Thursday, 27 September 2012

Pulau Banggi* (Puisi) (Lanskap) (Metamorposis)

Aku tak terpaksa menulis puisi buatmu
di dalam impian dicari namamu dan
cuba mengenal rupamu, sia-sia, kau
terlalu halus dan perasa pada kelip
cahaya yang datang menyentuhmu.
Meskipun aku belum menawanmu
Bukit Sibumbung, namun telah di
lepaskan puluhan kata-kata bersayap
memantau langit dan pulaumu.Pada
bait-bait puisi ini dicatat namamu,
Pulau Banggi, dalam sukma penyair.
Kau tak mengenal, tapi salam yang
terucap telah mendarat di pantaimu.
Salam sejagat, salam kasih, memang
kita bersaudara sekalipun saling tak
mengenal. Tapi, kata-kata sederhana
yang terhimpun menjadi puisi, akan
selalu menjadi jembatan di teluk sukma.
Bagaikan aku Pulau Sebogoh disampingmu.
Demi langitmu, seakan aku melihat
malaikat turun, dalam kelip cahaya,
lalu gerimis turun menyentuh bumimu,
kau tak merasa bimbang atau curiga.
Anggaplah kata-kata yang terhimpun
menjadi bait-bait puisi ini adalah sebuah
doa dan harapan padamu, Pulau Banggi.

Honiara
28 September 2012