Friday, 9 November 2012

Aku Berdoa Dalam Kata-Kata Sederhana Dalam Bahasa Yang Segar. (Ketuhanan)

Duduklah di sini, lama kita tak berbual
dulu di halaman ini kau selalu datang dan
duduk bercerita atau tentang apa saja
kekadang kita berbual tentang langit
yang berlapis-lapis, berdebat tentang
sebiji nasi yang jatuh di atas lantai.
Tapi ada waktunya kita duduk berkelakar,
ketawa tak tentu fasal, hanya melihat
kucing yang meow kerana musimnya.
Atau mendengar cerita turun-temurun.
Tiap anak adam merasa zamannya itu
adalah zaman yang terindah dan asyik.
Aku lahir dan hidup dari kurun lalu
dan kurun 21 ini, menjadi saksi pada
kebenaran dari firasat yang mengalir.
Mengapa? Kebiasan orang suka menimbus
kebenaran sampai jauh ke dasar bumi.
Kebenaran itu adalah permata yang
bernilai sekalipun kau berusaha
menebuk langit dan menyembunyikan.
Ia tetap batu permata yang bernilai,
sekali kau mengilapnya ia akan berkilau
dan gemerlapan indahnya. Kau bercerita,
tak terasa air matamu turun bagai air
hujan. Kekadang duka laramu melekat
pada wajahmu. Kala kau gembira, kau
tersenyum dan ketawa dengan nafas
tertahan-tahan. Kegelisahanmu tersembunyi
di piinggir matamu. Kalau kau mencari
kepuasan, bukan di sini. Kepuasan jiwamu.
Ya Rabbi, aku masih dapat menyatakan
kepada-Mu dalam bahasa kelahiranku.
Tiap patah kata itu lahir dari sukma
yang digarap dalam kata-kata kasih
dan tulus. Bahasaku bukan bahasa
yang dimanipulasikan. Bahasa ini
adalah bahasa yang membayangkan
rasa kedekatan dengan-Mu. Ketika
aku berdoa dalam kata-kata sederhana
dalam bahasa yang segar dan lincah
tapi yang keluar dari hujung lidah
adalah kebenaran kata-kata dan
kebenaran dari sukmaku.

Kota Kinabalu
10 November 2012
*ITBM