Friday, 14 December 2012

Juara Pilihan Ramai (Kemerdekaan)

Kita telah menghafal impian kemerdekaan
jalan-jalan telah dibina ke pergunungan,
lembah dan daerah pedalaman. Harapan
berkilat pada tiap mata yang tak berdosa.
Kita telah membayangkan impian dalam
sukma anak-anak yang tumbuh membesar
telah jelas dalam anak matanya. Kita tak
perlu keliru, yang utama adalah keyakinan
impian kemerdekaan itu nadi berdegup.
Kita selalu berkata resepi ini adalah yang
terbaik, tapi resepi seorang ibu akan selalu
menjadi memori di serambi rasa. Kita selalu
berkata, 'Mari bersama. Kau tak pernah aku
tinggalkan.'  Alangkah manisnya, dalam
perih dan memetik harapan, selalu bersama.
Bersama, sekalipun kau ternyata berjalan
lambat dan kepayahan tapi aku selalu di
sampingmu. Dalam kata-kata terikat janji,
dalam pakatan terikat kedamaian. Kita
selalu bertanya dan bertanya, bagaimana
nanti masa depanmu. Masa depan itu harus
dihidupkan impian sekarang. Tidakkah
dulu perjuang-perjuang juga melahirkan
mimpi dan impian sebuah kemerdekaan.
Sekalipun itu akan mengambil sekurun
atau sepuluh kurun baru terjadi. Apa yang
akan terjadi dan terzahir dari mimpi dan
harapan itu, ditatah dengan perjuangan.
Suatu pagi kau menyebutkan buah limau,
lumrahnya air liur pun kembang dan terasa
masam. Lalu kau menyebut ma,'Apa
khabarnya?' Aku menggenggam harapan
dan impian. Kemudian, kau menyebut
Allah dan Rasul-Nya. Aku menunduk
kepala dan terasa sukma digenangi air
dan melimpah di tebing mata. Sekali
diingatkan lagu 'Negaraku.' Aku berdiri.
Meskipun lama aku terpisah dari hujan
hutan tropika di bumi ini, ketika irama itu
dimainkan aku masih dapat menyanyikan
lagu itu tanpa merasa kebingungan. Aku
menyanyi dari sukma. Ketika kau mainkan
lagu 'Sabah, Tanah Airku,' benar, aku
terasa kepunyaanmu. Kerana landskap, cahaya
langit dan baumu ada dalam darahku mengalir.
Melupakan ma, seperti melupakan tanah air.
Dan itu tak mungkin. Gazelku, aku pulang
kepadamu. Jadi, juara pilihan ramai.

Kota Kinabalu
14 Disember 2012
*AP Volume I, 2013