Tuesday, 27 November 2012

Mengingatimu Kembali* (Cinta)

Aku berdiam bukan kerana tak mendengarmu
hanya aku mencari kata yang terbaik buatmu.
Barangkali aku telah menderahmu di sepanjang
perjalanan. Kalau aku mengasarimu sedang
aku ingin jendelamu tersingkap membiarkan
cahaya mentari pagi menyentuhmu.

Aku tak dapat memakai kata-kata kasar
sekalipun aku mau dan tergoda. Tapi sukmaku
tersiksa. Keindahan rembulan di singgahsana
tetap suatu keindahan, anugerah-Mu sejak
masa silam telah turun sebagai firasat dan
inspirasi kepadamu.

Mengapa kau harus menconteng kanvas langit
dengan warna hitam dan kematian. Kata-kata
bagai bara api, dan aku melihatnya berjatuhan
tak jauh di depan kakiku. Apapun, malam panjang
yang kauciptakan sendiri tak akan selamanya.
Pasti siang datang dengan kelopak-kelopak
mewangi dari taman samawi.

Aku sedar, di dalam tiap kata yang menjadi
kalimat ada racun yang menuba terselit di celah-
celah kehadiranmu. Kata-katamu bukan kasih-sayang
dan bukan pula sebuah harapan. Antara aku dan kau
ada ranjau-ranjau yang kau buat di jalan berlumpur ini.
 
Sekarang, kegelisahanku telah meredah. Pecahannya tak
terpijak lagi di bumi tapi telah terbang ke mentari dan sirna.
Aku akan terus melangkah dan kepadamu, aku akan
selalu menulis puisi. Telah aku lepaskan merpati putih
dari sukma terbang ke cakerawala.

Kota Kinabalu
28 November 2012