Saturday, 10 November 2012

Mimpi Seekor Ikan Dolpin (Hewan)

Suatu siang kau mengeluh
lautmu tak seluas terasa
seperti di dalam peti kaca.
Kesabaranku telah sampai
ke puncak, katamu sambil
melihat negeri jauh dari
aras air lautan. Seekor ikan
sederhana kecil, seperti aku
menjadi habuan kepada yang
lain. Jerung masih perkasa,
Raja laut. Hari itu aku
menghampiri  sebuah pulau.
Terdengar penghuninya
bersedu-sedan kerana air
telah naik ke pengkal kaki.
Mereka risau, ombak telah
masuk tindih-menindih sampai
ke halaman, kebun ubi manis
tenggelam dalam air masin.
Lalu aku beralih dari pulau
sepi, mencari dataran baru.
Aduh, mereka menumbang
pohon kayu dan terus membongkar
kayu bakau. Desa di hujung
tanjung,  hutan jati telah
hanggus dan terbakar jauh
sampai ke dalam. Langit jerebu
penuh di dalam paru-parunya
sampai ke sempadan luar
negerinya. Laut bergelora,
gempa bumi datang dalam
senyap. Musim taufan memanjang.
Aku seekor ikan, ikan dolpin
di sini hukum rimba, hukum laut,
siapa perkasa, dialah yang
memerintah laut. Melihat kejahatan
tanpa berbuat, adalah kekejaman.
Tapi ingin melakukan sesuatu,
dan tak berdaya, lagi parah!
Aku ingin berhijrah ke daratan
walau hanya sebentar. Seekor
ikan terus bermimpi, berpindah
ke daratan. Siang itu, ia
mengucapkan selamat tinggal
kepada laut, pada bunga carol,
pada perkebunan Kelapa. Ia
berhanyut-hanyut dan perlahan-
perlahan terlentang di pantai pasir putih.
Mentari baru sejengkal. Oh , aku
dapat melihatmu, laut tohor,
mengendur jauh ke belakang.
Mulai ia merasakan nafasnya
memberat dan melemah.
Apapun yang bakal terjadi,
aku redah. Ia tak bergerak,
keputusan telah diambil.
Biar siang ini menjadi saksi.
aku sudah berada di negeri
yang jauh. Nafasnya mengendur.
Selamat tinggal lautan,
Esoknya, nelayan dari pulau
menemukan seekor ikan
dolpin terbujur kaku di tepi
pantai pasir putih.

Kota Kinabalu
11 November 2012

*Antologi Suara Penyair, 2012.
*ITBM (Bahagian II)