Saturday, 13 October 2012

Mahasiswa, Dititipkan Puisi Buatmu (Dedikasi)

Aku tak memintamu lebih
sekadar mengingatkan
dari sebuah puisi kepada
realiti.

Tergarapnya ilusi masa depan!

Kau pernah bilang
kata-kata puisi itu
terlalu sukar
apa lagi memahaminya.

Pembangunan tetap tumbuh
kau hanya membacakan puisi
dan menghiburkan dirimu
memuji-muji sesama.

Kata-kata tinggal kata-kata
puisi menjadi hidangan
di majlis
sesekali pendengarnya
menarik nafas puas
pergi tanpa menjabat
tanganmu.

Sebuah puisi
seperti membuka pintu
kandang
melepaskan kuda semberani
berlari bebas di lapangan.

Kau tak suka
mendengar kemiskinan,
kemalaratan dan penindasan
saat negara membangun.

Mahasiswa,
dalam puisi ada tradisi kata
yang terungkap
dalam budaya bangsa.
Membelakangkan ini
makna menyembunyikan
kebenaran.

Apalah ertinya
kebenaran
kalau ia bisa diputar-belitkan.

Kata mereka
mahasiswa mengugat,
sebenarnya, mahasiswa
bertindak atas kebenaran.

Apalah ertinya
perjuangan tanpa
pengorbanan
lalu penderitaan itu
tak tertahan
menjadi gelombang
yang merubah.

Mahasiswa
kau membaca tanda-tanda
di langit
gerak di bawah telapak kaki
dan mengenal degup
jantungmu.

Di makmal,
dewan kuliah, atau
buru-buru ke perpustakaan
mahasiswa, dengar
laung dari lembah
ke gunung, dari langit
turun ke rimba raya
kata-kata itu hidup
dalam puisi
hidup menjadi tradisimu
rembulan penuh.

Mahasiswa
ketika kau membaca puisi
bacalah dari suara hatimu
ketika kau melihat penyairmu
membaca puisi
dengarlah pesannya
sekalipun sekecil biji sawi.

Katong
Singapura
14 Oktober 2012

*AP Volume I, 2013