Sunday, 9 December 2012

Makna Di Sebalik Gerak* (Puisi)(Metamorposis)

Ya Tuhan, banyak yang belum dimengerti
yang tersentuh sukma adalah rahmatmu
rupanya prasangka itu adalah kekeliruan
turun dalam mimpi gerun di malam salji.

Adakalanya berdiri di tengah traffik kota
raya, patah niatmu melangkah membuat
keputusan arah mana patut diambil ketika
lampu merah menyala lalu bertukar hijau.

Di tengah gelanggang, penonton masih
ingin yang lebih kejam dan pergelutan
lebih parah. Ketika perlawanan mula,
loceng dibunyikan, pengadil memberi
isyarat mulai, penonton pun menjadi
gila dan meloncat-loncat di atas kerusi.
"Kami mau darah, kami mau darah."

Sekiranya kekerasan boleh dibumikan
alangkah baiknya api permusuhan dapat
direndamkan ke dalam samudera lautan
bila kata tak berfungsi sebagai pendamai
jerebu tipu muslihat terkandung dalam udara.

Ketika gol tersumbat masuk ke pintu
sorak-sorai kembang api dinyalakan
tapi ketika leher manusia sejagat siap
untuk dipenggal kita masih duduk
berunding membuang-buang masa
banyak perkara diterbangkan angin.

Kota Kinabalu
9 Disember 2012