Thursday, 29 November 2012

Mesapol Menunggu Sapaan (Mama)

Malam ini aku mengingatimu
Mesapol, nama itu kembali
kau bukan sebuah kotaraya
tapi sebuah desa yang sepi
menunggu hadirnya sapaan.
Dari halaman rimbamu, aku
melihat airmatamu jatuh
menitik ke atas bumi. Kau
bertanya mengapa tiada
khabar si burung punai,
kera di hutan telah lama
meninggalkan sulap.
Pelanduk di hutanmu
menjauh ke hutan jiran.
Mesapol, kusapa kau
dalam puisi sekalipun
kau menganggap nyanyian
di pinggir jalan atau igau
di malam hari. Suara rimba,
getah tua, tanah sejengkal,
desa bagai pohon tak tumbuh
semuanya kuresapkan
ke dalam genta puisi.
Rumah kosong di kaki
bukit, pohon Bambangan
dan pohon bambu masih
memanggilmu. Tapi saudaraku
yang duduk di sana masih tak
mendengar ketukan pintu
suatu siang yang kelabu.
Ada waktunya air pasang
surut. Rembulan pulang
ke horizon di hujung malam.
Mentari menyingkap hari baru.
Aku akan memanggilmu
dengan panggilan yang
lembut hingga kau menoleh
dan melihatku. Kerana kau
dan aku bukan apa-apa
tapi saling menguatkan
satu sama lain.

Kota Kinabalu
30 November 2012