Monday, 3 December 2012

Burung Tiung dan Tuannya (Dedikasi Kepada Teman-Teman Penyair)(Hewan)

Sejak sangkar itu kosong tergantung di halaman
rumahnya. Ia terasa sepi di pulau samudera ini.
Ia menatap langit menunggu kedatangannya.
Tiap hari lapisan langit bertukar, temannya
dalam sepi masih belum terlihat. Kekadang
ia berjalan sendiri mendongak ke pepohonan
kelapa, atau hutan belukar di hujung desa.
Segaja ia ke sana, entah telah berapa lama
ia pun tak mengira lagi. Tapi ia masih,
masih bersikeras menunggu suara itu.
Ia yakin suatu hari nanti suara itu akan
datang, menjelma dari hutan belukar atau
terbang melintas ke kepulauan lain di bawah
langit biru. Orang kampung merasa anih
melihat dirinya. Ia masih bertahan. Menyesali
dirinya. Kemarahannya tak dapat dibendung
melepaskan ia pergi. Suatu hari ia berjalan
sendiri di hujung desa. Mentari pagi mulai
meninggi. Keringatnya menitis. Tanya jawab
dalam dirinya mencari jawaban, tak terjawab.
Ia berhenti berjalan. Matanya melihat pepohonan
tinggi. Ada orang memberi salam. Ia mencari
suara itu. Ke sana ke mari. Ia menjawab salam
itu. Ia mendengarkan suara hatinya. Suara itu
seperti suaranya sendiri. Alunan suara itu tak
lain dirinya sendiri. Kemudian suara-suara itu
memaki-maki. Ia merasa tersiksa. Ada kemarahan
hampir meletus. Lalu suara itu, tertawa seperti
ia sendiri yang tertawa. Geram. Tak ia masih
tertawa kecil sendiri. Itu adalah suaranya sendiri.
Dan ia kenal betul suara itu. Suara itu pernah
diajarkan pada seekor burung tiung. Burung
peliharaannya. Ia cuba memanggil burung tiung
itu. Ia mencari-carinya ke sana ke mari tapi
tak ketemu.Ya, merasa kesal. Berjalan pulang
mengenangkan burung tiungnya

Kota Kinabalu
4 Disember 2012
*AP Volume I, 2013