Friday, 12 July 2013

Ramadan Al Mubarak Buat Saudaraku Yang Sakit Dan Uzur*

Ramadan datang dengan senyum
Jibrail menjabat tanganmu
malam tarawih, aku minum
dan tak pernah puas seperti
mencicip air Nil dan Euphrates.

Aku melihat alis mata
di langit Ramadan
perlahan dan mengembang.

Kami duduk dan
bersalaman. Naluri ini
selalu terpanggil, di mana
saudaraku yang selalu
duduk di belakang dan
di sudut yang terlindung.
Wajahnya pucat dan lesu
bertahi mata dan perutnya
penuh angin dan memaksakan
tidur malamnya dalam kedinginan.

Sukma ini gundah dan meraung
mengingati mereka adalah
pelita-pelita malaikat berjalan
dari lorong ke lorong, dari
lembah dan gurun bertamu
dan mengucapkan salam
pada penghuni-penghuninya.

Kau adalah saudara bukan sehari
tapi setiap siang membuka tirainya
sejuta tahun mendatang.

Aku mencarimu pada bulan
pada gemerlapan bintang
atau terik mentari pada siang
hari, atau pada gua-gua gelap
yang tak pernah dikunjungi.

Namamu kusebut kerana di sini
tak akan sempurna tanpa kehadiranmu.
Hakmu tak akan pernah
ditimbus atau dilupa-lupakan.

Ketika jurang ini makin melebar
kita terlalai membina jembatan
dan tangan tempat bertaut, baring
tak beralas dan tidur tak berbumbung.
Apa lagi mengucap salam atau
mengelus-gelus kepala anak-yatim
piatu apa lagi mencium dahinya.

Tak perlu bahasa yang berselindung
atau berpura-pura dalam menyatakan
kebenaran. Tak perlu malu duduk
dan makan bersama dengan mereka.

Bahasa yang dipakai adalah bahasa
yang mudah dan sederhana, Biar ini
menjadi bahasa yang dapat kita mengerti
bersama. Yang duduk di rimbunan hijau
atau berumah di tepi longkang kota
atau desa terpencil ditinggal-tinggalkan.

Di bulan Ramadan ini
aku mengenangmu dan
mendoakanmu, kemuliaan sejagat
adalah dokongan pada kemanusiaan
yang tersanjung dan dilindungi.

Biar Ramadan ini, aku akan datang
kepadamu sebiji buah dan segelas
bubur kacang. Di tanah pribumi ini
kita terus mengemburnya menjadi
tanah kasih-sayang yang abadi.
Tiada yang terdera atau menderita
Tiada kelaparan dan kemiskinan
tanpa berbuat dan melaksanakan
sekalipun kebaikan itu hanya
sebutir nasi dan segelas air sejuk.

Ruh Ramadan dalam sukmamu
biarkan ia hidup dan tak akan padam.
Sejuta janji lebih baik sekecil kebaikan
tapi dilakukan. Dan Turun ke lapangan
dan tidak menunggu.

Ya Rabbi, pada-Mu
kami kembali dengan ruh
Ramadan Al Mubarak
dan dunia ini adalah
bayang-bayang kelelahan
dan terseret ke sana ke mari.

Kota Kinabalu
13 Julai 2013