Friday, 12 October 2012

Keputusan (Boat People)

Bukannya mudah membuat
satu kejutan keputusan
soal hidup dan mati.

Beberapa minggu lalu
ia melihat
sekumpulan nelayan
mendebur-debur permukaan laut
menghalau ikan-ikan
masuk ke dalam pukat.

Jauh sebelum itu
ia seorang jenderal
mengerah balatentera
mengempur dan menyerang
hendap jauh ke dalam liang musuh.

Ia masih duduk
matanya tak terlalu bergerak
menatap laut yang
masih biru dan ramah.

Sesekali
dicarinya kepastian
pada lautan dan tanah seberang.
Sekarang ia pendatang malam
tanpa wajah.

Sekalipun ia mencuba
memasang topeng dan menjadi
orang umum
suaranya masih terselit
bekas seorang
jenderal.

Perang telah usai
ia dipihak yang kalah.
Sekarang datang lagi
perang di dalam sukmanya
apakah ia maju
atau undur hanggus
terbakar menjadi debu.

Lama ia duduk terpegun
sendiri. Akukah Krishna
sebenarnya tau arah mana
angin kemenangan itu bertiup.

"Ya, siap."
menyembunyikan degupnya
ia masih tetap melangkah
sebagai seorang jenderal.

Pulau Christmas, Pulau Manus,
dan Nauru
telah siap menunggu
penumpang malam tanpa wajah.

Benua Selatan
makin menjauh
berselindung antara pulau-pulau
dan rahang lautan.

Katong
Singapura
13 Oktober 2012
*Puisi ini dalam antologi  "Suara Penyair", 2012