Wednesday, 17 April 2013

Metropolis Dan Penyair* (Puisi)(Metamorposis)


Malam condong ke tengah malam
aku masih di langit malam Lautan China Selatan
kapal terbang meluncur ke alam mimpi
sendiri melawan kantuk, Kuala Lumpur
nafas kotamu semakin terhidu.

Aku tiba
melangkah perlahan, tubuh ini
menyerap hawa panas metropolis KL.
Penumpang
mengakhiri perjalanan di sini
menutup pintu teksi sedikit keras
seperti membuat pacuan terakhir
tanpa menoleh.

Di perhentian bus, jam 2.30 pagi
ada orang masih memesan makan
minum-minum
berbual
menunggu dan tertidur.

Bukan di tanah asing,
tapi di tanah air.
Bahasa sukma telah
mendatangimu
seakan aku lupa pada wajahmu
tapi suara itu bicara bersambung
dari masa silam.

Duduk sendiri
antara penyair dan penulis besar
dalam dewan.
Kalau memang orang kecil
lebih baik diam dan mendengar.

Tiap kata pemidato
ketenangan menyerap sukma penonton
tiap kata bersemangat
disambut dengan tepuk sorak.

Semua orang mau dikenal
acara pun berkenal mesra.
Kau ingin bertentang mata
dan berjabat tangan atau salam terucap.

Sendiri menyemak fikiran
sedang mereka telah pergi
suara orang kecil didengar 

jauh di belakang.
Asalkan dapat berbual akan
mendekatkan jarak.

Kutemui teman penyair
telah banyak berubah
ia punya langit sebagai payung
dan dataran tempat berpijak
hanya ia sekarang seperti
pokok getah tumbang
di tanah tanam semula.

Siang itu ramah-tamah
kota metropolis
mengalih pandangannya
pada tetamu dan acara baru.

Kota Kinabalu
17 April 2013