
melihat ke dalam matamu
aku pasti kau dapat merasakan
debar jantung  ini.

Hanya sesaat kekasih,
mengapa kau mesti berpaling
sekalipun aku begitu dekat.

Ingatkah kau, kekasih,
hembusan nafasmu
bersentuhan. Tiap kata
yang kulafazkan meresap
ke dalam jantungmu.

Kini kau menganggap aku tak
pernah ada, dan bicaraku  bagai
angin lalu. Kuterima kekalahan ini.


Kalau hanya kau berikan
sesaat, kupasti kau kepunyaanku.
Ketika kau berjalan
membelakangiku, kuberdoa,
berpalinglah walau hanya sesaat
menoleh dan senyum. Itu sudah cukup
dan aku puas.

Tuhan, Engkaulah Pelindung
di Malam Durjana.

Gadis:

Aku melepaskan kau pergi
tiada khabar darimu.
Kutunggu kau, kucarimu
dalam mimpi kejora, kau tiada.

Cintaku telah musnah
hangus terbakar.
Cemburuku telah reda
kata-katamu  tak bermakna.

Pergilah kau dari hidupku
telah kulepaskan semua
kenangan.

Carilah gadis lain
nikahlah ia
lepaskan aku.
Ketika kau memandangku
aku tak akan dapat
menahan panahan matamu.
Lihatlah aku,  korban cinta
yang tak sampai.

Telah kuberi jawaban
padamu. Biarlah aku pergi
menikahi lelaki tau merasa
penderitaanku.

Tuhan Maha Pengampun
Kau telah aku maafkan.

Ayah Ibu Gadis:

Kami melihatmu bermenung jauh
wajahmu kelihatan kusut bagai  taman
selepas hujan angin.

Rambutmu bagai rumpai
hanyut surut di pasir pantai
kau, bunga Melur,
yang terjaga di taman.

Kegembiraanmu kegembiraan kami
tapi kami melihat bulan luluh
hatimu tercuka matamu
suram dan tanpa cahaya.

Aduhai, pelamin telah disiapkan
hantaran telah diterima
keramaian akan dimulaikan
resepi telah disiapkan.
Doa kami turun-temurun
melucur sampai jauh ke jantung  langit.

Adat dimuliakan
kompang mendahului acara
tamu datang bersambut.

Tapi di kamar pengantin
ia melihat kekawanan burung
terbang menjauh.

Ia bisikan pada langit

"Kukenangmu dalam doaku
Ya Rabbi, kenangan itu tak pernah menjauh
tersimpul mati di sanubari."

Khabar Langit:

Di suatu pagi indah
langit menabur bunga,
melur, kemuning dan mawar
elus gerimis membawa khabar.

Burung Kenari menyanyi lagu
musim bunga hinggap di
jendela hati.

Ya, Rabbi, Engkau yang menjadikan.

Canberra
9 Mei 2012

Tuesday, 8 May 2012

Gadis Dan Tekad (Perempuan)

Gadis itu bermenung sejenak. Melihat keluar jendela
hujan menitis pada kaca. Siang yang rimas. Matahari tersayat.
Matanya melirik mencari kedamaian yang hanyut.
Ia memandang tiap yang dipandang hatinya curiga.
Mengapa ia menjadi sangsi, tiap bunyi mengerakkan
degup jantungnya. sayu irama hujan, angin lalu
menyinggung bunga kemuning di halaman.

Ia menarik nafas dan memejamkan mata
memandang ke meja lalu melangkah
mengheret hatinya bersama. Ia mengigit
bibir bawahnya dan berpeluk tubuh. Dinding
saksi yang sinis. Ia merasakan langitnya tersiksa
dicarinya ketenteraman pada bulan yang terhiris.

Ia mengulum senyum lalu mengambil
lesung batu di pojokan
gerimis di lekuk matanya mengalir lesu.
resepi bersama hatinya telah
lumat menjadi sambal! Hujan telah berhenti
Ia duduk sambil tangannya menongkat dahi.

"Demi Tuhan, tak akan kubiarkan mereka menculik
bulan di ribaku."

"Kau harus menurut,  kalau tidak, adat memaksamu."

Desir angin berseloroh. Gadis itu bertekad
menerpa ke dalam siang menebus takdir
sekalipun rimba membongkar rahsia dirinya.

Canberra
9 Mei 2012






Lagu Ma dan Kucing (Mama)

Ma berjalan mundar-mandir
sekejap pandangannya melihat ke luar jalan
menyelusuri pagar, melihat ke bawah ranjang
ke pinggan nasi di penjuru. Ia tiada.

Ma menaiki tangga memanggil namanya
(kepada dirinya) tak pernah ia berpergian
hujan telah berhenti. Anak-anak sekolah telah
lama pulang. Jalan legang dan sepi.
Kenderaan telah pulang dan parkir.

Ma lalu di kamar Dahlia
ia sudah lama di dalam kamarnya
malam turun sekerat-sekerat. Pintu
kamar di tingkat bawah segaja dibuka
kekasih ma belum pulang. Ia menunggu.

Mata ma setengah terpejam. Suara muezzin dari
mesjid memanggil jemaah. Dengkurnya kendur
ma berbicara sendiri. Rasa menyesal berbaur
rindu. Mata ma masih melihat ke penjuru.
Senyap.

Bagai lagu laut dan ombak
memulangkan rindu
rahsia suatu malam terjawab
senyum merekah, mata ma bercahaya.
Ia melangkah masuk dan mengelus
kaki ma, lembut dan manja.

Canberra
8 Mei 2012







Firasat Suatu Malam* (Puisi)(Metamorposis)


Aku melihat
kaca bulan jatuh
berkecai di lantai zaman
darah menitis
di sepanjang
jalan peradaban.

Canberra
8 Mei 2012




Zamrud* (Indah)(Suasana)

Kau, Zamrud, memang yang terindah
yang terindah-
tak pernah akan dibiarkan sendiri
langitmu tergoda, rimbamu menjadi
malam raksasa yang gerun.

Dalam kegelapan malam
ada pasangan mata yang mengintip
menceroboh suatu kedamaian.
Ada rembulan diciptakan
ada kijang emas lincah di bibir mata.
Kau memang burung buruan
di rimba ini kau bukan sendiri
kehormatan sebuah taman, tercabul!
Suaramu  terkurung  dalam bendul waktu
ketika kau ingin  buka bicara
suaramu ditelan oleh rimba, gelombang laut.

Kau, Zamrud, memang yang terindah
yang terindah-
ia kembang kemuning, kiriman dari langit
jantungnya sutera  merah jingga
memang ia yang terindah
lagu dari pergunungan.
Ketika terdiam, urat-urat serambinya
jadi perasa, berhati-hatilah melangkah
memang ia yang terindah
ketika cintanya terpaut ia
lebah madu di musim panas.

Canberra
8 Mei 2012








Monday, 7 May 2012

Yang Tertinggal Ini (Puisi)(Suasana)

Yang tertinggal ini tak akan kau ambil
kau telah menetak ranting, dahan dan pohon
yang tinggal akar yang
menjunam ke perut bumi.

Kau conteng  bulan purnama
dengan sapuan warna hitam. Tak mengapa!
Mentari masih ramah mengirimkan cahaya
dan mendung gumpalan hujan.
Sekejap lagi hujan turun,
malaikat pun turun bercanda
"Usah menantang arus, di tamanmu
telah bersarang lebah madu."

Yang tertinggal ini tak akan kau ambil
sebuah hati mekar bunga ros
kegelapan telah berlalu, cahaya
mendakap langit, siang yang hijau.
bagai baru sembuh bingkas dari
ranjang dan membuka jendela.
Kusedut udara bagai kali pertama
alam raya memandangku seperti akan
mendapat khabar baru.

Salam buatmu, aku bilang pada mentari
yang duduk bersenang di perambian

yang tertinggal ini tak akan kau ambil,
sambil melangkah.

Canberra
8 Mei 2012




Aku Dan Ma (Mama)

Suatu siang aku melihat cermin diri
ada paruh di dahi dan kepala seperti keratan
di sebuah pohon di tepi jalan.

Seruling malam mendayu aku mencari,
mencari kepastian memahami degup jantungnya
seperti anak kecil menemukan sesuatu
di halaman laut. Lalu bercerita sendiri.

Aku beryanyi kecil lagu dari
masa lalu. Laut pasang mengirim khazanah
rumpaian laut lambang kasih yang sampai.
Ya, burung helang di pohon tinggi di atas bukit
melebarkan kepaknya di langit perkasa.Turun
mengenapkan kasihnya pada laut.

Di tepi laut senja aku berdiri memandang
laut, mengagih sebuah harapan. Sepasang mata
menatap dan perlahan berpaling dari kanan
ke kiri. Degup jantungnya menabur gendang siang.

"Ya Allah, kirimkan kepadaku, kasih-Mu."

Seperti memasang lampu selepas hujan
kunang-kunang di malam remang.
Pengorbanan memang diagihkan.Lalu aku mencium
syurga pada kembang bunga ros di dahi ma. 

Canberra
8hb Mei, 2012

Sunday, 6 May 2012

Segumpal Hati* (Puisi)(Metamorposis)

Di depan pintu ia  mempersilakan masuk
senyum dan berdiri sopan, menyambut salam
tenang dan ramah.

Ruang ini sederhana tanpa hiasan dinding
lantainya bersih, ada permaidani farsi
biar siang dan malam selalu terang.

Tiap patah katanya terpelihara
hati-hati tapi melunakan yang
mendengar. Bicaranya dari kejauhan
masa silam hingga ke dinihari.

Kasih-sayangnya merangkum persada hati
menjangkau ke langit ketujuh.

Tak perlu seribu satu malam
melepaskanmu dari belenggu malam
panjang. Ini segelas air, minumlah
bawa bersama hatimu ke mari.

Canberra
7 Mei 2012










Mei* (Cinta)(Suasana)


Bagaimana bulan Mei, aku ingin menjangkaumu
walau hanya sekilas rindu dalam mimpi kartika
dengkur nafasmu terasa bergetar di langit
menembusi malam musim gugur.

Honiara kupautmu dalam gelisah malam
lenggang laut dan terpa angin Guadacanal.

Canberra
7 April 2012




Permata* (Cinta)(Suasana)

Kudengar suaramu bagai  air hujan
yang turun membasahi lembah hati
lalu aku menurunkan bait-bait puisi ini
mengalir bagai oksijen di dalam
serambi urat-urat halusmu.

Menghimpun semua harapan
dan menakluki sebuah mimpi
pakatan manis seribu daya.

Kudengar suaramu bagai laung di gunung
terasa mendekat tetapi jauh
suara itu terbang bersayap melingkari langit biru
mencarimu ketika ia pasti  kau yang
terbaring di kamar sepi ia turun
lalu hadir dalam mimpimu.

Kudengar suaramu bagai menggenggam
malam lalu memeras, mengambil patinya
ketenteraman langit kedamaian lautan
adalah kami pasangan sang kekasih
yang mengali permata dari sumber-Nya.

Canberra
7 May 2012






Puisi Buat Ma (Mama)

Ada masih yang belum terbuat
melihat matamu kendur
gelombang nafasmu.
langkahmu semakin terbatas
perlahan dan lemah.

Bagai air menitis
selepas hujan
membuat riak dan
bunyi sesaat jarak.

Kau semakin perasa
pada dunia sekitarmu.

Aku ingin melihatmu
makan berselera
berbual dan mengusik.

Kenangan pun semakin
rapuh dan menjauh.

Dalam bola matamu
yang redup dan kabur
kau menatap sekilas
klik, lalu berlalu
terasa ada yang masih
belum terbuat.

Canberra
7 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013



Saturday, 5 May 2012

Terompah Waktu* (Metamorposis)

Nilamku, aku sedar dalam terompah waktu
kita teruji dalam empat musim mendatang
turunlah malaikat, kuselalu mendambakan
gerimis dari langit.

Ketika kau mengerang sakit jauh dari
jangkauku, kuhimpun kata-kata dalam
doa menjadi air dingin membasahi tekakmu.

Memang kau tak melepaskan dengan kata
sinar matamu cukup mengungkap yang tersirat
sedu-sedanmu melingkari rembulan
bukan kehendakku memberi kepak
terbang ke langit lalu lupa mempersiapkan dahan
supaya kau dapat hinggap dan berteduh di situ.

Nilamku, masih kuingat
udara segar musim panas
dalam rimbunan wangi bunga
senyummu bunga kemuning.
Di saat begini, kukirimkan
malaikat pendampingmu
biar hatimu tetap dingin
dalam terompah waktu.

Canberra
6 Mei 2012





Sekalipun Anak Orang Lain (Anak)

sekalipun anak orang lain
mereka itu sapaan lembut dari langit samawi
dari benih cinta datang bersiram di purnama penuh.

melihat mereka adalah cermin  jati diri
di jalanan dan lorong  gelap
tanpa alas kaki matanya mencari harapan.

sekalipun anak orang lain
lahir dari rahim seorang ibu

ia menjolok rembulan dalam mimpi
ia bersayap terbang ke bintang kartika
mereka bilang,

"di sini, bukan kepunyaanmu
lebih baik minggir."

ia tak mengenal huruf
kosa katanya
dipunggut dari timbunan
runtuhan kota
desa yang terperangkap
dan tersegap dalam perang.

wajahnya ranum mangga
terperogok di dalam debu di lorong gelap.

negara yang mau jadi besar
melupakan jeritan mereka
kerana mereka adalah tikus
dan anjing jalanan.

sekalipun anak orang lain
jantungnya berdegup
siang yang berdebar
malam yang gerun.

siapakah petualang yang
memburu wajah-wajah jambu merah
atau si kulit manggis?

sekalipun anak orang lain
anak kita juga
berhenti menembak mereka dengan peluru
berhenti memburu mereka.

Di timbunan sampah
di tembok sepi
di demo
di pasar malam
di pantai
di restoran
di stesyen bus
di kempen pilihan raya
di malam gelap
mereka selalu ada
kalau tidak
bebayangnya di ekor mata.

Sekalipun anak orang lain
dari adam dan hawa
kalau kau tak dapat
menghulurkan tanganmu
membelai kepalanya ketika
ketemu pun sudah mencukupi.

Sekalipun anak orang lain
angkatlah mereka
supaya mereka bisa tersenyum
dan mengucapkan terima kasih ma
Tuhan akan senyum padamu.

Canberra
 6hb May, 2012

Nota: Puisi ini dalam proses penerbitan antologi puisi Kaltim-Sabah.


Friday, 4 May 2012

Harimau Terkurung (Hewan)

Di pagar jerasi besi, aku berguman
melihatmu tanpa warna.

Dalam mimpi gerun musim panas
aku mengenangkan rimba jati
aku mengenangkan tanah leluhur
aku mengenangkanmu Max Havelaar
aku mengenangkanmu Saïjah and Adinda
aku mengenangkanmu kubang, kerbau desa
aku mengenangkanmu, moyangku.

Tiap hari aku melihat 
wajah-wajah  kelabu memegang jeraji besi
mereka memuji aku raja rimba
mereka memanggilku Satu
di zoo Taronga.

Aku terus mencium baumu, Jamilah
syawat amarah bergelodak
ketika musim berahi memuncak
mereka mengawinkan kami.
Mereka mensifatkan diriku garang dan buas.

Dari jauh, terpisah
aku melihatmu, Jamilah
-anakku Kartika, Sati dan kembali
menyusu dan bermain denganmu.

Langit Sydney kelabu
hujan menitis
kamera dan juru gambar
reporter berhimpitan.

Mereka terpanggil mengadakan Press Conference.

Jurucakap berkata,
"Harimau Sumetera 
yang dibimbangkan pupus 
kini berrtambah sedikit di Taronga."

"What the hell! kalau memang aku raja rimba di sini!"

Canberra
5 Mei 2012

Layang-Layang Kertas (Anak)

Layang-layang kertas
bangkitlah angin barat
antara laut dan pantai
aku menghulur benang
melayanglah ke atas.

Kau melayang ke kanan,
bergerak sedikit ke atas
kini senja mekar aku masih
di bukit menghadang laut.

Suara angin bertegar
melayanglah kau, Icarus
meliuk dalam udara, terbanglah!
aku bersamamu
terpisah dari graviti
ke langit biru
lalu benang terputus.

Canberra
5 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013

Thursday, 3 May 2012

Kau, Gazelku* (Cinta)(Suasana)

Kau Gazelku,
akan kudirikan tembok besar
melingkari jilbab hatimu
berikan aku kaki tanganmu
kita menari di lantai tango.

Bagai tali malam bergesek
dibisikan lagu masa silam
Qadukka-i-mayyas.
aku debu di tumitmu.

Kau adalah gelas kristal
kugilapmu dengan kain sutera.
Mari, Gazelku, naiklah ke atas
pelana kuda sembaraniku.

Gazelku,
kubawa kau ke Andalusia
dalam lagu dan puisi.
Kesabaran itu adalah
pengorbanan
penantian itu adalah
kemenanganmu.

Canberra
4  Mei 2012










Cerita Duta (OZ)

Aku tamu, kau tuan rumah
rumah seorang diplomat Austria.

Kami bicara tentang dunia tunggang terbalik
ia pun senang jiwa asianya tergelitik
kulitnya putih salji
paruh hidung cerek air panas.
Aku mulai tentang cerita anak yang lahir
di Hospital Boral, NSW, 1983.

Ketika bayi itu lahir
ibu  melihat-
punggungnya biru-biru lebam.
Jururawat datang

sedikit sinis lalu berkata,

"Don't you worry love,
that is Monggolian spot."

Kulihat mata Duta
bagai melihat gasing berputar.

Katanya,

"Masa anak pertama kami lahir di Austria
pada punggungnya serupa, biru lebam
Monggolian spot."

"Ingat, bangsa Hun dari Asia.
pernah...." sambil meneguk,

Begitu." jawabku cepat.

Monggolian spot, aku tak pernah menanya ma
di bumi Southern Cross
kami melurutkan wasangka
masih kental dari debu jalanan masa silam.

Canberra
3 April 2012