Thursday, 4 October 2012

Harimau, Sang Belang Memberi Pendapat.*(ASP)

Kapal terbang telah meluncur jauh
ke langit biru. Tadi bumi dipijak
menjadi hamparan dataran luas
Australia mengendur ke belakang.
Malam pun berlabuh di bola mata,
bagai diri terhumban ke angkasa
raya, melayang-layang ke bulan,
bergayutan ke bintang-bintang dan
dan kata-kata dan kalimat terbang
bersayap memital planet imajinasi.
"Tenang tuan-tuan/puan-puan
penghuni rahmat turun-temurun
hutan jati di negeri makmur, lembah
hijau, bergunung-ganang, terkenal
di seluruh rantau, Nusantara. Aku
bangga kerana aku lahir di sini,
dan dibesarkan di sini, hidup dalam
tradisi dan adat. Setiap ekar tanah
adalah hasil perjuangan tokoh-tokoh
bangsa yang  selalu menjadi sumber
inspirasi kepada penghuni hutan jati.
Aku memanggil kamu semua, kerana
aku ingin kata-kataku dapat dimengerti
mudah. Aku, Harimau, Sang Belang,
dikenal perkasa di seluruh pelosok
ini. Ngaumku telah menggegarkan
bumi hutan jati. Tiada lebih perkasa
selain aku, Sang Belang. Lihatlah
pokok-pokok kayu, dahan-dahannya,
wajahku tersangkut, gagah perkasa.
Tiap sudut disemburkan bau aku,
Harimau, Sang belang. Tidak ada
ruang, jalan merentas kau tidak
melihat diriku. Ada Seladang di sini,
tak sehebat aku, ada buaya di sungai,
tak selincah diriku, monyet, kelakuannya
bodoh. Ular Sawa, tak boleh dipercayai.
Siapa yang lebih berhak menjadi Raja
rimba hutan jati, kalau bukan, Aku. "Dari
pokok kayu tinggi  burung nuri, burung
tukang, burung serindit, burung rajawali,
burung merak bersuara dalam chorus,
"Sang Kancil." Riuh rendah, hutan jati.
"Apa maksudmu?" Harimau, Sang Belang,
tak senang, kerana nama "Sang Kancil"
disebut-sebut. "Kamu semua, diam,"
Harimau, Sang Belang merasa tercabar.
"Sang Kancil, bijak, ia layak dicalonkan
menjadi Raja rimba hutan jati." Seru
semua yang hadir."Diam, menjadi Raja
Rimba bukan bijak, berakal syaratnya."
Harimau, Sang Belang berakal-akal.
"Kamu semua, Sang Kancil, bukan pilihan
terbaik. Siapa di sini tak pernah tertipu
oleh Sang Kancil. Kami yang dah tertipu
berkali-kali tak akan membiarkan Sang
Kancil diberi peluang walaupun sekali.
Lagi pun Buaya, Ular Sawa, dan aku
dah lama mendendamkan daging
manis Sang Kancil. Jadi, Raja Rimba
tak perlu bijak, berakal, tapi, yang
mesti ditakuti, perkasa, kata-katanya
menggegarkan rimba jati. "Tapi, Sang
Kancil tak makan bangkai, kentutnya tak
bau.""Diam. Aku Harimau, Sang Belang,
tak suka kamu bercakap kurang sopan."
Pendek cerita, Akulah. Raja Rimba.,
Maaf, calon Raja Rimba, Setuju?!"
Sekarang telah ditutup penanaman
calon. Hanya ada satu calon. Sekarang
diumumkan, Menang Tanpa Bertanding."
Terdengar suara mulai seperti berbisik
dan kemudian suara itu semakin jelas
dan menemukan sukmaku kembali.
Tenang. Tenang. Damailah. Sebentar
lagi kita akan mendarat ke lapangan Terbang
Antara Bangsa Kota Kinabalu, Sabah.

Honaira
5 Oktober 2012

*Antologi Suara Penyair, 2012