Sunday, 9 December 2012

Pentas (Malaysia)

Pentas, kosong dan gelap
penonton belum tiba
di ruang tengah aku duduk
melihat dirimu inginkan
ruang untuk bicara.
'Wahai saudaraku, pentas itu
kosong naiklah, sebagai pemain.'
Dewan masih gelap.
Hening dan sepi.
'Pasangkan lampu.
Kau telah di bawah sorotan
lampu. Aku sabar
menunggu, mulailah satu
patah. Tak perlu menghafal
skrip.'

Sekarang pentas ini
milikmu. Kaulah pemainnya.
Drama apa yang ingin kau
mainkan wahai saudaraku.
Komedi atau Tragedi.
Aku penontonmu.
Di dewan ini, aku dan
kau. Aku mendengarmu.
Ucapkan satu kata.
Aku tak akan menilai
atau menghukummu.
Kau tau, ini drama hidupmu.
Aduh! Mengapa terpekik-pekik
dan memulai dengan bahasa
kotor. Memaki-maki. Kau marah?

Kau harus bermain
usah mengada-ngadah.
Dari kata-bicaramu
bisa aku melihat siapa
kamu sebenarnya?
Apa yang kamu mau?
Musik latar? Aduh, jangan
musik yang itu, terlalu sedih.

Sekarang kamu mau main
watak apa? Macbeth?
Cholan, Tun Perak, Uda,
Ana. Waiting for Godot,
watak yang mana, Vladimir atau Estragon.
Rama? Bukan, jadi?
Dari drama Sidang Burung
Farīd al-Dīn ʻAṭṭār.

Kau terlalu memilih
dari tadi kau mau berteriak-teriak
mengancang-ancang tangan
di udara bergerak seperti robot.
Dailog-dailogmu
slogan kosong.
Di mana sukmamu?
Kau memang pemain
yang buruk.

Lampu mati
pentas gelap
kau terkurung dalam kegelapan
aku meninggalkan dewan.

Kota Kinabalu
10 Disember 2012
*AP Volume I, 2013