Thursday, 16 May 2013

Penyair Dengan Sayap Lilin*(ALBDSM)

Semua orang mau cahaya lampu sorot
dan pentas buatnya sendiri
metafora dan kata-kata
menjadi batu keras dan kaku.

Semalam, ia berkata adalah
seorang penyair bergayutan pada
rembulan dan bintang gemerlapan.
Dalam senyap
ia membina pagar-pagar
seperti tembok China
sampai ke sukma lawan.

Peristiwa malam itu
adalah peringatan, kata-kata
meletus seperti mercun.
Seorang penyair
menyembur warna
seperti pesta warna.
Tapi di dalam perigi butanya sendiri
ada rahsia
yang menjadi pasir.

Aku melihatmu, penyair
berdandan rapi berbaju melayu
dari mulutmu
kau mendeklmasikan puisi
menekan diksi dan menaikkan suaramu
kata-kata kehilangan sayap dan
tenggelam dalam makna.

Seperti burung
kau melebarkan kepakmu.
terbang tinggi menembus awan
Penyair
ini langitmu, alam maya
juga pada Icarus
Kau melayang mengikut
sukmamu
hingga mencium pintu
langit
mengintip mentari perkasa
lalu
lilin di kepakmu mencair.

Kota Kinabalu
16 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013