Saturday, 25 May 2013

Nasi Beratur*(ALBDSM)

Kami menyisip ke dalam malam
di lorong-lorong kota pulau mutiara
genderang perang telah berhenti
dan lagu berjalan santai telah mulai.
Jentayu, bawalah kami terbang
dalam waktu berdetak
terlalu singkat untuk menebus
kerinduan.

Dulu aku pernah menawan bintang-
bintang malammu dan memeluk
rembulan di Port Cornwallis. Dan
Pulau Jerejak, kau masih di situ
sabar, menunggu nahkoda pulang.

Malam itu kami tamu asing
mencium dari kotarayamu
yang sepi, Nasi Beratok,
katamu sambil mengintai
langit Rawana.

Kami merobek malam
sambil mengunyah nasi.
Sita tidur di atas lantai tak
beralas, masih menjolok mimpi
Rama datang menyelamatkannya.
Sesekali mengaru kelekangnya
dan anaknya tidur disisinya.

Kekadang pengunjung malam
menitip wang, atau melemparkannya
sedang mereka masih tidur.

Di jalan pulang kami
bertemu  Hanuman dengan
balatenteranya menunggang
motorsikal masuk keluar lampu
isyarat.

Katanya, 'Ada demo di waktu malam.'

Pulau Pinang
10 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013