Friday, 21 September 2012

Jika Sang Kancil Jadi Pemimpin (Hewan)

Penglipurlara ini bermula, "Atas persetujuan semua,
telah dimuafakat hari ini diputuskan Sang Kancil.
Mulai hari ini akan menjadi pemimpin Hutan Jati
rimbunan hijau. Semua setuju, sebulat suara. Ok.
Sekarang, hutan kecil ini mempunyai pemimpin.
Sang Kancil, gundah dan mau mengundur diri dari
perlantikan itu. Tapi hadirin membantah. Tetap!
Mereka ingin Sang Kancil, pilihan nombor satu.
Walaupun hanya satu penggal. Hadirin, bersorak,
mengalu-alukan perlantikan ini. Sebulat suara.
Tak ada bantahan. Harimau, mengapa kamu diam.
Burung Rajawali, di dahan sana, ada pandangan?
Badak Sabah, ada,,,,tiada,,,Hutan jati berdegup-
degup. Semua. menikus. Harimau mau membantah.
Tapi, suara Hutan Jati terlalu riuh. Mereka binggung.
berpandangan sesama sendiri. Tak ada suara protes.
Langit kacau, musim tengkujuh telah pindah ke
utara, Sampang Mengayau. Laut Pulau Matanani
bergelora. Kinabalu ditelan mendung. Sang Kancil
segan, maju sedikit, ke depan, hati-hati memanggil
semua perwakilan. Hadirin tak membantah. Seladang
berdiri, membosongkan dada, mengerahkan semua
duduk beratur, tenang dan bahu membahu, pada Sang
Kancil. Lalu Sang Kancil berkata. "Letakkan tangan
kamu semua ke atas tanganku."  Semua serentak.
Senyap. Menunggu perintah. Seladang siap-siaga.
Sang Kancil menarik nafas lalu dengan nada perlahan
Al-Fatiha, saya, Sang Kancil, berpegang pada amanat.
Tawkeh-tawkeh dari Kalabakan senyap. Angin mati.
"diberikan kepada saya, memenuhi amanat itu dengan
sekemampuan saya dan melaksanakannya seadil-adil.
Kalian turut saya pada kebaikan." Memandang burung-
burung bangau dari Kampung Buang Sayang. Saya 
berjanji, Kamu, Orang Utan dari Sepilok, tolong duduk.
.."akan melaksanakan kewajiban selagi saya berbuat
kebaikan." Suara korus Hutan Jati membalas jawab
ucapan Sang Kancil. "Kami ikut tuan dalam kebaikan."
Setelah itu suasana Hutan Jati riuh. Seladang Nabawan
mendiamkan hadirin. "Sekarang, kita berdoa senyap."
Hutan Jati hening. Sayap matahari menutup Hutan Jati.
Suasana jadi gegap gempita di Hutan Jati. Terdengar
ngauman Sang Belang, Harimau. Semuanya berpelukan.
Dua tiga kali matahari mengembangkan sayapnya.Hutan
terang kambali, desir angin dari Kinabalu singgah sekejap.
Acara berjalan, ikut jadual. Sang Kancil diminta berucap.
Semuanya duduk bersila termasuk serombongan Keluang
dari Gua Guamantong. "Semua perkara diputuskan dengan
musyawarah. Keputusan, persetujuan bersama. Muafakat.
Tidak puas hati dan pertelingkahan, dibawa mesyuarat.
Setelah keputusan ini dibuat, inilah keputusan semua."
(Pause) Hutan Jati senyap."Derhaka adalah kezaliman..
Harimau melirik pada Sang Kancil. "Membawa kepada
perpecahan kesatuan bangsa." "Hidup, hidup, hidup,
Sang Kancil, pemimpin kami." Hadirin rasa puas.
Hadirin, rasa puas. Ada tanda hujan akan turun. Hadirin
berubah gelisah. "Demi keutuhan bangsa,,,Sang Kancil
berhenti berucap, memandang tajam Monyet Hidung Merah
dari Kinabatangan duduk di baris paling depan. "Tolong
tabiat kamu diubah. Kita sedang Meeting, Kalian Mating."
"Maaf boss, tak boleh tahan." Hampir kesemua perwakilan
Monyet Hidung Merah menjawab serentak. "Perselisihan
dan pergaduhan harus dipadamkan. Semua duduk sama
rendah, berdiri sama tinggi. Suara majoriti tidak akan
merugikan minoriti. Kebajikan warga ini adalah amanat."
Sang Kancil melambatkan pidatonya."Kalian tau, Warga
Emas, agenda pertama, Kerajaan Sang Kancil. Hak mereka
diutamakan. Mereka diberi pencen tetap. Penyu-penyu dari
Pulau Sepadan, menggangguk kepala. Tak perlu lagi mereka
mati lemas atau disambar ikan Yu di lautan. Mereka boleh
rehat berpencen setelah bertahun-tahun bertelur. Pokok
buah Limpahung dan Pokok Bambangan memberi sokongan.
.."dan kemudahan perubatan dan rumah murah untuk mereka."
Hop Hop Hooray  Hadirin bertempik gembira."Hidup Sang
Kancil. Hidup, Hutan Jati." Lintah dari Lembah Danum puas.
Hadirin semakin terpesona. Harimau, nampak tak senang.
Sang Kancil semakin berani dan uncang tangannya di udara.
Terbatuk sedikit. "Bagi Jenerasi Muda, hampir setengah dari
penduduk Hutan Jati. Harimau mencela. Hadirin riuh. Hutan
Jati riuh, Langit pun riuh. "Kalian adalah tulang belakang."
Hidup Hutan Jati, Hidup Sang Kancil, kata perwakilan lebah
dari Lembah Melinau dan Nabawan. Burung Tukang dari
Pensiangan melihat dari jauh atas dahan pohon mati. Hadirin,
mengiyakan dalam korus teratur. "Ada belia dari Long Pa Sia?"
"Ya, boss, duduk di belakang sana." "Masa depan, kamu
tak akan dipinggirkan." Harimau pura-pura tidur berkeroh,
diikuti oleh monyet-monyet dari Sukau. Hujan menitis di
hujung daun. Perut awan hitam kembong air. Turun naik
suara Sang Kancil, tinggi adakalanya rendah. Ternganga
mulut hadirin. Nyamuk-nyamuk dari Ulu Sugut dan Beluran
baru pulang umrah masih dengan pakaian jubahnya. "Kita
semua, mahkluk Allah." Suara Sang Kancil meninggi.
"Jenerasi muda dilatih cinta pada bahasa ibunda dan
bahasa Melayu. Harimau, puisng ke kiri, pusing ke kanan,
monyet-monyet  Sukau meniru-niru. "Kamu tukang kerja
meniru, duduk diam. Harimau, Sang Belang tidak kamu tau
semalam Gajah Siam telah menyumbatkan 2-0. Kamu kalah..
"Tradisi dan adat yang mengangkat martabat bangsa pribumi.
Kerana dari jenerasi ini akan lahir, ramai Mat Jenin Tun Sri
Lanang dan Mushi-mushi dan Si Luncai berani berterus terang
tak melangkah dengan bahasa biadap dan kurang ajar." "Kita
kurangkan Pak Mai Ulat Bulu." Sang Kancil berdehem
kecil. "Berjiwa kritis, besar. Mampu berdebat. Berbudaya
dan memartabatkan  bahasanya." Sang Kancil, berhenti
sesaat. "Wahai Pak Dogol, (matanya mencari Pak Dalang)
saya berhenti sekejap minum segelas air putih. Hari mulai
dingin. Yang menyerikan pertemuan ini bunga kenanga, melati,
melur. Sang Kancil sedar, ia mudah disalahkan, dan orang mudah
tersingung, menyinggung. Sang Kancil, menarik nafasnya
dalam-dalam. "Ya, puisi." "Apa maksud boss? Sang Kancil
seperti kebigungan. Berkali-kali ia mengosok matanya.
Siang bertukar menjadi malam. Langit terconteng arang.
Mentari terbang bersayap lari ke Pulau Banggi, main
sembunyi di Pulau Jambongan dan Pulau Layang. Terakhir
membawa diri ke Pulau Sebatik. Berapa kali Sang Kancil
menggosok matanya. Gelap, seperti gerhana penuh, bulan
dan matahari berdakapan. Sang Kancil tak melihat seorang
hadirin pun. Sang Kancil menoleh kiri dan kanan. Tak
ada. Hilang lenyap sekelip mata. "Apa dah Jadi." Tak
mungkin mereka protes keluar Dewan Undangan Negeri.
Sang Kancil tak faham. Absurd. Apa permulaannya dan
apakah akhirnya. Fikirannya buntuh dan ia tak dapat berfikir.
Sebelum ini, sebelum ini, ya sebelum ini. Fokus.(Pause)
Eureka! Sang Kancil sendiri dan melarikan diri dari lingkaran
maut. Harimau, Sang Belang mengejarnya dari episod ke
episod, ke satu episod yang lain. Kemurkahan Harimau,
pada Sang Kancil berkali-kali Harimau tertipu dan terhina.
Kali ini tak ada ampun. Tak ada jalan keluar. Tak ada rasa
kesian. Tak ada "diplomatic arrangement". Kemurkahan
Harimau membengkak. Ngaumnya terdengar jauh ke dalam
sukma Hutan Jati. Sang Buaya memulas-mulas badannya
air liurnya kepingin untuk mengunyah tulang dan rusuk
Sang Kancil. Harimau, Sang Belang, Buaya dan Ular Sawa
semua telah sepakat untuk menghabiskan riwayat Sang
Kancil. Mereka mengatur strategi dan 'tipu muslihat.'
Sang Kancil memikirkan tamatlah  riwayatnya. Penyair
pun memikirkan nasib Sang Kancil. Membiarkan antagonis
menamatkan cerita ini? Trajik atau Komedia? Kompromi!
Membiarkan Sang Kancil dibunuh oleh antagonis, Harimau
dan kuncu-kuncu dan tammatlah penglipurlara. Selamat
Tinggal Sang Kancil. Penyair menarik nafas. Sang Kancil
memprotes dan datang berpangku  atas riba penyair
"Boss, ada satu idea?" "Apa dia, Sang Kancil?"
Sang Kancil berbisik. Kami berpandangan dan
tersenyum. Tidak, biarkan cerita Penglipurlara hidup tanpa tamat.

Honiara
22 September 2012

*ITBM (Bahagian II)