Saturday, 13 April 2013

Tanah Wakaf (Suasana)*

Suatu siang, mentari masih gagah
kami mendatangimu. Sekian lama
aku tak berkunjung. Bagaikan
mimpi, ketika berdiri memandangmu.
Di sini pernah ada sebuah rumah kayu
dan tinggal seorang tua pribumi ke mana-
mana rembulan ikut seperti bayangan.

Ia seorang kekasih yang taat, sampai
kiamat menjemputnya ia pegang
dan tak ingin melepas tali arus. Jembatan
gantung itu, jalan menitih ke sawah padi,
masih di situ.

Rumah kayu itu telah diroboh
pokok buah-buahan telah dikerat
keliling. Pokok kopi, jambu air
dan kelapa rapuh dan menjadi tanah.

Matamu menanggung rahsia semalam,
menyepi di dalam sukma. Kini ia telah
menjadi tanah wakap di pinggir jalan
kampung. Anak-anakmu telah berhenti
melepar debu sesama sendiri.

Kota Kinabalu
13 April 2013