Friday, 12 July 2013

Gerak-Gerak Langit Ramadan

Khutba pertama dalam Ramadan
aku duduk bersama saudara-saudara
mendengar khutbamu bagai air mengalir
dari pergunungan tinggi. Aku menyerap
semua kalimat-kalimatmu,

Katamu, Ya, Maulana,
tanpa ruh Ramadan di dalam sukmamu
seperti kau masih terus membelenggu
dirimu dari kejahatan-kejahatan bersayap.

Aku separuh memejam mata
sesekali menghirup udara dalam
dan melepaskan seperti udara
di luar, tanpa bau dan jernih.

Dapat kubayangkan pokok Sidrah
berdaun lebat, sempadan yang menghala
ke langit samawi.

Jibrail dengan 600 kepaknya,
dan langit turun memperingatkan
kumpulan doa-doa yang sarat
dan kelazatan yang tak pernah puas.

Aku membayangkan Kekasih-Mu,
Ya, Rabbi, ketika ketemu Musa
memperingatkan kaumnya yang
lemah dalam solat lalu Kekasih-Mu
mengetuk pintu berulang kali,
ketika tinggal 5 kali sehari, itupun
Musa masih menasihatkan Rasulullah,
tapi ketika Rasulullah menjawab,
'Aku merasa malu, menghadap Tuhan
mengurangi dari 5.'

Ya Rabbi, di malam tenang
bulan Ramadan ini, aku membolak-
balik diri ini dalam teropong yang
bisa menembusi sukma ini. Aduhai,
tanah liat ini jadilah tanah gembur
yang lembab dan cukup dengan
takaran air hujan yang menitis
dari langit samawi.

Kota Kinabalu
13 Julai 2013