Saturday, 20 October 2012

Penyair*(ASP)(Metamorposis)

Sebuah puisi
hanya sebuah puisi buatmu.
Ia tak pernah menuntut
lebih dari sebuah karya.
bait-baitnya, barisan
kata-kata yang berdiri
di dataran, lahir dari
lembah sukma, tulus
dan sederhana. Bicaramu
dari alam sejagat sampai
duduk minum kopi di
anjung selera. Bukan
apa-apa sekedar melihat
ke dalam matamu dan
terus menyentuh sukma.
Tiada pilihan kata-kata
menjadi umpan dendam
kesumat, yang berselindung
dalam keindahan bahasa.
Kau bertanya selewa sambil
mata menoleh ke tempat lain.
"Aku hanya seorang penyair.
Jangan anggap aku sebagai
musuh." Dari menulis suka-
suka tentang gajah dan orang
hutan, melangkah dan memetik
inspirasi yang turun dari
langit. Aku menyerap warna,
gerak dan tiga demensi
yang hidup. Menulis sekedar,
akhirnya menyingkap langit
samawi. Bukan puji-pujian
atau taburan bunga, yang
mendewasakan sebuah
karya. Tapi penghayatan
hidup itu, sendiri. Melangkah
dan menyerap dan memaknakan.
Di tanah penyair ini, kata-kata
dan kalimat tumbuh menjadi
pohon rendang dan berakar
tunjang untuk ribuan tahun.
Kegelisahanmu adalah juga
kegelisahanku. Kemalaratan
malammu sampai ke siang
pertarungan, adalah batu ujian
yang mengundang kesabaran.
Ketika kemanusiaan terporok,
aku akan bersuara tak berhenti.
Sekalipun kau menderaku,
aku akan mendatangkan
balatentaraku, kata-kata
yang bersayap menebus
jati diri dan hak-hak
kemanusiaan. Usah kau
menjadi buas, kerana aku dan
kau, dari setitis nuftah.
Tanpamu, huruf dan kata-kata
duniaku pun terpinggir.
Gazelku, siang telah tersingkap,
siapkan kepakmu, kata-kata,
mari, kita jelajahi nusantara,
jelapang bumi dan angkasa raya.
Di situ, selalu ada
yang ingin disyairkan.

Kota Kinabalu
21 Oktober 2012

*Puisi ini termasuk dalam antologi bersama, Sabahuddin Senin dan Awang Karim Kadir,  dalam antologi "Suara Penyair", terbitan Pro Saba-F.