Saturday, 15 December 2012

Bait Puisi (Puisi)(Metamorposis)(ITBM)

Aku mendengarmu ketika menulis puisi
lahir bait-bait puisi kau masih bercerita
tentang bulan tercuka, rumahnya yang di
tinggalkan. Aku menjawab,"Lalu, jadi,
teruskan." Aku memang pendengar baik,
biarkan dia membebat lukanya sendiri.
Ia pun mau aku menjadi pendengar baik
tanpa memberikan masukan. Kekadang
di perhentian bus, aku duduk sendiri lalu
seorang penumpang hadir menunggu bus.
Dalam menunggu aku mendengarkannya.
Ia boleh bertukar emosi adakalanya marah
dan menengking, meluahkan perasaan.
Tiada hal terselindung tentang hidupnya,
peribadi, terbuka, sex, gosif, dan terlintas
dalam kepala. Aduh, tolong sebentar.
Tolong mengerti, aku sedang berfikir. Cuba
menulis bait-bait indah dan terbaik.
Aku sedang mencari-cari kata-kata yang tepat.
Mengapa ia tak berhenti. Sekarang bukan
masanya. Maaf, aku sibuk. Tolong, aku
mengerti, segala penderitaanmu. Dalam diam,
aku telah berdoa kepada Tuhan Rahmatul
Alamen. Semoga kau diberi sayap baru,
terbanglah ke dataran hijau di pergunungan.
Hawa di sana, bersih. Kau mendambakan
kasih dan cinta tulus. Telah kupesan pada
rembulan mengirimkan cahayanya dan pada
kembang bunga melati, biar harumnya
melenakan tidurmu malam itu.

Kota Kinabalu
16 Disember 2012
*ITBM