Monday, 17 December 2012

Selagi Ada Rindu* (Cinta)

Selagi nahkoda masih bernafas
rindunya terbang bersayap sampai
ke bulan dan hinggap mengetuk
pintu sukma kekasih, begitu
perlahan dan halus. Benih rindu
yang kau tanam di musim rembulan
purnama kini telah berkembang
dalam harum wangi bunga kenanga
dan melati. Demi waktu, kerinduan
itu tak pernah ketinggalan zaman.
Ia akan lahir dan hidup kembali
dalam lafaz terkini dalam mimpi-
mimpi indah. Nahkoda yang pulang
setelah hilang puluhan musim di
samudera lepas tanpa khabar dan
berita kini melabuhkan sauhnya
dan merapati pelabuhan cinta damai.
Ketika nahkoda terlontar di pulau
harapan, menatap langit lalu mengutus
salam pada bintang-bintang untuk
menyampaikan kasih rindunya pada
kekasih yang masih menunggu harap
kepulangan nahkoda suatu hari yang
bernama esok. Dengan berlayarkan
kerinduan, nahkoda belayar mengikut
kepala angin dari timur ke barat, utara
selatan, dari pulau yang bersahabat ke
negeri rawan yang jauh. Dari khutub
ke khutub, tak kira ribut salji, sukma
nahkoda tetap nekad membawa rindunya
ke pelabuhan cinta damai. Kini nahkoda
turun dan melangkah pertama kali di atas
jembatan rindu bumi kekasih.Nahkoda
mencium udara bumi kekasih penuh aroma
bau kekasihnya. Ke mana saja nahkoda
memandang, nahkoda melihat rindunya
menempel dan tergantung di sepanjang
jalan seperti lampu neon yang sedia
terpasang di malam kedatangan nahkoda
dari pelabuhan ke jalan besar, dari jalan
besar ke lorong-lorong, desa di pinggir
laut, mendaki bukit dan menuruni masuk
perladangan kopi, menyeberangi jembatan
rindu dendam, masuk ke halaman luas
dan di situ cinta nahkoda telah menunggu.
Lalu kekasihnya berkata kepada nahkoda,
 "Mengapa, kau terlalu lama?" "Selagi ada
rindu, kita tak akan dibelenggu oleh
waktu.," jawab nahkoda.

Kota Kinabalu
18 Disember 2012