Wednesday, 17 July 2013

Saat Sebelum Sungkai Ramadan

Kami menunggu sabar
di tanah wakaf di pinggir jalan.
Waktu menunggu seperti meninggalkan
negeri jauh kini mulai merapati
dermaga. Anak-anak kapal mulai
sibuk dan penumpang-penumpang
berdiri bergegas, perlahan-lahan
ke pintu keluar, lalu turun ke pelabuhan.

Aduhai ketenangan menunggu
bersungkai. Tukang bang telahpun
mengambil wudhu, berkumur-kumur,
menyapu mukanya, lenggan ke siku,
dan kaki. Air mengalir dari hujung
tumitnya. Langit bergerak bertukar warna
seperti tafsiran seorang pelukis
di waktu senja. Merah sirkah.

Tukang bang memasuki  ruang
tengah solat. Tiap mata dan telinga
mengikuti setiap gerak dan lakunya.
Kami masih menunggu pada kalimat
pertama.

Aduhai sukma, selangkah lagi kau
akan berada di daratan dan menghirup
udara. Kau adalah penumpang yang
mengakhiri perjalananmu hari ini.

Tukang bang merapati corong pembesar
suara, mengangkat kedua tangannya ke aras
telinga. Lalu ia mengumandangkan azan
seperti satu suntikan pada kami
yang menunggu.

Allah-u-akhbar, Allah-u-akhbar.

Waktu sungkai telah mula. Tukang bang
baru saja selesai azan, para malaikat
turun dari langit, sungkai bersama ummah.

Kota Kinabalu
17 Julai 2013