Thursday, 13 September 2012

Aku Dan Puisi (Puisi) (Metamorposis)(ITBM)

Tiap hari kalau tidak diam aku akan mengumpul
huruf-huruf  lalu terkumpul menjadi sari kata
dan bait-bait puisi yang sederhana. Kata-kata
biasa dari pengucapan biasa setiap hari. Aku
suka pada kesederhanaan kerana di situ ada
rahsia keindahan yang mengalir dan tak pernah
kering. Aku tak memaksa atau terpaksa menulis
tapi terasa tolakkan dari sukmaku seperti Gazel
merontah-rontah, menerjang ke udara ingin
berlari bebas di dataran rumput hijau. Kata-kata
itu terkumpul menjadi bait-bait yang bersayap
dan mengetuk langit samawi. Kekadang seperti
burung-burung kecil di tepi danau mengibar-gibar
bulu kepaknya. Ada kedamaian setelah aku
menurunkan bait-bait itu untuk dibaca. Walaupun
ia masih bait-bait puisi yang terkumpul ingin
melangkah ke dalam kumpulan doa yang hidup
dan bernafas. Turun bait-bait puisiku di malam
tafakur. Aku terus memanggil-manggil nama-Mu,
dalam kesederhanaan, memandang dunia sebagai
gelombang-gelombang udara  yang mengepul dan
hilang sekelip mata. Bait-bait puisi ini bukan untuk
menyiksamu, apa lagi menjadi panah-panah api
yang melayang ke pusar langit turun sebagai raksasa
dan belerang. Bait-bait puisi ini, bukan, samasekali,
bukan cairan racun dipaksakan supaya kau harus
meminumnya. Bait-bait puisi ini bukan juga kumpulan
kata-kata lalu menjadi tali kalimat yang menjerat di
lehermu. Sungguh! Mereka hanya sekedar bait-bait
sederhana, dari khazana masa silam mengalir sampai
ke sini. Dalam tiap huruf-huruf itu hidup sendiri-sendiri,
dalam konsonan dan vowel. Aku menyintai semuanya.
Kalau puisi-puisi itu adalah  sebuah resepi, aku ingin
rempahnya kental dan meresap sampai ke tulang sum-sum.
Aku ingin tiap kata turunannya, kekayaan yang melimpah
dari tradisi turun-temurun. Mereka adalah barisan kata
dan kalimat yang siap siaga berkorban demi kemerdekaan
sebuah bahasa. Bahasa yang hidup dan bernyawa,
bahasa puisiku, aroma puisiku, kesederhanaan puisi dalam
bahasa ibunda. Di dalam bait-bait puisi ini, ada suaramu,
Tun Sri lanang, ada keberanianmu, kebijaksanaanmu,
Puteri Gunung Ledang. Bila kulantangkan suaraku dalam
bait-bait puisi ini, aku masih seorang yang sederhana,
aku tak akan mencari musuh. Kerana, tiap bait-bait
puisi yang terucap adalah kasih sayang bukannya dendam
kesumat. Adalah bait-bait puisi yang mendekatkan diriku
kepada-Mu. Bait-bait puisi ini adalah suara-suaramu,
tanpa sempadan, merdeka seluas alam jagat, seluas langit.
Dalam jalur-jalur genta rasaku, aku mengingatimu, dan
kau tetap terpandang seorang Mushi, Mushi Abdullah.
Bait-bait puisi ini adalah sari yang menitis, keindahanmu,
dalam ungkapan manismu. Kalau aku dapat mengambil
sedikit darimu, Usman Awang, masuk ke dalam bait-bait
puisiku, dan biarkan bait-bait puisiku tenang senang lautan
Zaihasra. Turunlah, bait-bait puisiku, meskipun kau masih
kata kalimat seorang musafir, yang pulang ke dalam
tradisi. Bait-bait puisiku ini adalah kekasih dan harapan.
Yang terkumpul dalam rembulan penuh menjadi bait-bait
puisi. Mari, kupinjam sukmamu A. Latif Mohidin, Muhammad
Hj Salleh, Agi dan Kemala ke dalam bait-bait puisiku. Siti Zainon Ismail
dan Zurinah Hasan pelengkap hiasan sebuah puisi. Sungguh,
aku dan puisi berdiri di dataran rumput musim semi. Dan,
kau, Gazelku, mari kita, berlari semaunya sampai ke langit samawi.

Honaira
14 September 2012
*ITBM