Monday, 22 April 2013

Pintu Restoran 24 Jam


Pintu restoran ini terbuka 24 jam
tak pernah ditutup dan tak pernah tidur.

Tiap hari dari sepasang kaki
sampai ratusan kaki masuk
lewat pintu restoran.

Tiap pasangan kaki membawa ceritanya
sendiri.
kaki bertumit tinggi
tanpa kasut
berselipar
kasut sport
kaki peniaga
kaki orang politik
kaki orang kecil
kaki orang lapar
kaki pembohong
kaki bayang-bayang
kaki rasuah
kaki orang sakit.

Ada yang berhenti di depan  pintu
melihat ke dalam lalu patah balik.

Di  penjuru dua meja  penuh
sekumpulan orang baru balik
dari berkempen politik.

Di meja lain ada pula
sekumpulan orang lain
baru balik dari memasang
bendera di jalan-jalan di kotaraya.

Yang di ruang tengah, beberapa mahasiswa
makan dengan bujet
sederhana, mengunyah dengan hati-hati.

Pintu restoran ini dibuka lebar
sepanjang hari berpasang kaki
keluar masuk sesuka hati.

Ada yang makan dengan doa
ada yang makan terus makan
tapi ada, mencuci tangan dulu
ada makannya tertib dan perlahan
ada makan terlalu cepat seperti mengejar waktu.

Pintu restoran ini terbuka
pada semua orang
dari bajunya berseterika
yang kulitnya tak pernah disentuh lama oleh matahari
sampai gelandangan di kaki lima yang kotor.
dari mereka yang bercinta dan bermanja
kepada janda muda
dan buruh di jalanan
dan kumpulan berbaju jubah putih
baru pulang dari perjalanan sebulan.

Pintu restoran ini terbuka
kepada semua orang
yang buncit perut dan kurus seperti bambu
yang berselera dan makan sedikit
turis, orang berwang, taukeh dan PTI.
Ya, kami menyediakan
mengikut selera masing-masing.

'Masuk, makan bang?'
Kebetulan yang singgah
sepasang kaki
selalu di pelabuhan Barter Trade
tangannya masih tersapu minyak makan
sambil merokok Champion melihat ke dalam.

Pintu restoran ini menerima
orang baru pulang jogging
sampai pelanggan terakhir kutu malam.

Siapa saja masuk, dan
tuan restoran tak pernah melihat
kaki-kakimu,  jelas ada
yang berbulu lebat dan dicukur halus.
Yang berseluar pendek dan bertudung labuh.

Pintu restoran 24 jam,
tempat persinggahan
bus berhenti
dan restoran kesukaan nenek tua
ketika pulang kampung
di atasnya ada loteng tempat bermalam.

Kota Kinabalu
23 April 2013