Sunday, 28 October 2012

Kolam Di Pinggir Kota*(ASP)

Ada bunga teratai di dalam kolam di
pinggir kota. Masa silamnya rembulan
penuh cahaya jatuh berkilau pada
tiap halaman. Penghuninya ramah.
Di langitnya aku pernah menulis
syair-syair indah. Kau masih membaca
sekalipun lama sudah kau tak melihat
purnama. Kini bunga teratai di dalam
kolam telah lama mengucup sejak
mentari terselindung pada bangunan
kota. Air laut masuk ke dalam kolam
dan terperangkap, baunya busuk.
Tak ada lagi, kolam bunga teratai.
Tak ada lagi senyum penghuninya.
Tapi aku akan terus merakamkan
bait-bait syair mengenangkanmu,
kolam bunga teratai, halaman dan
jembatanmu. Kali terakhir, aku
melihat dadamu sebak, wajah pucat
kurus tak bermaya, rambutmu
kusut dan suara manjamu tertahan
dalam lehermu. Kau semakin lemah
dan mengecil menjadi noktah. Aku
menjangka kehilanganmu tanpa di
sedari. Malam gelap telah turun di
perutmu yang mugil, degup jantungmu
melemah. Kota perkasa itu bagai
pohon ara melilitmu dari hujung kaki
sampai ke kepala. Kutulis  syair ini
mengenangkanmu, sebuah desa, di
tengah kota, seorang gadis manis
hilang dalam pembangunan kota.
Sembulan, kupanggil namamu kali
terakhir bukan kerana aku meninggalkanmu.
Apa lagi melupakanmu. Kalau esok,
halaman dan kolam bunga teratai
diratakan memberi laluan kepada
pembangunan, dan namamu lesap
digantikan dengan panggilan lain
sekalipun indah tetap tak akan sama.
Sembulan, kupanggil namamu
pada kali terakhir, dan membiarkan
kata-kata mengalir ke dadamu,
membawa air dingin ke tengkukmu
paling tidak melepaskan dahaga
walalupun sedikit. Kau adalah
desa warisan yang hilang tanpa
aku dapat menggenggammu sampai
kali terakhir.

Kota Kinabalu
29 Oktober 2012

*Puisi ini termasuk dalam antologi bersama, Sabahuddin Senin dan Awang Karim Kadir,  dalam antologi "Suara Penyair", terbitan Pro Saba-F.