Tuesday, 21 May 2013

Orang Tua Menunggu Matahari Siang*(ALBDSM)

Siapakah di dalam bayang lampu
di tengah malam masih bangun?
Malammu gundah
sukmamu gelisah.

Masanya telah tiba untuk berangkat
aku ingin meraihmu
telah lama kau kutinggalkan.

Di sini fikiranmu
berkocak dan langitmu tak tenteram.

Kau hanya ingin
mati hidupmu di rumah
yang kau kenali.

Mengapa mereka tak mengerti
ketika aku membangunkanmu
dalam tidur selesa
kau berpusing ke kanan dan
ke kiri tanpa mendengarku.

Nafasmu terasa sendat
rumah ini terasa kecil
Kau mau berangkat
Kau hanya ingin berada
di halamanmu.

Aduhai! Siapa ingin
mendengar keluh-kisah
orang tua semacam ini?
Kau mulai bongkok
dan bergigi jarang.

Kalian memang anakku
tetapi kalian menjadi terlalu
asing dan perbualan kami tak
pernah bertemu. Dan pertanyaan
yang terucap menjadikan kalian
bingung. Dan jawaban
bercelaruh dan tak bermakna.

Kau memang seorang tua
adat bertemu dan berpisah
mengapa kamu tak mau mengerti
usia 80 tahun ini.

Biarlah kamu dan keluarga
hidup aman dan damai.
Kau hanya ingin pulang,
tidak terlalu banyak yang diminta.

Di sini kau menjadi sakit
sakit yang kau sendiri tak
mengerti. Barangkali pertukaran
cuaca,  membuat semua orang sakit.
Kau merenung matamu
antara kenal dan tak kenal.
Tapi kalian tetap menyakinkan
kau adalah anak-anak ma.

Malam berantakan
kau mulai mengaduh sakit
jiwa ini punah
sukmamu ikut melemah.
Kau ingin pulang
setelah mengemas berhari-hari.

Aduh, biarkan kau pergi
bila kemarahan ini memuncak
menjadi gunung berani
ingin memuntahkan segala isi.
Atau duduk murung di penjuru kamar.
Sendiri.

Ada yang ingin kau pesan ma?
Kau ingin berangkat.
Kau tak ingin ketinggalan keretapi.

Tapi sekarang sudah jauh malam
tidurlah ma, besok ma boleh berangkat.

Kota Kinabalu
22 Mei 2013


*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013