Tuesday, 23 April 2013

Kamu Penumpang Terakhir*(AKL)

Katamu, 'Tak ada kapal lagi selepas ini.
Kamu penumpang terakhir.'

Lautan membaca langit kalau ada perubahan sedikit
langit pula bagai terpaku melihat nahkoda memberi
isyarat, kapal berundur merenggangkan diri dari pelabuhan.
Penumpang melambaikan tangan. Tapi ini bukan bathera Nuh.

Ia berdiri memandang kapal menjauh. Dan hilang.
Sendiri.

Menjelang setahun. Rambut dan janggutnya memanjang.
Purnama tetap berkunjung. Tapi di pulau ini,
ia tak melihat petani, buruh, nelayan apa lagi teksi dan bus.
Sekarang ia boleh tidur semaunya, tidak seperti malam pertama
sendirian di sebuah pulau terasing di tengah lautan.

Ia tak pernah mengelak dari ketemu dirinya, menempel
di mana-mana, di pokok kelapa, di atas bukit atau pantai
pasir putih. Ia di mana-mana, cuma sukmanya satu.
Keuntungannya sendiri, ia dapat berdoa, tenang.

Kata-katanya menjadi puisi mengalir dari sukmanya,
tak ingin berhenti. Mengalir terus. Dan ia tak membendung
puisi-puisi sukmanya.

Ia merasa langit dan bumi yang dipijaknya tanpa sempadan.
Ia tak ambil pusing tentang dunia. Kebutuhannya tak pernah
tak ada. Ketika ia haus begitu mencekik lehernya, langit
menurunkan hujan. Ketika kelaparannya tak tertolong,
laut memberikan rezeki, hutan di bukit menggugurkan
buah-buah yang manis.

Ia tak pernah merasakan ini adalah suatu yang anih.
Kerana yang mustahil akan menjadi kebenaran dan
kenyataan.Ia tak pernah kesunyian. Nahkoda meninggalkannya
sebagai hukuman. Memutuskan hubungannya dengan luar
disangkakan akan mengendur perjuangannya.

Di pulau ini ia menulis puisi-puisinya kepada Tuhan.
inspirasinya tak pernah tohor, tiap kata turun bagai
air yang mengalir terus dan tak berhenti. Terus-
menerus, sampai ia terlena. Ketika esok ia bangun
ia akan terus menulis lagi kepada Tuhan tak berhenti.
Dan ia tak pernah bosan apa lagi letih. Dan Tuhan memberi
kekuatan pada kata-katanya, bila terhimpun menjadi
kekuatan tak dapat dikalahkan.

Tahun bertahun ia pernah duduk menunggu kapal yang
tersasar dan menemukannya di sini. Tapi itu telah
berlalu. Ia tak pernah menunggu lagi.

Suatu hari di horizon ia melihat kepul-kepul asap
bergerak perlahan ke arah pulaunya. Ia tak berganjak.
Melihat kapal itu makin mendekat, entah dari mana
asalnya. Apakah kapal ini pernah hadir dalam mimpinya
atau kapal Pendatang Asing ke sasar di lautan mencari benua baru?

Kota Kinabalu
23 April 2013
*AP 10 Penyair,'Kembang Langit', Qamaruddin Assa'adah, 25 April 2013 (Mei 10)