Tuesday, 13 November 2012

Bau Mentari Pagi* (Indah)

Aku mencium bau mentari pagi
angin teluk menerpa ke dataran
kotamu bangun. Fajar tadi,
panggilanmu tetap melintas
ke gendang telinga sekalipun
sederhana. Dari lorong kotamu,
aku sampai ke halamanmu
tanpa taman bunga dan kebun
sayur, tak ada pokok mangga
dan berpagar dan di pinggir laut.
Sebuah rumah adalah mimpi
setiap orang, impian seorang isteri.
Hujan turun, jatuh terus ke tanah
warna kepayas muda. Aku duduk
lalu kau memperkenalkan pendekar-
pendekar kecil pribumi satu persatu.
Seperti anak-anak, mereka senang
menerima tamu. Duduk bersila,
makan bersama. Ya, ketika angin
bertukar rentak, laut juga ikut
ombak kecil berdebur di pantai
menjadi gelombang di samudera.
Angin dari kipas seperti angin
lautan tapi di sini nahkodanya
bisa membaca mata angin, sekalipun
angin kencang, pelayarannya selalu
selamat sampai ke pelabuhan damai.
Aku melihat dindingnya seperti
kubu-kubu yang kuat menentang
serang hendap musuh, cuma kubunya
diperbuat dari papan plywood.
Aku melihat ke dalam matanya
masih aku melihat dinding-dinding
sukmanya. Dan dinding-dinding itu
tersangkut bingkar gambar dengan
sijil kegemilangan, anugerah dan
penghargaan. Ia memang seorang
tokoh yang hidup dan tak pernah meminta.
Di jalan pulang, aku lepaskan anak
kata terbang berkepak dan menempel
di gua sukmamu, menjadi artifak
puisi yang abadi.

Kudat
14 November 2012
*ITBM (Bahagian II)