Wednesday, 12 December 2012

Musim Berterus Terang*(ALBDSM)

Sebenarnya dengan nada rendah
aku ingin berterus terang padamu
tapi aku merasa kecil dan tak mampu.
Aku hanya penulis puisi, dalam
segala musim.

Aku juga ingin seperti mereka hidup
sederhana dan pulang membuatmu
senyum di depan pintu. Kau menunggu
menghitung hari, aku kembali membawa
harapan.

Kau yang sabar dan setia membaca
puisi-puisiku. Setiap huruf, kata dan
kalimat, kau mencari makna yang
tersirat. Puisi yang kutulis bukan
membuatmu terlelap menunggu
makanan terhidang. Tidak juga
aku mencipta puisi sebagai isyarat
kepadamu lalu memanggilmu.

Suaraku boleh sampai ke puncak nabahu
dan lebih jauh ke orbit baru
mendeklamasikan puisi-puisi
karisma dan semangat masih ketal,
mencipta impian dan dunia baru, aku
memang boleh. Tapi puisi-puisi itu bukan
sihir. Ia lahir dari ketulusan dan sukma
yang pasrah.

Kepadamu yang ingin mendengar
dan tentang impian dunia baru
aku tak akan berhenti memberi
khabar dan pesan kedamaian di
dalam tiap puisi. Aku tak akan
pernah menconteng kebenaran, apa
lagi berdiri menentang langit samawi.

Kata-kataku tak pernah miskin
dan tak pernah  menjadi durhaka
atau diselaput dengan kebohongan.
Kata-kata di tanah penyair akan
menjadi taman dan sumber inspirasi
sezaman.

Kota Kinabalu
12 Disember 2012


*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
 *AP Volume 1, 2013