Tuesday, 23 October 2012

Korban Dan Domba (Hewan)

Ketika ditanya mengapa diam
maunya apa?
Menjawab persoalan terlalu
dekat di sanubari tak semudah.
Memangnya, semua orang mau
segalanya, dunia juga kalau
boleh dilipat-lipat dan disimpan
di dalam saku. Ada yang dalam
diam berkata, kalau saja aku menjadi
rembulan sekali dalam hidup.
Yang lain, datang  berbisik,
'kalau aku, biar menjadi desir
angin dari lembah gunung. Nyaman."
"Menjadi samudera", kata seorang lain.
"Tidak, bagi aku, biar menjadi hawa
membawa empat musim." Ia memotong
perbualan. Soalnya kita tak pernah
puas. Kekadang
bertukar selera dan tanggapan.
Mulut seakan terkunci, lidah
payah berkata-kata, mensyukuri
hujan turun. Atau berkongsi
terhadap saudaranya, miskin.
Bagaimana terlancak jauh dinihari
lalu kita pun diajak 'berkorban.'
Sedangkan generasi baru,
ada menghitung-hitung tiap
yang dinamannya 'kasih'.
Kalau salah berkata, bermuka
masam sepanjang hari.
Pengorbanan itu mulai dari
benih di semaian. Sudah terlalu
jauh ketika menjadi bambu.
Mengalirlah dari sukma
Ismail  ke dalam tiap hati.
Menyerah sebagai domba
yang siap dikorbankan.

Kota Kinabalu
24 Oktober 2012

*Antologi Suara Penyair, 2013