Saturday, 18 May 2013

Air Terjun*(ALBSM)

Aku memandang wajahmu
kesempurnaan
seorang insan anugerah dari langit
yang tak pernah mendustakan.

Tiada yang kurang, dari hujung
kepala sampai ke hujung kaki
kita mengkagumi penciptaan ini.

Pencipta setitis nuftah  lalu
menjadi seorang anak insan
yang bernafas lahir dari rahim
seorang ibu.

Dari sukma dan otak ini
anak manusia ini dapat
menyelami galaksi dan orbit
baru. Perkasa dan sempurna
penciptaannya. Anugerah
terbaik.

Lalu kau diajarkan bahasa
yang memikat dan indah
lahir dari budaya dan tradisi
anak manusia sejak adam
dan hawa dinobatkan
peradaban yang berkembang
jatuh bangun suatu bangsa
tak akan memutuskan tali
itu sampai qiyamat.

Kau dari tanah liat yang
diulit dengan air, yang
tumbuh dari benih kasih-
sayang. Dan ayat-ayat itu
dibacakan dan menina
bobokmu hingga kau tertidur.

Kau dan aku dibesarkan
dalam kecintaan yang murni
mengangkat kemanusiaan
pada puncak yang paling
tinggi, seperti matahari
dan bulan dan bumi
saling terkait.

Aku samasekali tak percaya
kau mengutus kebenaran
di hujung M-16 dan grenade
dan di mesjid jatuh korban.
Tak ada logika
keindahan tak akan tertawan
dengan kezaliman dan kekejaman.
Syurga ilusi, fatamorgana
Kau menuju ke tanah gersang
dan tandus. Langit sirkah.
Kalau kau memilih ini,
jalan pulangmu adalah
inferno membakar sukma.

Ketika bahang siang keterlaluan
Kau menurunkan hujan
merembes dan menyejukkan
sukma. Lalu datanglah malam
dengan rembulan dan angin sejuk
Sungguh, kau dan aku dikudratkan
menjadi air yang mengalir lalu
terkumpul menjadi air terjun.

Kota Kinabalu
18 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*Antologi Kemerdekaan