Tuesday, 30 July 2013

Degung Korupsi

Langitku indah sampai ke sukma samawi
di tanah peribumi aku bertatih semau burung
lidah kebaikan tetap berkata turunlah hujan
pada tanah semaian, biarkan subur dan hijau.
Dan kejahatan itu adalah bagai ular berbisa
bersarang dalam kalbu.

Setiap kali tangan ini menyorok pada kedua
kelangkang kaki sambil mata mengiakan
degup jantungmu bertambah kuat, lebih
kuat dari dentuman belerang gunung berapi
hanya telinga berpura-pura tak mendengar.

Turun-temurun kau diajarkan berurusan
tangan kanan, turun bertani, ke laut, berdagang,
menyuap nasi atau bekerja di ofis. Bumi tak
malu pada suatu amalan dan tindakan halal.

Kau berdalih, ini adalah satu kebiasaan di jalanan,
di mana-mana. Orang tak merasa malu, suatu
perkara tak akan beres tanpa ole-ole dan mem-
bagi-bagikan rembulan dan tanah gembur.

Soalnya sekarang dari kecil kau diajar
menerima dengan tangan kanan. Tapi
tamu yang datang ini menghulurmu
ke tangan kananmu lalu mengenggam
kedua tangannya ke atas tangan kananmu.

Ketika kau tak bisa mengatakan pendapatmu
dan pintu mulutmu dikunci dan otot-ototmu
kejang, kau bagaikan anjing yang patah kaki
Suaramu tersekat di batang leher. Harga dirimu
tersepak.

Kota Kinabalu
31 Julai 2013