Saturday, 20 October 2012

Kau Masih Mendengar Salam Ini (Ketuhanan)

Meskipun aku tak melihatmu
tapi aku merasakan getaran dan
gelombang dari sukmamu.
Kau telah merenangi samudera
dan sampai ke pulau teduh,
dan tak pernah mengomel
sekalipun gelombang itu
datang bagai gunung membawamu
hanyut. Tak pernah kau berduka
sakitnya tak terasa. Kepedihan itu
bukan kosa kata dirimu. Sejak
itu kau melihat alam, alam
anugerah-Mu yang terindah,
kau masih menikmati desir
angin petang. Kau telah
berhenti meraung dan mengaduh.
Kau telah siap. Siap jalan sendiri,
ke jalan pulang. Berkemas,
mengucap salam kepulangan.
Di pelabuhan ini, kapal mulai
merenggang, sauhu telah ditarik,
matamu pun membiarkan
perpisahan ini. Tenang dan
damai, sedamai lembah gunung
hutan jati. Katamu, "Gazelku
sayang, kau sangat baik. Dan
penghibur yang baik, teman
lembut dan sabar." Biarku
usap pipimu, dan kekadang
aku mencubitmu geram tapi
kau tak pernah memprotes.
Oh mata yang melihat, aku
masih melihatmu. Aku masih,
kenal, kiriman kata-katamu,
mereka hidup dan gagah,
datang mengucap salam
berdiri sopan di pembaringan.
Kehadiran mereka, adalah
kehadiranmu. Aku masih
menangkap makna kata-katamu.
Mari, datanglah kepadamu
biar kulihat satu persatu dan
menjabat tangan kalian seperti
menjabat tangan malaikat.
Aku masih bisa tersenyum
dan membalas salammu.
Kembalilah kepadanya,
sampaikan salamku.
Ya Rabbi, permintaan ini
tidak melampau, dan bukan
tawar-menawar, dua purnama
penuh ingin kupelukmu
setelah itu, telah dipersiapkan
semuanya, dan aku tak pernah
takut atau berdalih dari
kepulangan ini. Sekarang
tenang, tenanglah, sukma.

Kota Kinabalu
20 Oktober 2012
*AP Volume I, 2013