Tuesday, 16 April 2013

Menyair Itu*(ABMMK)

Menyair itu bukan apa-apa
kata-kata yang ditulis lalu terucap
tiap baris sumbernya dari keteduhan
sukma mengalir ke dalam jiwamu.

Ketika gundahmu seperti perahu
yang akan tengggelam, kau melihat
tanah seberang atau sebuah pulau kecil
setidaknya kau berenang singgah dan
berhenti mengatur nafas.

Barangkali kau tak melihat ke dunia
ini kerana kau menganggap ia terlalu
kecil. Aku pun tak berlagak seperti
mentari atau purnama yang menakluki
dan memberikan harapan.

Tapi aku pula bukan singa
pemburu lalu mencengkam
batang leher
mangsanya dan meratakan
ke dasar bumi.

Sentuhan ini tak melukakan
tapi kau terasa kehadiranku
ada di situ. Aku melihatmu
tapi kau mungkin tak melihatku.

Aku tak menghitung perubahan
atau melepaskan kembang api,
perarakan dan durhaka.

Dipilih diksi yang sederhana
tiada ruang kau tak memahami
perlambangan itu tumbuh dan
melahirkan lembah dan gunung
laut dan langit, kejujuran dan
kebenaran yang terjangkau.

Bahasamu telah berhenti dari
merayu dan merayau dan
bermuka-muka dalam kebohongan.
Di pinggir kota atau di desa
pedalaman aku memanggilmu
supaya kau terbiasa mendengar
bahasa puisi. Dan esok kau tak
bertanya lagi.

Kota Kinabalu
17 April 2013

**AP Bebas Melata MELANTUN KASIH, EDITOR, Othman Ramli, Sarjana Media SDN                               BHD, 2013.