Saturday, 8 December 2012

Di Pinggir Desa Yang Didera* (Puisi)(Metamorposis)

Disebalik tabir malam kau mengintip
siapa yang tidur di atas ranjang
matahari telah beredar jauh
tapi dekurnya masih sarat
otot-otot kakinya masih kejang.
Ketika dirimu memohon
di sini ada halaman dan pohon
rendang, maafkan aku tertidur
tanpa membuka kasut
dan terlentang di berandamu.
Esok, aku akan bercerita
padamu tentang nabalu.
Kalau namamu tak disebut
bukan kerana aku melupakanmu
di lorong-lorong kota ini
aku membaca grafiti di dindingnya
di pinggir desa yang didera
menjadi kota, tinggal seorang
tua yang pernah kukenal
dalam usia yang tersayat
duduk tiap hari melihat
artefak sukmanya yang
dibongkar dan ia bagaikan
penghuni yang kalah
sekalipun ada percikan
kemarahannya. Tapi itu
semua tersekat di dalam
rongga dadanya. Yang tinggal
hanya nafas yang tercunggap-
cunggap. Perlahan-lahan
kotaraya memamah dan
mengoyak tubuhnya. Orang
pun tak bertanya lagi ke mana
perginya orang tua itu,
penghuni terakhir desa
di pinggir kota. Adakah ini
mimpi gerun?  Sekalipun
di dalam mimpi, ia datang
membuat tatoo di sukma
tanpa aku redah.

Kota Kinabalu
8 Disember 2012