Saturday, 30 January 2016

Ayah Dan Anak (Palestine)*

Masih ingatkah kau tentang seorang ayah dan anak
di tengah pergolakan tentera Yahudi dan Palestine
pengepongan telah berhari panjang belum selesai
dan tak ada perintah usainya perintah berkurung.

Matahari makin tinggi dan bahangnya seperti air mendidih
di tengah jalan pemuda-pemuda Palestine melempar batu
tentera Yahudi membalas dan menembak dari kereta kebal
dan melempar gas pemedih mata ke arah pemuda Palestin.

Kota-kota Palestine ranap di bawah telapak kaki
langit terbakar jerebu merah, inferno akhir zaman
bom meletup dan berjatuhan siang malam tak berhenti
segaja memusnahkan mimpi anak-anak Palestine.

Ayah melihat anak di tengah tembakan tentera Yahudi
lalu ia beranikan diri menyelamatkan anak tersayang
sekalipun ia terkorban sambil memeluk erat tubuh anak
tembakan peluru mengena seluruh tubuh mereka berdua.

*Tersiar di Utusan Borneo 10 April 2016


Adik Dan Abang* (Syria)

Aku mencarimu pada siang benderang
namamu dipanggil kau tak menjawab
belum ada tanda damai di bumi leluhur
maut masih berjatuhan tak kira siapa.

Dik, kau telah dilarang bermain di luar
halaman bermainmu hanya di dalam kamar ini
di luar tak ada keselamatan buat aku dan kau
mata peluru tak mengira sasaran asalkan mengena.

Jantungku berdegup cepat, bimbang
ketika aku melihatmu di lorong luar
Ya Rabbi, ampun,  kasihanilah adik
Aku belari sekuat tenaga mengapaimu.

Tak aku peduli kau yang bersembunyi di sana
menembakku cara dekat dan mengena sasaran
Adik, aku datang menyelamatkanmu
Bagaimana kau berada di luar, dik?

Dua tiga langkah aku berlari kencang
mataku melihatmu dik, tak jauh hanya berapa langkah
dor! aku mendengar bunyi itu terlalu dekat
adikku mesti diselamatkan dalam keadaan apa sekalipun.

Aku terangkat ke atas udara sedikit
dan jatuh terhempas ke bumi aku paksa berdiri
rasa pedih, aku makin mendekatimu dik
ya, tanganmu kupegang, ayuh kuatkan larimu!

Kita berlari bersama berpegang tangan
tak jauh di depan itu ada pintu terbuka
kita akan selamat,  kau boleh bermain
matahari melirik dua anak sedang berlari.

Dor! dor! aduh, aku kena kedua kali
adik, tanganmu masih kupegang
berlarilah sekuat tenagamu, sekencang
kuda semberani yang tak terkalahkan hebatnya.

Aku melihat siang berputar cahaya mulai merudup
kegelapan seperti kain putih yang menutup mata
dik, larilah, biarkan kau duluan sampai
otot-ototku terasa lemah, datanglah kegelapan!

Di atas tanah peribumi di lorong sepi
dua anak berpegangan tak bergerak
darah merah masih panas mengalir
bumi diam dalam tersiksa, perang belum usai.

*Tersiar di Utusan Borneo 10 April 2016




Friday, 29 January 2016

Kuala Lumpur (Lanskap)

Aku melafazkan doa-doa dalam bahasa yang kukenali
kau begitu indah turun seperti air terjun dari menara kalbu
gema dan isyak di malam tahajud kata-kata meloncat
dalam bisik dan sujud yang panjang aku berkata-kata dengan-Mu.

Tiap kata-kata  yang melahirkan fikiran dan citarasa
tak pernah aku merasa kekeringan dan gundah kerana
segala terhimpun suka duka yang terpencar dari jiwa sedar
bahasaku mampu dan hidup berkembang dan sampai pada-Mu.

Pada pergantian malam dan siang bahasaku berkembang
bila dikumpulkan suara hati menjadi ungkapan kalbu
dalam nafasku mengalir pembendaharaan kata yang
akarnya bertunjang jauh ke dalam bumi leluhur dan samawi.

Di kotaraya aku mengingatkanmu kedamaian ini
terucap pada mimpi dan harapan yang sumbernya
dari inspirasi, firasat, mimpi benar dan doa-doa
tak berhenti dari keinsafan dan kesedaran sampai kiamat.

Aku tak akan pernah menyerah membiarkanmu
dilupakan dan kalah dalam perlumbaan arus pembangunan
bahasaku adalah penyempurnaan doa-doa yang terkabul
hidup dan inspirasi sepanjang zaman dan kebanggaan bangsa.




Auckland (Lanskap)

Ini bukan mimpi aku datang padamu
menelusuri bumimu  dan bau belerang
dalam kehangatan air panas ada
suara-suara malam yang hinggap
rahsia pada bumimu dan langit
dan sukmamu yang meratap masa silam.

Kau telah menyatukan suaramu
menjadi kekuatan air yang mengalir
dalam pengucapan hati nurani
langit saksi abadi kemenangan rohanimu
gema damai telah menyerap ke dalam sukma
derap waktu kau membaca kalimat-kalimat suci
dan mimpi-mimpimu adalah mimpi yang benar.

Tiada yang tertinggal di belakang
kerana amanat ini pada semua yang ingin
penentangan akan membawamu musim dingin
dan malam yang panjang menyelubungi bumimu
pada matahatimu ada kilatan cahaya
dan dalam diam kau telah membuka pintu rumahmu.

Benih yang kau tanam semalam
akan tumbuh dalam segala musim
kau saksi yang melihat sendiri
buah dari musim memetik di hari esok.





Port Moresby (Lanskap)

Dari kotamu jauh ke pergunungan tinggimu
kau mulai menghalau kegelapan malam panjangmu
walaupun lambat-laut kau akan memetik hasilnya
tiada seorang pun dapat membantah  apa lagi menghalangi.

Teman rohanimu telah pergi ketika purnama baru berkembang
ketenangan malam-malammu merapatkan langit dekat
tak ada ruang yang memisahkan pada kasih-sayang ini
pergorbanan sebuah kata dan tindakan bukti dari perjuangan.

Salam Port Moresby, kau tak dapat meniadakan kehadiran
kelancangan suara dan tuduhan-tuduhan khianat hanya akan
menyingkap cahaya yang menerangi di sepanjang jalan kebenaran
tiap pintu terbuka dan menyambut pesan-pesan kedamaian sebuah hati.


Gerhana Honiara (Lanskap)

Semalam di Guadalcanal pernah gempa di bumimu
jerit amarah telah menyeretmu pada luka-luka bertahun
Malaita dan Guadly kini merendamkan letusan api
ke dalam laut damai yang dingin.

Di bawah langit malam ada ketenangan
siang menjanjikan kasih-sayang akan bertahan lama
kebencian hanya mendorongmu ke jurang dalam
dan kau tak akan kembali ketika api membakar.

Ketika kedamaian diciptakan dan gelombang meredah
desa-desamu keluar memadam hutanmu yang masih digulung api
membongkar isi tanah yang menyimpan nama-nama yang hilang
airmatamu mengalir melihat gerhana telah berlalu.

Di kotamu berlenggang seperti biasa
musim kemarau telah berhenti
di jalan-jalan dan pelabuhan peristiwa semalam
seperti masa silam yang tak mengoda hari esok.




Malam Di Port Villa (Lanskap)

Mimpimu malam itu  jatuh bergolek ke muka pintu
tidurmu dicerobohi kedatangan tamu di tengah malam
gema suaramu menantang dan memberi amaran keras
kegelapan seperti terowong panjang keretapi malam.

Di pinggir kota pemuda Tanna duduk bercanda rembulan
mimpi negara Tafea yang telah mengabur ke langit jauh
malam turun telah memburu jiwa-ragamu merebut impian
kemerdekaan dalam kalbu mindamu ingin merebut kembali.

Ketika ia masuk dari beranda dengan ancaman
malam menitis perlahan pada bola mata hitamnya
suara-suara gelisah kini berkumpulan menjadi kekuatan
ia meraung di angkasa dan terbang dari pulau ke pulau.





 



Thursday, 28 January 2016

Pulang (Syria)*(Boat People)

Ketika kau menyatakan aku akan pergi
keputusan itu seperti sebuah lagu sedih
langitmu runtuh selapis demi selapis
di depan matamu sendiri tak percaya.

Kau tinggalkan halaman ini tergesa-gesa
seperti rumah yang penghuninya pergi
dalam sejam atau sehari kerana perabut
jemuran dan yang lain seperti tak tersentuh.

Di mana angin bertiup di situ kau ikut
tak banyak yang hendak dikatakan dan
yang kau lihat dalam perjalanan ini
tiada bedanya dengan keadaanmu sekarang.

Selangkah demi selangkah kau telah jauh
dari tanah leluhur dan kota kelahiranmu
batu seperti bergolek dan menindih di atas dada
berulangkali kupanggil namamu tak berjawab.

Semakin jauh kutinggalkan tanah airku
kau tak kuasa atas semua yang berlaku
tapi, ia telah berlaku di luar kemampuan
kau terpaksa tinggalkan yang kau sayangi.

Selamat Tinggal, tanah airku
aku hanya perlu mengambil sedikit waktu
bila segalanya berubah dan kedamaian wujud
aku akan pulang dengan manisku.

*Dikirimkan kepada  UB 8 Februari 2016

Noumea New Caledonia* (Lanskap)

Noumea, kau makin jauh dari mimpi
seperti banduan Algeria yang terbuang
melupakan tanah airmu selamanya
hari telah merangkak pada malam panjang.

Wajahmu menyimpan kerat-kerat perjalanan
di sini, kau telah melupakan langit bonda
pernah terbayang  lalu mekar dalam mimpi
tapi akarnya tak sekuat  dulu .

Kau ingin kembali pada dirimu
pengasingan ini telah lebih sekurun
angin dan ombak Pasifik telah melenamu
bumi dan langit New Caledonia
kau dakap menjadi mimpi anak-anakmu.

Di celah-celah angin dan rahsia malam
peribumimu, anak-anak Kanak  meniti
masa depan dan mimpi Jean-Marie Tjibaou
membawa suara-suara bergema dalam udara
kemerdekaan Kanak New Caledonia.

Pelarian*(Boat People)

Apa yang kau menungkan duduk sendiri
memandang pada gunung salji
bualmu kini patah sayap di halamaan
fikirmu telah berhenti dan berkabung.

Penyesalanmu tak memberi jalan keluar
kau telah berhenti meratap dan bumi
seperti orang tua keletihan dari perjalanan
biarkan semuanya hilang dari genggaman.

Yang tinggal mimpi membawamu jauh
ke pojok dunia yang sama seperti dirimu
apa kesudahannya pada suatu harapan
kau, pelarian tanpa wajah dan tanahair.

Pada jalan sehala ke kem-kem pelarian
dan terkandas di situ dan kegelapan panjang
kau sendiri entah bila akan berakhir
yang pasti kau masih menunggu kelip cahaya.

Wednesday, 27 January 2016

Hobart Tasmania* (Lanskap)

Kotamu di pinggir laut di kaki gunung Wellington
di pulau peribumi ini pernah ada harimau Tasmania
bangsa Aborigine merayau dan pupus di hutan leluhur
ketika kau berada di sini gema banduan masih terdengar.

Dalam perlumbaan menemukan lautan teduh
Pulau Tasmania pintu masuk ke Botany Bay
dan kepulauan Pasifik dan dunia penjajahan baru
bangsa Maori menanda tangani perjanjian Waitangi.

Ekspedisi-ekspedisi barat berkeliaran di bumi Malenesia
Magellan maut mengakhiri mimpinya di Filipina
gelombang Pasifik membawa Kapten Cook  ke pulau bermusuhan
kematiannya telah membawa gerhana pada Ratu Victoria.

Hobart, kalau bukan keranamu, mendung masih berlinggar
di dadamu masih berdenyut gema suara kesakitan yang pedih
tiap keratan gunung dan tanah hutanmu ada rahsia terbongkar
pembunuhan massa yang tragik menundukkan bangsa Aborigine .



Kami Dan Jiran (Palestine)*

Di sini kau dilahirkan dan mimpimu tumbuh bersama
sebuah rumah di atas tanah warisan turun-temurun
dulu berhalaman luas kini menjadi sempit dan berpagar
kembali di zaman kanak-kanak kami bermain di tanah luas.

Langitmu indah dan terkandung banyak cerita dan peristiwa
bau tanahmu, musim pohon zaiton berbuah, jiran yang ramah
kami saling memberi salam dan melindungi satu sama lain
syurga kami kandung bersama neraka sepak jauh bersama.

Malam kami adalah kemeriahan dan bahagia keluarga
siang mendorong kami keluar ke lapangan dengan harapan
kami menyentuh purnama di atas riba dan membaca langit
air yang kami minum dari perigi yang tak pernah kering.

Kini jiran kami telah lama berpindah dan entah di mana
yang baru melempar batu, bahasanya kotor, sumpah sarana
dan rumah kami berpagar dawai tak mempunyai halaman
askar mundar-mandir dengan senjata dan gas pemedih mata.
                                                                                         



Waktu Mengalir* (Ketuhanan)

Kalau aku tak menegurmu siang itu
bukan kerana aku tak mengenalmu
seperti gunung dan lautan terasa terpisah oleh
sempadan waktu namun jiwa tetap satu.

Sebenarnya seperti kita semakin jauh
masa itu terasa jaraknya makin melebar
percakapan lalu tak ada titik temu
suaramu telah tinggi meluncur kasar
kata-kata derhaka pulang pada tuannya
saat kata-kata telah menjadi doa-doa
lalu menjadi syafaat dan pegangan.

Firasat turun mengalir seperti hujan semi
mimpi-mimpi malam telah menyentuhmu
kau menafsirkan kata-kata yang terucap
kehadiran yang dikasihi cahaya melimpah.

Aku bukan menidakkan kehadiranmu
kau memeggang amanah dan berhak
taat dalam menyempurnakan janji-janji
telah terkandung dalam takaran waktu
datang dalam munasabah diri pada-Mu
dengan hati tawajuh dan istiqamah.








Satu Kekuatan* (Ketuhanan)

Melawan arus tentu kau terbawa jauh ke pulau terasing
berdepan dengan gelombang harus tau memutar kemudi
lepa-lepa telah belayar jauh menuju pelabuhan damai
tak usah menunggu mata angin kerana siang telah tiba.

Telah dikirim perisik pada gunung, rimba raya dan lautan luas
suara itu ada di mana-mana dan kau tak tau dari mana datangnya
adakalanya ia datang ke dalam mimpi, seperti burung atau kata-kata
kau menerka maksud langit berubah, lembah sepi dan gua berahsia.

Pertanyaan seperti teka-teki yang tak semudah itu dijawab
malam turun menyingkapkan firasat yang membawa khabar
pada keheningan dan hamparan malam kau sujud dan tawajuh
kelazatan yang menitis di dalam kalbu seperti mencicip madu.

Ketika kau memutuskan perkara maka padamu diminta kebijaksanaan
tiap kesanggupanmu ada sempadan dan takarannya yang tak melebihi
demi meraih satu kebanggaan pada puncak gunung itu kau harus sedia
sekali kesatuan telah dibuat dan suaramu bangun menjadi kekuatan.












Tuesday, 26 January 2016

Fremantle, Perth*(Lanskap)

Aku berdiri di Fremantle menghadap Lautan Hindia
angin bertiup kencang pandanganmu jauh ke barat laut
kapal kargo banduan belayar menemukan dunia baru
menuju New South Wales, bermulalah penempatan.

Pada awan pernah anak-anak banduan melaung panjang
memanggil tanah air walaupun gemanya dibawa angin
di benua ini kau telah mendirikan pagar berduri milik
pendatang baru di tanah peribumi.

Matahari telah tergelincir condong ke barat
tarikh hari  mengingatmu membuka luka silam
suara-suaramu  mulai terkumpul dalam demo
pindahkan tarikh hari penjajahan itu segera.

Dalam gelombang sejarahmu penuh kezaliman
kesedaran itu akan mengambil tempuh yang lama
perubahan maknanya tak akan berhenti di jalan ini
selangkah ke depan kau mendekati pulau harapan.

Tiap hari pengucapan itu makin jelas dan terang
dan kau tak akan dapat menyembunyikan wajahmu
keinginanmu telah menjadi majoriti dan masa depan
ketika benderamu bertukar kau menjadi sebuah republik.

Hari Penjajahan*(OZ)

Hari ini kau mengingati Hari Penjajahan
ketika kapalmu merapati  Botany Bay
Kapten Cooks mengerah bala-tenteranya
Pemulwuy menyatakan sikap pelawanan.

Gema suara Pemulwuy meraung ke langit
kedatanganmu telah membawa malam panjang
jiwamu merontah dan kesakitannya berzaman
kalbumu koyak ditembusi peluru-pelurumu.

Pedih-perih sampai ke hari ini dan kau belum melihat
sekalipun kau diperingati kau masih ambil tak peduli
tiap malam mimpi gerun itu berubah menjadi raksasa
memori tragik itu masih mencakar-cakar tanpa akhir.

26 Januari 2016





Monday, 25 January 2016

Pantai Botany Bay, Sydney (Lanskap)*

Kapalmu mendekati pantai pasir laut biru
bangsaku Aborigine yang berjiwa damai
niatmu telah terbentang di langit terbuka
ketika kakimu melangkah dan membina
penempatan matahari telah ditelan gerhana.

Kapten Cook menembusi jalan ke Pasifik
mengibarkan bendera Union Jack di atas
tanah peribumi lalu mengumumkan pada
dunia semua ini kepunyaan Ratu Victoria.
Perlawanan peribumi mudah dikalahkan
satu persatu kini di bawah kekuasaanmu.

Armadamu terus membelah bumi peribumi
dengan kekuatanmu telah menguasai lautan.
Mimpi bangsaku, hanggus dan menjadi debu
bertebaran dan firasat dalam Zaman Mimpi
sempurna dan sejak itu kekalahan menimpa
atas kulit hitam dan Generasi Yang Hilang.

Ingatanmu pada peristiwa tragik dan berdarah
meninggalkan paruh  yang lama akan sembuh
gema raungmu dalam kesakitan sangat pedih
di Uluru ke Tasmania, pembunuhan peribumi.

Melihat Pantai Botany Bay, mengenang kembali
pemberontakan Jandamurra, Pemulwuy tumpas
dari Inggeris dibawa pulang kepala peribumi
ketidakadilan telah merampas malam purnama
kemudian kau pun sibuk mendatangkan banduan
para selektor memilih tanah di bumi Aborigine.

Ratusan tahun berlalu, kau memulangkan
tanah pada pemilik asal dan ada yang kesal
damai tanah leluhur dan pengangkatanmu
sebagai bangsa dan haknya masih agendamu.

26 January 2016



Sunday, 24 January 2016

Famosa Melaka (Lanskap)*

Monumenmu yang kau tinggalkan
satu penyataan  kau pernah hadir
dan menawan tanah leluhur ini
lebih dari mimpi di malam gerhana.

Lihat ia dapat bertahan lama
sekalipun kau telah pulang
selat Melaka saksi zaman
melihat Feringgi datang pergi.

Hulubalang Melayu bertempur
langkah pendekar menghalang
tapi, meriam Feringgi telah
mencipta gerhana panjang.

Berdiri di depan gerbangmu
seperti berhadapan dengan satu
kekuasaan masa silam
peringatan yang menjadi artifak
dan grafiti dalam memori
anak peribumi dan sejarah tragis ini
tak berulang lagi.




Fort Cornwallis Dan Aku (Lanskap)*

Benteng silam dengan
meriam menghala ke laut
Inggeris datang dalam mimpi
berkubu sampai ratusan tahun
lalu satu malam pada 1957
rantai penjajah putus.

Sejarah silam meninggalkan
warisan mengingatkan satu
kekuasaan bertapak lama
dan membaca sejarah dari
pandangan bulan di langit
melihat bumi leluhur.

Membangun bangsa
menyiapkan masa depan gemilang
melupakan budaya kehilangan diri
bahasa yang berjiwa bertahan lama.

Monumen buat esok
bukan runtuhan purba
yang tersembunyi
memelihara bahasamu
dalam citarasa dan karya
dan jiwa yang hidup.

Di pelabuhan ini aku melihat
apa yang terjadi pada bangsa
masa silam masih menjentik
jati diri dan martabatmu
seperti sejarah silam mengingatkan
mu terserempak di persimpangan
jalan.








Pulau Pinang (Lanskap)*

Aku mendatangimu pada suatu siang
semuanya kembali seperti melihat foto silam
di kampus ini aku belajar menganyam purnama
di langitku sendiri.

Desa B Tingkat 6, kami bertantang mata
seperti melihat objek sedang bergerak
dan tenang langit di waktu pagi
alam bergerak perlahan dan pasti.

Setelah itu masing-masing menafsirkan
gunung yang meletup sedang kau tidur bermimpi
ketika badai berlalu kau terapong menunggu mata angin
negeri menolakmu di perairan pantai sukarelawan menerimamu.

Di pulau ini kau mengajarku melihat dan berfikir
setelah itu di lapangan terbuka kau melepaskku
mencium bau lautan dan lepak-lepakku
seperti bersayap mengharung langit luas dan baru.





Nilai (Lanskap)*

Tanah gembur berganti wajah
perumahan tumbuh di sepanjang jalan
angin telah berubah arah
kau mengharapkan langit
menyempurnakan doa-doamu
setelah kau mencari jalan pulang.

Di tanah peribumi ini kau lahir
waktu beredar kau melangkahi
sempadan dan mencari dahan berpauh
suaramu merayau untuk mendamaikan
sukmamu yang cuba meraih kembali
purnama di puncak gunung.

Kau tak perlu bimbang tentang esok
wanitamu telah menemukan wajah
dan sukmanya.

Tagunggu Sungai Kinabatangan *(Suasana)(NST)

 Air  Kinabatangan mengalir perlahan
gema Tagunggu berdegung di langitmu
seperti dekat kedengarannya jauh di rimba
ada keramaian sanak saudara seperti menganyam
masa silam senja tenggelam di hujung jembatan.

Mendung seperti berlabuh perlahan bergerak
kasidah rindu yang pernah kau lagukan
ikut menjadi tanah kemudian menjadi rimba sunyi
rumahmu tinggal tiang dan reput menjadi tanah.

Kau pun tak pernah bertanya sejak itu
dalam diam kau tak merasa kehilangan
sejarah kembali  menyatu dengan alam
seperti tidak pernah terjadi sebelum ini.

Tali telah kau tarik kapal akan belayar
jembatan silam seperti telah menjauh
ditinggalkan tanpa penyesalan
yang tinggal degung Tagunggu merayau.

Nilai
2014
*Tagunggu sejenis Kulintangan di Negeri Sabah.
*Disiarkan oleh NST 24 Julai 2016

Saturday, 23 January 2016

Kangar (Lanskap)*

Jauh di utara ketenangan bumimu
negeri Keyangan seperti tergantung
di pusara langit
purnama di tapak tangan
kau datang dengan cahaya
penuh kemilau.

Hadirmu  pada siang matahari penuh
hujan di hujung musim turun membebaskanmu
dari belenggu kemarau dan kegelapan nyata
kau berjanji tak akan berhenti di sini.

Pegang, pegang tali ini sampai akhir
gelombang akan berlalu
pada malam kita memeluk purnama
pertemuan saling menguatkan
rindu dan kasih persaudaraan.








Padang Besar (Lanskap)*

Di pintu pagar siang
kau pulang tanpa menoleh
pada satu perjalanan panjang
kita ditemukan demi kebaikan.

Kau berdiri memandang
sempadan dan kelap-kelip
menjelang senja berserakan
buah yang ranum dari
pohonnya berjatuhan.

Hujan telah berlalu
perbualan kita putus
pertemuan lagi pada bulan baru
kau pernah singgah
tak perlu kau takut dan bimbang
akibat dari permulaan ada yang terakhir.

Ketika bertemu kau lebih dari kenalan
semalam berlalu telah mengikat tali
persaudaraan yang rela dan sedia
memacu kuda di lapangan terbuka.





Pulau Pangkor (Lanskap)*

Pulau Pangkor, pernah bulan purnama
artifak pada dinding sebuah harapan
mimpi seekor gazel di rimbunan hijau
hujan gerimis bertiup dari lautmu.

Kenangan itu dikunci rapat pada
sebuah peti dan tersimpan di penjuru
selamanya tak akan dibuka
tapi grafiti itu telah menjadi momento.

Kau pun tak ingin kembali apa lagi
mencari dan mengumpul kata-kata
telah menjadi bumi yang lain
terbang menjadi bintang malam.

Pada malam kau telah menyimpan
khazanah yang tak akan tersentuh
kecuali satu hari khazanah ini
dibuka sebagai bukti kebenaran.





Friday, 22 January 2016

Merapok (Lanskap)*

Kau melangkah sempadan menjelang senja
menghirup udara malammu mengundang
malam tragik itu telah menjadi malam silam
kau, qari menambat sukma pendengarnya.

Malam itu kau tilawat Al Qur'an
menyejukkan setiap hati
desamu pasrah pada tamu undangan
tapi malam satu ini lain dari seribu malam.

Sebelum merdeka Pak Dalang sudah
mendatangi desa dan mencari penonton baru
hiburan wayang alasan duduk bermalam
desa-desa di pinggir sempadan.

Kini ingatan itu meredup jauh dalam kalbu
kau telah pulang gema suaramu kepul ingatan
selamat tinggal Merapok, lauk yang kau  makan
jadi tulang di lehermu hingga hari terakhirmu.



Jiwa Agama (ISIS)

Dalam perbualan dia ingin monopoli
hanya dia yang ingin didengar
pendapat yang lain seperti angin
yang membawa ribut pasir.

Tak ada yang dibanggakan
bicaranya seperti orang gila
dia mau menang sendiri
dan suka menjadi orang besar.

Kalau dia datang dipinggir malam
menyebut kekasih Allah
tapi tingkahnya seperti orang fanatik
wajahnya tak ada kemanisan.

Dia melontar hujjah kekerasan
kita juga melontar hujjah supaya
orang dapat membedakan
keindahan atau kezaliman.

Tiap kezaliman tak ada hubungan
dalam jiwa agama kerana
ada kasih-sayang dan cinta mendekatkanmu
pada Tuhan Rabbiul Alamen.

Sendirian (ISIS)

Kau memilih jalan keras datang membawa kehancuran
menuntut atas nama ugama yang tak pernah mengajarmu
kekerasan dan meletupkan diri sendiri untuk mencapai jannat
kegilaaan yang tak ada toleransi dan kejahilan yang merugikan.

Mengapa mesti menuntut atas nama ugama
sebenarnya tidak ada pertalian ugama samasekali
kekeliruanmu mendorongmu ke gaung yang dalam
tindakanmu tak akan membawamu ke samawi.

Tiap katamu penuh kemarahan dan dendam
tindakanmu hanya membawa malam panjang
dan kau terperangkap di dalamnya tak berdaya
tiada yang dapat kau banggakan selain penyesalan.

Angin badai ini akan redah dan gemanya semakin kecil
jika kau ada kesabaran dan tak putus dalam berdoa
dunia sendiri menolak kezaliman dan kekerasan
akhirnya kau duduk sendiri di pojokan tanpa teman.

Malam Derhaka (ISIS)

Kau mengibarkan benderamu
kembali pada bumi silam
suara pun kemarahan api
yang meliar melangkah sempadan.

Kau telah meniup angin jerebu
kota-kota dan desa sunyi menjadi kelabu
terkepung dan dipasang perangkap samar
ketika malam tiba kau menyerang maut.

Di siang hari di lapangan terbuka
matahari di atas kepala menjadi saksi
satu barisan panjang tawanan
telah dijatuhkan hukum mati.

Seperti serigala kau melaung pada malam hari
gemanya sampai ke telinga yang gelisah
siapakah yang menjadi mangsa?
ketakutan merobek malam derhaka.





Kemenangan Kalbu*(Ketuhanan)

Mau ke mana angin bertiup
kau berdoa datang siang gerimis samawi
malam akan berlalu ceritamu berhenti di situ
lalu kau menunggu hari seterusnya dengan teka-teki.

Kau bimbang lautan akan berubah
dari gemuruh menjadi gelombang dan taufan
pulaumu terhakis dalam diam
di rimba raya di waktu pagi menyingkap rahsia malam tadi.

Berdiri di tanah leluhur memandang langit
cuba mencari gerak isyarat yang membawa
khabar gembira dan menenangkan rindu  terpendam
kemenangan kalbu hanya setelah pengorbanan.

Di jalan pulang sekali lagi kau memandang langit
memang kesabaran itu batu ujian tiap langkahmu
tapi di suatu pagi di lembah hijau kau melihat
rama-rama terbang dalam ratusan dalam udara murni.

Bahasa Kalbu*(Metamorposis)

Ketika ibuku berdoa dalam bahasa ibunda
aku mendengarnya dalam rahim ibu
doa yang terucap dari mulutmu dalam tangis
gembira dan harapan bulan purnama.

Suara-suara itu memanggil-manggil nama-Mu
tanpa berhenti terus-menerus dengan kata-kata
bersih dari noda-noda yang derhaka dan kacau
kau menyebut satu demi satu dengan bahasa teratur.

Aku dibesarkan dalam bahasa ibunda
yang mengikat cinta abadi dalam rasa fikir
lahir pada kesedaran kekuatan pembendaharaan
keindahan bahasa yang mengetuk pintu-Mu.

Bahasa ibunda ini hidup dalam darah mengalir
firasat dan kasyaf yang turun dalam bahasa
yang terang dan hidup sepanjang zaman
aku tak pernah sesal pengucapan dalam bahasa Ibunda.

Pohon Zaitun (Palestine)*

Kepadamu yang tinggal di keliling tembuk batu
kedua-dua tanahnya telah dirampas dengan paksa
ketika kamu menentang, kamu diusir seperti binatang
tak berbangsa dan diasingkan dari tanah moyangmu.

Perkebunan Zaitun turun-temurun bukan milikmu
suatu siang ia datang menumbang pohon Zaitun
dan diratakan untuk pembangunan rumah haram
kalau tidak dibakar hanggus dicabut akarnya sekali.

Lihat tembuk panjang di tengah tanah waris
keluarga Palestine, sedang yang lain telah pergi
membawa kunci rumah tapi, hari ini kamu tak melihat
sebuah rumah kecuali tunggul dan bekas runtuhan.

Terima kasih saudaraku yang menghulur roti
dari lubang tembuk pada siang benderang ketika
tentera Israel terlelap sesaat kau datang dalam diam
seperti permainan maut di hujung senjata.


Kuasa (Palestine)

Sekarang alaf 21, tindakanmu tak banyak berubah
ribuan tahun peradabanmu dibangun akhirnya
kau mengulang kesalahan masa silam masih
dilakukan dan sedikitpun kau tak melihat
ketakutan di kalbumu kekuasaan itu sementara.

Tiada yang kekal, turun naik satu kekuasaan
timbul-tenggelam suatu bangsa sepatutnya
sejarah telah memberikan kita peringatan
ternyata kau seperti tak belajar apa-apa
dari masa silammu.

Ketika kau berada di puncak jaya dan pengaruhmu
telah meluas jauh, kau tak banyak berubah
kezaliman masih kau lakukan menunduk musuhmu
api dendam masih bernyala dalam kalbumu
lalu membantai musuhmu tanpa berdua fikiran.

Kau mengira tindakanmu merampas hak
peribumi dengan alasan siasahmu dengan akal musang
dan rasa angkuhmu tak mempedulikan langit
di bumi ini seperti tak ada yang dapat mencegahmu
supaya kau sedar segala-galanya akan berakhir.

Doa-doa di malam gelisah memberi kekuatan
anak-anak Palestine untuk melangkah kaki
mimpi buruk masa silam sepert tak pernah terjadi
esok, adalah harapan akan menjadi kebenaran nyata.



Thursday, 21 January 2016

Kami Tetap Ada (Palestine)

Ada cara saja yang ingin kau lakukan
memotong lidah atau membutakan
mata kami supaya tak menjadi saksi
kekejamanmu di depan matahari siang.

Kau masih tak mempedulikan hak
matahari tiba di siang hari dan hak bulan
datang di malam hari. Kau masih cuba
meniadakan sinar dan meletakkan gerhana
pada siang supaya kegelapan
menyelubungi siang dan malam.

Barangkali kau dapat menutup pancaindera
tapi kau tak dapat mencabut impian kami
dan mimpi tentang hari esok
kekuatanmu tak seperti yang kau fikirkan
kekuasaanmu hanya di sini saja.

Tidak kau tau samawi mengirimkan
mimpi benar, firasat dan kasyaf.
Yang ini kau tak akan dapat memusnahkan
sekalipun kau kerah seluruh jentera kekuatanmu.

Kau lupa masa silammu
bagaimana kehebatanmu tak akan dapat
menahan kebenaran timbul di permukaan
Aku yakin purnama penuh akan menghalau
kegelapan dan luka-laramu.
Mimpi-mimpimu tetap akan berlaku
doamu akan sempurna
penderitaanmu akan menjauh ke hujung langit
kami tetap ada di tanah leluhur ini sampai kiamat.


Tak Akan Bertahan (ISIS)

Sedikitpun tak akan menukar perjalanan bangsa
kota ini tak akan merelakan perlakuan biadapmu
dan menghumban dirimu ke dalam telaga buta
sejarahmu hanya diingat seabgaai penderhaka.

Kau ingin mencipta raksasa dari kebohongan
lalu menyerang maut membuktikan kau telah
kalah kerana langkahmu telah salah dari mula
dan tiada seorang pun akan percaya padamu.

Kekerasan tak akan bertahan lama kerana
dalam perubahan waktu kau sebenarnya
kehilangan akal dan tindakanmu meliar jauh
tanpa pemimpin benar kau tak akan berjaya.

Walhasil,  kau keliru dan perbuatanmu
seperti orang gila tak ada arah dan tujuan
selain kematian, kezaliman, dan kejahatan
tindakanmu tak ada kait-mengait dengan Islam.

Sipitang (Lanskap)

Sipitang, menghadap laut Pulau Labuan
tamu hujung minggu peribumimu turun
menjual hasil kebun dan ada datang berbelanja
bandar persinggahan jalan ke Sarawak dan Brunei.

Ikan tangkapan baru dijual di pasar
di sini pelbagai bangsa dan suku
pendatang dan peribumi mengadu nasib
tawar-menawar sambil gelak ketawa.

Kapal berangkat menuju Labuan
penumpang cemas waktu bertolak
Bus pula jalan dahulu ke KK atau ke Lawas
setelah berbelanja sehari suntuk.

Bandarmu penuh juadah kuih-muih
jelurut dan kelupis dijual di pasar tamu
sati Sipitang memang terkenal enak
buah Bambangan pula dicari orang.

Kalau kau pergi ke selatan
singgah di Sipitang duduk di Masapol
lalu Palakat bertemu saudara
Indahnya sebuah bandar keramahan peribuminya






Wednesday, 20 January 2016

Penyu Sabah* (Cemar)(DE)

Penyu berenang di lautmu
pantai putih pulau pilihan
di sini kau tenang memilih sarang
pulau ke laut tanpa ganguan.

Anak-anak peribumi memilihmu
penyu kesayangan di bumi bertuah
lambang kasih menawan kalbu
janjimu telah disemat ikrar disambut.

Pulau-pulau rangkaian kasih sejati
jangan biarkan lautmu jadi cemohan
bangkai penyu terapung membusuk
angkara durja pendera haiwan.

Kegiranganmu keterampilan indah
kau adalah rumpaian kasih di lautmu
bunga batu karang pameran jiwamu
tak tersentuh hidup berkembang.

*Disiarkan di Daily Express 27 March 2016

Pulau Labuan (Lanskap)

Aku seperti tamu asing di pulau
walaupun di bumimu seorang gadis
meninggalkan desanya mengharung laut
ke pulaumu.

Langitmu penuh dengan ingatan
dan harapan menjadi pasir
suaramu bertarung dengan badai
jejak langkahmu telah tertimbus
telah merata menjadi tanah.

Pernah kau mencari dan menemukan
seperti barang hilang kau temukan kembali
tapi, kau tak dapat menggenggam lama
ia terlepas seperti ikan pulang ke laut.

Pulau Labuan, sebenarnya kita masih
ada ikatan kerana pada dinding kasih
masih ada artifak masa silam yang
menampal dan hidup.

Sekalipun kau tak mengenal tamu ini
tapi antara aku dan kau dari lubuk yang sama
cuma dalam pergelutan waktu
kau telah menjauh dan menjadi asing
di laut yang kita kenal.



Buli-Buli Sim-Sim (Lanskap)*

Kongsi panjang di Buli-buli Sim-Sim
Pulau Berhala seperti terapong di lautmu
Sandakan, pelabuhan pintu ke timur
kota mengumpul destinasi pendatang.

Berdiri memandang Tanjung Aru
kapal-kapal nelayan pulang
masa silamnya kapal-kapal merakit
balak dan pelabuhanmu sibuk
buruh-buruh asing berbagai bangsa
datang mengambil upah
ketika wang simpanan cukup
pulang ke tanah airnya.

Di sini aku bersekolah dan
mencipta gunung impian
seorang ma bertungkus-lumus
dan mendorong kami ke depan
walaupun api tak pernah padam
di pojokan.

Beberapa kali kau pernah hanggus
tapi tumbuh lagi dalam kilatan waktu
Buli-buli Sim-Sim, kau masih di situ
tapi, aku telah jauh meninggalkanmu.




Mamiang, Kinabatangan* (Lanskap)

Sebuah desa di muara Kinabatangan
seorang dato yang telah berpulang
berdiri di hujung jembatan seperti
memanggilku lalu mengucap salam
dalam kasyaf suatu petang tak terduga.

Pernah kulalui desamu, Mamiang
lalu melawan arus Kinabatangan
melalui desamu Abai dan Sukau
mengalir berkurun dalam senyap
rahsiamu dalam diam kau kandung.

Ribut malam itu telah berhenti
kasihmu telah kembali ke bumi
langit hanya hamparan kisah lama
ingatan mimpi seorang musafir
baru mengenalmu harus berangkat.

Aku kenang kalian ingatan kabur
datang sejenak kini setengah kurun
warisan yang kau tinggalkan seperti
segenggam tanah dapat dibualkan
seorang cucu yang tau asal-usulnya.

Mamiang, di situ seorang dato pernah
hidup walaupun kami tak pernah hidup
bersama dan waktu itu telah menjauh
suara dan wajahmu makin pudar dalam
pergeseran kasih dan kandungan ingatan.

*Dikirimkan kepada Daily Express 26 March 2016

Seorang Ayah (Palestine)

Ia mendakap tubuh yang kujur
bulan pudar kesiangan
kota jerebu telah menjadi pasir
suara itu telah berhenti
ia  pun tak menyanyi.

Seorang ayah kehilangan akal
tangan yang menggenggam
kini harus dilepaskan
ia telah berhenti menangis
air matanya telah kering.

Tapi ia hanya satu dari puluhan ribu
ayah kehilangan anak yang dikasihi
tiap mata melihatnya di penjuru sendiri
menepuk bahunya berkongsi simpati
perang belum usai
mangsa masih berjatuhan.

Siangmu terus didera
malammu tersayat
kau menenangkan jiwamu
kembali pada Khalikmu
doa-doa orang teraniya
dan dipinggirkan haknya
langit tak akan diam
kegelisahanmu telah sampai ke puncak
kesabaran itu mengingatimu kembali
mimpi negeri merdeka
Hidup tanah Palestine
sekalipun hanya dalam impian.


Kampar 11 (Lanskap)

Kampar, bandar dagang yang makmur
usianya lebih dari sekurun, sejarahnya jaya
hidup toleransi dan menghormati satu sama lain
peribumi dan pendatang saling memberi dan terima.

Para pedagang datang dari negeri seberang
lombongmu  mendorong pendatang bermimpi purnama
di tanah leluhur ini bersemi cinta dan kerinduan
lalu kerukunan bangsa telah melahirkan kepercayaan.

Kemajuan bandarmu memberi nadi pada bandar keliling
Kampar akan hidup ratusan tahun akan datang
dari mula di situ ada keyakinan yang tak akan guyang
adalah kunci kejayaan Kampar kemenangan yang tulus.

Kerana dalam dirimu ada perjuangan yang tak mengenal
lelah dan tak akan menyerah pada tangan-tangan yang kasar
yang melupai sejarah dan musuh-musuh yang bertopeng
menghadang kemajuan dan pembangunan bangsa.

*Dikirimkan kepada penulisperak@gmail.com antologi tentang bandar Perak 2016

Kampar 1 (Lanskap)

Kampar, mulai dari Kedai Sederet Atap
mengumpul pendatang turun berdagang
dalam takaran waktu kau bertukar wajah
dari Batang Tonggang menjadi bandar jaya.

Dari zaman silam kau telah menerima tamu
pedagang yang ulang-alik dari tanah seberang
ke pesisir muara dan mudik ke hlir sungai
lalu  tumbuh desa-desa murni di bumimu.

Jong belayar sarat memuat dagangan
hubungan kasih dan rakan berniaga
hidup harmoni antara penduduk dan pendatang
kemajuan pun diraih bandarmu makmur.

Kedamaianmu kerana samawi menghulurkan
tangannya dan kau menyempurnakan janjimu
bandar yang mendahulukan persaudaraan sejagat
hidup rukun bermartabat kasih dijunjung.

*Dikirimkan kepada penulisperak@gmail.com antologi tentang bandar Perak 2016

Bagan Datoh, Lambang Kejayaan (Lanskap)

Bagan Datoh, biar bandarmu hidup sepanjang kurun
makmur dan bertuah membawa rahmat pada semua
langit membawa hujan dari selat turun sebagai kurnia
keindahanmu akan terus menjadi kesenangan tiap hati.

Doa-doa dari mulut yang suci dan penyayang
perisai melindungimu dari kejahatan yang tersembunyi
yang menghalau kegelapan dan jiwa yang derhaka
dan kau selalu membawa angin damai.

Bagan Datoh, kau bandar yang makmur
di jiwamu tak ada sedikitpun curiga dan bimbang
tidurmu tenang di malam hari dan siangmu matahari penuh
kau adalah lambang kejayaan dan kekayaan raya.

Di tanah peribumi ini, kau menghirup udara murni
malam kembang kenanga kebenaran menjadi nyata
selamanya  Bagan Datoh, bandar kesayanganmu
yang terjaga dan disebut-sebut pada lidah seorang mutaki.


*Dikirimkan kepada penulisperak@gmail.com antologi tentang bandar Perak 2016

Bagan Datoh (Lanskap)

Bagan Datoh, bandarmu di tepi muara
angin selat membawa khabar laut tenang
grafiti di langit senja menghidupkan lamunan
musafir di jalan pulang tamu berhenti bermalam.

Bagan Datoh, keindahanmu menjadi artifak
pada jiwa yang mencari ketenangan pada dirimu
perhentian sekali akan menjadi kenangan
yang terpahat di dinding kalbu sepanjangan hidup.

Bagan Datoh, gemuruh lautmu tak merubah
alammu yang lembut dan gumalai tari angin
selalu membuka pintu harapan di muara kalbu
lalu kau dikenang sepanjang musim.

Bagan Datoh, gerimis yang turun dari langit
mencipta pelangi di tepi muara melahirkan
huruf-huruf yang menjadi kata dan kalimat
menjadi baris-baris puisi yang hidup abadi.

*Dikirimkan kepada penulisperak@gmail.com antologi tentang bandar Perak 2016

Tanjung Malim Di Bibir Zaman (Lanskap)

Tanjung Malim, namamu di bibir zaman
penyairmu menyapa dalam mimpi dan rindu
sentuhan langitmu dan gema suaramu
kasih-sayang pada tamu yang datang berteduh.

Tanjung Malim, bumimu menyimpan sejarah
kota inspirasi memancarkan cahaya ilmu
jiwamu seorang mualim yang diperkayakan
dengan kasyaf dan firast tak berhenti turun.

Tanjung Malim, mata air yang mengalir
langitmu lambang kejayaan cita-cita
sempurnanya doa-doa dari hati yang pasrah
kemerdekaan dari dendam dan amarah.

Tanjung Malim, kotamu menjadi penyejuk mata
kau tak akan membiarkan kegelapan menyentuhmu
kerana fitratmu yang memelihara dan melindungi
telaga ilmu dan tangan yang selalu memberi.


*Dikirimkan kepada penulisperak@gmail.com antologi tentang bandar Perak 2016





Tuesday, 19 January 2016

Tanjung Malim (Lanskap)

Halaman sejarahmu ada rahsia yang benar
inspirasi sezaman turun pada bumimu
di tanah peribumi ini lahirlah sebuah impian
dan harapan yang mencari cahaya abadi.

Tanjung Malim,di lapanganmu taman ilmu
yang hidup dan berkembang kurun-berkurun
wajah-wajah mualim yang manis membawa
para malaikat rahmat yang mengalir.

Kau tumbuh dari jiwa yang damai
tiap kalbu datang padamu meraih kemenangan
dari sumur ilmu yang tak pernah kering
manisnya air pelega dahaga musafir menuntut ilmu.

Malam turun dalam zikir dan tazkirah
dalam rumahmu dengan doa-doa seorang muhsin
pengorbanan jalan ke arah kebenaran sejati
kemenanganmu dalam seribu daya meraih maghrifat-Nya.

Kau telah menyempurnakan solatmu
kasyaf dan mimpi benar anugerah Allah Azzali
Tanjung Malim, kebenaran samawi
yang sempurna dalam diri seorang mualim.

*Dikirimkan kepada penulisperak@gmail.com antologi tentang bandar Perak 2016

Tenggeling (Cemar)*(HE)(Terbit)

Hari itu langit bagaikan berkabung
seperti mengirimkan isyarat padamu
rimba pun diam bukan kerana takut
ada sesuatu yang tak beres di sini.

Di angkasa burung-burung telah menerima
isyarat supaya peribumi sedar tentang bumi
perlindungan pada lautnya dari petualang
peka tiap gerak pemburu haram di rimba raya.

Kejahatan pada rimba telah lama diperlakukan begini
tiap hari rimba dan lautmu kehilangan yang berharga
dalam kegelapan malam dan siang telah menjadi saksi
di laut terapung kau lihat bangkai beruang, penyu dan yu.

Bumi, kau telah lama berdiam diri dan menutup mata
kita pun terlambat mengangkat kepala dan bersuara
melihat Tenggeling korban ribuan dan dagangan haram
di langit terbuka mereka tertangkap di perairan lautmu.

Rimba raya,  kau lihat sendiri bagaimana Tenggeling
mangsa serakah di tangan-tangan pemburu haram
tanpa wajah berkeliaran di rimba rayamu berburu
tak peduli dan bertindak sesukanya tanpa sempadan.

*Tersiar Di Harian Ekspress 31 Januari 2016




Menumpas Kekerasan (ISIS)

Kau telah memilih kekerasan untuk mencapai maksudmu
maut berjatuhan di tanah peribumi kerana tindakan gilamu
mendekatmu kepada Yang Empunya Langit dan Bumi
kau adalah kepala angin yang akan mereda akhirnya.

Ketika kau meniup api dendam di rantau bumi
hujan samawi turun membawa khabar gembira
kasih-sayang, senjata yang menundukkan kalbu
dan ini pasti membawa kemenangan dan harapan.

Kau tak akan menimbulkan sedikit pun ketakutan
yang kau lakukan itu hanya akan membangkitkan
reaksi yang bertantangan dari yang kau harapkan
dan sedikitpun tak ada ruang untukmu berpijak.

Kekerasan akan tumpas dan keamanan akan berkibar
suaramu  akan terhenti di tengah jalan kekalahan penuh
kerana  perang dan kezaliman tak akan menyelamatkan
kemanusiaan sejagat dan bumi leluhur yang tercinta.

Di Bawah Telapak Kakimu (ISIS)*

Apa yang terjadi padamu
kegilaanmu makin menjadi
tindakanmu akan diingat
sebagai laknat padamu.

Sebenarnya kau tak mencipta
apa-apa kecuali murka langit
kau memilih jalan derhaka
dan jalan pulang keliru.

Bermulalah malam panjang
kejahatanmu berakhir kau
diburu dan kedamaianmu
jadi orang buruan sampa kiamat.

Penyesalanmu telah menekan
hidupmu hingga senja tiba
bumi di bawah telapak kakimu
tau akhir dari kemabukan ini.


Purnama Dalam Sukmamu (Cemar)

Di bumi negeri  rimba raya langit junjungan
hujan Khatulistiwa, laut, sungai yang mengalir
angin gunung, pantai impian, kembang bunga
pulau penyair, lembah rimbunan hijau, pesisir,
banjaran Crocker yang anggun, bintang malam,
Kinabalu, dan tanah peribumi menawan kalbu.

Habitat, hewan liarmu unggul dan istimewa
flora fauna tumbuh subur di tanah peribumi
kami akan ingat semua ini anugerah-Mu
dan anak peribumi tak akan membiarkan 
bumi samawi ini dicerobohi dan musnah.

Kuulang kalimat ini supaya kau ingat
ia telah tumbuh dalam tanah sukmamu
dalam mimpimu malam hari kau tak
akan lupa kerana di sini tanggungjawab
pada pundakmu, bumi leluhur ini bukan
sarang pasar gelap dan pemburu haram.

Tiap pokok dan banjaran gunungmu
kami telah mengenggam hak kami
rimba, hewan, laut, pulau dan sungai
burung-burung terbang di langitmu.
Suara ini bergema mengingatkanmu
penceroboh dan pemburu haram, kamu
tak merampaskan apa yang kami cintai,
warisan tanah leluhur, tanah peribumi.




Kau Tak Akan Menang (ISIS)

Aku telah membaca gerakmu
kalau ini kau katakan keberanian
sebenarnya bukan, keberanian,
datang suatu siang dengan mata gelap
lalu meletupkan bom di kelayak ramai.

Inikah kau katakan keberanian
dari mula kau memang telah salah
niatmu bangkai yang membusuk
memilih jalan singkat menzalimi diri
dan wajah-wajah peribumi nadi
tanah leluhur.

Tak ada kedamaian dalam sukmamu
hidupmu sebenarnya majnun
yang berjalan dalam gelap-gulita
seperti serigala yang lapar
mimpimu adalah mimp buruk
di malam derhaka.

Kalau ini pilihanmu, sebenarnya kau
memilih yang salah, penjenayah sadis
kehilangan arah dan kepimpinan yang
lupa pada jalan pulang.

Tak ada yang dapat kau banggakan
selain laknat dan ketololanmu yang
tak berpijak di bumi dan kehilangan
langitmu.

Kau hanya melawan angin
pada akhirnya kau golongan yang kalah
dan ketakutan yang ingin kau
lantak di dinding sukma anak peribumi
tak akan merubah sedikitpun
kerana keyakinan tak akan kau dapat
ganggu-gugat, kasih-sayang dan cinta
akan menambat kalbu hingga akhir kalam.

Monday, 18 January 2016

Kekerasan (ISIS)

Kau diperingatkan tak akan terjembak dalam gaung
kata-kata derhaka yang diucapkan berulang dalam
telingamu samasekali tak akan merubah keputusanmu
ketika sejarah kau tafsirkan dengan pedang terhunus
maut pun tak mengira terbaring kaku di jalanan
atau di mata pedang seorang algojo.

Kita tak akan bisa berdiam melihatmu menyeru
pada kekerasan dengan menukar warna lembut
menjadi garang walaupun di sini bukan warna
yang dipersoalkan kerana tindakan berperang
hanya akan melumpuhkan kebaikan dari berperan.

Tak ada jalan pintas apa lagi menodai kecantikkan
sebuah perintah dengan anjuran kepada kegelapan
yang menyerap cahaya menjadi kepul-kepul jerebu
menyelubungi langit dan bumi dalam takaran waktu
tapi kau tak akan berhasil melumpuhkan pergerakan
kedamaian adalah syafaat sampai kiamat mendatang.

Kekerasan tak akan dapat menguasai kasih-sayang
kerana lambat-laun kemenangan di pihak kebenaran
dan doa-doa, senjata ampuh yang dapat mematahkan
kezaliman musuh durjana dan kekalahan demi kekalahan
membawa angin segar pada langit dan bumi baru.



Bangkai Beruang Dari Rimbamu* (Cemar)

Aku bertanya mengapa rimbaku diam sunyi
seperti hari berkabung, diam tak berkata apa-apa
sungaimu yang menyimpan rahsia sejak dulu
gundah dan getarannya sampai ke muara.

Langitmu telah memberi isyarat pada gunung
hujan pun turun seperti anak yang menangisi
barang kesayangannya yang hilang sepagian
kemurungan lautmu telah menimbulkan tandatanya.

Di udaramu kutelah mencium bau bangkai
telinga ini mencari-cari  kalau ada haiwan terluka
degup sukmaku terlalu kuat untuk menaksir
mataku terpaku pada air pasang di pesisir  pantai.

Dalam jiwamu, kau tersiksa melihat
di atas air laut terapong dibawa arus pasang
bangkai seekor beruang dari rimba tanah leluhur
kelihatan ada kerat pada leher dan tubuhnya.

*Tersiar Di Daily Express 10 April 2016

Kasihmu Pada Hutan Khatulistiwa (Cemar)

Lepa-lepaku belayar tenang di laut birumu
melihat rimba jati anugerah turun-temurun
sungai mengalir telah berkurun dan masih
mengalir sampai ke laut damai.

Kasihmu tak akan lentur pada bumi
dan langit khatulistiwa yang membawa
hujan semi pada rimba raya yang hidup
harapannya melangkah jauh dalam sukma.

Terbanglah burung harapan tanah lehulur
dari selatan ke utara, pantai barat ke timur
pulau-pulau, kalung mutiara yang menambat
kalbu yang pernah datang sekali dalam mimpi.

Aku tak akan berhenti berkata-kata
ketika melihat rimba rayamu terluka parah
dari tangan-tangan kasar yang tak peduli
membakar hutan dan membongkar tanah peribumi.




Hutan Sukau, Sungai Kinabatangan (Cemar)

Kau tak akan melepaskan apa yang ada dalam genggaman
hutanmu selalu penuh keramaian, tak pernah sunyi dan sepi
sungaimu tak kira musim terus memberi nadi hidupan liar
iklimmu memberikan harapan dan impian peribumi masa depan.

Apa cara aku dapat menyampaikan padamu supaya kau sedar
tak ada satu kata terlambat supaya kau buat keputusan merugikan
suara-suara pergunungan dan pesisir tanah peribumi mengiyang
tak akan dibiarkan tanah ini kau cerobohi dan musnahkan.

Dengarlah kami kerana kata-kata yang terucap ini datangnya
dari hati nurani yang sedar dan dari anak peribumi yang kasih
sekali kau melakukan keputusan yang salah dan membabi buta
akan membawa padah seribu tahun dan penyesalan tak sudah.

Jangan kau sentuh hutan tinggal sedikit itu kerana nafsu serakah
berselindung di sebalik pembangunan yang merugikan alammu
memusnahkan hidupan liar kerana ketololan dan tindakan gegabah
hentikan keinginanmu itu, kerana kau masih belum terlambat.

Kalau memang benar kau punya sedikit ketakutan dalam sukmamu
kau tak akan berbuat sesuatu peninggalan yang nanti menghantui dirimu
masa depan hutan simpanan liar itu tergantung pada tindakanmu sekarang
kau harus memberi jawaban tepat, kalau tidak kau jadi sasaran penyesalan.


Saturday, 16 January 2016

ISIS, Beritamu Hanya Kematian (ISIS)

Lidahmu mengeluarkan api belerang
memusnahkan semua yang dekat
ia datang seperti gelombang lautan
tak ada yang dapat kau banggakan
kecuali maut berguling di tanah pasir.

Tiada lagi kelunakan bahasa dan
wajah-wajah manis dan gerak laku
yang dapat menawan kalbu  dan
menundukkan gunung yang gah.

Kekerasaan bukan penawar dan
selamanya bukan senjata ampuh
di zaman gerhana dan malam panjang
lukamu parah sakitnya tak tertahan.

Bulan purnama penuh di langit
malam-malam jahanam akan berlalu
musim semi datang membawa khabar
tamanmu di bawah langit baru bumi baru

Puisi Terbuka Kepada ISIS (ISIS)

Tak ada kebaikan yang telah kulihat
di ladang sukmamu atau pada matamu
seperti gunung berapi yang akan meletus
dan mengorbankan dirimu sendiri.
Tiada yang aku kagumi apa yang kau
kerjakan di bawah langit terbuka ini.
Suaramu memanggil bukan dengan
kasih-sayang dan membebaskanmu
dari kemarau rohani yang panjang.
Bicaramu maut dan kau tak berhenti
seperti jentera perosak terus bekerja
untuk kehancuran dan musnahnya
kemanusiaan sejagat dan jiwa selamat.

Beritamu tiada lain selain kezaliman
yang kau inginkan banjir darah dan
mencipta gerhana panjang di bumi
leluhur. Kau tak akan menang kegelapan
kauciptakan adalah perangkap samar
pada dirimu. Kau tak akan berjaya.
Syafaat hanya pada Kekasih-Mu,
Muhammad, bulan purnama penuh.

Semua yang kau katakan bertantangan
tindakan dan bicaramu, kegilaan luar biasa
Kau bergumul dengan Nafsi-Amarah
kekejaman kau katakan perbuatan mulia.
Malam panjangmu tiada apa-apa selain
kegelapan pekat dan majnun. Tiada yang
mendengarkanmu kerana yang kau laungkan
hanya maut. Kata-katamu itu tin kosong
dan kebohongan yang merugi.

Kau tak akan menang dan berjaya
kerana kau sendiri tak ada pilihan melain
mencipta teror dan panik. Kau, agen perosak
yang tak akan bertahan lama. Kami tak akan
merelakan kau berdiri di atas mimbar
dan mengaku, hanya jalan sehala gayamu,
jawaban dan resepi kemenangan.

Jihad yang kau laungkan itu tak lain kegilaan
bertentangan dari samawi yang menurunkan
hujan cukup dengan takaran pada musim semi.
Kekalahanmu itu pasti. Kedamaian tak akan
berhenti berkibar, seluruh penjuru akan bertukar
tempat. Kebenaran, saksi zaman sampai kiamat.
Tangan-Mu tak membiarkan kejahatan bercambah.





Anak-anak Korban Perang (Palestine)

Mengapa anak-anak jadi sasaran
perang itu harus ada sempadannya
kegilaanmu itu telah menjatuhkan
bom di bumi halaman anak-anak.

Anak-anak yang cedera parah
merobek layar siangnya
meregut hak-hak mereka
di depan mata dunia tanpa malu.

Tiap hari kau mencatat pada langitmu
kemenangan dan kemusnahan musuh
media penuh dengan berita perang
tanpa ada program buat anak-anak.

Kau bicara tentang keamanan
tapi jentera perangmu terus membunuh
anak-anak kehilangan halaman
dan atap untuk tidur aman di waktu malam.

Dalam meraih kekuasaan dan sempadan
perang adalah permainan orang dewasa
dan saling membunuh dan terbunuh
anak-anak terkorban angkanya besar berganda.

Kata-kata Larangan (ISIS)

Kau telah mengucapkan kata-kata larangan itu
menggulung malammu berlalu pergi
berakhirlah sebuah impian di hujung lidahmu
padamlah sudah harapan yang kau perjuangkan.

Kau tak pernah  menabur kasih di tanah leluhur
dan tak peduli dua halaman sejarah tak sama
terputus sebuah ikatan persaudaraan selamanya
seperti kita tak pernah menjalin hubungan ini.

Kemarahanmu telah mencipta gerhana di sukmamu
dan kegelisahan menyingkap tirai kebenaran
pohon kemenangan ini tak akan dapat kau tumbang
kerana ia berakar sampai ke bulan purnama penuh.



Kedamaian Akan Bertahan (Palestine)

Kekerasanmu terkandas di tanah kasih
gema suaramu berhenti di halkum
impianmu hanggus dalam apimu sendiri
bila kau akan berhenti menggelapkan langitmu.

Tindakanmu telah menukar pandangan
kau telah meratakan kota-kota dan penghuninya
lalu membalik bumi tunggang-terbalik
kezaliman ini kau laungkan pada telinga ingin mendengar.

Kau memilih langkah yang salah
dan mimpimu untuk kemenangan tak akan raih
bumi yang kau dera tak akan menurutmu
kejatuhanmu makin hampir dan jelas.

Perintahmu tak akan didengar dewan akan kosong kau
tak akan menawannya sekalipun tak pernah mendengarmu
kedamaian akan bertahan seperti gunung
dan tunjangnya terjunam sampai ke pusara bumi.



Friday, 15 January 2016

Pesta Kembang Bunga Api (Lanskap)

Kau mulai menyukai kembang bunga api
pada malam perayaan itu percikan dan bunyi
langit berdentur tepat pukul 12 tengah malam
pesta sepanjang malam sampai siang.

Wajah-wajah ria, berpelukkan dan hiburan
keseronokan tak ada had, makan dan minum
di bangunan-bangunan ekslusif dan mewah
jelas, kau pun telah menyukai pesta tahun baru.

Kekayaan negara dan bangsa ditunjukkan
pada suatu malam dengan pembelanjaan
sampai jutaan membuat dekor dan lampu neon
bersaing sesama tanpa peduli belanja berlebihan.

Malam Tahun Baru sepatutnya kau sujud
berdoa keamanan dunia di ambang membimbangkan
tanpa perlindungan Allah Azzali, keruntuhan
perabadan manusia mendekati kehancuran penuh.


Waktu itu pasti akan Datang (Ketuhanan)

Bila waktu itu telah sampai
kau sendiri harus bersiap sedia
ketika waktumu telah sempurna
segalanya harus kau lepaskan.

Tak ada lagi tawar-menawar
menundahnya ke lain waktu
kau harus menerimanya dengan
hati yang tunduk dan menyerah.

Yang kau lihat itu adalah
ilusi dan semuanya sementara
dunia ini persinggahan sedetik
semua pulang ke negeri abadi.

Waktu itu pasti akan datang
kehidupan di sini persiapan
kau sampai ke pintu samawi
tinggalkan dunia selamanya.

Kau telah memilih pada jalan lurus
bersujud dan memohon pertolongan
semua kau kerjakan semata-mata
redah pada Tuhan Rabbiul Alamen.




Kota Musim Dingin* (Syria)(Boat People)

Siang kelabu matahari diselimuti awan musim dingin
pemukim kota telah bangun memandang pohon-pohon
kehilangan daun dan jalan-jalan yang sepi dan suram
anak-anak jalanan belum kelihatan bermain di runtuhan
bangunan kota yang terkepung dan melarat.

Penduduknya telah lelah menanak air  sepanjang hari
lama mereka tak mencium bau gulai dan sup kambing
lidah dah keluh bertanya khabar kiriman dan bungkusan
memang tak ada yang datang, mereka pun tak mengharap
terkurung di dalam kota dan buminya sendiri.

Dingin malam menyelimuti kota yang terkepung ini
ada suara yang telah terporok dan ada yang merayau
tatkala siang datang kota ini seperti hewan yang terlayah
menunggu perubahan langit dan angin segar dari gunung.

Genderang perang masih berkumandang di gegendang telinga
bila siren perang akan berhenti dan kau akan dibebaskan
kota yang terkepung jerebu bom menyesak rongga dadamu
kedamaianmu, hakmu harus dipulangkan kembali di bumimu.











Thursday, 14 January 2016

Anak-anak Palestine (Palestine)*

Kalau kau bertanya jalan mana
kami ikut pergi ke sekolah
tiap pagi kami berjalan 
dalam cahaya siang yang murni
udara tanah leluhur yang wangi
pergi berkumpulan dan pulang 
melalu bukit berbatu-batu.

Sekalipun kau telah mencerobohi
hidup Palestine dan tanah di bawah 
telapak kami kaki, pohon Zaiton 
rumah purba yang telah dikosongkan
kami tak akan berhenti datang
mencipta impian dan hari esok.

Kau meratakan harapan kami
membakar hanggus mimpi semalam
tapi, mimpi tanah Palestine merdeka 
hidup selamanya dan akan kami bawa
ke mana-mana ke pelosok rantau dunia.

Ketika kau melempari batu dari tanah haram
 yang kau bangunkan di tanah Palestine
hati kami sedikitpun tak akan kecut
atau menundukkan kepala mengalah.

Kami tak akan berhenti turun ke sekolah
siang jernih kau melihat kami beramai-ramai
meniup dan menyalakan api cinta dan
seperti anak-anak yang lain punya mimpi
dan impian, pada matahari siang yang cerah esok.
Hidup anak-anak Palestine, Hidup Palestine.




Wednesday, 13 January 2016

Intifada (Palestine)*

Aku anak Palestine yang kau tembak mati
di siang hari dan para saksi melihatmu
ghairah mencari sasaran tanpa mengira
warga emas atau anak-anak sedang bermain.

Kau diperintah tanpa memilih bulu
ini perang martabat diri dan peluasan wilayah
dan "tanah yang dijanjikan" sejak dulu kala
menjadi impian  dan tanah airmu.

Di tengah bangsaku, aku tewas dari pelurumu
menembusi jantung kanan dan darah menitis
usiaku baru 13 tahun, gugur di tanah leluhur
aku tak merasa sakit dan menyesal.

Ketika kau membidik rifflemu dari atas loteng
bangunan runtuh dan kosong tanpa peduli
kau cuba menghancurkan mimpi dan impian
anak-anak Palestine dan Semangat Intifada.

Anak-anak Palestine akan terus bermimpi
suatu hari mimpimu akan menjadi nyata
harapan bulan purnama penuh di persada
sebuah negara Palestine bebas dan merdeka.










Tuesday, 12 January 2016

Sebuah Kota (Palestine)*

Kau tidak melihat sebuah kota
melainkan runtuhan bangunan
selepas perang di kurun ini
yang hancur dan berjerubu.

Kau tidak mendengar anak-anak
bermain-main di halaman
atau menyanyi pulang dari sekolah
dan ibu menunggu di muka pintu.

Kau tidak melihat sebuah kota
lorong-lorongnya sibuk dan ramai
orang turun berbeli beli atau
bertemu kawan lama tak jumpa.

Kau tidak melihat sebuah kota
yang hidup dan bernafas
penghuninya telah pergi
mengungsi entah di mana.

Kau tidak melihat sebuah kota
maut berlinggar di udara
tiada keselamatan padamu
hak-hakmu telah dirampas.


Monday, 11 January 2016

Budak Palestine (Palestine)*

Ini bukan pesta keramaian tahunan
jalan-jalan penuh sesak merayakan
pintu rumah terbuka menerima tamu
kau datang dengan wajah senyum.

Dalam tak ada perhiasan dan lampu neon
ma sibuk di dapur walaupun tak buat apa
lalu sudah ia tak keluar rumah atau berbual
dengan tetangga yang rumahnya  tampak sepi.

Memang benar hari ini tak ada yang istimewa
segalanya kelihatan seperti hari-hari biasa
lama sudah mereka tak makan bersama
jendela dan pintu senantiasa tertutup.

Ma selalu mengingatkan jangan main di luar
adik-adik yang masih kecil belum mengerti
ia hanya memberi isyarat dengan suara keras
rumah ini adalah penjara sepanjang hari.

Di luar pegepongan tentera Israel makin kuat
dalam senyap mereka telah mengirim snapper
di runtuhan bangunan Palestine yang dibom
anak lelakinya gundah matanya memandang pintu.

Jalan Damai (Boat People)*

Belum pun kita mendengar tercapainya kedamaian
kau telah mengisthiarkan pula perang akan datang
dunia telah muak dengan perang yang meletus
protes dan demontrasi telah diadakan di seluruh negara
hentikan perang, bumi telah cukup menderita
tidakkah kau lihat sendiri penderitaan mangsa perang.

Sudah berapa banyak korban gugur
kau masih belum puas dan maut bergelimpangan
kejahatanmu makin buas dan kezaliman tak ada batas
hak kemanusian sejagat hanggus
mengulang-gulang sejarah hitam
kejatuhan tamadun manusia
komplot menjatuhkan demi kepentingan satu golongan
kedamaian dicepot kerana memilih keuntungan sendiri.

Inilah malam panjang dan gerhana mencengkam kalbu
negara hancur penduduk mengungsi mencari suaka
hak-hak mereka dirampas dan tanah leluhur ranap
di langit terbuka kalimat retorika perang nuklear
dikobar-kobarkan tanpa peduli apa yang terjadi esok
sekalipun langit telah memberi peringatan terus-menerus
jalan damai itu keselamatan sejagat  dan kemenangan abadi.


*Dikirimkan ke DBP CS 12 Jan 2016



Khemah Pelarian di Tanah Perancis. (Boat People)

Musim Dingin
masih di khemah pelarian
hujan telah menerobos masuk
malam panjang
tak ada berita baru
seperti kapal terkandas
pendatang malam
terbawa gelombang tak menentu
kau tak menghitung hari
di sempadan eropah ini
kau berdiri
masih mengharapkan
tanah seberang.

Sudah berapa kali
dicubanya memasuki sempadan
tak berhasil
ia dilontarkan kembali
ke khemah pelarian.
Gema suaranya merudup
ada penyesalan
dan putusasa menyerap
ke dalam sukmanya.

Tanah leluhur hanya
hidup dalam mimpi
dan kenangan.
Desanya telah ranap
Kotanya hancur
hanya deru angin
melintas.

Tiap jiwa terperangkap
esok masih jauh
kau hanya masih berharap
yang mustahil
menjadi nyata.

Sunday, 10 January 2016

Perang Belum Usai (Boat People)

Kau mau ke mana saudara
kotamu telah dikepong
dan kau terporok di dalam halamanmu
gema suaramu terpelanting di anak tangga
tiap pelosok maut mengintai
siang makin panjang
raung malam membunuh mimpimu.

Di daerah rawan ini telah diikhtiarkan
tiap malam serigala masuk ke dalam kota
kelaparan makin mencengkam
kesabaran mulai hilang
anak-anak berkeliaran perut kosong
ibu dan ayah, lama tak pulang
di sini kemampuanmu didorong
demi hidup kau harus berlaku keras
dan kejam.

Anak-anak cepat menjadi dewasa
kulitnya kering dan kerat wajahnya
menampakkan usianya lebih  muda
dari situasi yang dialaminya.

Tak ada jalan keluar pada penduduk kota
maut menunggu tiap sudut
tiap hari yang kau dengar
adalah suara protes yang gemanya
makin kecil.

Seperti dunia melupakan kota ini
penduduknya dihalang dari mengungsi
pertolongan luar terbantut di perbatasan
semalam salji mulai turun di tengah kota
angin bertiup dari pergunungan
dingin disember datang sebagai perutusan
perang masih belum usai.





Tuesday, 5 January 2016

Bahasa (TAMP)*

Kau mendodoiku dalam bahasamu
naluri mengkagumi bahasa mengalir
dalam sukma dan mimbar mindaku
keindahanmu dalam pengucapan
doa-doa terkabul di malam tahajud.

Bahasamu adalah bahasa cinta
merapatkan langit dan bumi
mengalir hidup sampai kiamat
airnya tetap segar dan dingin
menghidupkan tamanmu segala musim.

Pada cahaya siang kau ada
memaknakan perjalanan seorang musafir
menghimpun rindu penyair dalam rimba kata
inspirasi berkurun dalam tazkirah ilmu
di malam-malam tajalli mengenang-Mu.

Dikirimkan pada 12 Jan 2016

Suara Damai (TAMP)

Dinginkan api perang
sampai ke dalam sarangnya
bumi telah menderita
dari zaman silam
pemain api masih berkeliaran
meniup api
tak berhenti sampai benua ini
menjadi pulau dan sebutir pasir.

Ada saja yang
ingin menjadi sekutu
meletuskan gempa
di sukmamu
menggelapkan matamu
dengan jerebu belerang
burung-burung maut
berjatuhan dari langit.

Kau tak mempedulikan
datangnya hari kemusnahan
walaupun kau telah diingatkan
tirai kegelapan turun
dan cuba menyedut cahaya
menghapuskan harapan dan
mimpi di pinggir malam.

Tiada syafaat pada penderhaka
dan pembunuh suara kebenaran
pada akhirnya yang kau tempikkan
kegagalan hingga pintu kiamat tertutup.



Bahang Perang (TAMP)

Kau tak berhenti merayau ke pelosok bumi
meniup api dan mengemparkan kedamaian
memerahkan langit dan bumi leluhur ini
sengketa perang dan kezaliman tanpa ampun.

Pesan apa yang harus disampaikan
selain kedamaian supaya kau kembali
meletakkan kepalamu dan menangis
memanggil-Nya dengan kasih-sayang.

Tiap detik kita mendekati kehancuran
pesan apa lagi yang dapat melembutkan
sukmamu makin ghaira pada perang
kemusnahan ummah runtuh dan hanggus.

Tidakkah kau melihat bangsamu
mengungsi dan bertarung melangkahi
sempadan dan taufan lautan mencari
dunia baru dan langit baru.








Mencari Damai (TAMP)

Kita telah melangkah masuk
di depan pintu melafazkan doa
gema suaramu meratap pada samawi
seribu rama-rama terbang di angkasamu
gurunmu masih tetap tak berubah.

Pohon-pohon zaitun telah ditinggalkan
tiap hari kau berbisik pada angin sahara
bawalah hujan turun di halaman
gerhana masih tergantung di langitmu
malam panjang dalam jerebu perang.

Kotamu sepi dan kosong
kebun kurma menunggu pulang tuannya
memetik buahnya yang ranum
di lorong-lorong ini penuh dagangan
kini bangunan runtuh dan bersarang
kalajenking dan labah-labah.

Kedamaian telah sirna dari kata-kata
nafsu amarah mencengkam sukmamu
kau tak hirau  gempa di bawah kakimu
dan letusan komet jatuh di atas kepala
hanggus pada dendammu sendiri.