Wednesday, 15 May 2013

Ada Sesuatu Terpaksa Aku Merelakan*(ALBDSM)


Di jalan pulang aku memandang pada
langit mencari sekutu, pada laut Pulau Gaya
dan Manukan, seakan melambai
menjawab salam.

Tiap wajah memandang ke depan dan
masing-masing terbawa oleh buaian
ada apa lagi setelah ini. Ada soalan
tak perlu dijawab, bagai benih yang jatuh
di dalam belukar berhempas-pulas tumbuh
di celah-celah onak duri dan semak
ingin lebih tinggi mencapai cahaya.

Ada sesuatu tak patut dipandang
tapi seperti terperangkap aku melihatnya.
Seekor kucing dalam kesibukan bus
terduduk di dalam parit kecil. Kaki punggung
belakangnya patah. Tapi ia masih bisa
menggeow, cuma tak dapat bergerak jauh.
Di jalan pulang, aku memandangnya tanpa
dapat berbuat apa-apa.

Terminal bus tetap sibuk. Penumpang tergesa
pulang. Hujan turun sekadar, cukup
mematahkan sayap-sayap debu di atas jalanan.
Siapakah yang duduk  berhampiran
lampu isyarat, semalam dan hari ini,
bersongkok dan berusia, sambil tangan ditadah.

Esok kucing di bus terminal itu telah tiada
orang bilang ia hanya seekor hewan.
Dan lelaki tua yang bersongkok itu
mungkin bertarung dengan nasib
antara laluan orang dan lampu isyarat.

Aku menghirup udara lembab
dan sukma ini terperas. Ada sesuatu
terpaksa aku merelakan
terdorong ke sudut dan tak dapat
berbuat.

Kota Kinabalu
15 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013