Sunday, 12 May 2013

Meja 11, Hari Puisi Nasional ke 19*(UB)

Bila aku menyebut meja 11, tiada apa-apa
yang patut kau bimbangkan. Aku, orang kecil
dalam samudera lautan luas, langit biru
dan hamparan pulau-pulau.

Aku tak mengharapkan angin datang
melayarku jauh apalagi pada pertembungan
arus arah mana perahu kecil ini.

Sekurangnya aku duduk bersama
pak dalang, antara pemain gong, keci, serunai
dan canang. Menunggu Pak Dogol
muncul dilayar putih.

Belum waktunya aku membacakan
bait-bait puisi. Rimbamu pun tak mengenalku
aku pun tak ingin menolak-nolak diri
jatuh berdiri di bawah lampu sorot langit
terbuka.

Aku orang kecil yang menulis puisi
kekadang dari simpang mengayau
atau dari puncak Nabalu dan angan-angan
dari Pulau Sebatik sampai ke pulau Galapagos.

Aku selalu berkata tentang kebebasan dan jati diri
dan kau bicara tentang 'menguasai' membuat
sempadan, dan dirimu ketinggalan kapal.

Suaraku adalah suara nusantara dan
menjangkau langit dan menelusuri obit baru
tapi masih berpijak di bumi.

Ketika aku menulis dalam bahasa Melayu
jangan kau pertingkaikan tentang penbenderaan kata
telor dan loghat. Kau bukan sendiri pewaris,
aku pun lahir di bawah langit pribumi dan
akarnya sampai ke pusat bumi.

Saudaraku, bicaralah semaumu
tiap kita adalah yang terbaik di zamannya!

Pulau Pinang

* Tersiar Di Utusan Borneo 19 Mei 2013