Monday, 22 October 2012

Tanah Penyair*(ASP)(Metamorposis)

Ke arah mana memandang
di tanah ini, bagai air mengalir
dalam sukma penyair.
Dari dataran tanah, banjaran
gunung, menurun ke lembah
hutan jati hingga jauh ke pelosok
kepulauan jauh dan atol sepi,
lalu ke dalam nafasmu, nyanyi
hujan siang. Ya Rabbi, jadikan
tanah ini tanah penyair dan tanah
kata-kata yang hidup dan segar.
Menulislah, kata-katamu biar
bebas, inilah rahsia jenerasi muda,
seni puisi melekat di lidahmu,
tiap kata-kata yang lepas dari
nafasmu bagai air terjun Kinabalu
tak pernah berhenti. Suara-suaramu
bersayap, jiwamu rembulan penuh,
inspirasimu  bagai mentari pagi
mengirimkan cahaya tak pernah
padam. Ia pula tak membakarmu
apa lagi membawa bencana.
Ketika malam tiba, lihatlah
angkasa raya. Kembangkan sayap
dan jangkauanmu, bergayutanlah
dari bintang ke bintang, dari
planet ke planet, dari orbit ke
orbit. Sukmamu tanpa sempadan.
Inspirasimu sampai ke langit
ke tujuh. Kaulah Kaptain,
dalam mimpi kejora. Kepada
mereka yang ingin merobek
malammu dan menghalau
mimpimu dan merendam
rampaian kata-katamu di
dalam danau berbau lumpur,
ciptaan mereka. Jangan,
jangan sesekali membiarkan
mereka sebagai pandit atau
algojoh. Imajinasi mereka
angin kering, laut tohor yang
ditinggalkan, malam mereka
penuh dengan raksasa hitam
dan bau kencing di sepanjang
jalan, mimpinya mimpi masa
lalu yang penuh dengan debu.
dan membosankan. Tanah penyair
adalah tanah tulus, hijau dan
hidup. Kau akan selalu tak
pernah berhenti minum dari
manis airnya. Tanah penyair
adalah tabaruk sepanjang zaman.

Kota Kinabalu
22 Oktober 2012

*Puisi ini dalam antologi bersama, Sabahuddin Senin dan Awang Karim Kadir, "Suara Penyair", terbitan Pro Saba-F, 2012