Wednesday, 14 November 2012

Naratif Mencium Bau Debu (Ketuhanan)

Kita telah jauh di hujung rambut kepulauan ini
setelah ini adalah lautan yang luas terbentang,
laut Sulu. Sejak mula aku tak pernah menoleh
yang jelas begitu cepat aku menerpa ke depan
kau cepat pula menghilang jauh ke belakang.
semua orang ingin hidupnya sempurna demikian
pula hewan yang berkeliaran di padang luas
Kekadang terfikir segala-galanya akan berjalan
sebaiknya tapi tanpa sedar dari rimbunan semak
itu ada sekumpulan hewan (kalau tidak sendiri),
bergerak perlahan ke arah mangsanya. Yang di
buru mengharapkan harinya seperti sebelumnya.
Kalau memang ada bala yang datang menimpa
biarlah bukan hari ini. Aku telah mendokongmu
sejak permulaan perjalanan ini. Di saat-saat
kritis aku menyanyikanmu supaya kau tak terasa
jauhnya perjalanan ini, aku selalu memperlihatkan
mu yang manis-manis belaka. Ketika kau tidur
aku berjaga memastikan tidurmu tak terganggu.
Ketika aku sakit, aku menyembunyi ngerang
dan mengaduh. Kita tak boleh berpatah balik.
Biarlah mereka yang menyaksi dalam gelap,
berseloka, yang pembual antara mereka akan
terus mencipta cerita-cerita rekaan, mereka
kecanduan dengan cerita-cerita begitu, cerita
Zulikha. Semalam, aku mencium bau debu
ladang yang terbakar, bau debu rumah yang
terbakar, dan bau debu dari daerah-daerah
perang, bau debu hutan jati, bau debu jalanan
yang melekat di kaki tumit.

Kudat
14 November 2012
*ITBM (Bahagian II)