Saturday, 13 October 2012

Professor, Yang Turun Masih Kata-Kata (OZ)(ITBM)*

Professor,
kau begitu hormat
pada huruf-huruf dan anak kalimat
Gazel dan burung serindit
atau pasangan dolpin
langit dan lautan
rembulan dan lembah
hutan jati.

Ketika mereka
terucap menjadi sebuah puisi
kata-kata turun
ke dalam sukma
angin dingin
melintasi saharamu.

Kata-kata ini
anugerah Allah Azzali
mengajar anak
bangsa manusia
mengenal hukum dan
melarangmu terjebak ke dalam
lembah dosa.

Kata yang tulus
tak akan menjadi pengkhianat
kepada makna dalam kalimat.

Yang baik itu selalu
menghidupkan dan
datang membawa rasa
dan keyakinan sampai
kerdip terakhir.

Dunia tak akan siap
sampai qiyamat mendatang.
Kemanusiaan terconteng
halaman sejarah penuh
grafik dan seperti mengulang
membakar buku-buku khazanah
penyairmu kesal memandang
kekerasan.

Aku mencari
hening
pada malam di pojokan
memohon kau
datang sebagai rembulan.

Professor,
kau telah selesa, bukan?
Membaca kata-kata
dan mendengar baik
puisi-puisi
yang mengangkat martabat
manusia
dan mengenal
yang hak.

Aku hanya bimbang
ada kata-kata yang
hadir dan turun
menjadi bahasa
yang kacau dan keliru
tak menjadi sebuah puisi
tapi, disukai.

Kau memang dekat
sekali.
Aku mendengarkan
keselamatan
yang terjamin.

Kekuasaan dunia
tercabut dan terbanting.
Kembali kepada tradisi
purnama penuh.
Aku selalu merendahkan
suara-suara anak kalimat.
Kata-kata
yang turun bukan sebagai
algojoh atau penzalim
kejam.

Professor,
dalam kelembutan
ada nasihat
dan pada keindahan
itu adalah kata-kata
sekalipun dalam
amaran
masih ada air
yang mengalir dingin
dan terasa manis rasanya.

Katong
Singapore
13 October 2012
*ITBM