Saturday, 23 September 2017

Kamu Mencari Sasaran (Rohingya)

Kamu mencari sasaran tiap selekoh
di sepanjang jalan desa Rohingya
api amarahmu telah membakar
lembah kasih di pergunungan damai.

Malam telah turun
kegelapan mengembangkan kepaknya
kedamaianmu kini
seperti burung meninggalkan
sarang.

Badai datang gempa di bumi
Myanmar
lahanmu berdiri mulai
retak di bawah telapak kakimu
di malam-malam durjana
kamu tewas dalam mimpi-mimpimu
sendiri.

Gema suara Rohingya
melantun jauh
dan kembali padamu
menjadi panah-panah api
yang memusnahkan.

Nilai
September 2017




Tuesday, 24 January 2017

Badai Di Tanah Myanmar (Rohingya)*

Badai turun di tanah Arakan
para pendeta bertukar kulit
raung serigala memburu mangsa
terlepas dari kandang kalbumu.

Kau bertanya, langit tenang saja
di sini damai dan selamat
renunglah berita yang kau didengar
tak ada kemusnahan dan kehilangan jiwa.

Tapi Rohingya terus meninggalkan halaman
desa-desanya sepi dan tinggal puing-puing
ketika badai datang Rohingya bertebaran
dari bumi Arakan mencari suaka.

Myanmar, sampai bila kau menghapuskan
kehadiran Rohingya di bumimu
Regim tentera menuding senjata
ke arahmu sebagai musuh.

Kuala Lumpur
2016






Arakan, Tanah Leluhur (Rohingya)*

Kau tak dapat menghapuskan
jejak-jejak langkah  Rohingya
di bumi Arakan tapak-tapak kakimu
telah memberkas menjadi batu.

Suara-suara menempal pada
gunung dan rimba raya Arakan
tumbuh menjadi pohon-pohon ingatan
tiap hari kau diingatkan kehadiran Rohingya.

Ke manapun kau memandang
artifak dan graviti Rohingya
menjadi sejarah bangsa ini
dan impian Rohingya.

Rohingya hidup selamanya
penderitaan ini hanya akan
menghidupkan mimpi Rohingya
Arakan, tanah leluhur.

Kuala Lumpur
2016

Monday, 23 January 2017

Melangkar Harapan Anak Rohingya (Rohingya)

Kau tak mengira langkah
dari desa Arakan melintasi sempadan
besar dalam pembuangan
tapi, ingatan pada Arakan
tumbuh dalam dirimu
mimpi-mimpimu berpauh
pada pohon harapan.

Dari sempadan
menyeberangi lautan bergelora
terapung dan belayar
mengikut arus
bintang-bintang di langit malam
penghiburmu
siang pertarungan
kelaparan yang mencekek
panas yang membakar
mencari pulau berteduh.

Di Pulau Christmas
kau dalam khemah tahanan
berkejar ke hujung hari
lalu menunggu esok
jiwamu terkurung
tapi, kebebasan itu
harapan yang menjauh.

Kau, seorang anak
yang dulu langkahnya kecil
kini telah mulai tumbuh
menjadi gadis yang mencercah
pintu kedewasaan.

Kegiranganmu mulai meredup
di pulau keterasingan ini
tiang keyakinan dirimu
dipukul ombak kali dan berkali
dan kau memandang
lautan dengan mata separuh tertutup
menunggu perutusan langit.

Kuala Lumpur
2016

Jalan Pengasingan Negeri Bersahabat (Rohingya)

Aku, berdoa dengan bahasa sederhana
biarkan kedamaian pada langitmu
Arakan.

Kau telah menganiaya
Rohingya tanpa perlawanan
kezalimanmu itu telah
mengusir Rohingya ke tanah asing.

Api dendammu menyala
dan kau makin tak peduli
membakar desa-desa Rohingya
cuba membunuh jiwa Rohingya
satu hari nanti perbuatanmu
akan dipertanyakan
tentang jenayah kemanusiaan
kau terlibat di dalamnya.

Ketika kau menzalimi Rohingya
doa-doa orang-orang teraniaya
melucur dari lidah Rohingya
dalam dirinya
adalah seorang muslim
pencinta damai.

Rohingya telah memilih
jalan pengasingan
dari sempadan sampai
negeri yang bersahabat.

Kuala Lumpur
2016







Saturday, 21 January 2017

Myanmar Kembali (Rohingya)*

Moyangku telah lahir di sini
orang tuaku pun tumbuh
bersama rimba Arakan
cinta kami seperti kamu
ini tanah leluhur
kau tak akan dapat
menghalau Rohingya
seperti mendera anjing jalanan.

Aung San Suu Kyi
kini kamu telah berada
di puncak yang tinggi
gema suara sampai
ceruk rantau Myanmar
langkahmu panjang
penglihatanmu sampai
menembus rimba raya
dan desa-desa Rohingya.

Usah kau regut kehormatan
dan kesabaran Rohingya
dengan api kezaliman
dan kekerasan atas
anak-anak Rohingya
wanita-wanita Rohingya
orang-orang tua Rohingya
biarkan hujan turun
mendinginkan bumimu
dan amarah durjahmu.

Tirani dan jenayah kemanusiaan
di bumi Arakan harus stop
biarkan langit Myanmar damai
amarah kalbumu meredah
dan buka pintumu
pada Rohingya tanpa curiga
kau akan melihat
Myanmar kembali pada
semangat Asean dan
Komuniti Antarabangsa
menerap nilai kemanusiaan sejagat.

Kuala Lumpur
2017





Wednesday, 18 January 2017

Tali Kecapi Hati (Rohingya)*

Kau telah meninggalkan Arakan
masih bau hutan dan hujan
masin lautan dan matari siang
berlinggar dalam ingatanmu.

Bumi leluhurmu hidup
dalam impianmu
kau telah menyeberangi
sempadan masuk dari
satu negara ke negera lain.

Di sini kau meraih
tangan-tangan kasih
dan wajah-wajah manis
kepedihanmu telah
mengetar tali kecapi hati.

Penderitaan Rohingya
harus dihentikan
pintu kasih sayang
terbuka luas
purnama penuh datang
dalam mimpimu
membebaskanmu
dari kegelapan majnun.

Kuala Lumpur










Tanah Leluhur Arakan (Rohingya)*

Kesabaranku terkandas di pulau ini
peribumi tanah segenggam ini
mengingatkan kami pendatang
yang tak diundang.

Pusat Penahanan Pulau Nauru
seperti jalan mati, apa lagi setelah ini
langit harapanmu menjadi tipis
esok penuh dengan kemungkinan.

Tak ada rasa persahabatan
kau dicurigai dan dirimu
menjadi sasaran kezaliman
dan kemarahan padamu.

Setelah berhempas
melawan gelombang
dan panas lautan
kau terkenangkan lamanmu
tanah leluhur Arakan.

Kuala Lumpur



Monday, 16 January 2017

Anak Kehilangan Ayah (Rohingya)*

Dalam takaran waktu
anak kecil ini telah
menjadi pulau di lautan
harapannya berpaut pada
matari siang
pada langit benua selatan.

Gerhana di Arakan
api mejulang
abu dan puing rumahmu
arca peninggalan Rohingya
artifak di sepanjang
perjalanan ke sempadan
sungai naf
memisahkanmu.

Malam itu
kali terakhir kau melihat
wajah seorang ayah
melepaskanmu
mencari suaka
menyeberangi laut
terbawa ke Pulau Christmas
mimpi pada ayah
masih tertinggal
di  khemah pelarian
sempadan.

Kau masih menata malammu
dengan harapan
di Pulau Nauru
dinding kalbumu
penuh coretan dan
artifak seorang anak Rohingya
membaca tanda-tanda
sekiranya ada perubahan
melangkah ke benua selatan
langit Southern Cross.

Nilai
2017







Sunday, 15 January 2017

Mungkin Esok (Rohingya)*

Di pulau terasing ini
kau menjadi batu
terdampar menunggu
kau cuba membaca
kalau ada
perubahan
langit dan bumi
ternyata segalanya
terlalu perlahan.

Tiap malam kau
terkepung empat penjuru
langkahmu terbatas
kau diam
dan tak berkata
sepatahmu.

Mimpi meredup
kau mulai kehilangan
langit impian
dan tanah Rohingya
makin jauh
terbawa angin lautan.

Di sini kau
menempel pada dinding
waktu
1, 117 hari  telah
berlalu
kau terus menghitung
mungkin esok.

Nilai
January 2017


Friday, 13 January 2017

Terapung Di lautan (Rohingya)*

Terapung di lautan
seperti buah kelapa mencari
pantai dan daratan
kedamaian hari-harimu
kering di perdu waktu
walau kau masih
mencipta impian agar
berbuah suatu hari.

Suaramu ditelan gelombang
dan badai lautan
kau pendatang kehilangan
tanah
pulau-pulau seakan menolakmu
balik ke tengah laut
tiap kali kau mendekati
daratan pantai
perahumu kehabisan
daya.

Kau tumbuh
dalam pengasingan
tapi,
tanah leluhurmu
memanggilmu pulang
dari mati berkali-kali
lebih baik mati sekali.

Nilai
2017

Tuesday, 10 January 2017

Snipper Mencari Sasaran (Syria)*

Dalam langit biru
dan runtuhan bangunan kota
bisa bertukar neraka
bom berjatuhan dari udara
letupan seperti bunga api.

Hari-harimu
tak terduga
dalam diam api bekerja
deritamu tertimbus
di bawah runtuhan
batu-batu
bangunan kosong
ada snipper
mencari sasaran.

Nilai
Januari 2017






Friday, 6 January 2017

Maut Menyergap Kotamu(Syria)*

Kau sendiri dalam kegelapan
lorong ini terlalu panjang
kata-kata telah tersingkir
dari landasan
sengketa ini seperti lingkaran
syaitan.

Kau seperti lupa ada
langit di atas runtuhan ini
siapa teman dan lawan
sekutu dan musuh
tak dapat dibedakan.

Maut menyergap
tanpa sedar ia datang
kau menyerah tanpa
perlawanan.

Nilai
2017




Wednesday, 4 January 2017

Musim Banjir (Gundah Air Dan Panah-Panah Hujan)(HE)*

Musim banjir
dingin turun
menyerap ke hujung kaki
dan bergenang di kalbumu
terkurung di dalam rumah
malam panjang
siang menunggu
air surut.

Belum ada tanda-tanda
hujan berhenti
tiada khabar jiran sebelah
di pojokan ada
anak kucing baru lahir
sejak pagi
anak-anak telah
berbaju seragam
sekejap-sekejap menjenguk
jendela.

Nadi air berdenyut cepat
pohon jambu tenggelam separuh
matamu memandang arah ke dapur
musim demam dan selesma
gelisahmu
terbayang pada anak mata.

Nilai
5 Januari 2017

*Disiarkan oleh akhbar Harian Ekspress 22 January 2017














Bom Mencederakan Anak-Anak Syria (Syria)*

Dari runtuhan bangunan kota
kabus debu berlinggar dalam udara
sebentar tadi bom jatuh tepat
suasana panik dan cemas
memandang langit
ke mana lagi sasarannya?

Ada suara terperangkap
di situ berkumpul
anak, ibu dan orang tua
yang terkepung
telah berapa kali
bom yang meletup
jatuh di bangunan
persembunyianmu.
Dalam sesaat
letupannya kuat dan
memusnahkan apa saja
yang bergerak.

Bom berjatuhan dari
langit siang dan malam
selepas ini siapa yang maut?
Anak-anak Syria
tertindih dari runtuhan
batu-batu bangunan
dadanya sesak menyedut jerebu tebal.

Tiap bom yang gugur
telah membunuh anak-anak
wanita dan warga tua
mereka tak ada kaitan
dengan perang
tapi kalian telah menjadi
mangsa keganasan kanca perang.

Kau terperangkap dalam
kotamu sendiri
perang beberapa penjuru
telah membingungkanmu
kau ingin langit damai
dan setenang lautan teduh.

Nilai
Januari 2017



Halaman Rohingya (Rohingya)*

Di lantai bumi
puing-puing rumah hanggus
barah apinya masih tak padam
bau mayat hitam terbakar
dulu perkampungan damai
riuh anak-anak Rohingya
bermain di halaman
langitmu tenang dan jernih
bumimu lembah subur.

Suatu siang
kamu melihat polis-polis tentera
berarak memasuki halamanmu
bukan datang membela
tapi membiarkan penceroboh
dan penjahat memusnahkan
harapan dan impianmu.

Tirani dan kezaliman
seteru kejahatan
telah mengusirmu
dan ingin menghapus
jejak-jeajak sejarahmu
di bumi Arakan.

Kata dan tindakan
telah diputar belit
anjing jalanan pun tak dapat
kau bohongi
kerana kamu memang
seorang penzalim
menyakiti Rohingya.


Nilai
Januari 2017

Tuesday, 3 January 2017

Tenda-Tenda Pelarian dekat Sempadan (Syria)*

Hujan telah berhenti
malam masih mendaki
ada dataran dilimpahi air
kau sendiri mengumpul
huruf-huruf yang bertaburan
kedamaian telah sirna
ada suara mengigau
dalam tenda-tenda pelarian.

Ia bermula dari satu orang
lalu semua di dalam tenda
bercakap-cakap dalam tidur
dunianya sendiri
gema suara itu makin besar
seperti ribut datang dengan kekuatan
kemudian senyap dan sepi.

Tiap malam ribut di dalam tenda
walau mereka sebenarnya tidur
kejadian ini terjadi hanya pada malam
ketika siang tiba semua
tak pernah ingat kejadian
semalam.

Dataran tenda pelarian ini
masih di situ
seperti penjara tanpa pagar berduri
penghuninya bebas
tanpa penjaga
dan das tembakan

Nilai
3 Januari 2017

Datangnya Langit Biru (Kumpulan Puisi Indah)*

Langit masih gelap
hujan turun di perbukitan
kepala air datang membawa lumpur
dataran dan halamanmu
tenggelam berhari-hari

Sedikit demi sedikit
anak tangga digenangi air

Kembang api di langit
menyambut Tahun Baru
kau tak sangka wajah hari
berubah
pantai timur dilanda banjir
udara dingin meresap
sampai ke tulang.

Sekolah-sekolah ditutup
anak-anak mengelamun
di anjung
suara ibu resah
air masih tak berubah
naik dalam diam.

Januari tiba
terkurung dalam rumahmu
esok, pasti kekuatan air
menurun
dan langit biru
sungai-sungaimu kembali
pada aras
kau dibenarkan
pulang.

Nilai
3 Januari 2017

Monday, 2 January 2017

Syria, Menunggu Musim Bunga (Syria)*

Sehari dalam hidupmu
yang terbunuh dan dibunuh
perang masih belum usai
tiap penjuru ingin
meraih selangkah
tak ada batas waktu
semua sedang berjalan.

Kau yang kandas
dan terjerat
bingung dalam
lingkaran
hujungnya tak
kau temui.

Masih mengharap
langitmu tenang
dan bumimu damai
malam-malam keliru
kau lumpuh
dalam kisaran waktu.

Kau dalam gelap
seperti menghitung
anak bintang
kota samar-samar
siang kehilangan jejak
kau, pengungsi
yang terkurung dalam
jerebu perang.

Syria
menunggu datang
musim bunga
sekalipun kotamu
hancur dan musnah.

Nilai
2 Januari 2017




Sunday, 1 January 2017

Rohingya Anak Jati Arakan (Rohingya)*

Ketika kamu ditanya
tentang Rohingya
jawabmu liar ke mana-mana
tak berpancang bumi

Rohingya anak jati
Arakan
fitnah kau lontarkan
seperti bola-bola api
ingin membakar
dan melenyapkan
langit dan bumi
Rohingya.

Kau makin buas
sepak terjangmu
dan amarahmu
telah sampai ke puncak
jahanam.

Tenteramu turun bukan
sebagai penyelamat
tapi, sebagai penindas
pemburu zalim
di lapangan terbuka.

Kau tak peduli
teguran dan peringatan
matamu api dendam
memburu seperti hygena
Rohingya, tanah leluhur.

Di hujung senjatamu
darah Rohingya menitis
sampai di sempadan
malam panjang Rohingya
harus berakhir.

Berhenti bertindak algojo
Rohingya anak Jati Arakan
dalam kalbunya damai
Myanmar, kau bukan
sebuah pulau yang terasing.

Nilai
2 Januari 2017