Friday, 14 September 2012

16 September 2012*(UB) (Merdeka)

Aku mengenangkanmu, sehari sebelum hari itu,
hari perayaan yang gemilang. Beberapa hari ini
kau telah mendengar tentang hari gemilang itu.
Hari lahirnya sebuah pakatan dan masa depan.
Aku masih terlalu kecil untuk membayangkan
tugas dan tanggung jawab yang diletakkan ke
atas pundak. Sekarang, kau harus berdiri dan
menjadi sebuah bangsa, sebuah negara, yang
merdeka. Kemerdekaan rembulan penuh dan
di langit telah pun akur, ini adalah kemenangan
bangsa, bangsa Melayu, bangsa Malaysia raya,
bangsa bermartabat, yang berakar tunjang
pada tradisi yang kukuh di pusar bumi. Aku
tak akan berkata kalau itu bukan kebenaran.
Kebenaran yang tumbuh dari suara-suara
pribumi, suara-suara yang datang dari pedalaman
menuruni lembah ke banjaran Crocker lalu
menjadi air terjun dan sungai-sungai yang
mengalir jauh ke teluk dan muara, bergenang
sampai ke pulau-pulaumu. Aku mengenangimu,
sekalipun aku tak bersamamu, sukmaku telah
menyerap ke dalam sukmamu. Kita menjadi
satu, satu bumi dan satu langit. Sabah, kusebut
namamu, kerana aku telah lahir di situ. Bagaimana,
aku bisa melupakanmu. Kau, seperti Gazelku,
selalu datang dalam lamun dan mimpi di
segala musim. Kau hadir dalam bual, impian
dan mimpi. Setelah aku pergi, impian dan mimpi
itu akan hidup pada seorang aku yang kemudian,
setelah itu hidup pula pada mereka yang kemudian,
yang kemudian lagi dalam ratusan tahun dan ribu-
ribuan tahun dan sampai qiyamat. Namamu, Sabah,
hidup dalam doa-doa mutaki dari sukma yang bersujud.
Aku turunkan segala impian ini dari sukma yang
merdeka. Di sini aku terpanggil menurunkan bait-bait
kekasih yang merindukanmu. Aku hanya berdaya
mengumpul kata dan kalimat ini, sederhana, dan
tulus dari jiwa yang sedar dan bersaksi. Kuhadiahkan
kepadamu berupa salam dan perutusan doa. Setelah itu,
gelisahku akan redah, lautan ini akan tenang dan langit
akan cerah. Ungkapan kemerdekaan tak akan memberi
pengertian dan makna tanpa-Mu. Kerana kemerdekaanmu
dan kemerdekaanku, hadiah dari langit. Yang empunya
kuasa ke atas hidupku dan hidupmu. Tanpa-Mu,
kemerdekaan ini tak akan bertahan, hancur, luluh
di depan mata dalam sesaat. Seperti Tsunami, menyergapmu
dalam kau lena dan alpa. Perlukah kau diingatkan,
telah berapa kota tenggelam lenyap. Kupanggilmu,
tanah airku, yang gemilang, kerana kau memang gemilang.
Meskipun kita selalu mengharapkan yang terbaik dan
sempurna tapi ada saja kekurangan itu, namun kita
harus terus melangkah tanpa berundur. Tak semua
persoalan ada jawabnya, tapi setiap kemampuan pasti
menjanakan impian. Aku dan kau tumbuh sebaya, tapi
tak salah kalau aku katakan aku adalah abang kepadamu.
Kalau aku terkasar bukan ingin melukaimu, sekedar
mengingatkan. Kerana ketika aku telah tiada, kau
masih ada. Itu kenyataan. Aku tak akan kecewa,
Dan langit juga, tak akan kecewa, kerana kemerdekaanmu
terisi harapan sebuah bangsa, harapan sebuah negara,
Malaysia, dalam alaf 21. Bila kata dan kalimat menjadi
hambar dan kosong tak bermakna, gerhana menunggu
di horizon. Ya Rabbi, bukan itu yang kuinginkan,
samasekali bukan. Kemerdekaan ini, adalah kemerdekaan
kata dan kalimat dan berfikir, kemerdekaan anak bangsa,
kemerdekaan yang hidup bukan mati. Kekasih, menjelang
hari gemilang ini, berdandanlah seelok rupa, berkata santun
sambil berdoa, lenggang-lenggokmu yang sederhana,
kemeriahan cahaya dari rumahmu, gelak-gelak anak
di halaman, nenek tua bisa tersenyum, pejuang bangsa
duduk merendah, aku pun meletakkan tangan ke dada,
inilah bingkisan sederhana buatmu, perutusan 'merdeka.'

Honiara
15 September 2012

Nota: Tersiar Di Utusan Borneo 17 September 2012
*Antologi Kemerdekaan