Monday, 13 May 2013

Kuda Semberani, Bertahanlah Walau Sesaat*(UB)(Indah)(Terbit)

Ketika aku berpergian meninggalkanmu
kelip mata dan renungan selalu hinggap
di dahan dan mengenangkanmu. Semakin
jauh jarak waktu dan semakin jauh bumi
kulangkahi bagai memeram buah menjadi
ranum dan kerinduan itu tumbuh berkepak
dengan sayap yang lebar.

Saat sukmaku berkata cukup, waktunya
telah tiba aku harus pulang. Langit dan bumi
serentak berkata,'Ya. Kau telah lama musafirku
menjadi burung. Pulanglah langit sirkah.'
Pacu kuda semberanimu, kau masih
belum terlambat. Yang kau cintai, masih melihat
langit dan memandang lautan. Pulanglah, bukan
sebagai Tanggang tapi  Karuhai.

Ya Rabbi, ada yang tak terbaca dan tersirat. Aku
tak akan berhenti memacu kuda semberani sampai
asal tujuan. Mereka yang kutinggalkan,
kini aku datang. Dan aku tak akan melewatkan
walau sesaat kepulangan ini.

Kuda semberaniku, kau memang lelah, bertahanlah
aku dan kau satu nadi dan sukma. Lihatlah aku telah melihat
mereka. Di hujung dataran hijau, banjaran Crocker
adalah halaman kasih sayang. Aku, anak Khatulistiwa
pulang kepadamu.

Kota Kinabalu
14 Mei 2013


*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*Tersiar Di Utusan Borneo 19 Mei 2013