Wednesday, 3 October 2012

Naratif Sebuah Nasihat (Ketuhanan)

Kau dibesarkan dalam doa yang mengalir
dari setitik nuftah kau berenang sentosa
keselamatan samawi telah pun dijanjikan
kau pendengar baik, kaulah Ismailku,
mimpi-mimpi genap, ketika kau dewasa,
kau menggenapkan mimpi. Kata-katamu,
biar lembut, tiap sentuhan dengan kasih
sayang. Melangkah dalam alam sejagat,
dengan pesanan dan nasihat. Kekadang kau
ke pinggir membiarkan orang lain lalu. Tiap
kalimat turun bersopan. Orang mengasari,
kau memberi senyum lembut. Mendahulu
yang hak dalam segala kegiatan sekalipun
dunia ini turun melimpah-ruah di ribamu.
Terlalu mencintai itu akan menjauhkan mu
dari Allah Azzali. Sekalipun kau terpukul
ke sudut, jangan berakal bohong. Bicaramu
biar terus terang. Tanpa bermuka-muka dan
menggelirukan. Datanglah pada orang tua
dengan tertib, alam maya pun bergerak sama
dalam tertib. Ingat, nasihat Luqman kepada
anaknya. Inilah  pula dingatkan kepadamu.
Biasakan lidahmu berkata benar sekalipun
hidupmu jadi umpanan. Jika kau terpanggil
kerjakan amal ibadat dengan hati bersih. Kau
mesti menggunakan hikmah dalam memutus
perkara. Dengarkanlah langit, baca dan amal
Al Qur'an, pesan Rasul dan ikuti sunnah dan
berpegang pada tauhid . Dalam keadaan apa,
kau mohon, kerjakan salat, mendekatkanmu
pada Tauhid. Kalau ini sebuah nasihat, dari
tradisi silam, Allah berfirman, Rasul bersabda,
Nabi Isa memberi nasihat, Krishna demikian,
Buddha dan Confucius, guru dan orang tua.
Mereka, kolam yang tak pernah kering, selalu
langit samawi mengirimkan hujan bersama
takarannya. Rahmat pada naratif sebuah doa.

Honiara
4 Oktober 2012
*AP Voliume I, 2013